Credits to

Powered by Blogger

Thursday, October 12, 2006

Cinta vs Fikroh

Assalamu’alaikum…aku terserang VMJ [Virus Merah Jambu, red], menurut Ocha mana yang bagus? Apa harus mengkhitbah seorang ”akhwat” ato ”wanita biasa”? Jujur, dia bukan dari kalangan ”akhwat” seperti yang kita pahami, tapi aku lihat dia punya keinginan kuat untuk berbenah. Toh semua orang punya potensi menjadi lebih baik kan? [sms dari 0813462XXXXX]


”Cha, gmana ya misalnya ada seseorang yang ingin melamarku, tapi dia bukan ’ikhwan’?” [perbincangan dengan seorang teman]


”Ros, menurutmu mungkin gak sih tipe-tipe ’akhwat’ gitu bisa tertarik sama aku?” [perbincangan dengan seorang teman yang lain]


”Kk punya seorang temen seangkatan di S2 sini, kita sama-sama seneng kalo ngeliat akhwat-akhwat lagi pada ngaji di Salman, ingin rasanya kalo bisa punya istri kayak mereka” [perbincangan dengan seorang teman yang lain lagi]


Rasanya dialog-dialog di atas sudah tak asing lagi di telingaku. Menurutku hal tersebut merupakan sebuah ambiguitas yang sering tak dapat terelakkan. Saat rasa cinta pada lawan jenis yang merupakan fitrah dariNya datang tak terduga-duga, ia tak bisa memilih apakah ia akan mencintai lawan jenis dari ”golongannya sendiri” ataukah dari ”golongan lain”. Ketika rasa itu membuncah untuk lawan jenis yang memiliki fikroh atau pemikiran yang sama, mungkin bagi sebagian orang tidak akan menjadi satu persoalan berat. Si ikhwan atau si akhwat dapat mengutarakan kecenderungannya tersebut pada sang murobbi untuk kemudian diproses dengan cara yang baik. Namun, tak sedikit dari mereka yang memiliki kesamaan fikroh ini juga akan memilih proses yang baik. Banyak di antara mereka yang sering pula main kucing-kucingan dengan murobbi dan ”komunitas” mereka. Dalihnya adalah hal itu juga merupakan proses ta’aruf atau pengenalan untuk satu sama lain. Untuk penguatan dalih tersebut mereka enggan menyebut hubungan itu sebagai ”pacaran”, bahkan mungkin mereka lebih bahagia dengan sebutan hubungan tanpa status [HTS] atau teman tapi mesra [TTM]?


Sekarang, bagaimana bila kasusnya adalah si ”ikhwan” atau si ”akhwat” jatuh cinta dengan lawan jenis yang berbeda fikroh? Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bagaimana itu tipikal seorang ikhwan atau akhwat, sehingga tak perlu lagi kujelaskan di sini. Sejatinya, seorang ikhwan atau seorang akhwat juga manusia biasa yang dapat jatuh cinta pada siapa saja tanpa pandang bulu. Namun, mungkin sudah menjadi stigma bagi sebagian besar orang dalam komunitas ”tarbiyah” untuk menginginkan pasangan hidup yang memiliki fikroh yang sama. Dengan adanya kesamaan fikroh ini diharapkan bahwa nantinya bahtera rumah tangga dapat dinakhodai oleh sebuah visi yang sama. Namun, pada kenyataannya seringkali didapati hati berbicara sebaliknya. Hati justru tertambat pada seseorang yang tidak memiliki kesamaan fikroh. Hal ini jelas menjadi satu pergulatan mental tersendiri bagi si ikhwan atau si akhwat. Di satu sisi, harapan untuk memiliki pasangan hidup dari komunitasnya sendiri sedemikian besar, tetapi di sisi yang lain hati juga tak dapat berdusta bahwa buncahan pada lawan jenis yang berbeda fikroh juga telah begitu besar.


Bila telah dihadapkan pada persoalan seperti ini, maka biasanya ada dua pilihan yang diambil oleh si ikhwan atau si akhwat. Pilihan pertama adalah langsung mengutarakannya pada sang murobbi, dengan harapan sang murobbi dapat membantu prosesnya agar tetap terjaga dengan baik. Pilihan kedua adalah si ikhwan atau si akhwat akan berusaha terlebih dahulu untuk menyamakan fikroh dengan cara mencarikan seorang murobbi bagi lawan jenisnya tersebut tanpa sepengetahuan murobbinya. Pilihan ini memiliki tiga kemungkinan implikasi. Implikasi pertama adalah, si lawan jenis bersedia untuk menerima tawaran untuk ”ngaji” tersebut dengan sungguh-sungguh dan niat yang ikhlas, bukan hanya karena menginginkan dapat menikah dengan si ikhwan atau si akhwat. Implikasi kedua adalah, si lawan jenis tersebut bersedia ”ngaji” hanya sekedar untuk labelisasi ”ikhwan” atau ”akhwat”. Niatnya untuk ”ngaji” hanya sekedar agar dapat menikah dengan si ikhwan atau si akhwat. Biasanya, pada implikasi yang seperti ini, setelah menikah rutinitas ”ngaji”nya akan menurun atau bahkan tidak sama sekali ”ngaji”. Implikasi ketiga adalah, si lawan jenis tersebut tidak sama sekali menerima tawaran untuk ”ngaji” karena mungkin merasa sudah cukup dengan ilmu dan pemikiran yang ia miliki.


