Credits to

Powered by Blogger

Friday, March 31, 2006

Suatu Siang di Cafe Pisa

Akhir-akhir ini entah kenapa tiap hari lagi ngidam makan es krim. Sejak Banana Split-nya Celcius CafĂ© di awal bulan ini, jadi keranjingan terus buat nyicipin es krim. Pas lagi ada acara di 78 minggu lalu kebetulan ada tukang es krim Walls keliling di deket tukang bakso favoritku, BBM [Bakso Bang Malik], langsung aja kubeli Conello. Terus pas lagi jalan bareng temen-temenku, sehabis dari Chopstix di PIM1 kita memutuskan buat cari dessertnya di PIM2. Akhirnya pilihan jatuh di NYDC, di situ temenku Diyas, milih ’Dessert Storm’. Dua scoop es krim vanila dan mango ditambah whipped cream dan cherry di atas, perpaduan yang seger euy. Terus aku sendiri milih ’The Spy Who Loved Me’, huehehehe berasa 007 banget!Kalau yang ini terdiri dari dua scoop es krim coklat, ditambah chocolate chip di dalamnya, ditaburi serpihan oreo dan diselipkan coklat wafer..Hmmmm coklat abis deh pokoknya! Berhubung deket-deket Salemba tak ada resto es krim yang asik, jadilah kalau mau es krim ke KFC aja. Sundaenya yang 5000an cukup enak menurutnya. Deket Senen ada sih Ice Cream Baltic, cuma menurutku rasanya rada-rada sedikit aneh.


Berkaitan sama es krim pengeskriman ini [apaaa coba???], jadi ingat pengalamanku waktu di Cafe Pisa Setiabudi Building. Siang itu sehabis makan Mie Tom Yam Sliced Beefnya Mangkok Putih, yang entah kenapa porsinya jauh lebih sedikit dari Mangkok Putih yang ada Chitos, aku masih berasa laper aja, huehehehe. Akhirnya kuputuskan untuk membeli es krim di Cafe Pisa yang terletak tak jauh dari Mangkok Putih. Semua pilihan es krim di situ cukup menggiurkan, tapi seperti biasa pilihanku tak jauh dari yang berbau-bau coklat. Begitu melihat ada Chocolate Oreo, langsung saja aku memilihnya. Namun, ketika aku mengajukan pilihanku tersebut pada si pelayan, tiba-tiba saja dia mengatakan padaku, ”Chocolate Oreo itu ada rhumnya mba”, sontak aku terkejut! Tadinya aku sama sekali tidak berpikir bahwa es krim tersebut mengandung sesuatu yang haram untuk dikonsumsi. Si pelayan yang dengan jenggotnya itu sudah hampir mirip dengan mafia Italia memperingatkanku agar tidak memilih es krim tersebut karena mengandung rhum. Mungkin karena dia melihat sosokku yang berjilbab dan dia juga seorang Muslim, lantas saja dia memperingatkanku agar tidak memilih Chocolate Oreo. Alhamdulillah, berkat si pelayan itu aku dapat terhindar dari mengkonsumsi sesuatu yang haram. Lain kali tentunya harus lebih berhati-hati lagi dalam memilih makanan yang dikonsumsi. Bisa jadi penampakannya biasa saja dan tidak terindikasi mengandung sesuatu yang haram, tetapi ternyata di dalamnya terkandung sesuatu yang diharamkan. Bila ragu terhadap makanan tersebut, lebih baik dijauhi. Pun apabila membeli sesuatu yang tidak diketahui kandungannya, ada baiknya bertanya pada si penjual. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari masuknya makanan-makanan haram ke dalam tubuh....Amin.
”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” [QS. Al-Baqarah :168]

Tuesday, March 28, 2006

Lagunya Hampir Habis

diam
hentakkan
tak hendak meracau
berlari
hempaskan
tak pelak kacau

sunyi
hembuskan
sungkan tuk menyanyi
menari
helaian
susuri tuk turuti

dingin
tiada manis
jamuan
tiada makna
kecuali
esa

Saturday, March 25, 2006

Notulensi Fantasi

seorang bocah tertegun di satu sudut
di sana banyak pot-pot tersusun rapi
ada yang menarik perhatiannya
daun-daun suplir mulai mengering
di baliknya banyak kepompong yang telah menua
nampaknya kupu-kupu indah kan
segera membuncah dari dalamnya
bukan hanya satu

kian hari bocah itu makin asyik
menikmati polah
kepompong yang
menggeliat tak simultan
hal yang luar biasa
mungkin sporadis
sedang terjadi pikirnya

hari yang dinantikan tiba
setelah lama tak bersembang
warna-warni nan cantik dari kupu-kupu
merekah dari kepompong-kepompong itu
satu persatu
mereka mulai menapaki episode baru
dalam lembar kehidupannya

mencoba keharuman bunga yang satu
ke bunga yang lain
kadang pahit
tapi tak membuatnya jera

bocah itu kembali tertegun
tak sepenuhnya berbahagia
satu kepompong tampak lusuh
meski masih ada geloranya
tapi tiada yang menyambut keluarnya
entah kapan
kupu-kupu yang diharapkannya terbang
seperti yang lain

