Credits to

Powered by Blogger

Thursday, December 15, 2005

Cintanya Bunda

Mencintai adalah memberi
Bukan memberi dan menerima
Teringat pada Rabiah al Adawiyah
Kisah cintanya dengan Sang Pencipta Alam
Tiada harap apapun
Selain berkorban, berkorban, dan berkorban
Letih ku dikandung tak dirasakannya
Lelah ku dibesarkan tak dihiraukannya

Kala mentari dan bintang menjadi satu
Yang ada hanyalah cahaya terang yang menerpa
Kala siang dan malam menjadi tiada beda
Yang ada hanyalah kerinduan yang menggelora
Pada buah hati

Subhanallah…
Bilakah Kau beri rasa itu Rabb???
Kasih dan cintanya Bunda pada diriku
Hanya padaMu kulantunkan asa dan doa
Agar Engkau berkenan tuk memberi
Bahagia dunia dan akhirat
Pada sang Bunda tercinta….

Thursday, December 01, 2005

Hari Ini Enam Tahun yang Lalu

Hari ini enam tahun yang lalu...
Menanti malam meretas gelisah
Apa yang kan terjadi esok???
Apa ku kan dapat memakaikannya dengan elok???
Selembar kain putih penutup yang melingkar
demikian jelitanya di kepala wanita-wanita suci
Selembar kain yang memiliki kekuatan magis
simbol kebebasan wanita
simbol eksistensi keberagamaan
bukan simbol keterkekangan yang mungkin orang kira
apalagi sekadar tabir surya



Hari ini enam tahun yang lalu...
Bergumul dengan rasa yang mendedah jiwa
Apa ucap orang banyak tentangku kelak???

Apa ku kan sanggup tuk tetap menyunggingkan senyum
saat hujaman cerca mungkin kan menyambangi diriku
Lihatlah!
Sosok begajulan itu tlah berevolusi!
Kemana jeans Tira dan kaos Mickey Mouse ketat yang menjadi pakaian favoritnya???Semuanya telah disimpan rapi di baris paling bawah lemarinya
Sebagian ada pula yang ia berikan pada sanak saudaranya
Lantas bagaimana dengan koleksi pin up dan poster
yang kerap menghiasi dinding dan plafon kamarnya
Seluruhnya telah ia robek dan dibuang ke tong sampah


Hari ini enam tahun yang lalu...
Melangkah dengan jejakan penuh percaya diri
Pandangan mata penuh keheranan tak menjadi sebuah gubrisan
yang ada hanyalah hamasah tuk tetap berada di jalanNya
Meniti kehidupan baru yang lebih berarti
Menghiasi tiap desah nafas dengan momen-momen magis
Melanglang di buana bak seekor merpati bebas
dengan tuntunan ayat-ayatNya
Bukit-bukit nan terjal tiada lagi jadi sebuah aral
Kala sepoi kalimah takbir dikumandangkan membahana



Hari ini enam tahun yang lalu...
Semesta pun menjadi saksikan azzam seorang manusia dhaif yang teramat dhaif
akan khauf secercah kekufuran
akan roja' sebuah keistiqomahan
tiap helainya tertanam di palung terdalam seonggok kalbu
Teriring dalam lautan dzikir dan doa
yang bait-bait serenadanya mengalun demikian indah



Hari ini kini...
Saksikan ombak yang menerjang ke pantai iman
Bukan lagi sekedar riak-riak kecil yang bercanda riang
Mudah lisan bertutur tak kan ada atau tak kan pernah
Tapi sungguh
Saat itu pulalah ia terjebak dalam nuraninya sendiri
Bertatapan dengan sang tiada ada dan sang tiada pernah
Terguncanglah ia
Tak siap dan tak waspada
Hadapi semuanya sendirian, tak bertombak,atau bahkan bersamurai
Perisainya pun kian menipis



Hari ini kini...
Berusaha tuk kembalikan semuanya sedia kala
layaknya enam tahun yang lalu
merangkak dan tertatih mengemis akan kasihNya
sungguh rindu tak tertahankan akan syahid di medanNya
Asa selalu dapatkan ridho dan cintaNya
semoga
hari ini...esok...dan selamanya


011205
-mengenang saat-saat hijrahnya seorang manusia dhaif-

Monday, November 28, 2005

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu



Judul di atas merupakan judul novel terbaru dari Paulo Coelho yang menjadi bestseleer di 29 negara. Novel bertebal 209 halaman ini merupakan sebuah kisah cinta tentang spiritualitas dan pengorbanan. Dari novel ini saya mendapati ada beberapa kutipan yang mendalam mengenai cinta dan kehidupan yang bagus untuk disimak, dan berikut adalah kutipan-kutipan tersebut:


”Setiap hari Tuhan memberikan kita matahari-dan juga satu momen, saat kita berkemampuan mengubah segala yang membuat kita tak bahagia. Setiap hari, kita berpura-pura belum mengalaminya, seakan momen itu tak ada-seakan hari ini sama dengan kemarin sama dengan besok. Tapi, jika manusia benar-benar memahami keseharian hidupnya, mereka akan menemukan momen magis itu. Momen itu ada-sebuah saat, ketika seluruh kekuatan gemintang menjelma sebagian dari diri dan memungkinkan kita melakukan keajaiban.”


”Tak seorang pun yang bisa berdusta, tak seorang pun yang bisa menyembunyikan sesuatu, jika ia menatap lurus ke dalam mata seseorang. Dan wanita mana pun dengan hanya sedikit kepekaan bisa membaca mata seorang pria yang sedang jatuh cinta.”


”Cinta hanya bisa bertahan jika ada harapan kau akan bisa mendapatkan orang yang diinginkan.”


”Orang bijak menjadi bijak karena mereka mencintai. Dan orang tolol adalah tolol sebab mereka menyangka bisa memahami cinta.”


”Cinta bagaikan sebuah bendungan: jika kau membiarkan sebuah retak kecil yang hanya bisa dilewati setetes air, maka tetesan itu akan segera meruntuhkan seluruh struktur, lalu tak seorang pun bisa mengendalikan kekuatan arusnya.”


”Cinta adalah sebuah jebakan. Ketika ia datang, kita hanya melihat cahayanya, bukan bayangannya.”


”Semesta selalu membantu memperjuangkan mimpi kita, sebodoh apapun itu. Mimpi adalah milik kita sendiri, dan hanya kita yang tahu apa yang perlu diupayakan untuk tetap mengupayakannya.”


”Cinta bisa membawa kita ke neraka atau surga, tapi selalu membawa kita ke suatu tempat. Kita mesti menerimanya saja, karena cintalah yang menyuburkan keadaan kita. Jika kita menolaknya, maka kita akan mati kelaparan, karena kekurangan keberanian untuk mengulurkan tangan dan memetik buah dati dahan pohon kehidupan.”


”Cinta tak banyak tanya, karena jika kita jeda berpikir maka kita pun ketakutan.”

Saturday, November 05, 2005

Paradoks Kemenangan

Gulitanya malam serasa hampa
Oleh takbir yang menyeruak ke setiap koridor
Di surau-surau
Di lembah-lembah
Di gunung-gunung
Pekik kemenangan membangunkan jiwa yang meringkuk
dalam kebekuan akan fitrah insani
Pun makhluk-makhluk bersayap turut menghambakan diri
pada Sang Pemilik Cahaya


Roja' kan pembebasan dari naarNya
yang demikian panas
Khauf kan persuaan yang terakhir kalinya dengan ladang ubudiyah
yang demikian luas


Mercon dan kembang api simbol kemenangan
Nastar, castengels, opor ayam, hingga kacang bawang
terhidang bak simbol kebahagiaan
Sarinah, Plasa Semanggi, Taman Anggrek demikian ramainya
tuk mencari sandang nan elok di hari fitri


Namun sungguh!
Lihatlah keluar sana saudaraku
Yahudi La'natullah'alaih begitu nikmatnya
memporakporandakan kebahagiaan saudara Muslim di Palestina
empat ratus pemuda Hamas dengan
gagah berani dieksekusi tuk bela kehormatan
pembantaian Shabra Chatilla
pembantaian di Masjid Khalil Ibrahim
akankah kita dapat melupakannya???
tanah wasiat Umar bin Khattab ini
dengan pongahnya telah diinjak-injak
tak tergerakkah kita wahai saudaraku???


Lihatlah di lintasan kosmik yang lain
tak begitu jauh dari sana
masih segarkah ingatan kita tentang reruntuhan Afghan
Serakan mayat-mayat
Lubang-lubang sempit persembunyian
Akankah terdengar takbir di Kandahar, Jalalabad, dan Kabul???
Akankah???


Masih tak cukupkah kita melihat realita lainnya saudaraku???
Lihatlah Irak
Negeri 1001 malam nan mahsyur dikata orang
Tinggal nostalgia yang telah rata dengan tanah
Pembunuhan demi pembunuhan
Oh saudaraku di Fallujah
Akankah mereka mendengar suara kami???
Mortir-mortir yang berpendaran
Pecahan-pecahan bom yang begitu menyayatkan
tak jua membuat azzam mereka menjadi lemah
Dalam pengintaian mereka bershaum
Sungguh mereka menikmati jamuan yang demikian indah


Tunggu...tak sampai di sini saja saudaraku
Tahukah kau akan Pattani???
Atau kau lebih kenal durian Monthong???
Saksikanlah kebiadaban tentara Thailand
terhadap kaum Muslim di sana
tubuh-tubuh yang ditumpuk bagai hewan
mati lemas tanpa mampu menorehkan perlawanan


sebentar...sebentar...semuanya belum usai
ingatkah dirimu pada kata tsunami???
gelimpangan mayat tak bertuan
bau anyir selaksa memenuhi semesta
terjangan gelombang nan dahsyat
hilangkan Lhok Nga
Raibkan Calang
Oh...betapa si kecil Meutia tak tadahkan muka???
Di mana kau wahai Bunda???
Gendonglah diriku duhai Ayah!!!


