Credits to

Powered by Blogger

Thursday, December 14, 2006

Fenomena Paralel

Pernahkah Anda merasa sendirian layaknya tiada seorang pun di dunia ini yang dapat menemani?


Pernahkah Anda merasa dijauhi bahkan oleh orang-orang terdekat Anda?


Pernahkah Anda merasa disakiti oleh orang yang Anda sayangi?


Pernahkah pula Anda merasa keletihan yang luar biasa?


Pernahkah Anda merasakan sakit kepala secara tiba-tiba?


Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan retorik yang hampir semua orang tahu jawabannya. Mengapa? Karena hampir semua orang di dunia ini rasanya pernah merasakan hal-hal tersebut di atas. Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa ketika hal-hal tersebut terjadi pada diri kita, pada waktu yang bersamaan dapat pula terjadi pada orang lain? Inilah yang disebut dengan suatu fenomena paralel. Pertanyaan ini mungkin bersifat egaliter dengan pertanyaan, adakah kehidupan lain seperti di planet bumi yang kita huni ini di planet lain? Atau mungkin di galaksi lain di luar galaksi Bimasakti? Tampaknya hal itu masih terlalu jauh dari batas akal manusia. Pemikiran berikut ini hanyalah sekedar goresan rasa atas repetisi fenomena-fenomena yang dialami.


Syahdan, firasat seorang ibu terhadap anaknya tidak dapat dibohongi. Hal inilah yang sering menyebabkan seorang ibu dapat mendeteksi dengan cara yang amat sederhana apabila sang anak mengalami suatu kejadian baik itu menyenangkan maupun menyedihkan. Contohnya mudahnya begini, seorang ibu dapat dengan mudah mengetahui bahwa putrinya sedang jatuh cinta hanya dengan melihat ekspresi senyumannya ketika sedang menerima telepon dari seorang pria. Atau contoh lainnya adalah seorang ibu juga dapat merasakan bila anaknya sedang tertimpa suatu musibah. Pada titik itu, biasanya seorang ibu akan merasakan suatu perasaan yang tidak enak yang tidak dapat dijelaskan secara logis dan eksplisit.


Kondisi yang tidak jauh berbeda sejatinya juga sering dialami oleh pasangan suami istri. Dalam hal ini orang sering melabelkan ‘soulmate’ atau ‘belahan jiwa’. Mengapa demikian? Salah satunya adalah disebabkan seringnya terjadi fenomena paralel yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Contohnya saja ketika seorang istri sedang merindukan suaminya yang berada jauh, ia lantas mengirimkan sebuah pesan untuk suaminya tersebut. Namun, apa yang terjadi? Baru saja pesan tersebut dikirm, ternyata sang suami juga mengirimkan pesan yang serupa pada saat yang bersamaan. Atau tengok pula satu kasus di mana ada seorang suami yang sedang merasakan sakit kepala dan ketika ia menyampaikan hal tersebut kepada istrinya, ternyata istrinya juga sedang merasakan hal yang sama! Simak juga fenomena lain yang sering terjadi yaitu ketika sang istri sedang berpikir menginginkan sesuatu, tiba-tiba saja sang suami datang dengan membawa kejutan sesuatu yang sedang dipikirkan oleh istrinya tersebut.


