Credits to

Powered by Blogger

Sunday, November 12, 2006

Menyoal LNH

Terik Jakarta akibat imbas El Nino akhir-akhir ini tak mereduksi niatnya untuk berlatih bela diri karate di sekolahnya. Ia sangat bersemangat mengikuti ekstrakurikuler yang baru diikutinya beberapa bulan tersebut. Sejurus dua jurus masih sanggup ia lakukan, tetapi mendadak pandangannya menjadi kabur, dunia seolah berputar di matanya hingga akhirnya ia jatuh terkulai di lapangan aspal. Beberapa jam kemudian, ia sudah berada di ruangan ICU RS Kanker Dharmais Jakarta. Apa pasal? Latihan karate yang mungkin menyebabkannya menjadi letih ternyata telah memicu reaksi kanker kelenjar getah bening yang selama satu setengah tahun ini telah memvonis dirinya.


Dia tumbuh sebagai gadis berusia 14 tahun dengan perawakan yang sangat cantik. Hampir seluruh keluargaku berpendapat bahwa dialah satu-satunya cucu yang memiliki kemiripan yang paling mendekati nenekku. Ya…dialah adik sepupuku. Sudah satu minggu ini ia terbaring lemah di RS Kanker Dharmais. Tim dokter mendiagnosis bahwa kanker kelenjar getah bening yang diidapnya telah bermetastease [menjalar] ke paru-parunya. Hal ini membuatnya mengalami gangguan oksigenasi karena sel-sel kanker tersebut telah bereffusi [masuk] ke dalam pleura [selaput luar yang membungkus bagian luar paru-paru].


Kanker kelenjar getah bening atau dalam bahasa medis disebut sebagai Limfoma adalah sejenis kanker yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan tumbuh akibat mutasi sel limfosit [sel darah putih] yang sebelumnya normal. Hal ini kemudian menyebabkan sel-sel tersebut menjadi ganas. Seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limfe, sumsum tulang darah, maupun organ lainnya. Menurut dr Djumhana Atmakusuma, SpPD, KHOM, pakar onkologi medik FKUI/RSCM, limfoma adalah jenis kanker ketiga yang paling cepat tumbuh setelah kanker kulit dan paru-paru. Jenis kanker ini merusak sistem limfatik yang dalam keadaan normal menjadi komponen utama sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dan kanker. Masih menurut ahli hematologi itu, saat ini sedikitnya terdapat 1.500.000 orang di dunia yang terkena limfoma. Dari jumlah tersebut 300.000 di antaranya meninggal tiap tahunnya dan angka kejadiannya meningkat sebesar 80 persen dari tahun 1973 hingga tahun 1990.


Berdasarkan faktor resikonya kanker ini dibedakan antara Limfoma non-Hodgkin/LNH [yang paling sering ditemukan] dan limfoma Hodgkin. Faktor resiko Limfoma non-Hodgkin antara lain kelemahan sistem imun bawaan [sejak lahir], infeksi virus Epstein-Barr [EBV], Helicobacter pylori, virus herpes Kaposi Sarkoma, virus penyerang sel T tipe 1 [HTLV-1]. Sedangkan resiko Hodgkin, antara lain penyakit kelemahan sistem imun dan autoimun, menyerang usia menjelang dewasa dan di atas 65 tahun, infeksi EBV, pekerja di industri perkayuan, serta umumnya menyerang penderita berstatus sosial menengah atas. Etiologi [penyebab] dari penyakit tersebut sebetulnya belum diketahui secara pasti, tetapi dapat dimungkinkan oleh faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan, seperti herbisida, bahan pengawet, dan pewarna kimia.