Lain lagi kisahnya di ibukota
Kala orangnya berasyik mahsyuk mudik
Berkumpul dengan handai taulan
Guntingan lidah api dengan dahsyat menerjang
Kampung Gusti, Mangga Besar, Kampung Muka...
lagi-lagi tak sampai di situ
Air bah tak diundang
Menyerbu Cilacap...Kebumen tak ketinggalan


Duhai Rabbi...
sungguh kami hambaMu yang demikian hina
Mengaku beraqidah
Ramalan bintang dan paranormal mesih dipercaya
Mengaku beribadah
Kemaksiatan tetap dijalankan
Mengaku diri berakhlaq
Banyak jiwa yang masih tersakiti oleh tutur dan laku


Bantu kami tuk bangkit
Biarkan di hari fitri ini menjadi tonggak awal
kemenangan kami
Semoga.....


-kalamencobatukbangkitbukamatadanbukatelinga-

Wednesday, November 02, 2005

Di Penghujung Ramadhan



Hari ini kusaksikan keteduhan mentari pagi
Sinarnya hangatkan
sekujur jiwa menggigil dengan kuduk yang berdiri
Pantulannya sungguh tak pilih kasih
Hingga bebatuan cadas pun menjadi benderang karenanya
Dedaunan makin menampakkan keajaiban klorofil yang dipendamnya

Hari ini kucoba telusuri likunya perjalanan ruhani
Mengintip azzam-azzam yang masih tersisa
Berharap masih ada ruang putih tiada bernoda
Menelisik tiap keping darah
yang terbebas dari tusukan panah makhluk terkutuk
Menanti kembalinya tonggak kalbu nan kokoh dari seorang Harafisy

Hari ini kutangisi jelang kepergian bingkisan terindah
dari Rabbku Tercinta
Kian hari urat nadi kian menonjol di balik kulit yang memucat
Tiap detik peluh serasa mengalir deras bak Niagara yang tersohor
Tapi apa???
Apakah semuanya berarti???
Bila lantunan bait-bait suci tak mampu menggugah
hati ternoda yang dipinang oleh kemunafikan
Bila gemuruh ramainya surau tak jua membuat mengiri
raga yang terasa letih oleh kemaksiatan

Hari ini kubentangkan sayap khauf dan roja'
pada Rabbku Terkasih
Bertabayyun pada sekujur budi yang terjernih
Tiada lagi asa yang terpinta
Melainkan izin tuk menetapkan hayat
Hingga berkenan dipertemukan kembali
yang pada saat itu diri ini
Telah bangkit dari kegalauan panjang
Insya ALLAH...

29 Ramadhan 1426H
-selaluberharapdanmemohontukdapatdipertemukankemablidenganRamadhanNyayangindah-

Jalan Lurus

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.

Sesuai dengan namaku, aku harus lurus saja, tidak boleh berbuat lain. Sebenarnya aku tidak begitu suka terus menerus lurus, tetapi orang-orang itu sudah terlanjur menamakanku Jalan Lurus. Mereka suka sekali mengulang-ulang namaku yang indah, seolah-olah meyakinkanku bahwa sudah sepantasnya aku disebut Jalan Lurus.

Sebagai jalan tentu aku tidak begitu suka jika tidak boleh berbuat lain kecuali berusaha untuk tetap lurus, tetapi mau apa lagi---mereka menginginkanku demikian, sesuai dengan namaku. Aku tidak tahu kenapa begitu, aku juga tidak tahu apakah nama itu semacam anugerah atau kutukan, tetapi apa pula bedanya bagiku? Aku mungkin telah dianugerahi watak untuk lurus, atau telah dikutuk untuk lurus.

Sebenarnya, seperti sudah kukatakan, Jalan Lurus adalah nama yang indah, setidaknya dibanding dengan Jalan Berkelok atau Jalan Menikung---apalagi Jalan Buntu. Yang selama ini menjadi pertanyaanku adalah kenapa mereka suka sekali mengulang-ulang menyebut namaku entah berapa kali setiap hari. Aku tak tahu apakah dengan menyebut-nyebut namaku mereka merasa bahagia, atau merasa nikmat---moga-moga saja demikianlah adanya.

Mereka mungkin tidak mengetahui akibat semua itu bagiku, yakni bahwa apa pun yang terjadi aku harus tetap lurus. Bagaimana, misalnya, kalau aku menjadi gila sebab tidak punya hak untuk berbuat lain kecuali berusaha terus menerus untuk lurus? Siapa yang mau bertanggung jawab? Apakah aku harus bertanggung jawab atas segala hal yang diakibatkan oleh kelurusanku meskipun merekalah yang telah memberikan nama itu untukku, hal yang sama sekali bukan kehendakku? Bayangkan, aku harus lurus terus meskipun mendaki bukit, menuruni lembah, menyebrang padang, dan menempuh gurun—dan tentu tidak ada di antara mereka yang mau tahu jika pada suatu hari nanti aku capek dan tak bisa berbuat lain kecuali ikut-ikutan menyebut-nyebut namaku sendiri, entah untuk apa.

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.

