Credits to

Powered by Blogger

Thursday, September 28, 2006

Mimpi-Mimpi

Teringat satu momen di mana salah seorang sahabatku bercerita tentang sesuatu. Di usianya yang memasuki usia 33 tahun dan telah memiliki dua orang anak, dia masih terlihat amat muda laiknya seorang yang berusia 20 tahunan. Ketika kutanyakan apa resepnya agar ia bisa terlihat awet muda seperti itu, dia menjawab, “Mungkin karena seumur hidup gue belum pernah ngerasain yang namanya mimpi, jadi semua urusan yang terjadi dalam hidup gue gak pernah dibawa ke alam bawah sadar.” Wallahu’alam bishshswab…adakah seseorang di dunia ini yang tak pernah merasakan mimpi, bahkan sekalipun??? Hal yang berkebalikan dengan sahabatku tadi justru terjadi pada diriku di mana hampir setiap malam aku merasakan sesuatu yang bernama mimpi. Entah itu mimpi baik, mimpi buruk, atau mimpi yang menurutku tidak penting. Namun, yang membuatku merasa aneh adalah mimpi-mimpi yang menurutku tidak penting terkadang justru menjadi kenyataan entah di keesokan harinya atau lain waktu. Hal ini pula yang menjadikanku terkadang merasa Déjà vu. Misalnya saja pada suatu ketika aku bermimpi bertemu dengan seorang adik kelas yang nota bene yang jarang bertemu denganku, tiba-tiba keesokan harinya aku justru berpapasan dengannya. Ada juga kasus mimpi yang lucu di mana aku tiba-tiba saja bermimpi tentang seorang penyanyi country wanita, Shania Twain, apa lacur? Keesokan harinya aku mendapati tontontan di televisi yang menyiarkan lagu yang dibawakan oleh si Shania Twain tersebut. Pada awalnya, aku pribadi tidak terlalu mengacuhkan korelasi antara mimpi-mimpi tersebut dengan realita yang terjadi dalam keseharianku. Aku pikir itu hanyalah sebuah kebetulan biasa yang dapat terjadi pada semua orang di dunia ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, hal itu sering kali terjadi pada diriku dan membuatku tertarik untuk mempelajari mengenai mimpi lebih lanjut.

Orang berkata mimpi hanyalah sebuah bunga tidur. Mimpi hanyalah sebuah refleksi dari keinginan alam bawah sadar manusia yang tidak dapat terwujud di dunia nyata. Mimpi biasanya didefinisikan sebagai proses dari bayangan, perasaan, pergerakan dan pikiran yang kita alami saat tertidur. Mimpi dapat dialami pada setiap fase dalam tidur kita, dan tidak harus selalu melibatkan rangsang tertentu (misalnya rangsang visual). Mimpi disebabkan oleh proses biologis internal dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel otak besar pada bagian belakang otak secara periodik pecah dalam selang waktu sekitar 90 menit dan mengirimkan rangsangan (stimuli) yang bersifat random ke bagian korteks (batang) pada otak. Sebagai akibatnya, bagian memori, sensorik, kontrol saraf, dan kesadaran pada otak terstimulasi secara acak yang berdampak adanya rangsangan pada puncak bagian korteks pada otak. Menurut penelitian ini, proses di atas mengakibatkan kita mengalami apa yang kita sebut sebagai mimpi. Sebagian psikoterapis berpendapat bahwa saat rangsangan neurologis dari otak memicu proses terjadinya mimpi, isi atau representasi dalam mimpi dapat berasal dari kebutuhan, keinginan, atau harapan dari alam bawah sadar dan kehidupan sehari-hari pada orang yang mengalami mimpi tersebut. Karena itu sebagian psikoterapis beranggapan bahwa mimpi merupakan cetusan dari alam bawah sadar seseorang. Penjelasan ini dikenal sebagai penjelasan "phenomenological-clinical", atau "top-down". Di lain pihak, penjelasan neurologis atau "bottom-up", menyatakan bahwa mimpi sama sekali tidak memiliki arti khusus. Di antara keduanya terdapat pendekatan yang disebut "context analysis" yang menjelaskan dan mengklasifikasikan representasi yang ditemukan seseorang dalam mimpinya, seperti manusia, rumah, kendaraan, pohon, kendaraan, tanpa interpretasi yang mendalam mengenai detil objek tersebut. Perbedaan antara representasi telah ditemukan antara mimpi yang dialami pria dan wanita, serta mimpi yang dialami manusia dalam berbagai tingkatan pertumbuhan. Mengenai arti perbedaan tersebut saat ini masih dalam penelitian.


