Credits to

Powered by Blogger

Saturday, October 15, 2005

Kado Istimewa di Hari 11 Ramadhan

Hari ini hari ke 11 di bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, berkah, dan ampunan dari ALLAH SWT. Bulan di mana setan-setan dikurung dan tiada boleh mengganggu manusia di dunia. Jikalau pun ada kejahatan yang terjadi di bulan ini, semata-mata adalah karena dorongan dan kebiasaan manusia yang dilakukan di sebelas bulan lainnya [begitu kata Ustad yang kuketahui]. Sabtu ini seperti sudah kuagendakan sehari sebelumnya, pagi hari aku berangkat ke UI Depok untuk menghadiri sebuah acara [yang dalam prioritasku penting tentunya] kemudian siangnya sekitar jam 11 aku sudah harus pergi dari Depok menuju kampus Salemba untuk menghadiri acara masa bimbingan mahasiswa baru [di sini peranku sebagai pengisi acara sharing mahasiswa berprestasi]. Pukul 09.30 tepat aku tiba di kampus Depok bersama seorang teman yang rumahnya kebetulan sedaerah dengan rumahku. Karena acara dijadwalkan pada pukul 09.30, maka kami bergegas untuk menuju tempat acara yang terletak di Student Centre FE. Setibanya di sana pukul 08.58, ternyata acaranya belum dimulai. Baru kira-kira 10 menit kemudian acaranya dimulai. Setelah waktu menunjukkan pukul 10.20, seorang temanku mengSMS dan mengatakan kalau dia telah menunggu di kampus Salemba. Oleh karena itu, bergegas aku meminta izin dari acara tersebut meskipun baru selesai sesi pertama. Tiba di stasiun Pondok Cina pukul 10.30, langsung kubeli tiket jurusan Jakarta. Setelah menunggu sekitar 15 menit KRL jurusan Jakarta pun tiba.


Perkiraanku mengenai KRL ternyata salah besar!KRL menuju Jakarta yang kukira akan relatif sepi ternyata justru sebaliknya ramai dan begitu berdesakan. Cukup sulit juga untuk memasuki KRL dalam keadaan berdesakan seperti itu apalagi untuk masuk lebih dalam. Akhirnya kupilih posisi di dekat pintu keluar agar mudah juga nantinya ketika turun. Mengingat pesan papa dan mamaku agar selalu berhati-hati akan kejahatan yang terjadi mendekati Lebaran ini, aku juga bersiaga untuk mendekap tasku yang di dalamnya berisi dompet, sedangkan kedua HP seperti biasa kutaruh di saku rok sebelah kanan. KRL yang begitu berdesakannya membuat posisi berdiriku agak kurang stabil, tapi untungnya aku bisa meraih pegangan. Di sebelah kiriku berdiri seorang wanita berjilbab dan di sebelah kananku ada seorang pria berumur 40an. Ada yang aneh sebetulnya pada pria yang berdiri di sebelahku ini. Setelah melewati stasiun UI, dia merubah posisinya yang tadinya berdiri bersebelahan denganku kemudian dia memutar 90 derajat ke kiri hingga sekarang posisiku tepat di depannya. Sebetulnya hatiku agak was was juga dengan berubahnya posisi pria ini karena sepengetahuanku tidak sedikit pelecehan seksual yang terjadi di dalam bus atau KRL dalam keadaan berdesakan seperti ini. Ditambah lagi, posisiku saat itu benar-benar terjepit hingga sisi kanan tubuhku benar-benar menyentuh badan pria tersebut. Namun, aku tetap berpikir positif karena ini adalah bulan Ramadhan. Ya, mungkin juga pikiran yang terlalu naif, berpikir bahwa tidak akan ada kejahatan yang dilakukan di bulan ini. Begitu KRL tiba di stasiun Lenteng Agung, pria tersebut turun. Cukup lega hatiku dengan turunnya dia sehingga aku bisa berdiri tanpa terjepit oleh tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang membuatku kembali was was. Ada sebuah dorongan untuk meraba saku rokku di mana aku meletakkan HP. Dan ternyata kekhawatiranku benar adanya! Nokia 6600ku yang mengisi lebih dari separuh saku rokku ternyata sudah tidak ada lagi di sana. Sekujur badanku langsung melemas tapi aku masih harus bersyukur karena si pencopet tidak mengambil juga Nokia 3610 yang juga kutaruh di dalam saku rok dan dompetku yang ada di dalam tas. Mungkin kalau dia mengambilnya juga, seketika itu juga aku akan langsung pingsan di dalam KRL dan menjadi tontonan orang banyak.