Gambaran klinis pasien yang mengalami LNH biasanya didapati adanya benjolan yang kenyal, tidak terasa nyeri, mudah digerakkan, dan tidak ada tanda-tanda radang. Benjolan ini biasanya terdapat di leher, ketiak atau pangkal paha. Sedangkan gejala umumnya berupa demam yang tidak diketahui penyebabnya, berat badan menurun lebih dari 10 kg dalam enam bulan terakhir, atau keringat pada malam hari. Jika mendapati, perlu dicurigai sebagai LNH. Namun demikian, mengenali gejala saja tidak dapat menentukan LNH. Pemeriksaan histologi [jaringan], analisis imunologik, dan analisis molekular dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis limfoma. Selain itu, dengan hasil pemeriksaan histologis dapat ditentukan derajat keganasan LNH. Derajat yang paling rendah adalah limfoma indolent [jinak], derajat selanjutnya limfoma agresif, dan limfoma sangat agresif. Derajat limfoma juga dapat ditentukan setelah pemeriksaan histologis. Berdasarkan sistem "staging" Ann Arbor, tingkat penyakit pasien dibedakan atas: Stadium I jangkitan LNH pada satu daerah kelenjar getah bening; Stadium II jangkitan mengenai dua daerah kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama; stadium III jangkitan pada daerah kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma; dan stadium IV jangkitan difusa atau diseminata [menyeluruh] pada satu atau lebih organ eksemfalitik.


Pengobatan LNH, terdiri dari kemoterapi sitostatika, obat hormonal, dan biological respons modifiers. Kemoterapi sitostatika yang sering digunakan adalah siklofosfamida, vinkristin, deksorubisin, atau epirubisin. Obat hormonal yang umumnya digunakan adalah kortikosteroid, seperti prednison, metil prednisolon, atau deksametason. Interferon alfa sering digunakan sebagai biological respons modifiers. Selain itu, pengobatan juga dapat dilakukan dengan radiasi. Pada pasien dengan stadium awal, misalnya di nasofaring atau di otak, dapat dilakukan tindakan radiasi. Namun, jika terjadi penyumbatan, tindakan bedah merupakan pilihan yang paling efektif. Pembedahan dapat dilakukan karena adanya sumbatan di saluran cerna dan di vena cava superior. Alternatif lain yang juga dapat dilakukan yakni dengan transplantasi sumsum tulang [TST]. Transplantasi ini dilakukan pada pemberian kemoterapi dosis tinggi. Tindakan dilakukan dengan menyelamatkan sel induk darah ke dalam nitrogen cair bersuhu minus 197 derajat. Setelah pengobatan kemoterapi selesai, sel induk darah ditransplantasikan kembali. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan respons pengobatan dan memanjangkan harapan hidup pasien. Harapan hidup rata-rata pasien LNH indolent yang tidak memberikan gejala dan tanpa pengobatan 4-6 tahun, sedangkan pada LNH indolent stadium I yang diberikan radiasi 50-60% dapat bertahan hidup 10 tahun. Pada pasien LNH agresif, bila tidak dilakukan tindakan pengobatan akan meninggal dalam beberapa bulan dan LNH sangat agresif yang tidak diobati akan meninggal dalam beberapa minggu. Namun demikian, penggunaan kemoterapi memberikan respons pengobatan yang baik pada 50-85% pasien, separuh di antaranya bebas penyakit atau sembuh. Sebetulnya, sebagian besar kanker jenis itu menyerang orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45-60 tahun. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi risiko terkena LNH.


Melihat kasus yang menimpa adik sepupuku di usia yang masih muda, bisa jadi serangan LNHnya sudah sedemikian besar dan mencerminkan suatu prognosis yang buruk. Namun, semuanya bergantung pada kehendak ALLAH, karena Dia-lah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Semoga sakit yang sedang dideritanya saat ini merupakan bingkisan dari ALLAH sebagai penggugur segala dosanya dan seluruh keluarga. Amin Ya Rabb…

---diolah dari berbagai sumber---

4 comments:

ree said...

ko akhir2 ini banyak artikel ttg kesehatan? ada apa ni cha.. ^ ^
keep posting lah..
jgn kyk aku, udah aga males nulis postingan ni..:(

Anisa said...

Semoga cepat sembuh dan diberi kekuatan serta kesabaran ya..

RoSa said...

buat Ridho...ayo lah Dho...mumpung masih belum sibuk, dibikin produktif ;)

buat mba Ica...Amin Ya Rabb...Jazakillah doanya mba :)

ExeCute said...

Hmmmm nambah ilmu lagi nih. Semoga sepupunya cepat sembuh. Amin