Nathaniel Kleitman pada tahun 1953 membuat suatu penemuan penting mengenai fase REM (Rapid Eye Movement) dalam tidur. Fase ini ditandai dengan pergerakan bola mata yang cepat secara periodik yang terjadi baik pada manusia maupun hewan saat tertidur. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan sukarelawan sebagai subjek penelitian, saat tidur subjek penelitian dihubungkan dengan peralatan-peralatan EEG (ElectroEncephaloGram : pengukur gelombang otak), EMG (ElectroMyoGram : pengukur pergerakan otot), dan EOG (ElectrOculoGram : pengukur gerakan bola mata). Sekitar 90% subjek yang dibangunkan dari tidur saat mengalami fase REM melaporkan bahwa mereka mengalami mimpi (sekitar 60% subjek yang dibangunkan sebelum mengalami fase REM juga melaporkan mengalami aktifitas mirip mimpi dalam tidurnya). Sebelum adanya penelitian mengenai REM, masih belum diketahui persis seberapa sering manusia bermimpi. Beberapa teori bahkan menyebutkan bahwa impian merupakan tanda-tanda gangguan mental bagi mereka yang mengalaminya. Melalui riset laboratorium mengenai mimpi, subjek dibangunkan dari tidurnya setelah mengalami fase REM untuk diteliti aktifitas mentalnya selama tidur secara seksama. Manusia diketahui mengalami mimpi pada setiap malam. Pada manusia dewasa, mimpi biasanya berlangsung pada sekitar 90 menit setelah mulai tertidur dan terjadi lagi setiap 90 menit dengan durasi yang lebih lama, selama total 2 jam fase REM dalam tidur malam. Dengan rata-rata 5 mimpi tiap malam, manusia rata2 mengalami 136.000 impian sepanjang hidupnya dengan waktu yang setara dengan 6 tahun fase REM dalam tidur. Saat mengalami mimpi dalam fase REM, manusia mengalami peningkatan pada detak jantung, pernafasan, tekanan darah, konsumsi oksigen, dan pengeluaran getah lambung. Tidur fase REM biasanya disebut sebagai tidur paradoks karena memiliki karakteristik seperti tidur fase awal (light sleep) dan tidur fase lanjut (deep sleep) sekaligus. Berdasarkan pengukuran pada EEG, fase REM adalah tidur fase awal (tingkat I), sedangkan berdasarkan pengukuran EMG merupakan tidur fase lanjut (tingkat IV), karena sebagian besar otot seolah-olah dilumpuhkan secara bersamaan untuk mencegah si pemimpi secara fisik melakukan apa yang diimpikannya (misalnya berjalan sambil tidur).


20 hingga 25% waktu tidur kita digunakan untuk mimpi. Kita mimpi berkali-kali dalam semalam dan setiap mimpi itu waktunya antara 5 s/d 40 menit. Walaupun demikian bayi bisa mimpi sampai delapan jam, maklum bayi tidurnya juga jauh lebih lama. Kita jarang bisa mengingat mimpi, sebab pengalaman mimpi kita pada umumnya di simpan dalam otak sementara yang hanya bisa di ingat antara 5 hingga 10 menit saja. Pada saat kita mimpi otak tempat di mana biasanya kita berpikir (prefrontal cortex) itu tidak aktif sama seperti lumpuh, sebab mimpi terjadinya hanya di bagian depan otak kita (forebrain) oleh sebab itulah kita tidak bisa mengendalikan jalan arusnya mimpi kita. Kita tidak akan pernah bisa mengatur malam ini ingin mimpi apa atau mau ketemu dengan siapa dalam mimpinya ? Pada saat kita mimpi kita terbebas dari ikatan waktu maupun ruangan, jadi bisa saja kita mimpi berada di tempat yang jauh atau di masa lampau maupun yang akan datang, walaupun demikian perlu diketahui; lima menit waktu di dalam mimpi itu sama seperti juga lima menit waktu dalam keadaan nyata jadi tidak ada bedanya.


Seorang ustad pernah berkata bahwa pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar dan mengingatkan akan aneka akibat dari berbagai urusan. Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gembira, dan peringatan. Dikatakan demikian karena mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, bahkan ia merupakan satu dari dua bagian kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi. Orang yang menerima wahyu melalui mimpi disebut Nabi. Adapun orang yang menerima ucapan malaikat saat dia terjaga disebut Rasul. Inilah yang membedakan antara nabi dan rasul. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa, Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.” (Muttafaq ‘alaih). Dari dua keterangan di atas, maka sebetulnya dapat disimpulkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak. Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Nabi Ibrahim as tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah SWT mengisahkan kejadian tersebut, “Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102). Setelah Nabi Ibrahim as memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah memberinya jalan keluar karena kasih sayangNya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf as yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.


Melihat kenyataan bahwa mimpi-mimpi baik yang menjadi kenyataan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki derajat keshalihan yang tinggi, maka dapat dideduksi bahwa seseorang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Seperti sabda Rasulullah dalam hadits Muttafaq ’alaih, ”Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.” Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad SAW) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi SAW menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)


Sejatinya, mimpi terbagi menjadi dua yaitu mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid. Peristiwa yang menggembirakan yang benar yang terjadi setelah bermimpi tidak memerlukan penafsiran. Adapun mimpi yang batil ialah mimpi yang tidak dapat diperincikan oleh orang yang bermimpi. Artinya orang yang bermimpi itu tidak sanggup mengingat jalan cerita mimpi itu. Mimpi seperti ini dianggap batil dan tidak mempunyai makna atau tafsir. Termasuk dalam kategori ini adalah mimpi yang disebabkan karena keinginan nafsu Seperti kita ketahui nafsu ada tiga, yaitu nafsu mutmainnah, nafsu lawwamah, dan nafsu ammarah. Mimpi seperti inilah yang terjadi karana pengaruh pikiran seseorang. Sesuatu yang seseorang lakukan atau khayalkan siang hari atau menjelang tidurnya dapat menjelma ketika tidurnya. Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.


Ternyata, mimpi tak sesederhana yang kita kira. Mimpi juga dapat menentukan kualitas kedekatan dan keshalihan seseorang kepada Allah SWT. Mungkin sudah saatnya kita melakukan kontemplasi lewat mimpi-mimpi yang kita dapati. Wallahu’alam Bishshwab.

-dikompilasi dari berbagai sumber-

2 comments:

Anonymous said...

TAK TIDUR -> MAKA TAK MIMPI.
Makanya, Puasa jangan banyak tidur! Tidurnya orang puasa adalah ibadah; perlu diketahui, itu hadits: dho'if jiddan!
Jadi, puasa jangan gak produktif.
ups..! (kok ngomongnya kaya preman gini?)

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan, agar romadhon kita bisa lebih bermakna, dek. Yaitu:
1. aspek 'ubudiyyah;
2. aspek fikriyyah;
3. aspek ijtima'iyyah;
4. aspek jasadiyyah; dan
5. aspek da'wiyyah.
tapi, penjelasannya gak bisa disini. bisa gak muat ya..
Tunggu ya dek, email barunya belum jadi. (email yang tetap anonymous :)

Anonymous said...

ocha...hueebatt... refernsinya pasti oke bgt... jadi pengen mimpi nich cha...He..he...