Ini kedua kalinya aku kehilangan HP dengan cara dicuri orang. Kejadian pertama terjadi kurang lebih dua tahun yang lalu di mana Nokia 6100ku beserta dompet yang di dalamnya kutaruh cincin pemberian dari tanteku hilang setelah aku menitipkan tas pada seorang wanita berjilbab yang tak kukenal untuk berwudhu di Masjid Arif Rahman Hakim. Kejadian saat itu betul-betul menyesakkan dada karena HP itu baru berumur dua minggu dan semua nomor yang ada di sana otomatis raib. Untuk mengumpulkan lagi nomor-nomor itu, aku pun harus mentrace satu persatu dari tagihan HaLOku. Pasca kejadian tersebut, lantas aku membuat back up dari nomor-nomor tersebut. Mungkin juga firasat akan kehilangan ini sudah ada semenjak dua minggu yang lalu. Entah kenapa rasanya aku begitu gemas untuk mengupdate nomor-nomor yang kusave di komputer. Kemudian semalamnya, sempat terlintas juga di benakku untuk mentransfer semua foto-foto yang ada di Hpku ke komputer dan kemudian aku burn ke CD. Ya, tapi semua yang namanya firasat, feeling, atau apalah nama lainnya tak akan berguna jikalau kita tak mempercayainya dan menjadi lebih berhati-hati karenanya. Seringkali aku mendapatkan ’feeling’ mengenai sesuatu, seringkali pula aku tak begitu menghiraukannya, dan seringkali itu pula terjadi kejadian yang berkaitan dengan ’feeling’ tersebut.


Nokia 6600ku sudah setahun lebih menemani perjalanan hidupku. Dari kenangan manis hingga tragedi yang baru-baru saja terjadi menimpa diriku berawal dari sana. Ya, mungkin memang sudah saatnya diriku memulai hari yang baru dengan mengikis semua kenangan mengenai segala kejadian tersebut bersama hilangnya Nokia 6600ku. Aku berusaha untuk berlapang dada karenanya, tapi ternyata tidak demikian dengan kedua orang tuaku. Mereka amat terpukul dengan kejadian ini. Ya, aku sungguh mahfum dengan kesedihan mereka, karena zaman yang kian sulit. Ditambah lagi, statusku yang masih menjadi mahasiswa dan notabene belum bisa mencari penghasilan sendiri. Ditambah tambah lagi, sekarang aku sedang ditempatkan di bagian Prostodonti [gigi tiruan] yang notabene lagi harus bisa membayari pasien sendiri jika ingin menyelesaikan requirement pendidikan dokter gigi tepat waktu, karena mengharapkan pasien akan datang sendiri ke klinik Prostodonti di Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI untuk dibuatkan gigi tiruan sangat kecil sekali kemungkinannya.


Ya...kucoba tuk mengambil hikmah yang tersirat dari kejadian ini. Semuanya sudah ada dalam skenario ALLAH SWT dan aku harus bersabar atasnya. Semoga kejadian ini akan membuatku menjadi sosok yang lebih berhati-hati lagi, tidak begitu mudah percaya pada orang, dan yang terpenting adalah trust to your feeling...

