Credits to

Powered by Blogger

Sunday, July 09, 2006

Kejahatan Intelektual

Plagiarisme…mungkin hanya salah satu contoh dari sekian banyak kejahatan intelektual. Dalam dunia akademisi, plagiarisme adalah sebuah dosa besar. Ada orang yang bilang jika seorang politisi itu boleh berbohong, tapi tak boleh salah, tetapi seorang peneliti atau akademisi itu boleh salah, tapi tak boleh berbohong. Pun teringat perkataan seorang dosenku yang menyatakan bahwa dia lebih bisa menerima sebuah kebodohan dibandingkan kebohongan. Sungguh, pada titik ini plagiarisme merupakan suatu kebohongan yang sejatinya tidak mencerminkan seorang akademisi sejati.


Well...rasanya menjadi korban plagiat memang betul-betul menyakitkan. Apalagi yang melakukan plagiarisme adalah seseorang yang kita kenal baik. Kejadian itu menimpa diriku beberapa minggu yang lalu. Seperti halnya di Departemen lain, di Departemen Prostodontia aka Gigi Tiruan yang sedang aku jalani saat ini juga memiliki requirement untuk membuat satu laporan kasus yang diseminarkan. Kasus-kasus yang diseminarkan biasanya merupakan kasus-kasus pasien yang unik dan perlu penatalaksanaan khusus dalam pembuatan gigi tiruannya. Alhamdulillah, aku telah menyelesaikan seminar laporan kasus untuk pembuatan gigi tiruan cekat pada bulan Desember 2005 yang lalu dengan pembimbing Drg. Djaja Suminta, SpProst. Topik yang kuangkat adalah mengenai pembuatan gigi tiruan pasak pada pasien dengan Diabetes Mellitus terkontrol.


Mungkin satu hal lain yang menjadi kelemahanku adalah aku sulit sekali menolak permintaan orang lain. Beberapa minggu lalu ketika salah seorang temanku ingin meminjam file laporan kasus Prostodontiaku, dengan serta merta aku mengiyakannya karena kupikir dia hanya akan melihat format yang telah aku buat. Kebetulan topik yang akan diangkat oleh temanku ini adalah juga mengenai pembuatan gigi tiruan pasak. Namun, bagaikan disambar petir di malam hari, pada suatu malam h-2 sebelum dia mengadakan seminar laporan kasus, dia mengirimkanku sebuah SMS yang berbunyi:”Ass Ocha, maaf ya ......[dia menyebutkan namanya] terpaksa mencopy seluruh laporannya Ocha karena waktunya udah mepet, semoga Allah membalas semua kebaikan Ocha, Amin.” Ya Rabb...apakah hal yang telah kulakukan dengan meminjamkan file laporanku adalah sebuah kebaikan??? Pada titik itu, aku masih optimis bahwa dia tidak akan mungkin mencopy seluruh hasil laporan yang telah kubuat. Namun, kenyataan berkata lain. Pada hari H temanku tersebut mempresentasikan laporan kasusnya, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata dia benar-benar memplagiat seluruh laporan kasusku mulai dari bab Pendahuluan hingga Daftar Pustaka!!! Hanya pada bagian penatalaksanaan kasus saja yang berbeda, itupun dikarenakan pasien kami berbeda.
Selebihnya??? Gambar-gambar dan titik komanya pun sama. Hingga kata-kata yang menurut teman-temanku menjadi ciri khasku jika presentasi yaitu ’komprehensif’ dan ’holistik’ juga disebut oleh temanku tersebut. Dan tanpa rasa bersalahnya sebelum dia presentasi, dia berkata padaku, ”eh Ocha, ngerasa kenal gak sama makalahnya?” Begitu menyesakkan sebetulnya bagiku mengingat pedih dan peluh yang kurasakan untuk membuat makalah tersebut bahkan sampai melibatkan orang lain dalam pengerjaannya untuk mengedit tampilan makalahku. Berkali-kali aku harus memperbaiki revisi dari pembimbing. Dan dia??? dengan tinggal memplagiat makalahku, tanpa perlu bersusah payah, sudah bisa mendapatkan poin untuk mengikuti ujian Drg di Departemen Prostodontia. Tadinya ingin kuluapkan kekesalanku padanya saat itu, tapi sudahlah toh tiada gunanya. Satu hal yang membuatku agak khawatir adalah pembimbingnya dan pembimbingku adalah sama-sama Drg. Djaja Suminta Sp.Prost. Entah beliau menyadari atau tidak kesamaan makalahnya dengan makalah yang telah kubuat pada bulan Desember lalu. Satu alasannya yang tidak dapat kuterima adalah karena waktunya sudah mepet. So what gitu loh??? Yang namanya jadwal seminar laporan kasus itu biasanya sudah diumumkan sebulan sebelumnya. Jadi menurutku tidak ada alasan baginya untuk bilang jika waktunya sudah terlalu mepet. Toh, dia dapat mencicilnya sejak pengumuman tersebut ditempel.


Aku hanya membayangkan, apa jadinya jika semua akademisi calon dokter gigi seperti itu. Ingin lulus program profesi dokter gigi tepat waktu selama 1.5 tahun, tetapi tidak mau menjunjung nilai-nilai keilmiahan. Ingin menjadi seorang dokter gigi yang sukses, tetapi tidak jujur dan hanya bisa memplagiat hasil pekerjaan orang lain. Semoga ALLAH SWT mengampuniku atas rasa kesal yang merasuk ke dalam dada ini dan juga semoga Dia menunjukkan lorong kebenaran pada temanku untuk bertindak jujur lain kali. Amin Ya Rabb.

2 comments:

orang ganteng said...

tonjok aja orangnya :D
btw klo sebagian sarjana di indonesia lulus dengan cara kyk gitu, pantas aja sarjana di indonesia gak jauh beda sama lulusan sma.
tp tuh orang bener2x kebangetan, masak nyontek koq semua laporan... jangan2x umptn-nya joki lagi...
ups... koq jd ngomongin orang sih :D
ikutan sebel deh :D

Anonymous said...

Iya betul, tonjok aja orangnya