Credits to

Powered by Blogger

Saturday, February 25, 2006

Jangan Sentuh Diriku!

Pagi ini emosiku sudah terpicu oleh suatu kejadian tidak mengenakkan. Sejak semalam aku sudah berencana untuk belajar mengenai teknik mumifikasi [mematikan syaraf yang ada di kamar pulpa gigi dengan memakai bahwa arsen], tetapi ternyata buku yang ku punya sedang dipinjam oleh Manda, salah seorang seniorku. SMS telah kukirimkan untuknya, tapi tidak ada respon. Oke, aku pikir dia sedang tidak punya pulsa untuk membalas SMSku seperti biasanya. Oleh karena itu, aku berencana untuk langsung mengambil bukuku itu di klinik gigi anak tempat Manda bekerja pada hari ini. Setelah merapihkan peralatan di klinik konservasi [tambal] gigi aku pun bergegas untuk mengambil bukuku itu di klinik gigi anak yang letaknya di lantai bawah bagian lain dari gedung Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI. Setibanya di sana, ternyata aku tak melihat sosoknya. Begitu aku melihat salah seorang temanku, Karin, lantas saja kubertanya padanya, apakah Manda sudah datang atau belum. Di sinilah kejadian tidak mengenakkan itu terjadi!


Ketika aku sedang bertanya pada Karin, tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh lengan sebelah kiriku dengan agak kasar. Setelah kulihat ternyata pelakunya adalah seorang karyawan yang bertugas di klinik gigi anak. Dia memaksaku untuk minggir dari posisi berdiriku karena dia sedang mengepel lantainya. Sontak saja aku berteriak padanya,

Hei Mas Ade!Apa-apaan sih pegang-pegang segala!Gak sopan tau!” sambil kukibas-kibaskan tangan kananku ke lengan kiri snelli[jas putih]ku.

Spontan pula, semua temanku yang berada di klinik gigi anak menoleh padaku. Kemudian aku pun keluar ruangan sambil tetap mengibas-ngibaskan tangan kananku ke lengan kiri snelliku dengan maksud untuk membersihkan bekas pegangan tangan mas Ade tadi. Setibanya di klinik konservasi, aku lantas menceritakan kejadian tersebut pada temanku, Deasy, tentang kronologis kejadian tadi yang kuanggap telah melecehkanku itu. Ternyata responnya tidak seperti yang kuharapkan. Aku berharap bahwa ia akan berada di pihakku, tetapi ternyata tidak demikian. Deasy hanya berkata,

”Ah, Ocha gak seharusnya segalak itu kali sama Mas Ade, dia kan emang biasa kayak gitu.” Benar-benar sebuah pernyataan yang tidak bisa aku terima! Mungkin yang ada di pikiran Deasy saat itu adalah toh Mas Ade tidak benar-benar menyentuhku langsung mengenai tanganku, melainkan hanya mengenai snelliku. Wallahu’alam bishshawab.



Sebelumnya aku juga pernah mengalami hal yang serupa dengan yang tadi. Siang itu untuk pertama kalinya aku mengerjakan tambalan sewarna gigi dengan menggunakan sinar tampak. Karena belum pernah mengerjakan hal itu sebelumnya aku memutuskan untuk bertanya pada salah seorang temanku, Ariyadi, yang telah mengerjakannya.
Pada saat aku mencari Ari, ternyata dia sedang berbicara dengan seorang temanku yang lain [laki-laki, Oknum X] di luar klinik. Ketika aku sedang bertanya pada Ari, tiba-tiba Oknum X memegang lengan kiriku dengan pegangan yang erat sambil bertanya, "Cha, lo dicariin sama pasien lo tuh," spontan saja aku menarik lenganku dari pegangannya itu dengan menunjukkan ekspresi kemarahanku atas kelakuannya tadi. Karena sedang diburu oleh waktu untuk mengerjakan pekerjaanku, aku memilih untuk menahan emosi saat itu dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Namun, ternyata sore harinya aku bertemu dengan Oknum X. Lantas saja aku bicara padanya dengan nada yang tinggi, ”Hei, kamu jangan sekali-kali lagi melakukan hal yang tadi yah!.” Rupanya dia kebingungan dengan pernyataanku tadi dan balik bertanya padaku, "Emangnya gue ngapain Cha???" Karena di situ Ari, justru Ari yang langsung merespon pertanyaan Oknum X tadi dengan melakukan gerakan memegang lengan kirinya. Setelah itu, barulah Oknum X itu mengerti dan meminta maaf kepadaku.