Tidaklah ALLAH membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. 2:286)

Semangat si Abang Bajaj

Seusai menghadiri acara ifthor senat kemarin, seperti biasa aku pulang dengan menaiki bajaj dari kampus Salemba menuju Kota Bambu [yang kata sebagian besar temanku impossible banget]. Jalan Salemba Raya pada pukul 20.00 semalam cukup lengang, mungkin karena sebagian besar orang sedang melaksanakan shalat tarawih. Begitu ada bajaj yang lewat langsung saja kustop. Penampilan abang bajaj yang kuberhentikan ini masih muda dan cukup bersih. Setelah proses tawar menawar dan harga disetujui, naiklah aku di bajaj itu. Baru sampai di RS M Ridwan Meuraksa, tiba-tiba si abang bajaj itu bertanya sesuatu padaku. Dia bertanya padaku apakah aku mengetahui info kursus komputer yang ada di Bina Sarana Informatika yang ada di jalan Kramat Raya. Pertamanya kujawab saja sekenaku dengan mengatakan bahwa benar di sana juga menyelenggarakan kursus komputer. Selanjutnya si abang dengan logat Tegal yang kental berkata lagi padaku bahwa dia sangat ingin untuk mengikuti kursusu komputer di Bina Sarana Informatika. Kemudian yang terjadi adalah si abang berbicara banyak tentang dirinya. Dari perbincangan tersebut aku mengetahui bahwa dia lulusan sebuah SMEA di Tegal dan lulus pada tahun 2001. Itu berarti si abang bajaj ini seumuran denganku. Setelah lulus dia langsung pindah ke Jakarta untuk mencari uang. Tahun pertama di Jakarta, dia diterima di PT ASABA [yang direkturnya tempo hari ditembak orang]. Setelah setahun bekerja, dia harus kena PHK karena adanya pengurangan tenaga kerja. Kemudian dia menganggur untuk beberapa lama hingga akhirnya dia diterima bekerja di Dekorasi Catering [sebuah catering yang cukup terkenal di Jakarta]. Di sana dia hanya bertahan selama setahun juga. Selanjutnya sudah enam bulan ini dia narik bajaj di Jakarta. Di Jakarta, dia mengaku mengontrak bersama teman-teman satu kampungnya di daerah Tawakal Ujung, Grogol, sedangkan orangtuanya tetap berada di kampung. Selain itu, di sini dia memiliki seorang kakak yang tinggal di daerah Bekasi dan bekerja sebagai Kepala Mekanik di PT Sosro. Namun, dari pengakuannya, kakaknya tersebut tidak mau membantu dia untuk mencarikan pekerjaan karena kakaknya ingin dia untuk mandiri. Alhasil, dia kini sedang berusaha untuk mencari pekerjaan lagi dan menambah ketrampilannya dengan mengikuti kursus komputer. Karena belum ada biaya, dia berusaha untuk mencari uang dengan menarik bajaj.


Dalam perjalanan Salemba-Kota Bambu semalam, si abang bajaj terus saja mengungkapkan keinginannya padaku untuk mengikuti kursus komputer di Bina Sarana Informatika karena dia mendengar dari banyak orang bahwa setelah mengikuti kursus di sana dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Dia bilang bahwa dia memiliki sebuah cita-cita, jikalau nanti uangnya untuk kursus sudah mencukupi dia akan mengikuti kursus komputer dan setelahnya dia akan mencoba mencari pekerjaan di instansi pemerintah dan menjadi pegawai negeri. Ini pertama kalinya aku menaiki bajaj dengan sopir yang masih memiliki semangat belajar seperti ini. Mungkin juga karena rata-rata bajaj di Jakarta yang pernah aku naiki sebagian besar disopiri oleh orang-orang paruh baya. Namun, ada satu hal menarik yang bisa kuambil dari si abang bajaj ini adalah semangat yang begitu membara dalam dirinya untuk belajar dan mencapai cita-citanya. Subhanallah, ALLAH telah memberiku dorongan untuk memupuk kembali semangatku yang akhir-akhir ini agak memudar lewat seorang sopir bajaj. Jikalau si abang bajaj yang tidak memiliki biaya untuk kursus komputer pun saja mempunyai ambisi yang menggebu seperti itu [sampai-sampai ketika kami melewati jembatan Jati Baru yang demikian tinggi, dia memukul bajajnya sambil berkata ”ayo, kamu bisa!ayo, buat cari uang kursus!”], mengapa diriku yang Insya ALLAH masih memiliki orang tua yang mampu membiayaiku untuk kuliah malah tidak bersemangat untuk menjalaninya???Just because I have many problems outside my study, doesn’t mean that I lose my courage 2...Keep smile n spirit!!!

