Credits to

Powered by Blogger

Monday, February 27, 2006

Luv U Papa


Hari ini tepat 27 Februari, papaku merayakan hari lahirnya yang ke 54. Wah, papaku bentar lagi udah mau pensiun…cumanya karena beliau wiraswasta kayaknya bakalan lebih lama lagi pensiunnya. Sebagai satu-satunya anak perempuan beliau [ya karena emang gak ada lagi juga] aku cukup dekat dengan papa. Kalo kata orang emang biasanya anak gadis biasanya lebih dekat dengan ayahnya. Mungkin ada benarnya juga karena selama ini papaku lebih bisa mengerti aku daripada mama. Pun kalo ada lawan jenis yang punya niat berbeda terhadap diriku, naluri papaku pasti lebih kuat. Tanggal lahirku sama dengan tanggal lahir papa. Selain itu memang dari penampakan aku lebih mirip dengan papa daripada mama, meskipun seiring berjalannya waktu kayaknya kemiripannya udah makin terkikis, huehehehe. Keluarga besarku pernah bilang kalo pas lahir aku tuh bener-bener mirip sama papa, kayak fotocopyannya gitu. Mulai dari mata, hidung, sama bibir nyeplak abis deh, kecuali kulit kali yah soalnya mungkin papa udah keseringan kejemur sama matahari, sedangkan sebelum lahir kan aku adem-ademan di rahim mama. Dari segi sifat juga lebih banyak sifat papa yang mengalir dalam darahku, keras kepala, perfeksionis, sanguinis, koleris, dan hanya sedikit plegmatis. Kalo dari mama mungkin yang nyantol di aku cuma obskomnya ajah, hehehe.

Sepanjang 22 tahun perjalanan hidupku, papaku amat memegang peranan besar. Beliau adalah sosok yang senantiasa siap berkorban apa pun demi diriku. Sebagai anak satu-satunya aku benar-benar mendapatkan kasih sayang yang begitu total. Mulai dari aku kecil, papa suka banget ngajakin aku jalan-jalan ke tempat-tempat wisata. Saat itu kami jalan berduaan aja karena mama harus bekerja, sedangkan papa lebih punya waktu luang. Jalan-jalan ke Ragunan, Taman Safari, Taman Mini, sampe pas perpisahan jaman SD, papaku adalah satu-satunya orang tua murid yang ikutan ke Cibodas! Masih keinget jelas dalam ingatanku waktu jaman-jamannya scrabble, si RoSa ini merengek gak henti-henti minta dibeliin. Akhirnya malem-malem jam 9 gitu papa ngejabanin pergi ke Hero Tomang buat ngebeliin itu scrabble. Eh, begitu udah dibeliin, mainnya juga gitu-gitu ajah. Oh ya, papaku juga lawan sejati di rumah buat maen game Nintendo. Dulu kami paling seneng main basket sama Contra. Kalo udah tarung gitu, pasti yang kalah sebel-sebelan gitu deh, hehehe.

Pas jaman aku SMP, aku pernah syok berat karena papa mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah. Duh, inget banget pas aku pulang sekolah waktu masih SMP terus papa duduk di depan pintu dengan kaki menyelonjor dan bilang padaku, ”De, kaki papa patah.” Rasanya dunia seakan mau runtuh saat itu. Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah, setelah dirawat di dukun urat yang terkenal dari Banten papa bisa sembuh kembali. Namun, ujian yang menimpa keluarga kami saat itu belum selesai. Papa yang kakinya masih terpincang-pincang harus bolak-balik mengantarku ke rumah sakit karena aku harus diopname. Saat itu aku menderita demam thypoid yang cukup tinggi.