[Sapardi Djoko Damono]

Saturday, October 15, 2005

Kado Istimewa di Hari 11 Ramadhan

Hari ini hari ke 11 di bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, berkah, dan ampunan dari ALLAH SWT. Bulan di mana setan-setan dikurung dan tiada boleh mengganggu manusia di dunia. Jikalau pun ada kejahatan yang terjadi di bulan ini, semata-mata adalah karena dorongan dan kebiasaan manusia yang dilakukan di sebelas bulan lainnya [begitu kata Ustad yang kuketahui]. Sabtu ini seperti sudah kuagendakan sehari sebelumnya, pagi hari aku berangkat ke UI Depok untuk menghadiri sebuah acara [yang dalam prioritasku penting tentunya] kemudian siangnya sekitar jam 11 aku sudah harus pergi dari Depok menuju kampus Salemba untuk menghadiri acara masa bimbingan mahasiswa baru [di sini peranku sebagai pengisi acara sharing mahasiswa berprestasi]. Pukul 09.30 tepat aku tiba di kampus Depok bersama seorang teman yang rumahnya kebetulan sedaerah dengan rumahku. Karena acara dijadwalkan pada pukul 09.30, maka kami bergegas untuk menuju tempat acara yang terletak di Student Centre FE. Setibanya di sana pukul 08.58, ternyata acaranya belum dimulai. Baru kira-kira 10 menit kemudian acaranya dimulai. Setelah waktu menunjukkan pukul 10.20, seorang temanku mengSMS dan mengatakan kalau dia telah menunggu di kampus Salemba. Oleh karena itu, bergegas aku meminta izin dari acara tersebut meskipun baru selesai sesi pertama. Tiba di stasiun Pondok Cina pukul 10.30, langsung kubeli tiket jurusan Jakarta. Setelah menunggu sekitar 15 menit KRL jurusan Jakarta pun tiba.


Perkiraanku mengenai KRL ternyata salah besar!KRL menuju Jakarta yang kukira akan relatif sepi ternyata justru sebaliknya ramai dan begitu berdesakan. Cukup sulit juga untuk memasuki KRL dalam keadaan berdesakan seperti itu apalagi untuk masuk lebih dalam. Akhirnya kupilih posisi di dekat pintu keluar agar mudah juga nantinya ketika turun. Mengingat pesan papa dan mamaku agar selalu berhati-hati akan kejahatan yang terjadi mendekati Lebaran ini, aku juga bersiaga untuk mendekap tasku yang di dalamnya berisi dompet, sedangkan kedua HP seperti biasa kutaruh di saku rok sebelah kanan. KRL yang begitu berdesakannya membuat posisi berdiriku agak kurang stabil, tapi untungnya aku bisa meraih pegangan. Di sebelah kiriku berdiri seorang wanita berjilbab dan di sebelah kananku ada seorang pria berumur 40an. Ada yang aneh sebetulnya pada pria yang berdiri di sebelahku ini. Setelah melewati stasiun UI, dia merubah posisinya yang tadinya berdiri bersebelahan denganku kemudian dia memutar 90 derajat ke kiri hingga sekarang posisiku tepat di depannya. Sebetulnya hatiku agak was was juga dengan berubahnya posisi pria ini karena sepengetahuanku tidak sedikit pelecehan seksual yang terjadi di dalam bus atau KRL dalam keadaan berdesakan seperti ini. Ditambah lagi, posisiku saat itu benar-benar terjepit hingga sisi kanan tubuhku benar-benar menyentuh badan pria tersebut. Namun, aku tetap berpikir positif karena ini adalah bulan Ramadhan. Ya, mungkin juga pikiran yang terlalu naif, berpikir bahwa tidak akan ada kejahatan yang dilakukan di bulan ini. Begitu KRL tiba di stasiun Lenteng Agung, pria tersebut turun. Cukup lega hatiku dengan turunnya dia sehingga aku bisa berdiri tanpa terjepit oleh tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang membuatku kembali was was. Ada sebuah dorongan untuk meraba saku rokku di mana aku meletakkan HP. Dan ternyata kekhawatiranku benar adanya! Nokia 6600ku yang mengisi lebih dari separuh saku rokku ternyata sudah tidak ada lagi di sana. Sekujur badanku langsung melemas tapi aku masih harus bersyukur karena si pencopet tidak mengambil juga Nokia 3610 yang juga kutaruh di dalam saku rok dan dompetku yang ada di dalam tas. Mungkin kalau dia mengambilnya juga, seketika itu juga aku akan langsung pingsan di dalam KRL dan menjadi tontonan orang banyak.


Ini kedua kalinya aku kehilangan HP dengan cara dicuri orang. Kejadian pertama terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu di mana Nokia 6100ku beserta dompet yang di dalamnya kutaruh cincin pemberian dari tanteku hilang setelah aku menitipkan tas pada seorang wanita berjilbab yang tak kukenal untuk berwudhu di Masjid Arif Rahman Hakim. Kejadian saat itu betul-betul menyesakkan dada karena HP itu baru berumur dua minggu dan semua nomor yang ada di sana otomatis raib. Untuk mengumpulkan lagi nomor-nomor itu, aku pun harus mentrace satu persatu dari tagihan HaLOku. Pasca kejadian tersebut, lantas aku membuat back up dari nomor-nomor tersebut. Mungkin juga firasat akan kehilangan ini sudah ada semenjak dua minggu yang lalu. Entah kenapa rasanya aku begitu gemas untuk mengupdate nomor-nomor yang kusave di komputer. Kemudian semalamnya, sempat terlintas juga di benakku untuk mentransfer semua foto-foto yang ada di Hpku ke komputer dan kemudian aku burn ke CD. Ya, tapi semua yang namanya firasat, feeling, atau apalah nama lainnya tak akan berguna jikalau kita tak mempercayainya dan menjadi lebih berhati-hati karenanya. Seringkali aku mendapatkan ’feeling’ mengenai sesuatu, seringkali pula aku tak begitu menghiraukannya, dan seringkali itu pula terjadi kejadian yang berkaitan dengan ’feeling’ tersebut.


Nokia 6600ku sudah setahun lebih menemani perjalanan hidupku. Dari kenangan manis hingga tragedi yang baru-baru saja terjadi menimpa diriku berawal dari sana. Ya, mungkin memang sudah saatnya diriku memulai hari yang baru dengan mengikis semua kenangan mengenai segala kejadian tersebut bersama hilangnya Nokia 6600ku. Aku berusaha untuk berlapang dada karenanya, tapi ternyata tidak demikian dengan kedua orang tuaku. Mereka amat terpukul dengan kejadian ini. Ya, aku sungguh mahfum dengan kesedihan mereka, karena zaman yang kian sulit. Ditambah lagi, statusku yang masih menjadi mahasiswa dan notabene belum bisa mencari penghasilan sendiri. Ditambah tambah lagi, sekarang aku sedang ditempatkan di bagian Prostodonti [gigi tiruan] yang notabene lagi harus bisa membayari pasien sendiri jika ingin menyelesaikan requirement pendidikan dokter gigi tepat waktu, karena mengharapkan pasien akan datang sendiri ke klinik Prostodonti di Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI untuk dibuatkan gigi tiruan sangat kecil sekali kemungkinannya.


Ya...kucoba tuk mengambil hikmah yang tersirat dari kejadian ini. Semuanya sudah ada dalam skenario ALLAH SWT dan aku harus bersabar atasnya. Semoga kejadian ini akan membuatku menjadi sosok yang lebih berhati-hati lagi, tidak begitu mudah percaya pada orang, dan yang terpenting adalah trust to your feeling...

Tidaklah ALLAH membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. 2:286)

Semangat si Abang Bajaj

Seusai menghadiri acara ifthor senat kemarin, seperti biasa aku pulang dengan menaiki bajaj dari kampus Salemba menuju Kota Bambu [yang kata sebagian besar temanku impossible banget]. Jalan Salemba Raya pada pukul 20.00 semalam cukup lengang, mungkin karena sebagian besar orang sedang melaksanakan shalat tarawih. Begitu ada bajaj yang lewat langsung saja kustop. Penampilan abang bajaj yang kuberhentikan ini masih muda dan cukup bersih. Setelah proses tawar menawar dan harga disetujui, naiklah aku di bajaj itu. Baru sampai di RS M Ridwan Meuraksa, tiba-tiba si abang bajaj itu bertanya sesuatu padaku. Dia bertanya padaku apakah aku mengetahui info kursus komputer yang ada di Bina Sarana Informatika yang ada di jalan Kramat Raya. Pertamanya kujawab saja sekenaku dengan mengatakan bahwa benar di sana juga menyelenggarakan kursus komputer. Selanjutnya si abang dengan logat Tegal yang kental berkata lagi padaku bahwa dia sangat ingin untuk mengikuti kursusu komputer di Bina Sarana Informatika. Kemudian yang terjadi adalah si abang berbicara banyak tentang dirinya. Dari perbincangan tersebut aku mengetahui bahwa dia lulusan sebuah SMEA di Tegal dan lulus pada tahun 2001. Itu berarti si abang bajaj ini seumuran denganku. Setelah lulus dia langsung pindah ke Jakarta untuk mencari uang. Tahun pertama di Jakarta, dia diterima di PT ASABA [yang direkturnya tempo hari ditembak orang]. Setelah setahun bekerja, dia harus kena PHK karena adanya pengurangan tenaga kerja. Kemudian dia menganggur untuk beberapa lama hingga akhirnya dia diterima bekerja di Dekorasi Catering [sebuah catering yang cukup terkenal di Jakarta]. Di sana dia hanya bertahan selama setahun juga. Selanjutnya sudah enam bulan ini dia narik bajaj di Jakarta. Di Jakarta, dia mengaku mengontrak bersama teman-teman satu kampungnya di daerah Tawakal Ujung, Grogol, sedangkan orangtuanya tetap berada di kampung. Selain itu, di sini dia memiliki seorang kakak yang tinggal di daerah Bekasi dan bekerja sebagai Kepala Mekanik di PT Sosro. Namun, dari pengakuannya, kakaknya tersebut tidak mau membantu dia untuk mencarikan pekerjaan karena kakaknya ingin dia untuk mandiri. Alhasil, dia kini sedang berusaha untuk mencari pekerjaan lagi dan menambah ketrampilannya dengan mengikuti kursus komputer. Karena belum ada biaya, dia berusaha untuk mencari uang dengan menarik bajaj.