Tidak ada kata putus asa dalam perjuangan bagi Jundullah

Dan tidak ada kata kalah bagi mujahid yang menjual dirinya di jalan Allah

Yang ada adalah semangat untuk terus berjuang!

Friday, October 14, 2005

Schwabing

Sudah 10 hari Ramadhan berlalu...dan kalau dihitung-hitung ternyata baru 4 hari ifthor di rumah, selebihnya ifthor di luaran terus. Kemarin itu jatahnya grup klinikku, bersepuluh orang, ngadain ifthor jama'i. Meski ada 4 orang anggota grupku yang non muslim dan 3 orang yang sedang berhalangan untuk shaum, rencana kami buat ifthor jama'i tetap jadi. Sesuai dengan rencana, setelah sebelumnya reservasi tempat di restoran Schwabing, Plangi [Plasa Semanggi] kami pergi ke lokasi seusai bekerja di klinik Prosto. Dengan menaiki dua mobil, konvoilah kami ke Plangi. Namun, berhubung mobil yang satunya disetirin sama temenku yang baru belajar mobil [sorry ya Dit :p], perjalanannya jadi rada lambat karena musti nunggunin mobilnya dia dulu. Setibanya di Sudirman, karena ini jalan udah familiar banget pastinya, aku yang berada di rombongan mobil depan, langsung saja melaju tanpa menunggu mobil yang satunya. Perjalanan ke Plangi cukup lancar dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit buat sampe di sana mulai dari masuk Sudirman.


Sampai di Plangi, yah dasar cewe' kalo udah ngeliat barang-barang lucu, lama deh nyangkutnya. Alhasil, sementara nungguin rombongan di mobil satunya yang ternyata nyasar saudara2!, rombongan cewe-cewe di mobil satu, nyangkut dulu deh di CenTro...kalo buatku sih, cuci mata kayak gitu cuma bikin sakit hati euy...harganya gak nahan bangeddd...mendingan buat bayarin pasien gigi tiruan deh :D...Waktu sudah menunjukkan pukul 17.10, akhirnya tiba juga tu rombongan mobil kedua dan langsung aja kami naik ke Schwabing yang terletak di lantai 5 Plangi....Kenapa milihnya di Schwabing???kebetuLan banget pas lagi nyari-nyari resto buat ifthor yang asik tempatnya dan deket juga tempat sholatnya pas liat iklan tuh resto di Media Indonesia...dan promonya cukup menggiurkan juga...paket buka puasa buffet seharga Rp. 33.000, ya lumayan lah buat resto sekelas buffet kan sekarang minimal musti ngeluarin kocek Rp.39.000. Udah gitu, dari nama restonya aja kan berbau2 Jerman gitu, jadi berharap bakalan dapet buffet makanan khas Jerman gitu deh. Berhubung sepertinya meja-meja di resto itu rata-rata reservasi semua dan orangnya belum pada datang, jadilah kami pengunjung pertama di sana. Grupku yang memang pada dasarnya udah rame, ditambah lagi restonya masih sepi, jadilah kami yang paling heboh di itu resto. Ketawa ketiwi, ngobrolin masalah klinik, dll. Pas jam berbuka masuk, pelayannya langsung menghidangkan kami ta'jil berupa kolak kolang-kaling. Asik juga rasanya. Setelah nunggu temen-temen Magriban, langsung aja deh kami menyerbu menu buffet yang ada. Dannn ternyata saudara2!menunya berasa di walimahan gitu...makanan Indonesia bangettt...ya ada sih satu menunya bentuknya kayak sate gitu yang namanya berbau-bau Jerman. Usut punya usut, setelah kami lihat daftar menu non buffetnya, ternyata benar itu namanya Sate Germany, dan harga satuannya Rp.22.000!Huehehehehe...heboh deh. Tak cuma sampai di situ, berhubung minumanku sudah habis dan pas ditanya ke pelayannya gak bisa refill :D, jadilah kami bertiga, aku, Dewi, dan Eve memesan Es Teh Tawar dengan harapan itu adalah minuman termurah. Namun, ternyata kami salah besar, pas udah selesai minta bill itu Es Teh Tawar ternyat dihargain Rp.15.000! Wah wah wah....kalo di kampus mah bisa dapet 7 gelas Es Teh Manis pula...But, never mind deh, sekali-kali, buat jadi pelajaran juga!Teliti sebelum memesan :D...Buat anak-anak CD'01...tetep kompakan yah!!!NiCe 2 HavE u All :)

