Credits to

Powered by Blogger

Thursday, April 27, 2006

A Convolution

Pemikirannya sungguh terlalu rumit dan sulit untuk dimengerti. Entah karena terlalu banyak sinaps-sinaps yang menghubungkan neuron-neuron dalam otaknya atau karena girus-girusnya terlalu banyak? Ah, tidak! Ia sungguh tidak secerdas Einstein. Rasa-rasanya atmosfer sekelilinglah yang telah membuatnya menjadi seperti itu. Masih ada lagi anomalinya. Sekresi oksitosinnya sepertinya amatlah sedikit, entah mengapa demikian. Mungkin itu yang menyebabkannya tidak menjadi sosok plegmatis. Namun, bersyukurnya ia masih memiliki banyak oksitosin sehingga tingkat empatinya masih cukup tinggi. Selain itu, area Broca dan Wernickenya masih cukup baik untuk dapat mengolah dan menyeimbangkan kata demi kata yang dirangkaikannya.

2 comments:

jundihasan said...

Mmm..kalo ane boleh nebak..ini semua adalah satu scene dari dunia medis yg sedang ukhti geluti ya..moga bener..
but tulisan ini mengingatkan pada obsesi ane untuk menjadi seorang dokter (dan akhirnya dikirim untuk jadi relawan medis di palestina), dan obsesi itu tak pernah (belum) terwujud ampe skrg.sedih

RoSa said...

hmmm...sebenernya ini gabungan antara medis dan psikologi sih...heheheh