Apa yang sebetulnya sedang terjadi? Mungkin fenomena-fenomena di atas dapat dijelaskan secara sederhana dengan menggunakan konsep gelombang. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa semua benda yang ada di dunia ini memiliki gelombang energi yang mengitarinya, tak terkecuali dengan manusia. Pada manusia, gelombang energi atau emanasi yang sulit dilihat secara kasat mata ini biasa disebut sebagai aura. Sebagai contoh, misalnya kita memiiki tiga buah garpu tala. Garpu 1 dan 2 memiliki frekuensi 420 Hz, sedangkan garpu 3 frekuensinya adalah 422 Hz. Jika kita memukul garpu 1 dengan menggunakan palu karet, garpu 2 yang memiliki frekuensi yang sama akan mengeluarkan suara, tetapi tidak demikian dengan garpu 3. Garpu 2 membentuk resonansi melalui gelombang dari garpu 1, tetapi garpu 3 tidak membentuk resonansi. Selain itu, karena garpu 1 dan 2 memiliki gelombang yang sama yaitu 420 Hz maka suara yang dikeluarkan adalah “la” pada bunyi C Mayor atau A Mayor di atas C tengah. Jika kita membuat suara do, re, mi, fa, sol, dan si, garpu 1 dan 2 tidak akan membentuk resonansi karena garpu-garpu ini hanya dapat membuat gelombang pada bunyi “la”.


Dari paparan di atas dapat tergambar jelas bahwa aura merupakan suatu bentuk energi. Sebagai konsekuensinya, aura dapat dipandang semata-mata sebagai kepanjangan dari tubuh, bukan sesuatu yang menyelimutinya. Energi-energi yang mengalir dari aura memantulkan kepribadian, gaya hidup, pemikiran-pemikiran, dan perasaan-perasaan seseorang. Jika ada dua benda yang memiliki frekuensi yang sama, maka benda-benda ini akan membentuk resonansi. Intinya, benda-benda lain dengan gelombang energi yang sejenis dengan gelombang energi yang ada di dalam diri kita dapat membentuk sebuah resonansi. Sebaliknya, kita juga dapat membentuk resonansi dengan gelombang energi yang datang dari benda-benda dengan gelombang energi yang sejenis tersebut. Setiap benda memiliki gelombang intrinsik tersendiri. Benda yang dimaksud di sini adalah semua materi atom yang membentuk molekul dan partikel sub-atom yang membentuk atom. Dengan kata lain, setiap partikel sub-atom juga memiliki gelombang intrinsik tersendiri.


Pun demikian halnya dengan pikiran dan tubuh kita. Mereka juga dipengaruhi oleh gelombang intrinsik benda lain yang digunakan untuk membentuk resonansi. Dalam hubungan antar manusia kerapkali kita mengatakan bahwa kita tidak cocok dengan seseorang. Sebenarnya, hal ini ada kaitannya dengan gelombang dan resonansi. Mungkin kerap kita alami suatu kejadian di mana ketika kita berinteraksi, kita merasa tidak cocok dengan seseorang meski kita tahu bahwa orang tersebut sebetulnya baik. Hal ini dapat disebabkan karena panjang gelombang yang tidak sama antara kita dan orang tersebut.


Pada contoh ibu, sangat jelas bahwa ikatan emosional yang telah terbentuk sekian lama membuat resonansi antara ibu dan anak menjadi setara. Pun dalam hubunganya antara seorang laki-laki dan perempuan yang bertemu dan saling jatuh cinta. Ketika mereka bertemu, energi mereka pun bertemu sehingga terbentuklah resonansi. Hal ini jua yang mungkin dapat menjelaskan mengapa dua orang yang intens berinteraksi di ruang-ruang maya dapat memadu cinta meski belum pernah sekalipun bertemu. Jika ritme gelombangnya telah seirama, satu sama lain akan dapat saling mempengaruhi dan jarak dalam hal ini menjadi tiada berarti. Selama energi itu tidak dipengaruhi oleh faktor luar [misalnya perselingkuhan], hubungan keduanya akan bertahan lama. Di sisi lain, jika energi pada salah satu dari mereka menjadi terganggu oleh ucapan, perilaku, kebiasaan, yang semula dapat diterima, kemudian tiba-tiba menjadi hal yang tidak dapat ditoleransi oleh pihak lain, hubungan mereka pun dapat segera berakhir.