Monday, October 10, 2005

Minggu Serba Pertama

Minggu ini tampaknya merupakan minggu dengan hari-hari serba kejadian pertama yang aku alami.


Dimulai di hari Senin adalah hari pertama aku masuk klinik prostodonsi atau pembuatan gigi palsu. Dengan kedua mata yang menyembab karena habis menangis semalamam, aku tiba di kampus pukul 7 tepat. Kontan saja hal ini menimbulkan pertanyaan pada beberapa orang temanku. Teman-teman segrupku yang telah mengetahui masalah yang sedang aku alami langsung mengira mataku sembab karena menangis akibat masalah tersebut dan teman-teman lain yang tidak mengetahuinya mengira aku sedang dalam kondisi sakit. Entah kenapa di hari pertama yang harusnya aku semangat untuk memulai pekerjaan prostoku, tetapi justru sebaliknya aku malah tidak punya semangat sama sekali. Bahkan di kala teman-temanku berlomba-lomba mendatangkan pasien untuk dilakukan indikasi, aku malah masih termangu tak tahu harus berbuat apa. I don’t know, this isn’t a real me!Tiba-tiba dengan spontan, aku memutuskan untuk ikut-ikutan memanggil pasienku untuk datang pada hari itu. Kutelepon dia dan memintanya untuk datang, alhasil dia bisa datang pada siang hari nanti sekitar pukul 11 janjinya. OK, kalau begitu aku masih punya waktu untuk mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk indikasi pasien. Ku bergegas naik ke lantai empat untuk mengambil peralatanku yang disimpan di loker [masih dengan ketermanguan]. Sudah lama juga aku tidak mengurusi semua peralatanku karena hampir 4 bulan aku tidak bertugas di klinik yang harus berhadapan dengan pasien. Karena aku juga bingung dengan alat-alat yang dibutuhkan apa saja, akhirnya satu boks alat yang beratnya lumayan itu aku bawa turun ke klinik. Wuih, mengira semuanya sudah lengkap, ternyata alat-alat yang kecil tapi krusial seperti sarung tangan dan masker justru malah kulupakan! Alhasil, jadilah aku kesana kemari mencari pinjaman sarung tangan [actually, I’ve borrowed it ;)] Setelah semua kupikir lengkap, masih dengan ketermanguan, aku memperhatikan teman-temanku yang sedang bekerja. Subhanallah! Semangat kerja mereka sangat tinggi!Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba semangat kerjaku malahan turun dratis seperti ini. Charles Jourdanku sudah menunjukkan pukul 11, kuajak temanku Eveline untuk menunggu pasienku dan pasiennya datang di depan RS Gigi dan Mulut. Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama ternyata mereka sudah tiba di depan RS. Langsung saja ku ajak mereka ke klinik prosto. Setelah meminta izin kepada supervisorku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian, beliau menyuruhku untuk mencetak pasienku. Dan pada titik inilah, untuk pertama kalinya aku mencetak pasien untuk pembuatan gigi tiruan.


Hari Selasa, ketika akan berangkat ke kampus, tiba-tiba saja perutku terasa sakit tak tertahankan. Rasanya tak kuat untuk berjalan ke kampus, padahal hari itu adalah hari pertamaku masuk klinik Bedah Mulut. Wuih, alhasil harus izin dan seharian tiduran di rumah.


