Credits to

Powered by Blogger

Monday, October 09, 2006

Paralelism

Perempuan itu terduduk di satu sudut serambi di bawah gurat lembayung senja. Tampak keratan-keratan tajam di bawah matanya. Sepertinya perlahan tapi pasti wajahnya telah menua melebihi usia kronologisnya. Bagian kelopak matanya pun tampak menggelembung, hampir sama dengan makhluk hijau yang bersuara buruk. Pupilnya hampir-hampir tenggelam laksana mentari di balik gunung yang tampak jelas dari tepi Senggigi senja hari. Rambutnya lembar demi lembar selalu saja berjatuhan ke lantai. Namun, ia masih harus bersyukur bahwa warna putih belum menghiasi mahkotanya itu. Tubuhnya??? Jangan ditanya, laiknya selembar papan tipis yang siap untuk diterbangkan oleh hembusan angin. Malulah ia menampakkan dirinya sekarang ini pada khalayak ramai.


Perempuan itu melayangkan pandangan ke sudut lain. Dilihatnya seorang balita kecil sedang merangkak, mencoba tuk berjalan seorang diri. Ya, sedikit lagi ia hampir bisa berjalan, sedikit lagi saja. Namun, kemudian ia terjatuh. Perempuan itu kemudian serta merta bangkit dari kursinya, berusaha menolong balita itu tuk bangkit. Digendongnya balita kecil itu dengan penuh kasih sayang untuk kemudian ia mencari ibunya.


Perempuan itu kembali duduk di tempatnya semula. Sesekali ia tersenyum bila mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Membayangkan balita tadi, serasa menghempaskan dirinya jua. Beberapa saat sepertinya ia bisa berdiri sendiri, tapi tampaknya terjangan halilintar itu terlalu kuat untuknya sehingga jatuhlah ia kembali. Seolah-olah dunia tak pernah mengizinkannya tuk dapat bangkit kembali. Entah sampai kapan.....

2 comments:

kabul said...

kasian banged dah tuh cewe....

RoSa said...

tenang aja bul'e, cewenya gak perlu dikasianin koq...