Belum selesai tampaknya masalahku yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu. Masih teringat jelas suatu kejadian ketika aku sedang membersihkan karang gigi seorang pasien yang datang ke RSGM. Kebanyakan pasien yang sedang dibersihkan karang giginya spontan akan menutup kedua matanya karena merasakan ngilu. Namun, tidak demikian halnya dengan pasien yang satu ini, dia terus saja membuka matanya dan memperhatikan kedua mataku. Awalnya aku tidak menaruh curiga padanya, tetapi lam-lama aku merasa risih dengan tatapannya itu. Ditambah lagi, tiba-tiba saja ia berkata padaku, ”Eh, kamu cantik,” Masya ALLAH! Kucoba untuk menenangkan diri dan meresponnya dengan berkata, ”Maaf Pak, tidak baik seperti itu, lebih baik tutup mata Bapak!” kataku sambil kunaikkan maskerku ke bawah kedua mataku agar dia tidak dapat menatap wajahku. Dia malah menjawab, ”Ah ngapain, rugi lagi.” Ya Rabb, aku hanya bisa bersabar dan memutuskan untuk buru-buru menyelesaikan pekerjaanku agar pasien ini dapat segera pergi. Begitu selesai, aku langsung melapor pada supervisorku, Drg. Natalina, untuk mengacc pekerjaanku. Ternyata menurut beliau masih ada beberapa bagian lagi yang harus dibersihkan. Hatiku bertutur, hhh penderitaan ini belumlah usai. Ketika ku duduk kembali di kursiku, pasien ini tiba-tiba berkomentar sambil menunjuk Drg. Natalina, ”Nah Mbak, kalo yang tadi mah saya gak mau liat, hehehe.” Rabbi!Cukup sekali aku mendapat pasien model seperti ini. Dari penampakkannya dia sepertinya orang yang cukup sholih, dengan janggut tipis dan gaya bicaranya, sepertinya dia seorang yang terbina. Ternyata memang dia terbina karena belakangan setelah selesai pembersihan karang gigi dia mengetahui ’identitasku’. Rabbana, kalau orang yang terbinanya saja sudah macam begini, bagaimana orang-orang yang akan dibinanya nanti???



Hhhhh, mungkin kelihatannya bagi sebagian orang hal-hal yang kupermasalahkan di atas adalah hal yang sepele. Apalah artinya menyentuh atau memegang tangan seorang lawan jenis sebagai bahasa tubuh tambahan ketika berbicara. Toh, tangannya pun tidak benar-benar terpegang karena tertutup oleh baju lengan panjang ditambah pula dengan snelli yang juga berlengan panjang. Namun, sesungguhnya sebuah sentuhan menurutku memiliki arti yang demikian besar. Dengan hijab yang kukenakan selama kurang lebih enam tahun, aku memegang teguh bahwa tiada yang boleh menyentuhku selain seseorang yang sah untuk diriku kelak. Hijab adalah harga diriku, begitu seorang lawan jenis telah berani memandangku demikian lekat dan menyentuhku, sama saja mereka telah menginjak-injak harga diriku. Aku memanglah bukan orang suci yang tiada pernah dipandang dan disentuh, tetapi aku adalah seseorang yang sedang belajar untuk mensucikan diri. Cukup sudah kejadian yang pernah aku alami dan aku tidak ingin mengalaminya lagi!



Untuk semua lelaki di dunia ini, bersihkanlah pikiran-pikiran kotor kalian tentang apa yang tersembunyi di balik sandang perempuan! Pejamkanlah mata-mata kalian terhadap hal-hal yang tidak boleh kalian tatap dan Jauhkanlah tangan-tangan kalian terhadap hal-hal yang tidak boleh kalian sentuh!

2 comments:

candra Ehem said...

wah..wahh..
aku terdiam saat membacanya.
bagus banget, dan akan ku jadikan pembelajarn untuk ke depan.

makasih telah mengingatkan `cowok`

aira.axial@gmail.com said...

Wuih blak-blakan banget ngomongnya
Tempelin mata bor aja, biar bibirnya doeerrrrr

Dulu gw juga pernah jadi pasien temen gw, namanya M*r*nd*
Dia baek maka gw sopan (daripada diancem pake mata bor)
Soek bias-bisa bibir gw

Seumur-umur, gw ga berani natap matanya pas diperiksa gigi
Abis takut… Takut jatuh hati, HALAH
Kan susah benerinnya

Yang gigi aja benerinnya sakit
Apalagi benerin hatiiii

Nanya dong, yang amalgam (tambalan pake bahan logam), emang bahaya ya
Katanya ngandung merkuri
Bener ga sih?
(Yang ini blom sempet gw tanyain ke temen gw, dia ke buru chao dari JKT)