Credits to

Powered by Blogger

Friday, October 20, 2006

Flashback

Sekedar flashback ke lima tahun yang lampau. Saat itu aku harus membuat suatu pilihan yang akan menentukan masa depanku selanjutnya. Ya momen itu adalah UMPTN. Sejak naik ke kelas 3 jurusan IPA, aku telah banyak mencari info-info mengenai berbagai jurusan yang ada di universitas negeri pilihan. Waktu itu universitas negeri pilihanku adalah UI, ITB, dan UGM sedangkan pilihan jurusannya sendiri sangat beragam. Aku pribadi saat SMU sangat menyukai pelajaran Kimia dan Biologi serta tidak terlalu menyukai Fisika dan Matematika, meskipun saat duduk di bangku kelas 3 aku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan guru Fisikaku. Melihat kompetensiku sendiri, pada awalnya memang aku ingin masuk jurusan Kedokteran UI. Namun, setelah mengamati aktivitas salah seorang seniorku di SMU yang berkuliah di Kedokteran UI, aku pun kemudian berpikir untuk merubah pilihanku nanti. Aku berpikir bahwa kuliah di Kedokteran itu amat melelahkan, harus rajin belajar, banyak menghapal, ditambah lagi dengan tugas jaga malam pada waktu ko-as. Karenanya aku membulatkan tekad untuk tidak mengambil jurusan yang berbau bau kedokteran, entah itu Kedokteran atau pun Kedokteran Gigi.


Oh ya, pas kelas 3 SMU itu, aku sempat mengikuti psikotes. Dari hasil psikotes itu dibilang kalau aku memiliki arah minat pada tiga hal yaitu; Investigatif, Realistik, dan Sosial. Untuk minat investigatif, maka profesi yang sesuai bagiku adalah ahli kimia atau ahli astronomi, untuk minat realistik profesi yang sesuai adalah ahli teknik sipil atau ahli instalasi listrik, sedangkan untuk minat sosial profesi yang sesuai adalah psikolog klinis. Oleh karenanya, dari hasil tersebut aku disarankan untuk memilih program studi kimia, teknik sipil, atau psikologi. Berdasarkan semua hasil tersebut, memang ada beberapa bidang yang aku minati sejak awal.


Pertama adalah astronomi, sejak kecil aku senang sekali mengamati bintang-bintang di angkasa raya [jadi ingat lagunya Ken Hirai : Miagete Goran Yoru no Hoshi wo]. Satu-satunya bab di pelajaran fisika yang paling aku senangi juga adalah bab mengenai perbintangan. Untuk itu, aku kemudian memasukkan Astronomi ITB dalam sebagai salah satu alternatif pilihan. Namun, setelah kudiskusikan dengan papaku, beliau kemudian menolak pilihanku tersebut dengan alasan yang mungkin sama dengan sebagian besar orang tua lain, ”Mau jadi apa nantinya kamu masuk astronomi De?” Akhirnya kuputuskan untuk mengeliminasi pilihan tersebut.


Bidang kedua adalah psikologi, untuk bidang yang satu ini sejak lama memang kuminati karena aku senang sekali memperhatikan dan menganalisis kepribadian orang-orang. Untuk itu, aku kemudian juga memasukkan Psikologi UI sebagai salah satu alternatif pilihanku nantinya. Namun, mengingat aku berasal dari jurusan IPA maka untuk dapat memilih Psikologi UI aku harus mengikuti program IPC saat UMPTN. Mungkin karena aku telah lama tidak belajar mengenai ilmu-ilmu sosial maka pada saat itu sejujurnya aku begitu malas jika harus mengikuti program IPC. Memang ada alternatif lain yaitu Psikologi Unpad yang tidak mengharuskan peminat yang berasal dari jurusan IPA untuk ikut program IPC, tetapi pada saat itu Unpad bukan merupakan universitas negeri pilihanku. Akhirnya lagi-lagi pilihan ini terpaksa kueliminasi.


Bidang ketiga adalah kimia, untuk bidang yang satu ini seperti telah kujelaskan di awal memang dari awal aku menyukai pelajaran kimia. Pada bidang kimia ini ada dua pilihan jurusan yang menjadi minatku yaitu Teknik Gas dan Petrokimia [TGP] UI dan Farmasi UI. Untuk jurusan TGP UI ini, aku punya cerita khusus mengenainya. Saat kelas 3 dulu, para mahasiswa dari TGP UI sempat melakukan promosi ke sekolahku. Deskripsi mereka mengenai TGP UI sungguh memukau dan membuat niatku untuk memilihnya semakin kuat. Ditambah rasanya tiada aral dari diriku dan orangtua untuk memilihnya. Kemudian untuk jurusan Farmasi UI, dari orangtuaku sebetulnya tidak ada masalah, tapi dari aku pribadi justru pada saat itu kurang PD untuk memilihnya dikarenakan passing grade yang lumayan tinggi. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengeliminasi pilihan tersebut.


