Credits to

Powered by Blogger

Thursday, September 14, 2006

Menjadi Dewasa

Menjadi tua adalah absolut, tetapi menjadi dewasa merupakan suatu pilihan. Berbicara mengenai kedewasaan, maka kita harus merujuk pada pengertian egostate. Egostate didefinisikan sebagai suatu pola konsisten yang didapat dari pengalaman yang menjadi perilaku individu tersebut. Sedangkan pengalaman sendiri diartikan sebagai suatu rekaman di otak yang menyimpan kejadian semasa hidup yang dapat direplay/recall pada kondisi-kondisi yang dibutuhkan. Egostate ini terbagi menjadi tiga bagian. Egostate yang pertama dikenal dengan Child Egostate. Child Egostate ini diartikan sebagai egostate yang terdiri dari impuls-impuls pada masa bayi. Tindakan mengolok-olok orang lain adalah salah satu contoh dari kondisi child egostate. Egostate yang kedua dikenal dengan Adult Egostate. Adult egostate ini tidak berhubungan dengan usia dan biasanya berorientasi terhadap realitas dan informasi yang obyektif. Kondisi adult egostate ini dapat juga diartikan menjadi suatu kemampuan seseorang untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan, tidak memihak, teratur, dan mudah beradaptasi. Egostate yang ketiga dikenal dengan Parent Egostate. Parent egostate ini biasanya berupa sikap dan perilaku yang diinkorporasi dari luar, terutama dari orang tua, orang tua kandung atau orang dewasa sekeliling. Adapun sikap yang biasa ditunjukkan adalah berupa sikap preyudis (menghakimi), kritikal (selalu saja ada yang tidak sempurna), dan menuduh tanpa data. Semua egostate pada dasarnya harus berimbang, masing-masing bisa saling berpindah sesuai kondisi dan komunikasi yang terjadi. Namun, adult egostate biasanya paling diharapkan dalam suatu komunikasi karena biasanya egostate ini paling bersifat universal dan bersifat empatik.


Apakah indikator yang dapat digunakan untuk mengklaim bahwa seseorang adalah sosok yang dewasa atau dalam hal ini adult egostatenyalah yang paling dominan? Menurutku, indikator yang digunakan untuk satu label ’DEWASA’ di sini terbagi menjadi dua. Indikator pertama adalah adalah indikator kuantitas, dalam hal ini berarti bahwa seberapa sering seseorang tersebut mendapatkan ujian atau cobaan dalam kehidupannya. Layaknya sebuah besi yang makin ditempa akan menjadi sebuah besi yang kuat. Hal ini dikarenakan ukuran-ukuran atom yang berada di dalam logam akan semakin kecil dan tidak beraturan ketika mengalami tempaan sehingga akan menghasilkan tingkat energi yang lebih tinggi dibandingkan atom-atom logam yang lebih besar dan beraturan. Kondisi ini dapat direfleksikan ke dalam kehidupan di mana jika seseorang semakin sering ditempa oleh berbagai masalah, maka kemungkinan besar ia akan menjadi seseorang yang kuat dalam menjalani kehidupan. Secara statistik mungkin akan menghasilkan perbedaan yang bermakna dengan seseorang yang dalam hidupnya tidak pernah mengalami masalah atau hidup lurus-lurus saja. Namun, jika hanya dilihat dari satu indikator ini maka ada kemungkinan kita akan terjebak pada suatu justifikasi karena tidak melihat dari sudut pandang yang obyektif. Memang, semakin sering diterpa oleh berbagai masalah akan dapat menjadikan seseorang menjadi kuat, tetapi itu semua harus juga dilihat dari sisi lain. Dalam hal ini kita harus melihat pada indikator kedua yaitu indikator kualitas, yang dimaksud di sini adalah dari berbagai masalah yang dihadapi oleh seseorang, bagaimana ia dapat mengatasinya dengan bijak. Banyak orang yang diterpa masalah dan banyak juga yang berusaha lari dari masalah tersebut dengan harapan masalah itu akan dapat hilang dengan sendirinya. Pada kondisi ini, dapat dikatakan bahwa seseorang itu belum menjadi dewasa. Menjadi dewasa adalah selalu siap mengatasi berbagai kemungkinan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan. Menjadi dewasa adalah menghindari justifikasi dalam bentuk apapun dengan atau tanpa adanya data dan konfirmasi. Menjadi dewasa adalah selalu menciptakan seribu satu alasan untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Menjadi dewasa adalah siap melapangkan dada seluas-luasnya untuk mengikhlaskan rasa sakit dan benci yang mungkin timbul sebagai akibat dari masalah tersebut. Menjadi dewasa adalah suatu pilihan dan siapkah kita mengambil pilihan tersebut?

2 comments:

agung said...

Karena di balik setiap "gunung" masalah, ada harta karun tak bernilai bernama "pengalaman".

Bukankah intan juga ditempa dalam panasnya suhu perut bumi dan kelak menjelma menjadi batu terindah di dunia?

--tambahan paragraf terakhir : Menjadi dewasa berari siap bersabar dalam menghadapi kesusahan, apalagi kebahagiaan.

Wallahu'alam

Anonymous said...

mgkn ukuran dewasa memank ky gt seperti pengalaman saya.
Orang blg saya blm dewasa krn setiap ada mslh saya langsung panik dan g bs menyelesaikan mslh sndr,saya mudah emosi jika ada sesuatu yg ga sesuai dg keinginan saya. Mjd dewasa g mudah.