Credits to

Powered by Blogger

Saturday, December 30, 2006

Manifestasi Cinta


Usia seorang Ibrahim boleh dibilang sudah tak lagi senja kala itu. Hingga mencapai kurun sepuluh dasawarsa, dia belum juga dikaruniai seorang anak. Siti Sarah tak kunjung dapat mengandung buah kasih mereka. Untuk itu, Ibrahim hanya dapat berdoa "Ya Tuhanku, karuniailah aku seorang anak yang salih" (QS.Ash-Shaaffaat : 100). Tak beberapa lama kemudian, ALLAH menyambut segala harap Ibrahim dengan mengaruniakan seorang putra yang lantas diberi nama Ismail melalui seorang hamba perempuannya bernama Hajar.


ALLAH senantiasa menguji orang-orang yang beriman kepadaNya, begitu pula dengan Ibrahim. Dalam sekejap, Ibrahim kemudian terhenyak di tengah kegembiraannya memiliki seorang Ismail. ALLAH kembali mengujinya dengan sebuah perintah melalui mimpi untuk segera menyembelih Ismail yang baru saja mengisi hari-hari tuanya dengan keceriaan. Namun, Ibrahim sejatinya demikian menyadari bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Rabbnya. Ibrahim harus menghadapi sebuah pergulatan mental yang begitu hebat di mana ia harus memilih antara "Cinta" yang berarti menyelamatkan Ismail, atau "Kebenaran" yang bermakna menaati perintah ALLAH dengan mengorbankannya. Di tengah kegamangan ini, Ibrahim kemudian membincangkannya dengan Ismail, "Wahai anakku aku bermimpi semalam bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?" Sang anak yang saleh menjawab "Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya ALLAH engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat:102). Setelah mempertimbangkan, akhirnya Ibrahim yakin bahwa cintanya pada ALLAH melebihi dari segala yang ada di dunia ini. Menjalankan perintahNya adalah bukti kecintaannya terhadap Rabbnya. Maka diajaklah Ismail ke lembah Mina untuk melaksanakan perintah ALLAH. Dibaringkannya Ismail laiknya seekor hewan yang hendak dipotong. Ketika pisau menyentuh leher Ismail, serta merta ALLAH berseru "Wahai Ibrahim engkau telah mentaati perintah-Ku, karena ketaatanmu aku ganti Ismail dengan seekor domba. Dan apa yang kuperintahkan adalah ujian yang berat bagimu semata, dan engkau termasuk orang yang muhsin" (QS. Ash-Shaaffaat:104-107).


Demikianlah sepenggal kisah dari masa lalu yang mengguratkan sebuah makna pengorbanan yang demikian besar. Korban dalam bahasa Indonesia sesungguhnya berasal dari kata Arab "Qurbaan" yang asalnya adalah "Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbaan" (kedekatan yang sangat). Menilik dari makna harafiahnya, maka Qurban atau korban merupakan sebuah wujud kedekatan yang sangat tinggi. Dengan kata lain, dengan simbol penyembelihan hewan, seorang hamba diharapkan akan semakin dekat dengan Rabbnya. Penyerahan hewan kurban dan tersimbahnya darah dari hewan tersebut merupakan sebuah simbol penyerahan hidup seorang hamba sekaligus pembuktian ikrar yang dilafazkan dalam ritual sholatnya : "Inna shalaati wa nusukii wamahyaaya mamaati lillahi Rabbil 'aalamiin" [Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah milik ALLAH, Tuhan semesta alam].


Berkurban, merupakan suatu bentuk ritual yang luar biasa fenomenal dan mencerminkan kadar kedekatan seorang hamba pada Rabb Semesta Alam. Sejatinya, pengorbanan hanya dapat dilakukan apabila buncahan cinta telah demikian menyerabut ke dalam dada seorang hamba. Mungkin mudah bagi sebagian orang mengeluarkan berlembar-lembar kertas bergambar dua pahlawan proklamator sekedar untuk dapat membelikan kado untuk kekasihnya. Namun, apakah sama mudahnya bila menukarkan kertas-kertas tersebut dengan seekor hewan kurban? Di sinilah kadar kecintaan kita kepada ALLAH diuji. Apakah kita, telah benar-benar mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih tercinta? Cinta sejatinya memiliki dua manifestasi, kesetiaan dan pengorbanan. Lalu apakah kedua manifestasi itu telah ada dalam jenak sunyi kita kala menghadapNya? Pengorbanan adalah kala cinta harus memilih antara mereka yang kita cintai dengan Dia Yang Paling kita cintai. Pengorbanan adalah anugerah dan karunia dari Yang Maha Menguasai karena Ia telah berkenan untuk membiarkan kita merasa telah memberi untukNya, padahal Ia tak membutuhkan apa-apa dan semua yang ada pada kita adalah milikNya semata.


2 comments:

Anonymous said...

dan aku...adalah orang yang sedia berkorban apapun untuk dirimu...entah kau meinginkannya atau tidak...entah siapa yang sesungguhnya engkau cintai...entah kapan kau akan mengerti dalamnya perasaan ini padamu...

Salam,
dari aku yang mencintaimu

iDi@N - iPpEN said...

duh btwanonymous, siapa yah? :) *membuat aku cembokur aje* hehehe..

*moga kita selalu rela berkorban untuk cinta-Nya* bingungkan bu dokter :P