Dalam perjalanan Salemba-Kota Bambu semalam, si abang bajaj terus saja mengungkapkan keinginannya padaku untuk mengikuti kursus komputer di Bina Sarana Informatika karena dia mendengar dari banyak orang bahwa setelah mengikuti kursus di sana dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Dia bilang bahwa dia memiliki sebuah cita-cita, jikalau nanti uangnya untuk kursus sudah mencukupi dia akan mengikuti kursus komputer dan setelahnya dia akan mencoba mencari pekerjaan di instansi pemerintah dan menjadi pegawai negeri. Ini pertama kalinya aku menaiki bajaj dengan sopir yang masih memiliki semangat belajar seperti ini. Mungkin juga karena rata-rata bajaj di Jakarta yang pernah aku naiki sebagian besar disopiri oleh orang-orang paruh baya. Namun, ada satu hal menarik yang bisa kuambil dari si abang bajaj ini adalah semangat yang begitu membara dalam dirinya untuk belajar dan mencapai cita-citanya. Subhanallah, ALLAH telah memberiku dorongan untuk memupuk kembali semangatku yang akhir-akhir ini agak memudar lewat seorang sopir bajaj. Jikalau si abang bajaj yang tidak memiliki biaya untuk kursus komputer pun saja mempunyai ambisi yang menggebu seperti itu [sampai-sampai ketika kami melewati jembatan Jati Baru yang demikian tinggi, dia memukul bajajnya sambil berkata ”ayo, kamu bisa!ayo, buat cari uang kursus!”], mengapa diriku yang Insya ALLAH masih memiliki orang tua yang mampu membiayaiku untuk kuliah malah tidak bersemangat untuk menjalaninya???Just because I have many problems outside my study, doesn’t mean that I lose my courage 2...Keep smile n spirit!!!

Tidak ada kata putus asa dalam perjuangan bagi Jundullah

Dan tidak ada kata kalah bagi mujahid yang menjual dirinya di jalan Allah

Yang ada adalah semangat untuk terus berjuang!

Friday, October 14, 2005

Schwabing

Sudah 10 hari Ramadhan berlalu...dan kalau dihitung-hitung ternyata baru 4 hari ifthor di rumah, selebihnya ifthor di luaran terus. Kemarin itu jatahnya grup klinikku, bersepuluh orang, ngadain ifthor jama'i. Meski ada 4 orang anggota grupku yang non muslim dan 3 orang yang sedang berhalangan untuk shaum, rencana kami buat ifthor jama'i tetap jadi. Sesuai dengan rencana, setelah sebelumnya reservasi tempat di restoran Schwabing, Plangi [Plasa Semanggi] kami pergi ke lokasi seusai bekerja di klinik Prosto. Dengan menaiki dua mobil, konvoilah kami ke Plangi. Namun, berhubung mobil yang satunya disetirin sama temenku yang baru belajar mobil [sorry ya Dit :p], perjalanannya jadi rada lambat karena musti nunggunin mobilnya dia dulu. Setibanya di Sudirman, karena ini jalan udah familiar banget pastinya, aku yang berada di rombongan mobil depan, langsung saja melaju tanpa menunggu mobil yang satunya. Perjalanan ke Plangi cukup lancar dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit buat sampe di sana mulai dari masuk Sudirman.


Sampai di Plangi, yah dasar cewe' kalo udah ngeliat barang-barang lucu, lama deh nyangkutnya. Alhasil, sementara nungguin rombongan di mobil satunya yang ternyata nyasar saudara2!, rombongan cewe-cewe di mobil satu, nyangkut dulu deh di CenTro...kalo buatku sih, cuci mata kayak gitu cuma bikin sakit hati euy...harganya gak nahan bangeddd...mendingan buat bayarin pasien gigi tiruan deh :D...Waktu sudah menunjukkan pukul 17.10, akhirnya tiba juga tu rombongan mobil kedua dan langsung aja kami naik ke Schwabing yang terletak di lantai 5 Plangi....Kenapa milihnya di Schwabing???kebetuLan banget pas lagi nyari-nyari resto buat ifthor yang asik tempatnya dan deket juga tempat sholatnya pas liat iklan tuh resto di Media Indonesia...dan promonya cukup menggiurkan juga...paket buka puasa buffet seharga Rp. 33.000, ya lumayan lah buat resto sekelas buffet kan sekarang minimal musti ngeluarin kocek Rp.39.000. Udah gitu, dari nama restonya aja kan berbau2 Jerman gitu, jadi berharap bakalan dapet buffet makanan khas Jerman gitu deh. Berhubung sepertinya meja-meja di resto itu rata-rata reservasi semua dan orangnya belum pada datang, jadilah kami pengunjung pertama di sana. Grupku yang memang pada dasarnya udah rame, ditambah lagi restonya masih sepi, jadilah kami yang paling heboh di itu resto. Ketawa ketiwi, ngobrolin masalah klinik, dll. Pas jam berbuka masuk, pelayannya langsung menghidangkan kami ta'jil berupa kolak kolang-kaling. Asik juga rasanya. Setelah nunggu temen-temen Magriban, langsung aja deh kami menyerbu menu buffet yang ada. Dannn ternyata saudara2!menunya berasa di walimahan gitu...makanan Indonesia bangettt...ya ada sih satu menunya bentuknya kayak sate gitu yang namanya berbau-bau Jerman. Usut punya usut, setelah kami lihat daftar menu non buffetnya, ternyata benar itu namanya Sate Germany, dan harga satuannya Rp.22.000!Huehehehehe...heboh deh. Tak cuma sampai di situ, berhubung minumanku sudah habis dan pas ditanya ke pelayannya gak bisa refill :D, jadilah kami bertiga, aku, Dewi, dan Eve memesan Es Teh Tawar dengan harapan itu adalah minuman termurah. Namun, ternyata kami salah besar, pas udah selesai minta bill itu Es Teh Tawar ternyat dihargain Rp.15.000! Wah wah wah....kalo di kampus mah bisa dapet 7 gelas Es Teh Manis pula...But, never mind deh, sekali-kali, buat jadi pelajaran juga!Teliti sebelum memesan :D...Buat anak-anak CD'01...tetep kompakan yah!!!NiCe 2 HavE u All :)