Papaku juga orang yang amat setia menjemputku kalo aku pulang malem. Pas jaman SMU dulu kebetulan aku ikutan ekskul yang biasanya pulang sampe Isya. Meskipun jarak dari SMUku ke rumah tidak begitu jauh, tapi papa begitu khawatir kalo aku udah pulang malem. Dengan menaiki ojek atau bajaj, setiap selesai ekskul Perisai Diri, pasti papa udah nongkrong dengan setia di warung depan SMU 78. Keinget lagi momen pas aku ikutan UMPTN. Begitu tau lokasi ujianku di daerah Cipinang, papa bergegas untuk mensurvei tempat ujiannya. Pas hari H ujian, papa pun dengan setia menungguku selama dua hari berturut-turut! Selama masa menanti pengumuman UMPTN, tadinya aku tidak berniat untuk mengambil cadangan di PTS karena kupikir itu hanya menghamburkan uang saja. Mending ikutan kursus-kursus aja selama satu tahun kemudian tahun depannya kembali ikutan UMPTN. Namun, tidak demikian dengan papaku. Pada masa penantian itu, papa rupanya turut memikirkan nasibku. Akhirnya, tanpa meminta persetujuanku, papaku langsung mendaftarkanku ke salah satu PTS yang dekat dengan SMUku. Papa yang begitu rajin untuk mengurus segala administrasinya. Padahal sebenarnya aku sendiri tidak begitu tertarik untuk masuk ke PTS tersebut karena suasananya menurutku kurang kondusif. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat papaku kecewa dengan tidak belajar pada saat mengikuti tes masuk. Eh, tapi apa boleh dikata, ternyata soal-soal ujian masuk yang diberikan tidak begitu sulit dan alhasil aku mendapatkan grade 1. Wah, si papa kian semangat deh buat ngurus-ngurus administrasinya. Tapi, Alhamdulillah akhirnya aku gak jadi masuk PTS tersebut karena keterima di UMPTN.

Pas udah masuk kuliah pun, semangat papa tetap gak berhenti buat memperjuangkan anak semata wayangnya ini. Mulai dari PSAU [ospek], papa dengan rela mengantarkanku jam 4 pagi ke Salemba. Kemudian, keesokan harinya aku harus dapet tugas buat bawa macem-macem gitu, lagi-lagi papaku bersedia buat jalan malem-malem ngebeliin segala keperluanku. Sekarang, pas aku udah menjalani masa profesi dokter gigi dan butuh pasien, papaku juga dengan ikhlas nyariin pasien ke tetangga-tetangga deket. Hhhhh....papaku....sungguh aku sangat mencintaimu, meski dengan segala amarahmu padaku saat aku berbuat tidak sesuai dengan keinginanmu...rasanya aku tak akan sanggup untuk membalas segala kebaikanmu.

Rabbana, kumohon sayangilah beliau dengan kasih dan cintaMu yang tidak terbatas...Ampunilah segala dosa dan kesalahan beliau baik yang disadari maupun tidak...Rabbana, pertemukanlah kami kembali dalam satu keluarga di akhiratMu kelak..Amiin

Sunday, February 26, 2006

Ayat-Ayat Hijab

Sore itu langit Jakarta seakan begitu lunglai. Lembayung senja juga tak hendak menampakkan keeleganannya. Yang ada hanyalah arak-arakan awan hitam yang tampak bosan dengan berat air hujan yang sekian lama ditampungnya. Atas dasar itulah sehabis kontrol dari dokter gigi orthodontiku di kawasan Kyai Maja, Jakarta Selatan, aku memilih untuk pulang dengan menaiki taksi. Berhubung uang di kocekku sudah pas-pasan, aku berharap bisa mendapatkan taksi tarif lama yang argonya jauh lebih murah dibandingkan tarif baru. Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama di depan RS Pertamina, taksi Putra kosong yang bertarif lama pun lewat. Segera saja kuberhentikan taksi tersebut dan lantas kunaiki. Sebelum kunaiki taksi tersebut sang sopir telah terlebih dahulu memutar lagu dangdut pada radionya. Entah karena dia menyadari bahwa aku sungguh tidak nyaman untuk mendengar alunan lagu dangdut tersebut atau tidak, saat taksi baru sampai di jalan Hang Tuah sang sopir pun kemudian mengganti saluran radio tersebut. Tak perlu memutar-mutar terlalu lama akhirnya sang sopir berhenti di saluran radio yang sedang menyiarkan ceramah agama.