Keesokan harinya, hari Rabu adalah hari pertama Ramadhan. Meski masih terasa sakit dan kondisi badan yang lemas, aku tetap berusaha untuk menjalankan shaum pertama ini. Ba’da Shubuh seperti tradisi tiap tahunku selama kuliah, kupejamkan mataku barang sebentar sebelum berangkat ke kampus. Setelah bangun, ternyata aku merasa badanku benar-benar lemas dan ku pikir tak akan sanggup lagi untuk ke kampus. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berangkat ke kampus lagi! Rekor!Ini adalah pertama kalinya selama masa klinikku, aku tidak masuk selama dua hari berturut-turut [tanpa merasa ada beban karena memang belum dapat giliran kerja].


Hari Kamisnya, setelah merasa badanku benar-benar kuat, akhirnya aku dapat berangkat ke kampus. Sudah dapat kutebak, teman-teman segrupku pasti bertanya alasan sakitku apa sehingga tidak masuk selama dua hari berturut-turut. Aku yang ditanya cuma bisa senyam-senyum, karena sesungguhnya memang aku juga tidak tahu aku sakit apa. Dokter bilang ada sedikit gangguan pencernaan. Mungkin ada benarnya juga, tapi sepertinya lantas diperberat oleh gejala psikosomatis akibat masalah-masalah yang menderaku selama beberapa minggu ini. Karena hari Kamis adalah jadwal aku bekerja di klinik prosto, aku mengajak mamaku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan jembatan. Lagi-lagi ini adalah momen pertamaku mengajak mama ke kampus untuk dirawat gigi.


Hari Jumat adalah jadwal klinik Orthodonti yang berarti bagi sebagian besar mahasiswa klinik adalah hari santai atau hari ’ngacir’ ke bagian lain untuk menyelesaikan requirement dan jadwalku sendiri di klinik Ortho hari ini tidak terlalu padat karena tidak ada diskusi. Seusai aktivasi kawat ortho pasienku, tepat pukul 12 aku bergegas ke lantai 4 menemui adik-adik angkatan 2005 untuk memberikan mentoring kepada mereka sesuai dengan amanah yang diberikan kepadaku. Ini pertama kalinya aku memegang kelompok mentoring di kampus.


Hari Sabtu aku sudah mengatur jadwal untuk belajar persiapan diskusi gigi tiruan penuh dengan Eveline di perpustakaan kampus. Setelah selesai dari kampus, seorang yang baik hati mengajakku untuk ifthor di luar yang kuterima dengan senang hati. Dimulailah petualangan ngabuburit kami sore itu. Berawal dari Gramedia Matraman untuk mencari buku terjemahan dosen pembimbingku. Karena tidak menemukannya di sana, aku berinisiatif untuk mencarinya ke Sagung Seto di Pramuka. Ternyata di sana buku yang kucari juga tidak ada. Karena waktu Ashar sudah tiba, akhirnya kami memutuskan untuk segera pergi ke Masjid Pondok Indah untuk menunaikan sholat di sana. Seusai sholat, aku masih penasaran untuk mencari buku tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall. Sebetulnya sudah agak letih juga berjalan dari siang tadi, tapi aku berusaha untuk tetap bersemangat!Fiuh, lagi-lagi ternyata di Gramedia PIM tak kutemukan buku itu. Setelah berpikir-pikir dan menimbang cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di PIM saja untuk kemudian sholat Maghrib dan tarawih di Masjid Pondok Indah. Ya! Ini pertama kalinya aku di mal dan tarawihan di Masjid Pondok Indah.


Hmm....Setelah masa-masa September Kelabu, sepertinya Sang Pertanda untuk dapat meraih hari dan semangat baru telah datang!Teringat bait-bait motivasi dari seseorang....

A new day has started.

A new day to love and to be loved.

A new day to feel warm of the sun.

A new day to sweep all our miserables of past.

A new day to make a new great history.

A new day to forgive our and other mistakes.

A new day to proof our quality.

A new day to make another fight.

A new day...

A new opportunities to be a better person,

to gather pahalas for ALLAH SWT's heaven