Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, September 26, 2006

Puasa Identik dengan Bau Mulut???



Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' "


Rasulullah SAW telah bersabda bahwa sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. Dapat diibaratkan kesturi adalah wewangian yang paling harum di dunia ini, sedangkan bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum dari itu. Meski telah diibaratkan demikian, tapi tetap saja bagi sebagian orang bau mulut ketika berpuasa dapat mengganggu.


Bau mulut dalam bahasa medis disebut sebagai Halitosis atau Fetor Ex Ore. Istilah Halitosis digunakan apabila kondisi bau mulut yang ada berhubungan dengan keadaan tubuh secara umum (sistemik), sedangkan Fetor Ex Ore digunakan apabila bau mulut berasal dari faktor-faktor yang ada dalam rongga mulut itu sendiri.


Bau mulut dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain faktor lokal yang ada di dalam rongga mulut, faktor di luar rongga mulut, faktor fisiologis, dan faktor psikis. Di dalam rongga mulut terdapat zat yang disebut volatile sulfur compound (VSCs). Zat ini mengandung hidrogen sulfid, metil mercaptan, dan dimetil disulfid yang merupakan produk bakteri atau flora normal rongga mulut. Pada orang yang menderita bau mulut, kadar VSCs di dalam mulutnya mengalami peningkatan. Peningkatan kadar VSCs dalam mulut disebabkan oleh adanya peningkatan aktivitas bakteri anaerob yang menyebabkan bau VSCs tercium indera penciuman. Aktivitas bakteri anaerob itu terjadi apabila rongga mulut mengandung sedikit oksigen, terutama saat mulut kering di mana aliran liur atau saliva rendah. Kondisi bau mulut ini dapat diperberat apabila seseorang memiliki kebersihan mulut yang rendah. Rendahnya kebersihan mulut ini biasanya ditandai oleh dua hal yaitu banyaknya gigi yang berlubang atau karang gigi yang menumpuk. Bila ada gigi yang berlubang maka sisa-sisa makanan akan tertinggal di dalam lubang dan di sela-sela gigi yang pada akhirnya akan membusuk dan menyebabkan bau mulut. Demikian pula dengan karang gigi yang menumpuk karena sejatinya pada karang gigi banyak terdapat bakteri-bakteri yang produk metabolismenya juga dapat menyebabkan bau mulut.


Selain faktor di dalam rongga mulut, bau mulut juga dapat disebabkan oleh faktor di luar rongga mulut. Penyebabnya dapat berasal dari hidung, jantung, atau karena penyakit tertentu, misalnya kencing manis, infeksi paru-paru, serta infeksi lambung atau usus. Infeksi karena kanker atau radang amandel kronis juga bisa membuat napas tak sedap. Penyebab lain adalah asam lambung tinggi, misalnya pada penderita maag. Bau mulut timbul karena asam dan basa tidak seimbang. Pada penderita maag, misalnya, asam lambungnya meningkat. Begitu maag kumat, otomatis tingkat keasaman mulut naik ke atas tenggorokan, sehingga timbul bau mulut.


Pada saat berpuasa, bau mulut dapat terjadi karena beberapa hal. Penyebab pertama adalah karena tidak aktifnya pengunyahan pada saat berpuasa. Hal ini memiliki implikasi berkurangnya produksi kelenjar liur. Dengan demikian, produksi zat-zat VSCs seperti yang telah disebutkan di atas akan meningkat dan menimbulkan timbulnya bau yang tak sedap. Penyebab kedua adalah konsumsi makanan atau minuman yang menimbulkan bau tajam seperti bawang putih, bawang merah, petai, jengkol, dan lain-lain pada saat sahur. Penyebab yang ketiga adalah karena adanya faktor lokal dalam rongga mulut berupa gigi berlubang atau karang gigi.


Untuk mengatasi bau mulut pada saat berpuasa maka disarankan untuk minum lebih banyak air putih pada saat sahur. Konsumsi makanan berserat dan buah seperti buah semangka atau bengkuang juga dianjurkan karena memiliki sifat sebagai cleaner atau pembersih dalam perut. Jadi, selain untuk gigi, juga untuk kesehatan. Menggosok gigi setelah sahur dibantu dengan berkumur-kumur cairan antiseptik mulut juga dapat membantu mengurangi bau mulut. Selain itu, apabila diketahui ada gigi yang berlubang atau karang gigi, segeralah pergi ke dokter gigi untuk menambal dan membersihkannya. Puasa identik dengan bau mulut??? Tidak lagi tentunya! Semoga puasa Ramadhan kali ini dapat membawa banyak keberkahan.

-Drg. Deasy Rosalina-

2 comments:

Anonymous said...

Bergulirnya waktu, telah menyampaikan kita, pada Bulan Maghfiroh dan Kemuliaan...
Pensucian bagi Jiwa-jiwa, kembali ditawarkan...
Maka, tanyakan pada Nurani; akankah kita bersegera pada ampunan Alloh, yang luasnya seluas langit dan bumi?

untaian kalimat diatas di-sms ke HP saya dari seseorang. Dan saya, ingin meneruskannya padamu dek.

RoSa said...

Jazakallah khairan Kk...[siapapun adanya dirimu yang selalu anonymous :)]