Bila yang terjadi adalah implikasi yang ketiga, maka si ikhwan atau si akhwat harus siap dengan berbagai konsekuensi yang ada. Si ikhwan atau si akhwat harus dapat memperkirakan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Kekuatan dalam hal ini adalah kekuatan beragama tentunya. Menurutku, sebuah pernikahan adalah suatu momen panjang di mana setiap elemennya harus dapat membawa elemennya yang lain untuk menuju jannahNya. Oleh karenanya jannahNya harus dicapai dengan sebuah pemahaman yang baik mengenai keberagamaan itu sendiri, dalam hal ini Islam tentunya. Biasanya posisi ikhwan yang jatuh cinta pada yang ”non akhwat” akan lebih kuat karena sejatinya dialah yang akan menjadi qowwam atau pemimpin dalam rumah tangganya kelak. Dialah yang akan menentukan arah rumah tangganya. Berbeda halnya dengan akhwat yang jatuh cinta pada yang ”non ikhwan”. Pada kasus ini, si akhwat harus benar-benar memiliki kekuatan dan kesabaran untuk dapat menuntun suaminya yang ”non ikhwan” agar tetap pada koridorNya. Bersyukur apabila nantinya dapat membukakan pintu hidayah pada sang suami agar mau ’ngaji”. Namun, apabila si akhwat ini telah mengukur kekuatan dirinya dan sekiranya ia tak mampu, maka sebaiknya ia harus rela membunuh perasaan yang sudah ada pada lawan jenisnya tersebut bila ia menginginkan tetap istiqomah di jalanNya.


Sesungguhnya, penjabaran tadi hanya aku lihat dari sudut pandang yang telah aku yakini selama ini. Bukan berarti komunitas tarbiyahlah yang paling benar dan orang selainnya salah dan tak paham apa-apa mengenai Islam. Sebagai manusia sudah seharusnya kita sama-sama belajar mencari kebenaran tersebut dan mau secara rendah hati menerima kebenaran dari siapapun jua. Kebenaran yang hakiki hanya datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Kebenaran, maka marilah sama-sama kita datang menuju Allah SWT. Wallahu’alam bishshowab.

12 comments:

kabul said...

huehehehehe.. ini mah GUA BANGEDZZZ.. :D cinta itu buta, klo bisa ngeliat ntu cuma boongan doank... wong cinta ga punya mata... :P

agung said...

Iya mas kabul, cinta memang buta. Tapi yang jatuh cinta kan engga buta :D

Hemm..hemm.. topiknya
Masalahnya mungkin pada pemahaman arti pernikahan. Untuk apa? Untuk berpasang-pasangan sajakah? Atau untuk membentuk madrasah-madrasah kecil peradaban?

~A~ said...

inspirated by person :D

RoSa said...

for bul'e : hehehe, honestly artikelnya inspired by u neh :D

for pak agung : yap, semuanya kembali pada apa visi awal dari pernikahan tersebut???

for k andresianasari :D : now it's my time! :)

Andik said...

mbak nanya... apa kriteria orang itu disebut ikhwan atau akhwat?? :D makasih...

Anonymous said...

Cha kl seandainya cewe tdk ikut tarbiyah tapi mengahrapkan seorang ikhwan bisa ga ya...? kira2 ada ikhwan yg mau ga sama cewe ini?walaupun tidak tarbiyah tp insyaallah cewe ini hanif kok....
kan setiap orang ingin dapat yang terbaik dalam hidupnya..

Anonymous said...

dek..
Basi Ah!
apa gak ada yang lain, yang bisa kamu tulis.
Di 78 banyak yang bisa kamu lakukan; ataupun di UI.
Kamu mau gak?
Romadhon nih.. (musimnya berbuat baik) -> pinjam istilah SCTV

ExeCute said...

Biasanya posisi ikhwan yang jatuh cinta pada yang ”non akhwat” akan lebih kuat karena sejatinya dialah yang akan menjadi qowwam atau pemimpin dalam rumah tangganya kelak. Dialah yang akan menentukan arah rumah tangganya.

Aku sedang mengalaminya sekarang. Tapi langkahpun belum jauh aku lakukan. Masih berdoa dan berdoa kehadirat Illahi Rabby dalam menentukan arah kehidupan selanjutnya. Hiks... aku takut tergelincir.

kabul said...

yg terbaik untuk kita bukan berarti yg sudah baik, kadang kurang baiknya pasangan kita merupakan ladang amal seorang tuk menuju JannahNya (karena kita tak pernah tahu amal mana yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak)... cieee.. bgitu bukan? ya bukan :D

RoSa said...

yups...you r absolutely right bul'e!!! :)

fathy said...

ngomonginnya nikah2 mulu nihh...
kayanya bentar lagi terima undangan... heheheh...

RoSa said...

wah, undangan mah udah lewat neng geulis...kemarin tuh undangan sumpah Drg..hehehehe :D