Aku tidak begitu mengenali suara ustad di radio tersebut, tetapi yang terpenting bagiku isi ceramah interaktifnya tersebut cukup menarik, pada awalnya. Pertama-tama ia membahas masalah sholat dan segala permasalahannya yang bersifat furu’. Tadinya aku sempat berpikir bahwa ceramah ini hanya berisikan satu topik mengenai sholat, tapi ternyata tidak. Format acara radio tersebut rupanya menampung pertanyaan-pertanyaan dari para pendengarnya untuk kemudian langsung dijawab oleh sang ustad. Seusai pembahasan mengenai sholat tersebut ada seorang penelepon yang bertanya khamr, tetapi aku tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk menjawab sms dari seseorang. Setibanya di kawasan Gatsu, aku kembali tune-in dengan radio tersebut. Ada seorang penelepon baru yang bertanya pada sang ustad. Dia bertanya pada ustad tersebut tentang bagaimana caranya agar istrinya mau mengenakan jilbab. Menurut pengakuannya, dia sudah lama menyuruh istrinya untuk mengenakan jilbab tapi sang istri belum mau mengenakannya dengan alasan belum siap. Tiba giliran sang ustad untuk menjawab pertanyaan penelepon tadi. Di kalimat pembukanya dia menyuruh penelepon tersebut untuk menunjukkan ayat di AL-Qur’an yang menjelaskan mengenai jilbab. ”Pak, suruh istri Bapak untuk buka surat An-Nuur ayat 130!” Masya ALLAH, seketika itu pula jantungku berdegup kencang. Entah pendengaran atau ingatanku yang salah, aku merasa ada yang janggal dari pernyataannya tersebut. Setahuku, ayat mengenai hijab adalah surat An-Nuur ayat 31, jika yang dimaksud oleh sang ustad adalah memang ayat tersebut.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

QS. An-Nuur:31

Lagipula, seingatku lagi, surat An-Nuur hanya berisi 64 ayat. Aku semakin mendengarkan penjelasannya dengan seksama dan ternyata ustad tersebut mengulangi lagi pernyataannya yang pertama tadi. ”Yah, pokoknya bapak kasih unjuk aja ayat itu di surat An-Nuur sama istri Bapak, pokoknya sekitar ayat-ayat segitu deh.” Agak ironis memang menurutku, seorang ustad yang harusnya bisa dijadikan sebuah referensi bagi orang-orang yang awam dalam beragama bisa melakukan kesalahan seperti itu. Memang ustad juga manusia, pernah lupa dan pernah khilaf. Semoga bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang bergerak di medan dakwah untuk dapat belajar lebih banyak lagi serta dapat memberikan referensi ayat Qur’an maupun Sunnah yang sesuai. Jangan sampai kita dapat memberikan sebuah pernyataan mengenai sesuatu hal dalam agama tanpa adanya dukungan dalil yang kuat. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari kebodohan, Amin.

-Ya Rabbana, aku memohon ampun atas kesalahan yang sama yang pernah kulakukan di waktu lampau...-

Saturday, February 25, 2006

Jangan Sentuh Diriku!

