Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, March 15, 2006

Evaluasi Satu Tahun Masa Kepaniteraan Klinik [ Episode Pedodonti]


Tanggal 3 Maret kemarin tepat satu tahun sudah aku menjalani masa kepaniteraan klinik di FKG UI. Sungguh begitu tidak terasa waktu berlalu demikian cepat. Rasanya baru kemarin aku baru diwisuda menjadi seorang sarjana kedokteran gigi, tetapi kini adik-adik angkatanku sudah akan memasuki kepaniteraan klinik periode baru pada tanggal 9 Maret ini. Dalam masa satu tahun ini sudah seluruh bagian klinik aku masuki.

Putaran klinik kelompokku, CD, dimulai dari klinik gigi anak [Pedodontia]. Waktu yang diberikan di klinik ini adalah selama dua bulan dengan masa kerja empat hari setiap minggunya, dipotong dengan satu hari kerja non efektif maka hari kerja efektif hanyalah 27 hari. Dengan 27 hari kerja tersebut kami harus menyelesaikan requirement yang cukup banyak dan memang klinik Pedodontia memegang rekor requirement terbanyak yaitu sebanyak 64 requirement. Jadi, jika ingin benar-benar mengeefektifkan waktu, maka kami harus dapat menyelesaikan minimal tiga requirement per harinya entah itu requirement yang berat ataupun ringan. Adapun requirement yang a
da di klinik Pedodontia adalah pemeriksaan lengkap pasien sebanyak 8, pendidikan kesehatan gigi dan profilaksis oral sebanyak 4 pasien, penutupan ceruk dan fisur sebanyak 4 gigi, pemasangan space-maintaner dan kontrol warisan sebanyak 2 pasien, penutupan pulpa pada gigi tetap muda sebanyak 2 gigi, perawatan pulpotomi [pemotongan pulpa di kamar pulpa] pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, perawatan saluran akar pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, penumpatan amalgam kelas I sebanyak 5 gigi, penumpatan amalgam kelas II sebanyak 5 gigi, pembuatan mahkota logam sebanyak 2 gigi, penumpatan resin komposit/kompomer/semen ionomer kaca sebanyak 6 gigi, dan pencabutan gigi sulung sebanyak 15 gigi. Kabarnya semenjak dulu kala hingga sekarang belum ada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan seluruh requirement tersebut dalam waktu dua bulan saja. Mungkin ada yang dapat menyelesaikan requirement-requirement kecil dan sedang, tetapi seringkali terhambat pada requirement pembuatan space-maintaner yang membutuhkan waktu agak lama serta pasien yang dibuatkan space-maintaner tersebut harus dalam kondisi gigi geligi yang sehat. Artinya semua gigi yang berlubang harus sudah ditambal semua, gigi yang harus dicabut juga sudah dicabut semua, dan kebersihan mulutnya juga sudah baik. Andai saja perjalanan di klinik ini datar-datar saja, bisa jadi mungkin banyak yang dapat menyelesaikan keseluruhan requirement tersebut tepat waktu. Namun, sejatinya tidak demikian adanya. Berhubung untuk dapat menyelesaikan requirement di klinik Pedodontia tersebut kami harus mencari sendiri pasien anak-anak ke sekolah-sekolah di sekitar kampus UI Salemba, adapun pasien anak-anak yang datang ke klinik Pedodontia biasanya diperuntukan untuk dokter gigi yang sedang menjalani masa pendidikan spesialis gigi anak. Kami harus menjaga hubungan baik dengan pihak sekolah dan orang tua tentunya. Hal-hal inilah yang terkadang biasanya menjadi salah satu hambatan dalam menyelesaikan requirement tersebut. Meskipun seluruh akomodasi dan biaya perawatan telah kami tanggung seluruhnya terkadang ada saja orang tua pasien yang menolak perawatan yang akan diberikan kepada anaknya, padahal anak tersebut cukup kooperatif untuk dirawat. Atau bisa saja orang tuanya demikian mendukung perawatan terhadap gigi anaknya, tetapi anaknya tidak dapat berlaku kooperatif terhadap mahasiswa. Atau mungkin saja orang tua dan anak telah begitu kooperatif, tetapi pihak sekolah tidak memberikan izin pada murid-muridnya untuk dilakukan perawatan gigi. Selain faktor-faktor di atas, suasana di klinik Pedodontia boleh dibilang cukup kondusif. Supervisor-supervisor yang ada kliniknya pun terkenal baik dan tidak menyusahkan mahasiswa dalam memberikan acc, meski tetap saja ada supervisor yang terkenal sulit dalam memberikan acc karena beliau sudah profesor di bidang gigi anak, tetapi menurutku hal itu masih lumrah adanya. Di klinik Pedodontia, seheboh apapun kita bekerja, entah itu meminta bantuan teman untuk menganestesi pasien anak yang akan dicabut atau alat-alat yang berjatuhan kesana kemari karena dimainkan oleh anak-anak biasanya supervisor tidak terlalu ambil pusing. Jadi secara psikologis juga tidak terlalu membawa beban mental pada mahasiswa dalam bekerja di klinik. Namun, terkadang ada satu hal yang membuatku dan teman-teman lain merasa agak terganggu di klinik Pedodonti. Gangguan tersebut datang dari seorang karyawan yang sehari-harinya bekerja di klinik Pedodonti yaitu Mas Ade. Mas Ade ini terkenal sekali dengan kejutekannya terhadap semua mahasiswa yang sedang bekerja di klinik Pedodonti. Usianya boleh dibilang tidak terlalu jauh berbeda dengan kami. Setiap mahasiswa yang meminta tolong kepadanya biasanya pasti disambut dengan muka yang masam dan gumaman-gumaman yang tidak jelas adanya. Selain Mas Ade, ada satu orang karyawan lagi yang bekerja di klinik ini yaitu Pak No. Pak No ini boleh dibilang sudah cukup berumur. Meskipun lebih pendiam dibandingkan Mas Ade, Pak No ini biasanya cukup galak terhadap anak-anak yang menjadi pasien di klinik Pedodonti.