Namun, tidak pilihan-pilihanku tidak berhenti sampai di situ saja. Sempat juga aku berpikir untuk memilih Teknik Nuklir UGM dikarenakan aku ingin sekali menjadi seorang ahli nuklir di Indonesia. Setelah kuutarakan maksud ini kepada orangtuaku, mereka kontan saja menolak dengan alasan mereka khawatir anak semata wayangnya ini akan banyak terkena radiasi nantinya sehingga tidak mampu menjalankan proses reproduksi. Lagi-lagi pilihan ini harus aku eliminasi. Sempat juga terpikir untuk memilih Teknik Informatika ITB, tetapi berhubung passing gradenya yang juga lumayan tinggi, lagi-lagi dengan sadar diri akan kapabilitasku, aku mengeliminasi pilihan tersebut. Karena benar-benar bingung harus memilih jurusan apalagi selain TGP UI, akhirnya aku melakukan sholat istikharah. Setelah beberapa kali istikharah, aku mendapatkan mimpi bahwa aku sedang berada di kampus Teknik Metalurgi UI. Sebetulnya dari awal aku tidak pernah berpikir untuk memilih jurusan ini, tapi aku merasa mungkin ini adalah jawaban ALLAH untukku. Namun, setelah banyak mencari informasi mengenai jurusan ini, aku pribadi merasa tidak sreg untuk memilihnya dikarenakan bayangan lapangan pekerjaan yang harus kujalani nantinya. Akhirnya karena semakin bingung, aku memutuskan untuk memilih jurusam berdasarkan mata pelajaran yang paling aku senangi, yaitu jurusan Biologi UI. Aku berpikir bahwa nantinya aku bisa berkuliah dengan nyaman karena aku menyukai bidang tersebut. Ditambah lagi banyak masukan cerita dari pada seniorku di SMU bahwa kuliah di Biologi UI itu banyak petualangannya, mulai dari jalan-jalan ke pegunungan hingga diving.


Pada H-2 pengumpulan formulir UMPTN, akhirnya kutuliskan dua pilihan program studi yang kuminati, TGP UI dan Biologi UI. Namun, ternyata takdirku tak sampai di situ saja. Ketika akan menyerahkan formulir tersebur, salah seorang temanku melihat kedua pilihanku tersebut. Kemudian dia berkomentar agak merendahkan saat itu, dia berkata, ”Oh, Ocha pilihan keduanya Biologi supaya kalo gak dapet pilihan pertama jadi kayak sekolah lagi ya???” Terus terang saja, pernyataannya tersebut membuatku mendidih. Aku membuat suatu keputusan besar untuk memilih dua pilihan tersebut bukan untuk sekedar main-main belaka. Akhirnya, aku tidak jadi untuk mengumpulkan formulir pendaftaran pada hari itu. Aku kemudian pulang ke rumah dan membuka kembali semua pilihan program studi yang ada. Kali ini aku hanya fokus pada pilihan program studi yang ada di UI. Aku buat tabel positif dan negatif mengenai semua jurusan IPA yang ada di UI. Yang sempat menjadi pilihanku saat itu adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat [FKM] dan Teknik Industri. Tapi, lagi-lagi dengan penuh pertimbangan aku memutuskan untuk tidak memilih keduanya. Setelah aku melihat-lihat kembali dengan seksama, ternyata ada dua program studi yang selama ini tidak terlalu aku perhatikan yaitu Fakultas Ilmu Komputer [Fasilkom] dan Fakultas Kedokteran Gigi [FKG]. Tadinya memang aku sempat berpikir untuk memilih jurusan Teknik Informatika ITB, tapi aku tidak berpikir untuk memilih Fasilkom UI. Meski passing grade Fasilkom UI saat itu melebihi passing grade FK UI, tanpa banyak pertimbangan akhirnya kutetapkan pilihan pertamaku pada Fasilkom UI. Kemudian untuk FKG, seperti telah kusebutkan di awal, bahwa aku sangat menghindari pilihan Kedokteran atau Kedokteran Gigi. Namun, setelah kupertimbangkan, jika nantinya aku tidak berhasil mendapatkan pilihan pertama di Fasilkom UI, setidaknya aku bisa mendapatkan pilihan program studi yang tidak ecek-ecek. Selain itu, aku berpikir bahwa kuliah di FKG tidak terlalu berat dibandingkan dengan FK [dan ternyata aku salah besar saudara-saudara!!!kuliah di FKG ternyata sungguh menguras kekuatan fisik, mental, dan terutama materiil] dan peluang untuk mendapatkan kerja lebih besar dikarenakan dokter gigi adalah sebuah profesi. Akhirnya, dengan mengucap Bismillah aku menuliskan Fasilkom UI dan FKG UI pada formulir pendaftaranku. Sebagai catatan, kedua orangtuaku pada awalnya tidak mengetahui bahwa aku telah memilih dua fakultas tersebut. Mereka masih mengira bahwa anaknya ini memilih TGP UI dan Biologi UI. Kurang lebih dua minggu setelah pengumpulan formulir itulah aku baru mengatakan kepada mereka mengenai pilihanku tersebut dan reaksinya adalah kekagetan yang luar biasa!Tapi apa boleh buat, keputusan telah dibuat dan mereka mendukung apa yang menurutku baik.


Setelah selesai UMPTN, di masa penantian pengumuman aku telah bertekad bahwa jika kelak akhirnya aku tidak diterima di kedua pilihan tersebut, maka aku akan mengikuti kursus-kursus untuk meningkatkan kapabilitas diri sementara menunggu UMPTN di tahun depan. Aku tidak mempersiapkan alternatif PTS karena aku menurut hematku, apabila pada tahun depan aku mengikuti UMPTN lagi dan berhasil, maka akan terlalu banyak biaya yang dikeluarkan oleh orangtuaku. Namun, ternyata papaku berpikir lain, beliau malah menyuruhku untuk mendaftarkan diri ke Universitas Bina Nusantara. Apa boleh buat, akhirnya aku menuruti keinginan beliau untuk mendaftarkan diri ke Binus. Namun, berhubung pendaftarannya sudah di gelombang terakhir, jurusan-jurusan yang menjadi favorit seperti Teknik Informatika, Sistem Informasi, dsb sudah tidak membuka jadwal reguler lagi [hanya tinggal jadwal kuliah malam], aku terpaksa memilih jurusan yang membuka jadwa kuliah reguler. Dan jurusan yang tersisa tersebut adalah Jurusan Ganda! Dengan total 177 SKS. Akhirnya aku memilih jurusan ganda Sistem Informasi dan Teknik Industri. Sejujurnya aku dan mamaku tidak sreg untuk berkuliah di situ, dikarenakan suasananya yang kurang ’kondusif’, tapi aku tidak ingin mengecewakan papaku yang telah demikian bersemangat untuk mendaftarkan diriku. Untungnya pihak Binus memberikan keringanan, apabila calon mahasiswanya yang telah mendaftar diterima di UMPTN, maka uang pendaftaran akan dikembalikan, meski tidak sepenuhnya.


Akhirnya, hari yang telah dinanti-nanti tiba, pengumuman UMPTN!Pihak bimbel yang kuikuti berjanji akan meneleponku tengah malam bila aku berhasil diterima di salah satu program studi yang kupilih. Semua orang rumah menanti dengan penuh harap-harap cemas. Tepat jam 12 malam, telepon rumahku pun berdering dan papaku kemudian membangunkan diriku yang sedang terlelap bahwa diriku diterima di FKG UI!Pada awalnya aku agak kecewa karena tidak berhasil diterima di pilihan pertamaku, Fasilkom UI, tapi Alhamdulillah!Aku harus banyak-banyak bersyukur pada ALLAH SWT yang telah menentukan demikian jalanku. Dan yang paling membuatku bersyukur adalah ternyata hampir semua bidang yang aku minati di awal, bisa kudapatkan dengan berkualiah di FKG UI. Mulai dari Biologi dan Kimia [dua mata kuliah dasar yang harus dikuasai], Teknik Metalurgi [kuliah yang berkaitan dengan material kedokteran gigi], Farmasi [musti belajar mengenai obat-obatan juga], Kesehatan Masyarakat [harus bisa memberikan penyuluhan kepada pasien dan masyarakat], Psikologi [memahami kondisi kejiwaan pasien], dan meskipun tidak berkuliah di Fasilkom tapi bisa kenal dengan banyak orang yang kuliah di sana. And here I am...being a dentist...

3 comments:

~A~ said...

hehehe
kalo gak kul di FKG gak bakalan ketemu ama kk mu yang baik hati dan tidak sombong ini :P

MFI said...

Barakalloh sistaa >:D<

Anonymous said...

Fasilkom juga melelahkan lho kuliahnya (karena banyak ngerjain proyek jadi kuliahnya jadi terasa malas dan berat). mungkin di FKG bisa belajar lebih konsen?