Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, October 24, 2006

Peningkatan Angka Kelahiran Kembar Siam, Akibat Krisis Berkepanjangankah?






Lagi, pasangan bayi kembar siam dilahirkan di Indonesia. Bayi kembar siam berbadan satu dan berkepala dua ini lahir melalui proses caesar di RS Baptis, Kota Batu, Jawa Timur pada tanggal 23 Oktober 2006. Dari hasil pemeriksaan fisik didapati bahwa bayi tersebut memiliki dua tulang belakang, dua kepala, dua kaki, empat tangan, dan satu kelamin. Sebelumnya bayi kembar siam putra pasangan Melvin Adulano dan Marce Louk Fanggi Adulano yang lahir dengan badan menyatu, dengan dua kepala, tiga tangan, dan tiga kaki telah menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Oktober 2006, empat hari setelah kelahirannya, akibat adanya gangguan pernafasan.

Akhir-akhir ini rasanya memang makin banyak kasus kelahiran bayi kembar siam di Indonesia. Kelahiran bayi kembar siam di Indonesia sendiri bukan merupakan hal baru. Menurut data RSCM, dalam 20 tahun terakhir terdapat rujukan sekitar 14 bayi kembar siam dari berbagai daerah. Pada tanggal 31 Juli 1987, bayi kembar siam Yuliana dan Yuliani lahir di RS Tanjung Pinang, Riau dengan kondisi saat itu dempet kepala di bagian ubun-ubun. Kemudian pada tanggal 21 Oktober 1987 di saat usia mereka mencapai 2 bulan 21 hari, mereka menjalani operasi pemisahan kepala di RS Cipto Mangunkusumo. Operasi yang berlangsung selama 13 jam yang dipimpin oleh Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo ini akhirnya berhasil memisahkan bayi kembar siam tersebut. Kasus mereka ini kemudian menjadi momentum. Ini untuk pertama kalinya dokter Indonesia berhasil memisahkan bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala. Jarang kembar siam dengan kondisi seperti mereka yang selamat dari meja operasi. Bayi kembar siam lainnya adalah Nugroho Yuliana dan Nugroho Yuliani asal Desa Balerejo, Madiun, Jawa Timur. Keduanya lahir melalui operasi ceasar di RSUD dr Soedono Madiun pada 3 Maret 2003. Pihak RSUD dr Soedono Madiun merujuk bayi kembar siam tersebut ke RSUD Dr . Soetomo Surabaya karena tidak mampu menanganinya. Namun, pada Minggu 21 Maret 2003, kembar siam itu meninggal dunia sekitar pukul 04.50 WIB akibat kegagalan bawaan fungsi-fungsi organ secara multipel. Kelainan itu antara lain otak bayi mengalami pembengkakan karena kekurangan oksigen. Selain itu, tulang dada dan leher keduanya saling menarik. Kedua bayi ini pun hanya memiliki satu kantung jantung, sementara paru-parunya mengembang tidak sempurna.


Kembar siam sendiri sebetulnya adalah kondisi anak kembar di mana tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Istilah kembar siam berawal dari pasangan kembar siam terkenal Chang dan Eng Bunker (1811-1874) yang lahir di Siam (sekarang Thailand). Kasus kembar siam tertua yang tercatat adalah Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang lahir di tahun 1100-an.


Epidemiologi Kasus Kembar Siam

Kasus kembar siam memang lebih sering ditemukan di negara-negara berkembang daripada di negara maju. Pasalnya, di negara maju kembar siam biasanya langsung digugurkan begitu terdeteksi. Alasannya karena bisa membahayakan kehidupan si ibu saat melahirkan dan kalau dibiarkan hidup, akan menyulitkan kehidupan bayi siam itu sendiri.


Menurut sejumlah kesimpulan medis, satu kasus kembar siam terjadi untuk setiap 200 ribu kelahiran. Kebanyakan dari mereka (75%) berjenis kelamin perempuan. Jadi, jika Indonesia berpenduduk 200 juta, ada peluang 1000 kasus kembar siam. Dari semua kelahiran kembar siam, diyakini tak lebih dari 12 pasangan kembar siam yang hidup di dunia. Saat dilahirkan kebanyakan kembar siam sudah dalam keadaan meninggal dan yang dapat lahir dalam keadaan hidup hanya sekitar 40 persen. Dari mereka yang lahir hidup, 75 persen meninggal pada hari-hari pertama dan hanya 25 persen yang bertahan hidup. Itu pun sering kali disertai dengan kelainan bawaan dalam tubuhnya. Apakah itu organ pada bagian ektoderm, yakni kulit, hidung dan telinga, atau mesoderm yang mencakup otot, tulang dan saraf, atau bisa juga indoderm, yakni bagian organ dalam seperti hati, jantung, paru dan otak.


