Credits to

Powered by Blogger

Saturday, November 05, 2005

Paradoks Kemenangan

Gulitanya malam serasa hampa
Oleh takbir yang menyeruak ke setiap koridor
Di surau-surau
Di lembah-lembah
Di gunung-gunung
Pekik kemenangan membangunkan jiwa yang meringkuk
dalam kebekuan akan fitrah insani
Pun makhluk-makhluk bersayap turut menghambakan diri
pada Sang Pemilik Cahaya


Roja' kan pembebasan dari naarNya
yang demikian panas
Khauf kan persuaan yang terakhir kalinya dengan ladang ubudiyah
yang demikian luas


Mercon dan kembang api simbol kemenangan
Nastar, castengels, opor ayam, hingga kacang bawang
terhidang bak simbol kebahagiaan
Sarinah, Plasa Semanggi, Taman Anggrek demikian ramainya
tuk mencari sandang nan elok di hari fitri


Namun sungguh!
Lihatlah keluar sana saudaraku
Yahudi La'natullah'alaih begitu nikmatnya
memporakporandakan kebahagiaan saudara Muslim di Palestina
empat ratus pemuda Hamas dengan
gagah berani dieksekusi tuk bela kehormatan
pembantaian Shabra Chatilla
pembantaian di Masjid Khalil Ibrahim
akankah kita dapat melupakannya???
tanah wasiat Umar bin Khattab ini
dengan pongahnya telah diinjak-injak
tak tergerakkah kita wahai saudaraku???


Lihatlah di lintasan kosmik yang lain
tak begitu jauh dari sana
masih segarkah ingatan kita tentang reruntuhan Afghan
Serakan mayat-mayat
Lubang-lubang sempit persembunyian
Akankah terdengar takbir di Kandahar, Jalalabad, dan Kabul???
Akankah???


Masih tak cukupkah kita melihat realita lainnya saudaraku???
Lihatlah Irak
Negeri 1001 malam nan mahsyur dikata orang
Tinggal nostalgia yang telah rata dengan tanah
Pembunuhan demi pembunuhan
Oh saudaraku di Fallujah
Akankah mereka mendengar suara kami???
Mortir-mortir yang berpendaran
Pecahan-pecahan bom yang begitu menyayatkan
tak jua membuat azzam mereka menjadi lemah
Dalam pengintaian mereka bershaum
Sungguh mereka menikmati jamuan yang demikian indah


Tunggu...tak sampai di sini saja saudaraku
Tahukah kau akan Pattani???
Atau kau lebih kenal durian Monthong???
Saksikanlah kebiadaban tentara Thailand
terhadap kaum Muslim di sana
tubuh-tubuh yang ditumpuk bagai hewan
mati lemas tanpa mampu menorehkan perlawanan


sebentar...sebentar...semuanya belum usai
ingatkah dirimu pada kata tsunami???
gelimpangan mayat tak bertuan
bau anyir selaksa memenuhi semesta
terjangan gelombang nan dahsyat
hilangkan Lhok Nga
Raibkan Calang
Oh...betapa si kecil Meutia tak tadahkan muka???
Di mana kau wahai Bunda???
Gendonglah diriku duhai Ayah!!!


Lain lagi kisahnya di ibukota
Kala orangnya berasyik mahsyuk mudik
Berkumpul dengan handai taulan
Guntingan lidah api dengan dahsyat menerjang
Kampung Gusti, Mangga Besar, Kampung Muka...
lagi-lagi tak sampai di situ
Air bah tak diundang
Menyerbu Cilacap...Kebumen tak ketinggalan


Duhai Rabbi...
sungguh kami hambaMu yang demikian hina
Mengaku beraqidah
Ramalan bintang dan paranormal mesih dipercaya
Mengaku beribadah
Kemaksiatan tetap dijalankan
Mengaku diri berakhlaq
Banyak jiwa yang masih tersakiti oleh tutur dan laku


Bantu kami tuk bangkit
Biarkan di hari fitri ini menjadi tonggak awal
kemenangan kami
Semoga.....


-kalamencobatukbangkitbukamatadanbukatelinga-

No comments: