Credits to

Powered by Blogger

Friday, February 22, 2013

Birrul Walidayn

Berbakti pada orangtua itu tak sulit. Salah satunya adalah dengan memilih pasangan hidup yang juga dapat mencintai orangtua kita seutuhnya. Ya, saat memutuskan untuk menikah, ada begitu banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Di antaranya adalah melihat apakah calon pendamping hidup kita peduli atau tidak pada orangtuanyasendiri.

Jika terhadap orangtuanya sendiri ia tak mencintai dan peduli, bagaimana ia dapat mencintai orangtua pasangannya? Pada awalnya, bisa jadi ia berpura-pura untuk cinta dan peduli. Namun, ketulusan sejatinya tak dapat dibohongi. Ia adalah perbuatan hati yang kemudian terpancar pada laku di raga. Oleh karenanya, pilihlah pasangan hidup yang benar-benar mencintai orangtua kita. Untuk apa diri bahagia tapi tak demikian halnya dengan orangtua? Karena sejatinya, ridho Allah, ada pada ridho orangtua.

Tuesday, January 08, 2013

...Lelaki Terbaik...

"Yeobo, yeogi anjeuseyo, neomu gidarinikka nega halkeyo..."
(Sayang, mari duduk di sini, karena terlalu lama, biarkan saja saya yang menunggu...)

Sebuah suara mendadak menarik perhatian saya di tengah keramaian tempat ini. Sejurus kemudian saya menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata, suara itu berasal dari seorang lelaki renta. Dipanggilnya sang istri yang jua telah renta dengan penuh kasih sayang. Memakai sebuah topi rajut berwarna merah, perempuan itu sepertinya tak lagi memiliki helaian rambut. Sepertinya, sebuah penyakit yang cukup berat tengah diderita oleh sang istri sehingga harus kehilangan seluruh rambutnya. Digamitnya lengan sang istri dengan lembut untuk kemudian dituntun menuju kursi tunggu.

Pemandangan lainnya di sekitar pula tak jauh berbeda. Berpuluh pasang suami istri yang sudah berusia senja, berbondong-bondong datang ke tempat ini demi satu ikhtiar untuk melanjutkan hidup. Optimisme begitu terpancar dari langkah-langkah mereka yang walau tak lagi tampak kuat, tetap menyiratkan sebuah ketegasan.
---
Harus kembali menyusuri lorong-lorong di tempat ini laksanan tiga tahun yang lampau, meski tak lagi mengenakan jas putih, selalu saja menghadirkan kesan tersendiri. Ini bukanlah kisah Romeo dan Juliet yang berakhir dengan tragis, ataupun cerita Qais dan Laila yang jua tak berujung manis. Semuanya begitu nyata. Mereka saling menemani, berpegangan tangan, menguatkan satu sama lain, dan tak hirau akan dinginnya udara Negeri Ginseng yang terus merangsek ke bilangan minus.

Tak terasa, bulir-bulir bening mengambang di pelupuk. Selaksa tanya dengan sigap menyelinap ke dalam benak. Kekuatan apakah yang membuat mereka bertahan hingga sedemikian rupa? Laki-laki macam apa yang tetap tulus mencinta seorang perempuan yang tak lagi indah secara ragawi? Laki-laki macam apa yang tetap mau merawat seorang perempuan yang mungkin tiada lagi sanggup untuk melayaninya? Laki-laki macam apa yang tetap mau melindungi seorang perempuan meski tahu ia sendiri bahkan tak lagi memiliki kekuatan? Laki-laki macam apa yang tetap gigih menjaga kesetiaannya dengan seorang perempuan hingga maut memisahkan?

Mungkinkah mereka orang-orang yang telah Rasulullah isyaratkan?
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya itu adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara mereka, dan orang yang paling baik di antara kamu sekalian yaitu orang yang paling baik terhadap istrinya." [HR. Tirmidzi].

Ah, sungguh beruntungnya orang-orang itu. Karena memang, tiap keindahan ragawi akan ada masanya, tiap gelora butuh peraduannya, dan tiap jiwa butuh pengertiannya. Apalagi, meluruskan tulang rusuk nan bengkok bukanlah perkara mudah. Butuh berbuncah peluh, lautan kesabaran, dan tak jarang pula menurunkan ego laki-laki demi terciptanya satu keselarasan. Namun, apalah arti kesemuanya itu bila nyata jannahNya kan dapat diraih dengan begitu mudah?

...
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama

Sunday, January 06, 2013

Pertanyaan Itu..

Menanyakan hal-hal yang bagi sebagian orang bersifat pribadi kepada orang lain semisal umur, pekerjaan, status pernikahan, atau jumlah anggota keluarga, bukanlah ihwal yang tabu bagi orang Korea. Mereka melakukan tersebut semata-mata untuk menentukan posisi lawan bicaranya di dalam tatanan masyarakat Korea. Ya, ajaran Konfusius mengenai hubungan sosial pada masyarakat Korea memang amat mendarah daging. Hal ini pulalah yang kelak juga akan menentukan apakah mereka harus berbicara dengan gaya bahasa formal (nopimal) atau informal (banmal) kepada lawan bicaranya.

Hal ini berbeda dengan kebanyakan orang di masyarakat kita yang justru lebih senang bertanya seputar jodoh dan rezeki. Pertanyaan seputar jodoh semisal, “Kapan nikah?”, atau pertanyaan seputar rezeki seperti, “Sudah ‘isi’ belum?”, “Kapan nambah anak?”, kadang ditanyakan tanpa ada dasar yang kuat. Sayangnya, alih-alih mendapatkan jawaban yang pasti, pertanyaan tersebut kerapkali justru membuat lawan bicara menjadi jengah.

Ah, mengapakah kita tak mulai untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan macam itu? Bukankah kita mafhum bahwa sejatinya jodoh, rezeki, dan maut adalah perkara yang telah ditetapkan Allah? Sebagaimana firmanNya;
“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari kalian dan menjadikan dari istri-istri kalian itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” [QS. An-Nahl: 72]

Bila demikian adanya, lantas mengapa kita harus bertanya pada makhluk yang juga tiada mengetahui ketetapan Allah atasNya? Selain itu, bila peduli yang menjadi alasan pertanyaan tersebut mengemuka, maka rasanya sebait doa akan lebih bermakna. Karena kita tak akan pernah tahu, luka yang mungkin menjadi menganga oleh rentetan pertanyaan tersebut di hati saudara kita.

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. [HR. Muslim no.64]