Wednesday, March 15, 2006

Evaluasi Satu Tahun Masa Kepaniteraan Klinik [ Episode Pedodonti]


Tanggal 3 Maret kemarin tepat satu tahun sudah aku menjalani masa kepaniteraan klinik di FKG UI. Sungguh begitu tidak terasa waktu berlalu demikian cepat. Rasanya baru kemarin aku baru diwisuda menjadi seorang sarjana kedokteran gigi, tetapi kini adik-adik angkatanku sudah akan memasuki kepaniteraan klinik periode baru pada tanggal 9 Maret ini. Dalam masa satu tahun ini sudah seluruh bagian klinik aku masuki.

Putaran klinik kelompokku, CD, dimulai dari klinik gigi anak [Pedodontia]. Waktu yang diberikan di klinik ini adalah selama dua bulan dengan masa kerja empat hari setiap minggunya, dipotong dengan satu hari kerja non efektif maka hari kerja efektif hanyalah 27 hari. Dengan 27 hari kerja tersebut kami harus menyelesaikan requirement yang cukup banyak dan memang klinik Pedodontia memegang rekor requirement terbanyak yaitu sebanyak 64 requirement. Jadi, jika ingin benar-benar mengeefektifkan waktu, maka kami harus dapat menyelesaikan minimal tiga requirement per harinya entah itu requirement yang berat ataupun ringan. Adapun requirement yang a
da di klinik Pedodontia adalah pemeriksaan lengkap pasien sebanyak 8, pendidikan kesehatan gigi dan profilaksis oral sebanyak 4 pasien, penutupan ceruk dan fisur sebanyak 4 gigi, pemasangan space-maintaner dan kontrol warisan sebanyak 2 pasien, penutupan pulpa pada gigi tetap muda sebanyak 2 gigi, perawatan pulpotomi [pemotongan pulpa di kamar pulpa] pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, perawatan saluran akar pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, penumpatan amalgam kelas I sebanyak 5 gigi, penumpatan amalgam kelas II sebanyak 5 gigi, pembuatan mahkota logam sebanyak 2 gigi, penumpatan resin komposit/kompomer/semen ionomer kaca sebanyak 6 gigi, dan pencabutan gigi sulung sebanyak 15 gigi. Kabarnya semenjak dulu kala hingga sekarang belum ada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan seluruh requirement tersebut dalam waktu dua bulan saja. Mungkin ada yang dapat menyelesaikan requirement-requirement kecil dan sedang, tetapi seringkali terhambat pada requirement pembuatan space-maintaner yang membutuhkan waktu agak lama serta pasien yang dibuatkan space-maintaner tersebut harus dalam kondisi gigi geligi yang sehat. Artinya semua gigi yang berlubang harus sudah ditambal semua, gigi yang harus dicabut juga sudah dicabut semua, dan kebersihan mulutnya juga sudah baik. Andai saja perjalanan di klinik ini datar-datar saja, bisa jadi mungkin banyak yang dapat menyelesaikan keseluruhan requirement tersebut tepat waktu. Namun, sejatinya tidak demikian adanya. Berhubung untuk dapat menyelesaikan requirement di klinik Pedodontia tersebut kami harus mencari sendiri pasien anak-anak ke sekolah-sekolah di sekitar kampus UI Salemba, adapun pasien anak-anak yang datang ke klinik Pedodontia biasanya diperuntukan untuk dokter gigi yang sedang menjalani masa pendidikan spesialis gigi anak. Kami harus menjaga hubungan baik dengan pihak sekolah dan orang tua tentunya. Hal-hal inilah yang terkadang biasanya menjadi salah satu hambatan dalam menyelesaikan requirement tersebut. Meskipun seluruh akomodasi dan biaya perawatan telah kami tanggung seluruhnya terkadang ada saja orang tua pasien yang menolak perawatan yang akan diberikan kepada anaknya, padahal anak tersebut cukup kooperatif untuk dirawat. Atau bisa saja orang tuanya demikian mendukung perawatan terhadap gigi anaknya, tetapi anaknya tidak dapat berlaku kooperatif terhadap mahasiswa. Atau mungkin saja orang tua dan anak telah begitu kooperatif, tetapi pihak sekolah tidak memberikan izin pada murid-muridnya untuk dilakukan perawatan gigi. Selain faktor-faktor di atas, suasana di klinik Pedodontia boleh dibilang cukup kondusif. Supervisor-supervisor yang ada kliniknya pun terkenal baik dan tidak menyusahkan mahasiswa dalam memberikan acc, meski tetap saja ada supervisor yang terkenal sulit dalam memberikan acc karena beliau sudah profesor di bidang gigi anak, tetapi menurutku hal itu masih lumrah adanya. Di klinik Pedodontia, seheboh apapun kita bekerja, entah itu meminta bantuan teman untuk menganestesi pasien anak yang akan dicabut atau alat-alat yang berjatuhan kesana kemari karena dimainkan oleh anak-anak biasanya supervisor tidak terlalu ambil pusing. Jadi secara psikologis juga tidak terlalu membawa beban mental pada mahasiswa dalam bekerja di klinik. Namun, terkadang ada satu hal yang membuatku dan teman-teman lain merasa agak terganggu di klinik Pedodonti. Gangguan tersebut datang dari seorang karyawan yang sehari-harinya bekerja di klinik Pedodonti yaitu Mas Ade. Mas Ade ini terkenal sekali dengan kejutekannya terhadap semua mahasiswa yang sedang bekerja di klinik Pedodonti. Usianya boleh dibilang tidak terlalu jauh berbeda dengan kami. Setiap mahasiswa yang meminta tolong kepadanya biasanya pasti disambut dengan muka yang masam dan gumaman-gumaman yang tidak jelas adanya. Selain Mas Ade, ada satu orang karyawan lagi yang bekerja di klinik ini yaitu Pak No. Pak No ini boleh dibilang sudah cukup berumur. Meskipun lebih pendiam dibandingkan Mas Ade, Pak No ini biasanya cukup galak terhadap anak-anak yang menjadi pasien di klinik Pedodonti.