NASHRULLAH!Begitu besar pertolongan Allah yang kurasakan di klinik Pedodonti ini
dan Subhanallah skenarionya begitu indah. Ketika waktu bekerja di klinik semakin menyempit, aku belum menyelesaikan requirement-requirement besar seperti pulpotomi dan perawatan saluran akar. Sebelumnya padahal aku telah mendapatkan pasien untuk perawatan saluran akar, tetapi ternyata pasienku itu tidak bisa kembali lagi karena tidak diperbolehkan oleh ayahnya. Alhasil, aku harus mencari pasien lagi dan Alhamdulillah aku berhasil mendapatkan satu pasien dari seorang kakak kelasku yang bisa dilakukan perawatan saluran akar. Nama pasienku ini adalah Aldi. Si Aldi ini anaknya cukup pendiam sehingga terkadang aku tidak mengerti apakah dia merasakan sakit atau tidak. Setelah kulakukan pemeriksaan lengkap terhadapnya, maka tindakan selanjutnya adalah membuka kamar pulpa gigi yang menjadi keluhan utama. Setelah pembukaan kuanggap selesai, ternyata perdarahan dari gigi yang harusnya sudah mati tersebut tidak juga berhenti. Lantas seorang dokter PPDGS menyuruhku untuk mengambil foto Rontgen gigi tersebut karena dikhawatirkan pembukaan kamar pulpaku menyebabkan perforasi ke bagian bifurkasi akar. Ternyata, apa yang dikhawatirkannya tersebut menjadi kenyataan, aku telah melakukan kesalahan karena preparasi yang kulakukan berlebihan perawatan saluran akar tidak dapat dilanjutkan. Setelah selesai, seperti biasa aku mengantarkan Aldi pulang ke rumahnya dengan hati yang sedih. Namun, apa yang terjadi ketika aku mengantarkannya pulang ke rumah? Ternyata aku bertemu dengan pasienku yang diiindikasi dapat dilakukan perawatan saluran akar, tetapi tidak diperbolehkan oleh ayahnya. Nama pasienku yang satu itu adalah Ayu Ningsih. Saat itu, ia sedang bermain-main di dekat rumah Aldi dan dia langsung menyapaku. Tenyata, rumah Ayu tidaklah jauh dari rumah Aldi. Dari situ timbul niatku untuk bersilaturahim ke rumahnya sekalian bicara dengan ayahnya tentang rencana perawatan gigi yang akan kulakukan terhadap Ayu. Beberapa hari kemudian, ditemani oleh dua orang temanku, Erly dan Eveline, aku mencari rumah Ayu dan menemui kedua orang tuanya. Setelah kami menjelaskan panjang lebar mengenai rencana perawatan yang akan dilakukan kepada ayahnya, Alhamdulillah ayahnya mengerti dan kemudian mengizinkanku untuk merawat Ayu. Pada waktu pemeriksaan awal, Ayu membutuhkan perawatan saluran akar pada dua gigi sulungnya yang sudah non vital. Namun, setelah aku periksa lebih seksama lagi hanya ada satu gigi yang membutuhkan perawatan saluran akar karena gigi yang lainnya tersebut karies[lubang]nya belum mencapai pulpa. Sejujurnya aku pribadi merasa agak kecewa karena berarti satu requirementku berkurang, tetapi aku yakin bahwa rezekiku tidak akan kemana. Benar saja, ketika aku akan memasang mahkota logam pada gigi Ayu yang telah dirawat saluran akar, ternyata Prof. Heriandi yang memeriksa kondisinya saat itu tidak membolehkanku untuk melakukan pemasangan tersebut karena ada masih terdapat abses. Setelah kuperiksa lagi, ternyata abses tersebut bukan berasal dari gigi yang telah dirawat saluran akar, melainkan dari gigi sebelahnya. Dengan adanya abses, menunjukkan bahwa gigi sebelahnya telah dalam kondisi non vital dan terindikasi untuk dilakukan perawatan saluran akar. Subhanallah! Akhirnya, aku bisa mendapatkan satu requirement untuk perawatan saluran akar.

