Credits to

Powered by Blogger

Sunday, February 26, 2006

Ayat-Ayat Hijab

Sore itu langit Jakarta seakan begitu lunglai. Lembayung senja juga tak hendak menampakkan keeleganannya. Yang ada hanyalah arak-arakan awan hitam yang tampak bosan dengan berat air hujan yang sekian lama ditampungnya. Atas dasar itulah sehabis kontrol dari dokter gigi orthodontiku di kawasan Kyai Maja, Jakarta Selatan, aku memilih untuk pulang dengan menaiki taksi. Berhubung uang di kocekku sudah pas-pasan, aku berharap bisa mendapatkan taksi tarif lama yang argonya jauh lebih murah dibandingkan tarif baru. Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama di depan RS Pertamina, taksi Putra kosong yang bertarif lama pun lewat. Segera saja kuberhentikan taksi tersebut dan lantas kunaiki. Sebelum kunaiki taksi tersebut sang sopir telah terlebih dahulu memutar lagu dangdut pada radionya. Entah karena dia menyadari bahwa aku sungguh tidak nyaman untuk mendengar alunan lagu dangdut tersebut atau tidak, saat taksi baru sampai di jalan Hang Tuah sang sopir pun kemudian mengganti saluran radio tersebut. Tak perlu memutar-mutar terlalu lama akhirnya sang sopir berhenti di saluran radio yang sedang menyiarkan ceramah agama.

Aku tidak begitu mengenali suara ustad di radio tersebut, tetapi yang terpenting bagiku isi ceramah interaktifnya tersebut cukup menarik, pada awalnya. Pertama-tama ia membahas masalah sholat dan segala permasalahannya yang bersifat furu’. Tadinya aku sempat berpikir bahwa ceramah ini hanya berisikan satu topik mengenai sholat, tapi ternyata tidak. Format acara radio tersebut rupanya menampung pertanyaan-pertanyaan dari para pendengarnya untuk kemudian langsung dijawab oleh sang ustad. Seusai pembahasan mengenai sholat tersebut ada seorang penelepon yang bertanya khamr, tetapi aku tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk menjawab sms dari seseorang. Setibanya di kawasan Gatsu, aku kembali tune-in dengan radio tersebut. Ada seorang penelepon baru yang bertanya pada sang ustad. Dia bertanya pada ustad tersebut tentang bagaimana caranya agar istrinya mau mengenakan jilbab. Menurut pengakuannya, dia sudah lama menyuruh istrinya untuk mengenakan jilbab tapi sang istri belum mau mengenakannya dengan alasan belum siap. Tiba giliran sang ustad untuk menjawab pertanyaan penelepon tadi. Di kalimat pembukanya dia menyuruh penelepon tersebut untuk menunjukkan ayat di AL-Qur’an yang menjelaskan mengenai jilbab. ”Pak, suruh istri Bapak untuk buka surat An-Nuur ayat 130!” Masya ALLAH, seketika itu pula jantungku berdegup kencang. Entah pendengaran atau ingatanku yang salah, aku merasa ada yang janggal dari pernyataannya tersebut. Setahuku, ayat mengenai hijab adalah surat An-Nuur ayat 31, jika yang dimaksud oleh sang ustad adalah memang ayat tersebut.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

QS. An-Nuur:31

Lagipula, seingatku lagi, surat An-Nuur hanya berisi 64 ayat. Aku semakin mendengarkan penjelasannya dengan seksama dan ternyata ustad tersebut mengulangi lagi pernyataannya yang pertama tadi. ”Yah, pokoknya bapak kasih unjuk aja ayat itu di surat An-Nuur sama istri Bapak, pokoknya sekitar ayat-ayat segitu deh.” Agak ironis memang menurutku, seorang ustad yang harusnya bisa dijadikan sebuah referensi bagi orang-orang yang awam dalam beragama bisa melakukan kesalahan seperti itu. Memang ustad juga manusia, pernah lupa dan pernah khilaf. Semoga bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang bergerak di medan dakwah untuk dapat belajar lebih banyak lagi serta dapat memberikan referensi ayat Qur’an maupun Sunnah yang sesuai. Jangan sampai kita dapat memberikan sebuah pernyataan mengenai sesuatu hal dalam agama tanpa adanya dukungan dalil yang kuat. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kebodohan, Amin.

-Ya Rabbana, aku memohon ampun atas kesalahan yang sama yang pernah kulakukan di waktu lampau...-

No comments: