Credits to

Powered by Blogger

Thursday, November 30, 2006

Masih Tak Mengerti [Tentang Cinta]

To love is to give, not take and give


Dalam kurun waktu belakangan ini, falsafah itu kerap menari lincah di benakku. Belajar dari kisah seorang sufi wanita, Rabiah al Adawiyah, yang lahir pada tahun 714 M di Basrah. Sungguh sebuah kisah yang begitu mengagumkan! Saksikanlah, betapa seluruh desah nafas, detakan jantung, dan denyutan nadinya hanyalah untuk RabbNya semata. Tak ia pedulikan seperti apa itu panorama surga atau bagaimana mendidihnya api neraka, yang ia lakukan hanyalah beribadah karena semata mencintai RabbNya. Kutipan syairnya yang terkenal adalah :


Aku cintai Engkau dengan dua cinta

Cinta asmara dan cinta memang Engkau selayaknya dicintai

Adapun cinta asmara, aku senantiasa mengingat-Mu dan melupakan

selain Kau

Adapun cinta yang memang Engkau selayaknya dicintai,

Kau telah membuka tabir diriku, sehingga aku tahu siapa Engkau

Tiada pantas puji untukku dalam ini dan itu,

Tapi puji adalah untuk-Mu dalam segala-galanya


Pun ketika ia sedang didera penyakit yang demikian berat, ia dapat dengan ikhlasnya mengarungi semua itu. Tuturnya kurang lebih seperti ini, “Ketika engkau mencintai seseorang, gembirakah engkau apabila memperoleh sesuatu darinya? Apakah engkau akan menolak sesuatu yang telah ia berikannya padamu apapun itu? Sesungguhnya sakit yang sedang kuderita ini tak lain dan tak bukan adalah cindera mata kasihNya padaku. Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah aku menerima hal ini dengan senang hati dan penuh keikhlasan.” Subhanallah!!! Bilakah aku dapat mencinta laiknya?


Cinta adalah sebuah bahasa yang begitu universal. Jika falsafah di atas tadi dikoneksikan secara vertikal, mengapa ia tak jua dapat ditransfer secara horizontal? Dalam hal ini pada hubungan antar manusia tentunya atau dapat lebih dispesifikasi lagi pada hubungan antar lawan jenis. Ada demikian banyak orang menawarkan sebuah cinta pada lawan jenisnya, tapi sedikit dari mereka yang dapat menyadari konsekuensi atasnya. Berangkat dari kisah Rabiah tadi, secara tak sadar timbul sebuah standardisasi di keriuhan pemikiranku. Konsekuensi dari mencinta adalah sebuah totalitas, dalam arti bersedia memberikan apapun jua untuk orang yang kita cintai dengan tulus ikhlas tanpa berharap apapun darinya. Jikalau kemudian berbagai asupan yang telah kita berikan kepada orang tersebut membuahkan hasil yang positif, itu semata-mata hanyalah imbas dari pemahaman terhadap cinta itu sendiri. Nothing to lose! Pada titik ini kemudian aku dibenturkan lagi dalam sebuah kontemplasi mengenai cinta itu sendiri. Jika suatu saat nanti ada seseorang yang menawarkan cintanya padaku, untuk melihat kesejatian cintanya, maka aku akan menyaksikan apakah ia benar-benar dapat berbuat tulus kepadaku, meskipun aku belum merespon tawarannya tersebut. Aku hanya ingin dicintai sebagai diriku sendiri, bukan karena aku dengan gelarku atau dengan berbagai alasan duniawi lainnya. Ah…lagi-lagi aku dibenturkan pada satu kenyataan bahwa dibutuhkan suatu kepekaan yang tinggi dalam menilai ketulusan itu sendiri. Apakah suatu ketulusan yang diberikan oleh seseorang pada lawan jenisnya selalu memiliki tendensi tertentu ataukah memang ia melakukannya dengan benar-benar tulus? Sangat kompleks memang, tapi untuk mencegah hantaman berbagai prasangka, menurutku untuk hal ini ada baiknya dilakukan suatu konfirmasi.


Seiring berjalannya waktu, aku melakukan reevaluasi terhadap semua pemikiran itu. Apakah semua orang di dunia ini dapat mencapai taraf cinta seperti Rabiah dapat mencintai RabbNya dan sanggup mencintai orang lain yang dicintainya secara total tanpa berharap apa-apa? Di sinilah keMahaAdilan ALLAH pada manusia lagi-lagi ditunjukkan. Dia sungguh memahami sisi psikologi manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Sejatinya, secara fitrah seorang manusia itu akan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu apabila ia telah mengetahui manfaat apa yang dapat ia peroleh dari melakukan suatu tindakan. Mengapa pada bulan Ramadhan umat Islam begitu berbondong-bondongnya memakmurkan mesjid, tilawah, qiyamul lail, dan berbagai ibadah lainnya? Karena untaian janji-janji ALLAH mengenai tabungan pahala di akhirat kelak telah demikian menyerabut pada tiap diri seorang Muslim. Bahkan, untuk orang yang tidak melakukannya pun mengerti bahwa begitu balasannya. ALLAH Maha Rahim, Ia telah menjadikan surga dan neraka di akhirat sebagai sarana reward dan punishment manusia atas apa yang teleah diperbuatnya di dunia. ALLAH begitu memahami, bahwa tak semua orang di dunia ini dapat mencapai taraf cinta yang demikian tinggi seperti Rasulullah SAW ataupun Rabiah al Adawiyah. Beribadah kepadaNya bukan karena menginginkan surgaNya atau takut akan nerakaNya, melainkan hanya karena sebuah kata yaitu Cinta.


Jika demikian, mungkin dapat ditarik suatu analogi bahwa cinta tak selamanya harus selalu memberi. To love is to take and give. Laksana reaksi-reaksi kimia yang berlangsung di semesta, suatu kesetimbangan tidak akan pernah terjadi apabila tiada panah bolak-balik yang menyimbolkan pemberian energi yang sama dari kedua belah sisi. Demikian pula dengan cinta dalam hubungan dua anak manusia. Agar tetap terjaga keselarasannya, maka dibutuhkan luapan energi yang sama kuat dari kedua belah pihak. Bila ada salah satu pihak yang terus saja memberi tanpa diberi, maka akan ada satu titik di mana ia akan dapat kehilangan energi yang dimiliki. Konklusinya adalah, kesetimbangan itu sendiri tak dapat tercapai.


Hmmm…semua terlalu kompleks! Aku masih harus terus belajar dan mencari suatu formula yang tepat untuk itu. Mungkin kelak, dalam ayunan langkah di tengah kejaran waktu yang mengganas, aku akan dapat lebih mengerti lagi tentang sebuah eksotika bernama cinta. Yang jelas cinta bukanlah sekedar semiotika atau romantika. Cinta sejati adalah cinta yang dapat menerbangkan orang-orang yang bertarung di dalamnya untuk bertemu dengan Sang Pencipta Cinta. Wallahu’alam bishshawab.

7 comments:

Anisa said...

Tulisan yang bagus dan menarik untuk disimak. Thanks selalu ingatkan dan atas pencerahan dan vitaminnya.

Wiet said...

Pinter bener merangkai katanya ya :D

Ajariinn.. ajaarriiiinn

Anonymous said...

Ros,

Cinta sejatinya bukan hadir karena jejak kita,
tapi,
IA lah yang menganugerahkan bagi kita

Cinta,
hadir bagai kepak warna sayap kupu-kupu
bagi romantika yang menyertai suka-duka, kita
di sini.

Anonymous said...

Mmmm...kuserap semua katamu Ukhti. Kemarin dulu aku juga begini, sekarang sambil menanti hari H gundah semakin risau. Untuk sekadar penenang, Mbak bisa coba pil yang kudapat dari DIARY PENGANTIN karya Izzatul Jannah dan Robi'ah al-Adawiyah...cukup mencerahkan loh. Mudah2an tulisan Mbak ntar semakin cerah dan merekah seperti cinta Mbak yang terjaga rapi dalam selaksa rasa untuk mujahid yang dirahasiakn Allah....

dewi said...

mungkin bisa jadi love is to give n receive, karena klu give aja bisa garing kali yaa...

IW said...

...Love is great beautificier...(Jane Austen - Mansfeld Park)

bebek said...

kalo udah nemu2 formula tentang cinta yang teruji secara klinis dan psikis bagi2 ya bu dokter... :D