Credits to

Powered by Blogger

Sunday, November 19, 2006

Epilog Mimpi



dua delapan

nihil melebur dalam gemar angka

beradu cakap dalam tandang berpeluh

dare desu ka?

baru saja tinggalkan Colloseum ke bilik redam

tiba-tiba sang Buana memanggil

“HEI! Jangan henti! Jangan lalu!Jangan serah!”

terhentak


dua sembilan

masih berhenti di kenihilan

sambangi panorama duga meraja

al-Haq tak sekedar menikung dalam haribaan

dihempaskan Duke of Wellington di Waterloo

Betsy dan Boney diharuskan bersama di the Briars

adakah layak secerah bintang yang disaksikan di malam hari?

gulirkan syair-syair kesejatian yang dilalui

dulunya

tebarkan indahNya dari bait-bait propaganda

gusar dalam ramai

percantik tiap detik bak Rapunzel sisiri rambutnya

atau si Putri Salju gemar berkaca

tekad begitu kukuh merengkuh

itulah

mulanya menyulam kain-kain perca

berhenti sampai di sini


bergurau

tiga kosong

sembilan belas lima belas

satu dua satu tiga puluh

satu kosong

kosong kosong

kosong kosong

kosong tujuh

masih

lima sembilan belas kosong tiga

metropolitan dalam jenak

terlalu bising

bahkan sulit tuk cermat terujar

berhenti lagi sampai di sini


semuanya berserakan di mana-mana

pada doa

pada sujud-sujud panjang

pada mimpi

pada kaca-kaca yang berwarna

hingga kinokuniya

satu empat middle of nowhere

matahari rindu kembali ke peraduan dalam kelambu

sucinya basuhan wudhu pancarkan kecemerlangan

kasutnya mendadak merajuk

tapi lalu serentak resonansi setara

menggelar karpet merah

mengulurkan tangan tanda santun

tapi

……

mengapa roda-roda itu menjadi niscaya?

demikian larut

demikian berbianglala

demikian kencang

hingga hampir terbang meski tanpa sayap

keresahan tuju kulminasi di titik nol

tiba-tiba

………

3 comments:

yunitaradhiana said...

Assalamu'alaikum rossa. Slam kenal dari sanguis sejati :))

Tiwi said...

makasih mo link blogku, tukeran yach?

RoSa said...

4 mba yunita.....salam kenal kembali dari sanguinis, koleris, n melow :D

4 mba Tiwi...siiip mba!udah kulink blognya mba ;)