Terlepas dari semua itu, mengutip kata-kata seseorang bahwa sejatinya ALLAH sedang tidak bermain dadu atas nasib manusia dan kata ‘kebetulan’ hanyalah argumentasi negatif ketika seseorang tidak dapat menjelaskan suatu fenomena yang terjadi pada dirinya. Pepatah lain juga mengatakan bahwa orang bijak adalah orang yang tidak akan terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya, tetapi orang cerdas adalah orang yang tidak akan jatuh pada lubang yang pernah dijatuhi oleh orang lain. Mungkin, yang dapat dideduksi adalah semua fenomena paralel yang dialami manusia tidak terlepas dari skenarioNya. ALLAH menjadikan fenomena yang terjadi secara bersamaan itu agar sebagai pembelajaran agar manusia dapat menjadi tidak hanya bijak, tapi juga cerdas dalam memandang kehidupan. ALLAH ingin mengajarkan kita bahwa setiap apapun yang terjadi pada diri manusia, baik itu kesenangan maupun penderitaan, tidaklah hanya dirasakan oleh satu orang saja. Banyak orang-orang di luar sana yang dapat juga merasakan hal yang sama pada saat bersamaan. Dengan ini selaiknya kita sebagai hamba dapat selalu bersikap tawadhu akan pencapaian yang telah kita dapatkan karena sejatinya masih banyak orang-orang lain yang juga memiliki pencapaian yang sama atau bahkan lebih tinggi. Dan jangan pula terlampau larut dalam derita akibat masalah yang sedang kita hadapi karena di luar sana juga masih ada orang-orang yang merasakan penderitaan yang sama atau bahkan lebih berat. Seperti ALLAH telah berfirman, Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”[ QS. Al-Hadid : 23]. Wallahu’alam bishshawab.


10 comments:

Munawir said...

bu dokter emang jago nulis nih.. :)

Hartanto said...

Bagaimana dengan kejadian sebab akibat misalnya orang yang menyebut apa yang menimpa dirinya sebagai Karma atas tindakan diwaktu sebelumnya?

Wassalam,

iDi@N - iPpEN said...

heueu.... keren keren... suka gw baca2 posrtian ibu inih yg panjang2 bgt... tapi lumayan.. bisa nambah2 ilmu gw, serasa masih kuliah :D

ibu dokter... kamu jago deh :P

Anonymous said...

wah dapet ilmu lagi nih:D

btw mo ilmu ttg sepeda ga?:P

RoSa said...

4 Pak Nawir : biasa aja koq Pak!justru tulisan bapak tuh yang keren pisan ;)

4 Pak Har : hmmm...kalo masalah karma2 itu udah di luar pemikiran saya deh Pak :D

4 Ippen : hueee...sori yak...aye gak lagi ngasi kuliah tuh! :D

4 Dhani : ilmu tentang Speda???boljug :D

fathy said...

cha...

apa bedanya gelombang dengan kepribadian? sm tak?
maksudku,kalo ada orang ga cocok 1 sm lain krn kepribadiannya ga klop,apakah itu krn gelombangnya ga cocok?
trus gmn dgn sifat,pemikiran,perasaan?
yg mana yg tergolong gelombang?
atau semua itu hal yang beda dari gelombang?

sbnrnya sih inti p?annya...
gmn cara membedakan kesemua hal2 covered tadi spy jg tau treatment yg tepat ketika ada masalah dengan dunia sekeliling kita.
getto bu dokter.

jawab yak!:D

fathy said...

ohya.
ada 1 buku keren -aku lupa judulnya;ttg hajilah pokonya- yg ngejelasin kenapa berdoa ditanah suci dianggap "lebih makbul" dengan paparan fisika ilmiah(ya energi2 tadi).
kapan2 ditulis dah...
hehe..

*biarpenasaran:P*

TaTa Handono said...

wehh seruuuuuuuuu

bebek said...

aku ga begitu paham postingannya bu... abis panjang... baca separuh aja udah bingung... :p
maklum... sayah kan oon.. :D

desan said...

*baca berulang2*

hummm...

oh...

oke..

kerennn :)