Pagi ini emosiku sudah terpicu oleh suatu kejadian tidak mengenakkan. Sejak semalam aku sudah berencana untuk belajar mengenai teknik mumifikasi [mematikan syaraf yang ada di kamar pulpa gigi dengan memakai bahwa arsen], tetapi ternyata buku yang ku punya sedang dipinjam oleh Manda, salah seorang seniorku. SMS telah kukirimkan untuknya, tapi tidak ada respon. Oke, aku pikir dia sedang tidak punya pulsa untuk membalas SMSku seperti biasanya. Oleh karena itu, aku berencana untuk langsung mengambil bukuku itu di klinik gigi anak tempat Manda bekerja pada hari ini. Setelah merapihkan peralatan di klinik konservasi [tambal] gigi aku pun bergegas untuk mengambil bukuku itu di klinik gigi anak yang letaknya di lantai bawah bagian lain dari gedung Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI. Setibanya di sana, ternyata aku tak melihat sosoknya. Begitu aku melihat salah seorang temanku, Karin, lantas saja kubertanya padanya, apakah Manda sudah datang atau belum. Di sinilah kejadian tidak mengenakkan itu terjadi!


Ketika aku sedang bertanya pada Karin, tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh lengan sebelah kiriku dengan agak kasar. Setelah kulihat ternyata pelakunya adalah seorang karyawan yang bertugas di klinik gigi anak. Dia memaksaku untuk minggir dari posisi berdiriku karena dia sedang mengepel lantainya. Sontak saja aku berteriak padanya,

Hei Mas Ade!Apa-apaan sih pegang-pegang segala!Gak sopan tau!” sambil kukibas-kibaskan tangan kananku ke lengan kiri snelli[jas putih]ku.

Spontan pula, semua temanku yang berada di klinik gigi anak menoleh padaku. Kemudian aku pun keluar ruangan sambil tetap mengibas-ngibaskan tangan kananku ke lengan kiri snelliku dengan maksud untuk membersihkan bekas pegangan tangan mas Ade tadi. Setibanya di klinik konservasi, aku lantas menceritakan kejadian tersebut pada temanku, Deasy, tentang kronologis kejadian tadi yang kuanggap telah melecehkanku itu. Ternyata responnya tidak seperti yang kuharapkan. Aku berharap bahwa ia akan berada di pihakku, tetapi ternyata tidak demikian. Deasy hanya berkata,

”Ah, Ocha gak seharusnya segalak itu kali sama Mas Ade, dia kan emang biasa kayak gitu.” Benar-benar sebuah pernyataan yang tidak bisa aku terima! Mungkin yang ada di pikiran Deasy saat itu adalah toh Mas Ade tidak benar-benar menyentuhku langsung mengenai tanganku, melainkan hanya mengenai snelliku. Wallahu’alam bishshawab.



Sebelumnya aku juga pernah mengalami hal yang serupa dengan yang tadi. Siang itu untuk pertama kalinya aku mengerjakan tambalan sewarna gigi dengan menggunakan sinar tampak. Karena belum pernah mengerjakan hal itu sebelumnya aku memutuskan untuk bertanya pada salah seorang temanku, Ariyadi, yang telah mengerjakannya.
Pada saat aku mencari Ari, ternyata dia sedang berbicara dengan seorang temanku yang lain [laki-laki, Oknum X] di luar klinik. Ketika aku sedang bertanya pada Ari, tiba-tiba Oknum X memegang lengan kiriku dengan pegangan yang erat sambil bertanya, "Cha, lo dicariin sama pasien lo tuh," spontan saja aku menarik lenganku dari pegangannya itu dengan menunjukkan ekspresi kemarahanku atas kelakuannya tadi. Karena sedang diburu oleh waktu untuk mengerjakan pekerjaanku, aku memilih untuk menahan emosi saat itu dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Namun, ternyata sore harinya aku bertemu dengan Oknum X. Lantas saja aku bicara padanya dengan nada yang tinggi, ”Hei, kamu jangan sekali-kali lagi melakukan hal yang tadi yah!.” Rupanya dia kebingungan dengan pernyataanku tadi dan balik bertanya padaku, "Emangnya gue ngapain Cha???" Karena di situ Ari, justru Ari yang langsung merespon pertanyaan Oknum X tadi dengan melakukan gerakan memegang lengan kirinya. Setelah itu, barulah Oknum X itu mengerti dan meminta maaf kepadaku.



