Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, December 20, 2006

Sang Venus


Melukis di keheningan kilau seroja. Degupan yang kian mengangkasa dan menghamba diri padaNya. Ada episode-episode yang kerap dianggap kelam dalam hidup dan semua alibi sejatinya bermuara pada satu hal : proses pencarian sebuah jalan lurus. Senyap seketika. Adakah satu jalan yang benar-benar lurus? Ketika satu jalan lurus pun merasa jengah dengan stigma yang kepalang melekat padanya. Usut punya usut, ternyata ada kalanya jalan yang dibilang lurus itu jenuh hingga melepuh. Apakah manusia secara absolut dapat menyadari dirinya sedang berada di jalan yang lurus? Dan apakah manusia sebetulnya tak menyadari kala dirinya sedang berada di jalan berbelok atau menikung? Yang kemudian membuncah menjadi satu tanda tanya besar adalah : untuk dapat melalui jalan lurus, yang kadang menyuratkan seuntai eksklusifisme, apakah manusia harus melewati jalan berbelok atau menikung dulu? Atau memang ada manusia yang sedari mula dapat mengklaim bahwa dirinya telah memilih jalan yang lurus?


Dalam pandangan seorang manusia dhaif, rasanya-rasanya tiada mungkin bila berujar bahwa kesemuanya itu tak menyusuri suatu tempaan. Sebuah hasil mesti didapatkan dari sebuah proses, entah itu berlangsung secara cepat atau lambat. Hasil yang baik memiliki benang merah dengan proses yang baik pula. Namun, ada kalanya hasil yang baik itu ditelurkan oleh alunan proses yang tidak begitu baik atau bahkan kadang menyakitkan. Pandangilah keris Mpu Gandring yang dibuat untuk seorang Ken Arok. Tajamnya keris tersebut tiada akan mungkin dapat membunuh Tunggul Ametung dengan cerdik bila dalam proses pembuatannya ia tak dilebur dalam panas berderajat tinggi. Bayangkanlah rasa perih yang harus diterima kala rasa panas itu menghujam agar partikel-partikel logam itu dapat menyebar secara merata. Karena jika partikel-partikel itu tak tersebar secara merata, maka akan ada satu bagian yang menjadi rapuh dan mungkin Ken Arok tak kan bisa menjalankan misinya untuk menikahi Ken Dedes.


Proses adalah masa lalu terlepas dari jalan apa yang telah dilalui, jalan luruskah atau berbelok? Hasil adalah masa kini, sebagus atau sejelek apapun itu. Tiap unsur yang ada di dunia ini mesti melalui siklus tersebut. Pada akhirnya adalah, tak bijak menjustifikasi satu hasil tanpa berefleksi pada prosesnya, demikian pula bila hanya menyoroti proses tanpa melihat hasil. Keduanya harus dapat tawadzun. Menelusuri tamasya realita nan eksotis. Menyeruakkan lafaz-lafaz tasbih, tahmid, dan takbir. Dan semuanya berujung pada…Qona’ah….


*dan masa lalu bukanlah suatu masa yang perlu disesali, tapi dengan masa lalu kita dapat bersinergi tuk menghimpun kekuatan di masa datang*


11 comments:

M. Awan Eko Sabilah said...

waduh sang venus lg refleksi historis nih?
selamat merenung ukh...
hati2 kesambet neng :)

^_^V

Alex Ramses said...

Aku percaya ada jalan yang bener2 lurus. Dan tentu saja hanya sedikiit sekali orang yang mampu menyusurinya dari awal hingga akhir. Kalaupun tidak ada sama sekali orang yang berjalan dengan lurus dari awal hingga akhir, itu bukan berarti tidak adanya jalan yang bener2 lurus kan,,,

Kita tidak selalu berjalan di jalan yang lurus itu karena kita tergoda untuk menapaki jalan yang berbelok. Bukan jalan lurusnya tidak ada. Maka pertanyaan itu seharusnya; adakah orang yang berjalan di jalan yang lurus itu dari awal hingga akhirnya?

yang jelas tulisan ini -entah maksudnya sesuai atau tidak dengan yang ada di kepalaku - suasananya klop dengan hatiku saat ini. Embuh, aku lagi gimanaa gitu saat ini pikiranku.

Hadaanallaahu al shiraath al mustaqiiim,,,,

iDi@N - iPpEN said...

yup..masalalu emg bukan untuk disesali, krn disesalipun masalalu takkan pernah kembali... lakukan yg terbaik untuk hari ini, esok dan seterusnya *kok kayak judul lagu yg ada di ost heart yah?* :D

fiadi said...

masa "lalu" adalah histori, masa "depan" masih misteri, kita hidup dimasa "sekarang", jadi berusahalah untuk yang terbaik untuk hari ini :)

ini menjiplak tulisan temen sayah yang ditulis di selembar stick note yang tertempel di monitor kompinya :)

Aksara Kauniyah said...

Harapan tertolong kerap bukan karena adanya janji-janji keselamatan, melainkan absurditas hidup mengenal batas--tak pernah jadi ancaman total. Harapan sering kali lahir dari kenyataan bahwa bahwa kesempitan dan rasa sesak satu saat akan menjumpai mautnya sendiri.

Di sini, keberanian untuk hidup tidak dimotivasi oleh bayang-bayang sukses, tetapi ketabahan untuk menekuni kegagalan demi kegagalan. Pahlawan bukan pemenang atas nasib, melainkan seseorang yang menolak takluk pada kalah. Kefanaan menghantu siapa saja--termasuk kerapuhan, kegagalan, nista, belasungkawa, dan kesia-siaan.

Demikianlah, dari Ia yang menjanjikan, pada kesulitan ikut terhampar kemudahan (QS 94:1-6).

kabul said...

tiap insan punya satu peranan, yg harus dimainkan... tak peduli beza2 sikit yg penting dalam proses ada persamaan pembelajaran yg dapat dipahami maknanya dan diamalkan kemudian... La Tahzan INTER! road to scudetto... :D

The Kannes said...

Dear Rosa ,

Kata2 yg kamu pakai selalu puitis dan haluuus , pasti orangnya juga sangat lembut dan hati2 ya ...
Bukankah sebuah tulisan yg keluar dr hati , menggambarkan kepribadian penulisnya ...sok tau atuh hihihi..

Image di atas baguus banget , membawa kita sebentar ke Eden ( dlm bayanganku )

Have a nice weekend ya Neng ..
Salam dr The Kids

The Kannes said...

Sie : susie ...

Anonymous said...

bagus euy tulisannya .....makasiy ya

Anonymous said...

Hasil diperoleh melalui proses,,,
belajarlah pada proses agar mendapatkan hasil yang terbaik:)

selamat hari ibu...!!

Tiwi said...

yang penting tuh sekarang, hari ini...buatlah perubahan demi masa depan yang lebih baik.
Gitu kali kira2...