Lain lagi ceritanya pada saat aku mendapatkan requirement untuk perawatan pulpotomi. Aku memiliki satu orang pasien yang bernama Ali Mustaqim dan biasa dipanggil Aqim. Pada saat pemeriksaan lengkap dengan satu orang supervisor, salah satu giginya yang telah mengalami resorbsi akar diindikasi untuk dicabut. Padahal, menurutku resorbsinya tersebut belum terlalu besar sehingga masih dapat dilakukan perawatan saluran akar. Aku mencoba untuk mencabut gigi tersebut, tetapi ternyata gigi tersebut masih begitu kuat tertanam di dalam tulang.
Oleh karena itu, aku berpikir bahwa gigi tersebut masih bisa dirawat saluran akar. Akhirnya, pada hari itu aku berniat untuk melakukan pembukaan kamar pulpa pada gigi Aqim. Setelah meminta izin kepada supervisor pada saat itu, aku pun mulai melakukan tindakan. Apa yang terjadi kala itu? Ketika aku melakukan pengeboran terhadap gigi tersebut, ternyata mengalir darah segar dari dalam kamar pulpa yang menunjukkan bahwa gigi tersebut masih dalam keadaan vital. Sesegera mungkin aku melapor pada Drg. Syahril yang menjadi supervisor saat itu untuk melakukan tindakan pulpotomi. Jadi, gigi Aqim tersebut mengalami penurunan indikasi perawatan, mulai dari ekstraksi, perawatan saluran akar, hingga akhirnya pulpotomi! Untuk requirement pulpotomi yang satunya juga kudapatkan secara tidak sengaja. Pasienku kali ini namanya Herry yang kebetulan juga adalah tetanggaku. Tadinya salah satu giginya aku indikasi untuk dilakukan ekstraksi atau pencabutan. Dari hasil foto Rontgennya pun menunjukkan akar telah mengalami resorbsi hingga servikal [leher] gigi sehingga tidak mungkin untuk dilakukan perawatan. Namun, pada saat diperiksa oleh Drg. Ike, ternyata gigi tersebut mengalami perdarahan yang berarti masih dalam kondisi vital. Drg. Ike mengindikasi gigi tersebut untuk dilakukan pulpotomi, meskipun resorbsi akarnya sudah cukup besar.