Belum selesai tampaknya masalahku yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu. Masih teringat jelas suatu kejadian ketika aku sedang membersihkan karang gigi seorang pasien yang datang ke RSGM. Kebanyakan pasien yang sedang dibersihkan karang giginya spontan akan menutup kedua matanya karena merasakan ngilu. Namun, tidak demikian halnya dengan pasien yang satu ini, dia terus saja membuka matanya dan memperhatikan kedua mataku. Awalnya aku tidak menaruh curiga padanya, tetapi lam-lama aku merasa risih dengan tatapannya itu. Ditambah lagi, tiba-tiba saja ia berkata padaku, ”Eh, kamu cantik,” Masya ALLAH! Kucoba untuk menenangkan diri dan meresponnya dengan berkata, ”Maaf Pak, tidak baik seperti itu, lebih baik tutup mata Bapak!” kataku sambil kunaikkan maskerku ke bawah kedua mataku agar dia tidak dapat menatap wajahku. Dia malah menjawab, ”Ah ngapain, rugi lagi.” Ya Rabb, aku hanya bisa bersabar dan memutuskan untuk buru-buru menyelesaikan pekerjaanku agar pasien ini dapat segera pergi. Begitu selesai, aku langsung melapor pada supervisorku, Drg. Natalina, untuk mengacc pekerjaanku. Ternyata menurut beliau masih ada beberapa bagian lagi yang harus dibersihkan. Hatiku bertutur, hhh penderitaan ini belumlah usai. Ketika ku duduk kembali di kursiku, pasien ini tiba-tiba berkomentar sambil menunjuk Drg. Natalina, ”Nah Mbak, kalo yang tadi mah saya gak mau liat, hehehe.” Rabbi!Cukup sekali aku mendapat pasien model seperti ini. Dari penampakkannya dia sepertinya orang yang cukup sholih, dengan janggut tipis dan gaya bicaranya, sepertinya dia seorang yang terbina. Ternyata memang dia terbina karena belakangan setelah selesai pembersihan karang gigi dia mengetahui ’identitasku’. Rabbana, kalau orang yang terbinanya saja sudah macam begini, bagaimana orang-orang yang akan dibinanya nanti???



Hhhhh, mungkin kelihatannya bagi sebagian orang hal-hal yang kupermasalahkan di atas adalah hal yang sepele. Apalah artinya menyentuh atau memegang tangan seorang lawan jenis sebagai bahasa tubuh tambahan ketika berbicara. Toh, tangannya pun tidak benar-benar terpegang karena tertutup oleh baju lengan panjang ditambah pula dengan snelli yang juga berlengan panjang. Namun, sesungguhnya sebuah sentuhan menurutku memiliki arti yang demikian besar. Dengan hijab yang kukenakan selama kurang lebih enam tahun, aku memegang teguh bahwa tiada yang boleh menyentuhku selain seseorang yang sah untuk diriku kelak. Hijab adalah harga diriku, begitu seorang lawan jenis telah berani memandangku demikian lekat dan menyentuhku, sama saja mereka telah menginjak-injak harga diriku. Aku memanglah bukan orang suci yang tiada pernah dipandang dan disentuh, tetapi aku adalah seseorang yang sedang belajar untuk mensucikan diri. Cukup sudah kejadian yang pernah aku alami dan aku tidak ingin mengalaminya lagi!



Untuk semua lelaki di dunia ini, bersihkanlah pikiran-pikiran kotor kalian tentang apa yang tersembunyi di balik sandang perempuan! Pejamkanlah mata-mata kalian terhadap hal-hal yang tidak boleh kalian tatap dan Jauhkanlah tangan-tangan kalian terhadap hal-hal yang tidak boleh kalian sentuh!