Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, November 28, 2006

Ngelamun

Entah apa yang sedang berlalu lalang di pikiranku hari ini. Mungkinkah kesedihan akibat ‘legenda pribadi’ yang belum dapat kuraih sekarang ini telah benar-benar merasuk ke dalam alam bawah sadarku. Sepanjang perjalanan, sulit sekali rasanya untuk dapat fokus.


Pergi ke kampus dengan beberapa tujuan : mengambil DVD prosesi sumpah Drg, pesanan barang, dan chargeran mikromotor [alat pemutar bur] yang dipinjam seorang teman [honestly, aku kecewa dengan cara pengembalianmu Say…], dan silaturrahim dengan Pak Djumali, salah seorang karyawan lab di bagian Prostodontia yang dulu sering kuminta bantuannya [thanks for someone who has reminded me about him!].


Dari kampus, mampir dulu sebentar di Stasiun Gambir untuk suatu keperluan. The next destination is Home Sweet Home!!!Dari Gambir naik taksi bareng teman dengan tujuan Cidodol. Aku sendiri hanya akan ikut sampai Jatibaru. Tak lupa, berhubung ‘kantong doraemon’ku sudah demikian penuh, tas kecil yang berisi chargeran mikromotor kujinjing erat. Karena tanpa benda yang satu ini, bisa-bisa mikromotor seharga 4,5 juta yang dibelikan dengan susah payah oleh papaku, tiada akan dapat berfungsi.


Turun di Jatibaru, tujuan berikutnya adalah pangkalan bemo. Bawaan orang melankolis, dari jarak jauh aku sudah siapkan ongkos untuk naik bemo. Berhubung tak ada recehan, kusiapkan selembar uang lima ribuan yang kugenggam di tangan. Tiba di pangkalan bemo, tidak ada satu pun bemo yang sudah berpenumpang. Alamat menunggu lama nih pikirku, tapi daripada naik ojek yang pangkalannya yang tidak jauh dari pangkalan bemo tersebut, tak apa deh menanti sebentar. Toh, aku sudah tidak ada kegiatan lagi setelah ini. Begitu mengambil tempat di bemo tersebut, barulah aku tersadar. Uang lima ribuan yang tadi aku genggam sudah tidak ada lagi di tanganku! Kucoba merogoh kantong rokku hasilnya juga nihil. Hhh…pasti secara tak sadar aku telah menjatuhkan uang tersebut di perjalanan dari Jatibaru menuju pangkalan bemo di Gang Harland.


Sepuluh menit berlalu…tiada satu orang penumpang pun yang menaiki bemo tersebut sampai akhirnya aku sempat hampir ketiduran di bemo itu. Dua puluh menit berlalu…bemo itu masih kosong juga. Akhirnya kubulatkan tekadku tuk turun dari bemo itu dan naik ojek. Setelah tawar menawar yang tak begitu lama akhirnya abang ojek tersebut setuju mengantarkanku ke rumah dengan tarif tiga ribu rupiah. Tiba di rumah, Rabbana!!!mana tas kecil jinjinganku yang berisi chargeran mikromotorku???Tas kecil yang kugenggam demikian erat sepanjang perjalanan tadi. Ada di mana ia? Tertinggal di dalam taksikah? Serta merta kutelepon temanku yang tadi bersamaku naik taksi. Namun, ia bilang ia tidak tahu menahu soal itu karena ia pun sudah turun dari taksinya. Ya ALLAH…semuanya makin berkecamuk, kilasan-kilasan itu dengan cepat bergantian memenuhi kepalaku, cara pengembalian tas itu oleh temanku yang kurang mengenakkan, ekspresi kemarahan papaku apabila ia mengetahui benda yang dibelinya dengan susah payah itu hilang begitu saja, ‘legenda pribadi’ku, dan lain-lain, ahhh. Aku harus bertindak cepat!Aku tidak boleh berdiam diri!Aku harus berusaha terlebih dahulu!


Pergi ke pangkalan ojek dekat rumahku, aku minta untuk diantarkan ke pangkalan bemo di Gang Harland. Begitu tiba di pangkalan bemo, betapa terkejutnya diriku mendapati bemo yang semula kunaiki sudah tak ada lagi. Aku pun bertanya pada supir-supir bemo yang ada di situ apakah mereka melihat tas kecil berwarna oranye di bemo yang sudah jalan tadi atau mungkin terjatuh di jalan? Alhamdulillah wa Syukurillah, ALLAH masih memberikan nashrNya padaku, salah seorang supir itu kemudian bertanya kepadaku, “tas yang ada tali-talinya itu bukan mba?” “Iya!betul banget Pak, Bapak liat gak?” Kemudian dia merogoh saku celananya dan tersembullah tas kecil berwarna oranye kepunyaanku. Alhamdulillah ya ALLAH, barang tersebut tidak jadi hilang.


Mungkin ini adalah peringatan ALLAH padaku untuk tak terlalu larut dalam kesedihanku karena ‘legenda pribadi’ yang belum datang saat ini. Thank You ALLAH, I have You to always encourage my life...”Maka nikmat TuhanMu manakah yang kau dustakan???”

4 comments:

Anisa said...

Weleh, bu Dokter rupanya suka melamun ya... shg tas pun ketinggalan.. Untungnya masih dijumpai orang jujur di jkt yg penuh sesak...Lain waktu lebih hati-hati ya ...

Edo Smiles said...

Ros,
mengapa mesti menyusun legenda ?
padahal hari belum lagi senja,
dan kamu masih leluasa menatap langit cerah.

Lamunan demi lamunan,
akan selalu akan melelahkan.

Aku ingin mengabarimu,
tentang suara nuri hari ini
yang mengirim salamku,
kepadamu.

Thanks.

ExeCute said...

Lupa adalah salah satu penyakit manusia. Allah masih sayang sama bu dokter. Take Care :D

nila_aura said...

Tasnya sebesar apa ya? Ampe bisa masuk disaku celana???