Alhamdulillah wa Syukurillah....pada waktu tambahan klinik, akhirnya aku dapat menyelesaikan seluruh requirement klinik Pedodonti termasuk space-maintaner dengan pasienku bernama Diana.
Sesegera mungkin aku mendaftarkan diri untuk mengikuti Ujian Dokter Gigi [UDG] Pedodonti yang terdiri dari satu kali ujian pasien berupa pemeriksaan lengkap dan satu kali ujian lisan dengan satu orang supervisor. Sebelum dilaksanakan ujian pasien, aku harus mencari satu anak lagi untuk menjadi pasien ujianku. Dibantu oleh salah seorang temanku, Widya, aku berhasil mendapatkan pasien ujian dari SD yang direkomendasikannya. Nama pasien ujianku adalah Nurul Livianti atau dipanggil Livia. Sebelum ujian, aku harus melakukan pemeriksaan lengkap bayangan untuk mengetahui kasus-kasus apa saja yang terdapat di dalam rongga mulutnya. Dibantu oleh dua orang temanku, Eveline dan Deasy Daniasari, aku melakukan pemeriksaan lengkap seadanya dengan alat standar dan lampu senter di ruang senat mahasiswa. Pada hari Jumat tanggal 10 Juni 2005 aku memantapkan diri untuk mengikuti ujian pasien. Sebelumnya aku telah banyak bertanya pada senior-seniorku tentang tipikal pertanyaan yang akan diberikan oleh supervisor pada saat ujian pasien. Karena aku mengikuti ujian pasien pada hari Jumat, maka kemungkinan supervisor yang akan menjadi pengujiku adalah Drg. Levi dan Drg. Ike. Sedari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk diuji oleh Drg. Levi karena pada hari itu temanku, Dhani Ayu Andini, juga akan ujian. Pagi hari pukul 06.00 WIB aku sudah berangkat dari rumah karena harus menjemput Livia terlebih dahulu. Aku dan ibunya telah berjanji untuk bertemu pada pukul 07.00 di SDnya. Tiba di SDnya yang terletak di daerah Kramat Sentiong pada pukul 06.45 WIB. Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00 WIB dan belum tampak tanda-tanda kedatangan Livia beserta ibunya. Aku masih bisa menyabarkan diri sambil menunggu aku mengirimkan SMS ke beberapa orang temanku untuk memohon doa. Lima belas menit kemudian, Livia dan ibunya belum juga muncul. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya meskipun aku belum mengetahui lokasi rumahnya tersebut. Berbekalkan alamat yang diberikan oleh ibunya, pagi itu sebelum ujian, aku menyusuri gang-gang di daerah Kramat Sentiong untuk menemukan rumah Livia. Setelah beberapa kali bertanya-tanya pada orang sekitar, Alhamdulillah aku berhasil menemukan rumah Livia. Saat aku datang, Livia sedang bersiap memakai sepatu dan makan. Dari pengakuan ibunya, Livia telat bangun karena malamnya tidur terlalu larut menonton acara TV. Berangkat dari rumahnya pada pukul 07.45 WIB membuat hatiku agak ketar ketir karena aku belum mempersiapkan peralatan untuk ujian. Belum lagi harus berebutan kursi dental unit dengan mahasiswa-mahasiswa tambahan yang sedang ada di klinik Pedodonti. Tiba di kampus UI Salemba pada pukul 07.55 WIB, aku langsung bergegas untuk menyiapkan alat dan pintu klinik ternyata juga sudah dibuka. Tadinya aku berpikir akan mendapatkan bangku ujian yang ada sekatnya sehingga tidak perlu terlalu tegang terlihat oleh supervisor dari tempat duduknya, tapi temanku Dhani ternyata sudah mengambil tempat itu terlebih dahulu. Akhirnya aku mendapatkan kursi di sebelahnya yang tidak bersekat. Pukul 08.30 WIB, semua peralatan telah aku sterilisasi dan aku kembali membuka bahan-bahan untuk ujian. Pada saat itu, Dhani masuk ke ruangan dan berkata padaku bahwa dia sudah melapor ke Drg. Ike untuk ujian pasien pada hari itu. Aku kaget, karena berpikir untuk ujian pasien biasanya melapor pada saat supervisor berada di ruangan. Seketika itu pula aku berpikir bahwa kesempatanku untuk mendapatkan penguji Drg. Ike sudah berkurang karena Dhani terlah lebih dahulu melapor padanya. Sebagai catatan meskipun aku sudah bersiap untuk mendapatkan penguji Drg. Levi, aku tetap berharap mendapatkan penguji Drg. Ike karena dari beliau lebih baik dan santai dibandingkan Drg. Levi. Pukul 09.00 WIB Dr. Ike masuk ke ruangan dan memberi waktu untuk aku dan Dhani untuk melakukan pemeriksaan hingga pukul 11 WIB. Hingga pukul 09.30 WIB, aku belum melihat kedatangan Drg. Levi. Seketika itu hatiku bertanya, seketika itu pula pintu ruangan klinik Pedodonti dibuka dan Drg. Levi masuk. Aku berpikir bahwa aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan penguji beliau. Pada pukul 10.50, aku sudah selesai melakukan pemeriksaan ulang dan aku memutuskan untuk segera melapor pada Drg. Ike. Dhani yang kuajak serta untuk melapor memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya dahulu. Pada saat aku melapor, kemudian Drg. Ike berkata pada Drg. Levi bahwa dia akan menjadi penguji mahasiswa yang satunya lagi yaitu temanku Dhani. Alhamdulillah! Tak disangka-sangka Drg. Ike menjadi pengujiku. Sebelum memeriksa pasien, terlebih dahulu aku ditanya mengenai pengisian kartu status dan Alhamdulillah dalam waktu lima belas menit aku dapat menjawab semua pertanyaan dari beliau. Begitu memeriksa Livia, tidak pertanyaan Drg. Ike berkisar soal crossbite [gigitan silang] yang ada padanya. Aku mengalami sedikit stagnasi pada pertanyaan mengenai syarat-syarat rencana perawatan kasus tersebut. Akhirnya, Drg. Ike memberiku tugas tentang rencana perawatan crossbite yang dikenal dengan nama Incline Bite Plane. Alhamdulillah, dalam waktu tiga puluh menit saja aku telah dapat melewati ujian pasien dengan Drg. Ike. Sementara itu, temanku Dhani harus melanjutkan ujiannya dengan Drg. Levi seusai beliau sholat Jumat. Sehabis ujian pasien, masih ada satu ujian lagi yang harus kulalui yaitu UDG lisan. Hari Rabu, tanggal 15 Juni aku mendapatkan kabar bahwa pengujiku adalah Prof. Dr. Drg. Retno Hayati, SKM, SpKGA. Meskipun aku belum pernah berinteraksi dengan beliau, tetapi dari kabar angin yang kudengar beliau cukup baik. Akhirnya pada tanggal 20 Juni 2005 aku, Deasy Rosalina, menghadapi UDG lisan klinik Pedodontia. Semua teman-teman satu kelompokku mendukung dan memberikanku doa. Alhamdulillah, meskipun penuh dengan poci-poci aku bisa melewati ujian tersebut mulai dari pukul 07.45 hingga pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah lagi, hasilnya tidak terlalu mengecewakan, aku mendapatkan angka 77 [B+] untuk seluruh kumulatif requirement beserta ujianku di klinik Pedodontia.