Etiologi [Penyebab] Kelahiran Kembar

Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor genetik, obat penyubur yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang secara sempurna, juga diduga ikut memicu terjadinya bayi kembar. Alasannya, jika indung telur bisa memproduksi sel telur dan diberi obat penyubur, maka sel telur yang matang pada saat bersamaan bisa menjadi banyak, bahkan sampai lima atau enam. Sebab lain yang diperkirakan dapat menjadi penyebab kelahiran kembar adalah usia ibu saat kehamilan, wanita dengan riwayat persalinan yang sering, dan wanita yang hamil segera setelah berhenti minum pil KB.


Proses Terjadinya Bayi Kembar

Secara garis besar, kembar dibagi menjadi dua, yaitu kembar monozigot alias kembar yang berasal dari satu telur dan dizigot, yaitu kembar yang berasal dari dua telur. Kembar monozigot, bayi mempunyai gen yang sama, jenis kelamin yang sama, dan muka yang serupa. Kembar monozigot biasa disebut sebagai kembar identik. Proses terjadinya kembar identik yaitu karena pada masa pembuahan sebuah sel telur matang dibuahi oleh sebuah sperma yang membentuk zigot, kemudian zigot ini akan membelah. Masa pembelahan zigot ini dibagi dalam empat waktu, yaitu 0 - 72 jam, 4 - 8 hari, 9 - 12 dan 13 hari atau lebih. Jika pembelahan zigot ini terjadi saat awal pembuahan (1-3 hari setelah pembuahan) maka setiap embrio biasanya akan memiliki kantong ketuban yang berbeda, dan satu plasenta. Namun, bila pembelahan terjadi setelah 13 hari maka kemungkinan kembar akan terjadi menempel bersama pada bagian dari tubuhnya atau pembelahan yang tidak sempurna yang disebut sebagai kembar siam lebih tinggi. Bila pembelahan berlangsung pada 6 jam - 4 hari, akan terjadi diamniotik, yakni rahim mempunyai dua selaput ketuban, serta dikorionik, yakni rahim mempunyai dua plasenta. Jika pembelahan setelah 4 - 8 hari, selaput ketuban tetap dua, tetapi plasenta hanya satu. Pada kondisi ini, bisa saja terjadi salah satu bayi mendapat banyak makanan, sementara bayi satunya tidak. Akibatnya, perkembangan bayi bisa terhambat. Pada pembelahan setelah 8 - 12 hari, selaput ketuban dan plasenta masing-masing hanya satu, tetapi pembelahan pada umumnya masih normal. Pada pembelahan setelah hari ke-13, rahim hanya mempunyai satu plasenta dan satu ketuban, sehingga kemungkinan terjadi angka lahir kembar siam sangat besar. Pasalnya, pembelahannya terlambat. Jadi keadaan kembar siam terjadi pada kembar monozigot akibat pembelahan sel telur yang tidak sempurna [lebih dari 13 hari].


Kembar dizigot disebut juga sebagai kembar fraternal, yaitu kembar yang berasal dari dua telur. Mereka biasanya tidak terlalu mirip atau seperti kakak adik saja. Proses terjadinya kembar fraternal yaitu karena pada masa pembuahan terdapat dua buah sel telur matang yang akan masing-masing dibuahi oleh sperma yang berbeda. Karena berasal dari dua telur dan sperma yang berbeda maka masing-masing mempunyai kantung ketuban dan plasenta sendiri. Jadi kembar fraternal, adalah terjadinya dua proses pembuahan dalam satu kehamilan.


Melihat kepada proses pembelahan sel di atas, tentu saja yang terbaik adalah pembelahan pertama, karena bayi dapat membelah dengan sempurna. Namun, keempat pembelahan ini tidak bisa diatur waktunya. Hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti penyebab terjadinya keterlambatan pemisahan sel. Namun, diperkirakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi waktu pembelahan dan kenapa bisa membelah tidak sempurna sehingga mengakibatkan dempet. Faktor yang pertama adalah faktor gizi, dalam hal ini bisa jadi asupan makanan mencukupi tetapi gizi tidak seimbang atau dapat juga pola makan terbatas sehingga asupan makanan kurang mencukupi. Faktor lainnya adalah yang diduga berhubungan adalah penggunaan obat-obatan, infeksi, ataupun masalah lingkungan. Sebagaimana diketahui bila diperhatikan selama ini, kasus kembar siam yang diungkap di media massa memang lebih banyak berasal dari keluarga kurang mampu. Mungkinkah krisis ekonomi yang berkepanjangan bagi sebagian masyarakat menyebabkan peningkatan persentase kelahiran bayi kembar siam di Indonesia? Mungkinkah dengan semakin tingginya biaya hidup kemudian dapat berimplikasi pada sulitnya memberi asupan makanan dengan gizi yang baik pada ibu hamil? Atau mungkinkah pula semakin kerasnya kehidupan menyebabkan tekanan-tekanan intra uterin semakin meningkat sehingga dapat menghambat proses pembelahan sel? Wallahu’alam bishshawab.

-dari berbagai sumber-


1 comment: