Credits to

Powered by Blogger

Thursday, October 26, 2006

Memasang Foto Diri di Friendster = Simbol Kesombongan [and Vise Versa : Tak Memasang Foto Diri = Simbol Ketawadhuan]









Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan pesan di akun Friendsterku dari salah seorang teman di FS yang pernah meng-addku [tapi sampai sekarang aku tidak pernah mengenalnya sama sekali karena dia pun tak pernah mengenalkan dirinya padaku selaku orang yang telah meng-add]. Pesan itu kira-kira berbunyi demikian, ”jadilah seorang populis yang tawadhu, memasang foto-foto anti di FS bukanlah cermin ketawadhuan seorang akhwat.” Aku hanya tersenyum saja membaca pesan itu. Alhamdulillah, masih ada orang yang peduli padaku dan mengirimkan pengingatan seperti demikian. Namun, yang kusesali adalah mengapa orang tersebut lantas memberikan justifikasi pada diriku yang notabene tidak ia kenal? Kemudian aku telaah dengan seksama kata-katanya tersebut. Apakah benar memasang foto diri di Friendster itu adalah simbol kesombongan? Dan sebaliknya, tidak memasang foto diri adalah simbol sebuah ketawadhuan? Menurutku, begitu naif jika seseorang kemudian memberikan justifikasi dengan mudahnya atas dipampangnya foto-foto diri orang lain di FS. Bukankah hal itu justru mengecilkan makna tawadhu itu sendiri? Sekarang, alasan apa sebetulnya yang membuat ia kemudian meng-add diriku di Friendster? Alasan pertama pastinya karena ia telah melihat foto diriku di Friendster dan ia berpikir bahwa aku ’sejenis’ dengannya. Alasan lainnya mungkin karena ia terkesima melihat profilku di Friendster [huehehehe...yang ini gak banget seh!:p].


Bila ditilik lebih jauh lagi, mungkin akan kembali pada hakikat penciptaan Friendster itu sendiri [halah bahasanya!:D]. Friendster diciptakan bukan hanya untuk menemukan teman-teman lama kita di dunia maya, tapi juga untuk menambah teman-teman dari dunia maya [atau bahkan mencari jodoh juga kali ye...:p]. Jika demikian, maka sarana yang dibutuhkan untuk memperkenalkan diri adalah profil singkat mengenai diri dan dibantu dengan foto sebagai tambahan. Namun, hal itu saja tidak cukup karena masih bersifat subyektif. Oleh karena itu, agar bisa dicapai sebuah keseimbangan, maka diperlukan juga pendapat dari orang lain mengenai diri kita sehingga ditambahkanlah fasilitas testimonial di Friendster [meski testimonial ini sendiri kadang tak obyektif]. Melalui dua hal itulah akhirnya orang dapat mengetahui diri kita, meski sifatnya hanya superfisial. Dari fasilitas-fasilitas yang ada di Friendster, biasanya fasillitas yang paling disukai oleh orang-orang adalah fasilitas foto. Hal ini menurutku disebabkan karena dengan melihat foto, kita dapat melihat siapa dan bagaimana kepribadian orang tersebut secara sekilas. Apalagi ada fasilitas ’caption’ yang membuat orang dapat mendeskripsikan foto yang telah ia pajang. Hanya dengan melihat foto, orang terkadang telah dapat memberikan penilaian terhadap orang yang ia profilnya tersebut. Berbeda dengan testimonial yang membutuhkan waktu untuk membacanya. Apalagi dengan fasilitas tambahan yang bisa di’embedded’ ke dalam testimonial membuat testimonial-testimonial yang ada di Friendster sekarang tidak terlalu ’penting’ dalam artian tidak terlalu memberikan opini mengenai orang tersebut. Bila setelah melihat profil orang tersebut ia kemudian merasa ’klik’, maka ada dua kemungkinan yang akan dilakukannya. Pertama, meng-add orang tersebut sebagai temannya, atau kedua tidak melakukan apa-apa. Untuk hal pertama, juga ada dua kemungkinan, apabila ia sopan, maka jika orang tersebut sama sekali tidak dikenalnya ia akan minta izin terlebih dahulu untuk meng-add orang tersebut. Namun, apabila ia cukup ’PD’, maka ia akan langsung meng-add orang tersebut tanpa basa-basi.


Kembali ke topik semula mengenai pasang memasang foto diri. Sejatinya, tiap orang meski sedikit pastinya memiliki rasa ingin dikenal oleh orang lain. Entah ia ingin dikenal melalui fisik atau kepribadiannya. Untuk itu ada beberapa kemungkinan cara orang membuat profil dirinya di Friendster. Pertama, memasang foto diri beserta testimonial. Kedua, tidak memasang foto diri, tapi tidak menolak testimonial yang ditujukan untuknya. Ketiga, memasang foto diri, tapi ia menolak atau menyortir testimonial yang ditujukan untuknya dengan berbagai alasan. Keempat, tidak ada foto diri ataupun testimonial dan profil seadanya. Untuk kemungkinan bisa jadi orang tersebut memang tidak pernah mengupdate Friendsternya atau ia jarang berinteraksi di dunia maya. Kemungkinan selanjutnya, ada yang bisa nambahin???


Dengan berbagai pemikiran di ataslah kemudian aku berpikir lebih lanjut, tanpa maksud membela diri, rasanya tiada bijak jika kita menjustifikasi seseorang tiada tawadhu apabila ia memasang fotonya di Friendster. Hanya ALLAH-lah yang berhak menentukan amalan pribadi orang. Memang, bisa jadi ada orang yang bermaksud sombong atau narsis dengan memasang foto-foto dirinya, tapi ada pula berbagai alasan lain mengapa seseorang kemudian mau memasang foto-foto dirinya di Friendster. Di situlah kedewasaan kita dalam memberikan penilaian terhadap orang lain diuji. Wallahu’alam bishshawab.

2 comments:

kabul said...

aha! mumpung posting bgenean, numpang promosi ah... :P just klik http://friendster.com/kabulku ... ada video clip Ungu - Andai Ku Tahu juga loh... :D

hdn said...

Barangkali penjelasan berikut ini bisa melengkapi:

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/7913