Credits to

Powered by Blogger

Friday, November 17, 2006

Hati-Hati Mengkonsumsi Ikan Asin dan Mie Instan

Bagi Anda yang sangat menyukai konsumsi ikan asin atau mie instan sebaiknya berhati-hati. Ternyata, kandungan bahan pengawet yang digunakan untuk mengawetkan ikan asin dan yang terdapat pada bumbu mie instan diperkirakan telah menjadi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Karsinoma Nasofaring [KNF], yaitu tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Sekitar 60% tumor ganas yang terjadi di daerah kepala dan leher merupakan KNF. Di antara tumor kepala dan leher lainnya, KNF merupakan salah satu yang memiliki harapan kesembuhan kecil karena lokasi tumor dekat dengan struktur vital, pertumbuhannya yang invasif, gejala awalnya ringan, dan sulitnya pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosa dini.


Ras Mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya KNF, sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri frekuensi pasien ini hampir merata di setiap daerah. Di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Hasan Sadikin rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang dan Palembang masing-masing 25 kasus, Denpasar 15 kasus, dan di Padang 11 kasus tiap tahunnya. Demikian pula angka-angka yang didapatkan di Medan, Semarang, Surabaya, dan lain-lain menunjukkan bahwa tumor ganas ini terdapat merata di Indonesia. Dalam pengamatan pada pengunjung poliklinik tumor THT RSCM, pasien KNF dari ras Cina relatif sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainnya.


Penyebab utama dari KNF ini sendiri sudah hampir dapat dipastikan adalah virus Epstein-Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar anti-virus Epstein-Barr yang cukup tinggi. Kadar ini lebih tinggi dari kadar orang sehat, pasien tumor ganas leher dan kepala lainnya, tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada kelainan nasofaring yang lain sekalipun. Namun, virus ini sebetulnya bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan KNF. Terdapat banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini seperti letak geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman, atau parasit. Letak geografis seperti yang telah disebutkan di atas, demikian pula faktor rasial. Tumor ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dan sebabnya belum dapat dihubungkan dengan pasti, tapi dimungkinkan ada kaitannya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan, dan lain-lain. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu tertentu, dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas. Sebagian besar pasien berasal dari golongan ekonomi rendah dan hal ini menyangkut dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup.


Gejala dari KNF sendiri dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu gejala nasofaring sendiri, gejala telinga, gejala mata dan syaraf, serta gejala di leher. Gejala nasofaring berupa adanya sumbatan pada hidung. Gejala telinga dapat berupa rasa berdenging, rasa tidak nyaman di telinga hingga rasa nyeri di telinga. Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang, maka ganggguan beberapa syaraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut tumor ini. Penjalaran ke kelenjar leher biasanya dalam bentuk benjolan di leher yang kemudian akan mendorong pasien untuk berobat, karena sebelumnya tidak terdapat keluhan lain.


Untuk mencegah terjadinya tumor ini sendiri sebaiknya dimulai dari mengubah kebiasaan hidup yang salah. Hal-hal yang tampak kecil seperti memasak makanan dengan benar dan tidak terlalu sering mengkonsumsi ikan asin atau mie instan diharapkan dapat mereduksi terjadinya KNF di masa mendatang. Wallahu’alam bishshawab


*Maraji’ :

Soepardi, EA. Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, Edisi Kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2001:146-150.

*Gambar:

http://www.cmsp.com/cmspweb/data1/fl040012.jpg

10 comments:

Aksara Kauniyah said...

Waduh.... bener2 si Icul.... Nakut2innya gak kira2... Sebagai penggemar, mikir dua kali neeh sekarang....

bibipbondry said...

harus hati2 nih jadinya ^o^ padahal asli enak....hehe

The Kannes said...

Waduh untung nyasar ke blog ini ...jadi hati2 deh makan yg ini ( padahal aku suka banget dua2nya )
Salam kenal ya

The Kannes said...

Wee lupa , boleh kan blognya tak link .......

wku said...

Truss... mo diapain donk mie instant-ku yang tersimpan di lemari???

Anang said...

beneran nih britanya????? wah gue dah 21 tahun lebih makan indomie terus nih... waduh.. kabar2 ya... makaaaci infonya

RoSa said...

iya, Insya 4JJI sudah ada penelitiannya mengenai hubungan mie instan dan ikan asin KNF ini...jadi sebaiknya sebisa mungkin dkurangi konsumsi jika tidak bisa benar2 mengeliminasi...

Tiwi said...

ih, ngeriii yach efeknya!
aduh peringatan tuh buat penggemar mie instan!

yuenda said...

wih ngeri!untung bukan penggemar ikan asin n mi instant.....

salam kenal jugak ya..makasih sudah mampir..

Anonymous said...

Saya tinggal di deket tukang kayu. TP dia suka bakar sampah kayu-nya dan kami para tetangga sering menhirup asap tsb. Saya tidak tahu kayu apa yg dipakainya utk membuat lemari & kursi. Mmg pembakaran kayu jenis apa yg bisa menyebabkan tumor?
(Tini)