Monday, October 10, 2005

Minggu Serba Pertama

Minggu ini tampaknya merupakan minggu dengan hari-hari serba kejadian pertama yang aku alami.


Dimulai di hari Senin adalah hari pertama aku masuk klinik prostodonsi atau pembuatan gigi palsu. Dengan kedua mata yang menyembab karena habis menangis semalamam, aku tiba di kampus pukul 7 tepat. Kontan saja hal ini menimbulkan pertanyaan pada beberapa orang temanku. Teman-teman segrupku yang telah mengetahui masalah yang sedang aku alami langsung mengira mataku sembab karena menangis akibat masalah tersebut dan teman-teman lain yang tidak mengetahuinya mengira aku sedang dalam kondisi sakit. Entah kenapa di hari pertama yang harusnya aku semangat untuk memulai pekerjaan prostoku, tetapi justru sebaliknya aku malah tidak punya semangat sama sekali. Bahkan di kala teman-temanku berlomba-lomba mendatangkan pasien untuk dilakukan indikasi, aku malah masih termangu tak tahu harus berbuat apa. I don’t know, this isn’t a real me!Tiba-tiba dengan spontan, aku memutuskan untuk ikut-ikutan memanggil pasienku untuk datang pada hari itu. Kutelepon dia dan memintanya untuk datang, alhasil dia bisa datang pada siang hari nanti sekitar pukul 11 janjinya. OK, kalau begitu aku masih punya waktu untuk mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk indikasi pasien. Ku bergegas naik ke lantai empat untuk mengambil peralatanku yang disimpan di loker [masih dengan ketermanguan]. Sudah lama juga aku tidak mengurusi semua peralatanku karena hampir 4 bulan aku tidak bertugas di klinik yang harus berhadapan dengan pasien. Karena aku juga bingung dengan alat-alat yang dibutuhkan apa saja, akhirnya satu boks alat yang beratnya lumayan itu aku bawa turun ke klinik. Wuih, mengira semuanya sudah lengkap, ternyata alat-alat yang kecil tapi krusial seperti sarung tangan dan masker justru malah kulupakan! Alhasil, jadilah aku kesana kemari mencari pinjaman sarung tangan [actually, I’ve borrowed it ;)] Setelah semua kupikir lengkap, masih dengan ketermanguan, aku memperhatikan teman-temanku yang sedang bekerja. Subhanallah! Semangat kerja mereka sangat tinggi!Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba semangat kerjaku malahan turun dratis seperti ini. Charles Jourdanku sudah menunjukkan pukul 11, kuajak temanku Eveline untuk menunggu pasienku dan pasiennya datang di depan RS Gigi dan Mulut. Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama ternyata mereka sudah tiba di depan RS. Langsung saja ku ajak mereka ke klinik prosto. Setelah meminta izin kepada supervisorku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian, beliau menyuruhku untuk mencetak pasienku. Dan pada titik inilah, untuk pertama kalinya aku mencetak pasien untuk pembuatan gigi tiruan.


Hari Selasa, ketika akan berangkat ke kampus, tiba-tiba saja perutku terasa sakit tak tertahankan. Rasanya tak kuat untuk berjalan ke kampus, padahal hari itu adalah hari pertamaku masuk klinik Bedah Mulut. Wuih, alhasil harus izin dan seharian tiduran di rumah.


Keesokan harinya, hari Rabu adalah hari pertama Ramadhan. Meski masih terasa sakit dan kondisi badan yang lemas, aku tetap berusaha untuk menjalankan shaum pertama ini. Ba’da Shubuh seperti tradisi tiap tahunku selama kuliah, kupejamkan mataku barang sebentar sebelum berangkat ke kampus. Setelah bangun, ternyata aku merasa badanku benar-benar lemas dan ku pikir tak akan sanggup lagi untuk ke kampus. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berangkat ke kampus lagi! Rekor!Ini adalah pertama kalinya selama masa klinikku, aku tidak masuk selama dua hari berturut-turut [tanpa merasa ada beban karena memang belum dapat giliran kerja].


Hari Kamisnya, setelah merasa badanku benar-benar kuat, akhirnya aku dapat berangkat ke kampus. Sudah dapat kutebak, teman-teman segrupku pasti bertanya alasan sakitku apa sehingga tidak masuk selama dua hari berturut-turut. Aku yang ditanya cuma bisa senyam-senyum, karena sesungguhnya memang aku juga tidak tahu aku sakit apa. Dokter bilang ada sedikit gangguan pencernaan. Mungkin ada benarnya juga, tapi sepertinya lantas diperberat oleh gejala psikosomatis akibat masalah-masalah yang menderaku selama beberapa minggu ini. Karena hari Kamis adalah jadwal aku bekerja di klinik prosto, aku mengajak mamaku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan jembatan. Lagi-lagi ini adalah momen pertamaku mengajak mama ke kampus untuk dirawat gigi.


Hari Jumat adalah jadwal klinik Orthodonti yang berarti bagi sebagian besar mahasiswa klinik adalah hari santai atau hari ’ngacir’ ke bagian lain untuk menyelesaikan requirement dan jadwalku sendiri di klinik Ortho hari ini tidak terlalu padat karena tidak ada diskusi. Seusai aktivasi kawat ortho pasienku, tepat pukul 12 aku bergegas ke lantai 4 menemui adik-adik angkatan 2005 untuk memberikan mentoring kepada mereka sesuai dengan amanah yang diberikan kepadaku. Ini pertama kalinya aku memegang kelompok mentoring di kampus.


Hari Sabtu aku sudah mengatur jadwal untuk belajar persiapan diskusi gigi tiruan penuh dengan Eveline di perpustakaan kampus. Setelah selesai dari kampus, seorang yang baik hati mengajakku untuk ifthor di luar yang kuterima dengan senang hati. Dimulailah petualangan ngabuburit kami sore itu. Berawal dari Gramedia Matraman untuk mencari buku terjemahan dosen pembimbingku. Karena tidak menemukannya di sana, aku berinisiatif untuk mencarinya ke Sagung Seto di Pramuka. Ternyata di sana buku yang kucari juga tidak ada. Karena waktu Ashar sudah tiba, akhirnya kami memutuskan untuk segera pergi ke Masjid Pondok Indah untuk menunaikan sholat di sana. Seusai sholat, aku masih penasaran untuk mencari buku tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall. Sebetulnya sudah agak letih juga berjalan dari siang tadi, tapi aku berusaha untuk tetap bersemangat!Fiuh, lagi-lagi ternyata di Gramedia PIM tak kutemukan buku itu. Setelah berpikir-pikir dan menimbang cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di PIM saja untuk kemudian sholat Maghrib dan tarawih di Masjid Pondok Indah. Ya! Ini pertama kalinya aku di mal dan tarawihan di Masjid Pondok Indah.


Hmm....Setelah masa-masa September Kelabu, sepertinya Sang Pertanda untuk dapat meraih hari dan semangat baru telah datang!Teringat bait-bait motivasi dari seseorang....

A new day has started.

A new day to love and to be loved.

A new day to feel warm of the sun.

A new day to sweep all our miserables of past.

A new day to make a new great history.

A new day to forgive our and other mistakes.

A new day to proof our quality.

A new day to make another fight.

A new day...

A new opportunities to be a better person,

to gather pahalas for ALLAH SWT's heaven

Friday, September 09, 2005

Kontemplasi

Ketika Allah memberikan kita cobaan, berarti Allah sedang memberi perhatian yang lebih, memberikan kasih sayang yang lebih pada kita. Karena hakikat dari cobaan atau ujian adalah sebanding dengan tingkat keimanan seseorang yang jika seseorang tersebut bersabar, maka Allah akan naikkan keimanan. Jika kita menjadi kufur, maka akan turun tingkat keimanan kita.


Mungkin kita telah melupakan malam-malam di mana kita menangis, mengingat semua dosa, khilaf, dan maksiat yang kita lakukan, merenungi betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan, Allah rindu akan air mata kita, Allah rindu dengan curahan hati kita kepadaNya.


Hanya Allah-lah tempat kembali segala sesuatu. Allah tempat kita mengadu dan sumber solusi atas segala permasalahan kita.


-sembariselaluberharapbahwacintadankasihNyatakberpalingdariseorangpapaini-

Tuesday, June 14, 2005

A K U

Dalam kesendirian

Termenungku dalam khayal

Memang ku bukan siapa-siapa

Aku bagaikan belalang yang tak berilalang

Hampa tanpa keheningan

Kenapa aku menjadi aku

Aku pun tak tahu

Dan tak seorang pun tahu

Karena mereka bukan aku

Hanya aku yang tahu

Apa makna kesendirian dalam hati

Aku adalah aku

Tak mungkin jadi mereka

Yang sering menghadapi ombak

Bahkan pusaran laut yang dalam

Aku hanya seonggok daging

Yang terjebak di lautan asing