Satu hal yang terpenting di klinik Pedodontia adalah kebersamaan. Alhamdulillah, bersama Ariyadi Prakajaya, Deasy Daniasari, Desly Reinina, Dewi Kurniyanti, Dhani Ayu, Ditha Indah Lestari, Emmawati Prawitasari, Erly Zuliana Lubis, dan Eveline, aku dapat melalui hari-hari di klinik Pedodontia. Kelompok kami memiliki kebiasaan untuk berkonsolidasi dengan tujuan
menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kelompok. Pada forum konsolidasi tersebut biasanya kamu menumpahkan semua unek-unek yang ada baik mengenai orang per orang, klinik, atau hal-hal lainnya. Dari situ memang cukup terbukti efektif untuk mendekatkan tiap-tiap pribadi yang sebelumnya tidak terlalu intens bersama dalam satu kelompok. Dari klinik Pedodonti ini akan terus berlanjut ke klinik-klinik berikutnya.

2 comments:

aCha said...

wah teteh dokter gigi ya...temenku juga ada yang di fkg.ikhwan tapi. selamat berpanas-panas deh di salemba(salemba masih panas kan?).

Ramalan Hari Ini said...

Semangat para dokter... jasamu takan terlupakan... berkat kau q jadi sehat hingga sekarang ini