NASHRULLAH!Begitu besar pertolongan Allah yang kurasakan di klinik Pedodonti ini
dan Subhanallah skenarionya begitu indah. Ketika waktu bekerja di klinik semakin menyempit, aku belum menyelesaikan requirement-requirement besar seperti pulpotomi dan perawatan saluran akar. Sebelumnya padahal aku telah mendapatkan pasien untuk perawatan saluran akar, tetapi ternyata pasienku itu tidak bisa kembali lagi karena tidak diperbolehkan oleh ayahnya. Alhasil, aku harus mencari pasien lagi dan Alhamdulillah aku berhasil mendapatkan satu pasien dari seorang kakak kelasku yang bisa dilakukan perawatan saluran akar. Nama pasienku ini adalah Aldi. Si Aldi ini anaknya cukup pendiam sehingga terkadang aku tidak mengerti apakah dia merasakan sakit atau tidak. Setelah kulakukan pemeriksaan lengkap terhadapnya, maka tindakan selanjutnya adalah membuka kamar pulpa gigi yang menjadi keluhan utama. Setelah pembukaan kuanggap selesai, ternyata perdarahan dari gigi yang harusnya sudah mati tersebut tidak juga berhenti. Lantas seorang dokter PPDGS menyuruhku untuk mengambil foto Rontgen gigi tersebut karena dikhawatirkan pembukaan kamar pulpaku menyebabkan perforasi ke bagian bifurkasi akar. Ternyata, apa yang dikhawatirkannya tersebut menjadi kenyataan, aku telah melakukan kesalahan karena preparasi yang kulakukan berlebihan perawatan saluran akar tidak dapat dilanjutkan. Setelah selesai, seperti biasa aku mengantarkan Aldi pulang ke rumahnya dengan hati yang sedih. Namun, apa yang terjadi ketika aku mengantarkannya pulang ke rumah? Ternyata aku bertemu dengan pasienku yang diiindikasi dapat dilakukan perawatan saluran akar, tetapi tidak diperbolehkan oleh ayahnya. Nama pasienku yang satu itu adalah Ayu Ningsih. Saat itu, ia sedang bermain-main di dekat rumah Aldi dan dia langsung menyapaku. Tenyata, rumah Ayu tidaklah jauh dari rumah Aldi. Dari situ timbul niatku untuk bersilaturahim ke rumahnya sekalian bicara dengan ayahnya tentang rencana perawatan gigi yang akan kulakukan terhadap Ayu. Beberapa hari kemudian, ditemani oleh dua orang temanku, Erly dan Eveline, aku mencari rumah Ayu dan menemui kedua orang tuanya. Setelah kami menjelaskan panjang lebar mengenai rencana perawatan yang akan dilakukan kepada ayahnya, Alhamdulillah ayahnya mengerti dan kemudian mengizinkanku untuk merawat Ayu. Pada waktu pemeriksaan awal, Ayu membutuhkan perawatan saluran akar pada dua gigi sulungnya yang sudah non vital. Namun, setelah aku periksa lebih seksama lagi hanya ada satu gigi yang membutuhkan perawatan saluran akar karena gigi yang lainnya tersebut karies[lubang]nya belum mencapai pulpa. Sejujurnya aku pribadi merasa agak kecewa karena berarti satu requirementku berkurang, tetapi aku yakin bahwa rezekiku tidak akan kemana. Benar saja, ketika aku akan memasang mahkota logam pada gigi Ayu yang telah dirawat saluran akar, ternyata Prof. Heriandi yang memeriksa kondisinya saat itu tidak membolehkanku untuk melakukan pemasangan tersebut karena ada masih terdapat abses. Setelah kuperiksa lagi, ternyata abses tersebut bukan berasal dari gigi yang telah dirawat saluran akar, melainkan dari gigi sebelahnya. Dengan adanya abses, menunjukkan bahwa gigi sebelahnya telah dalam kondisi non vital dan terindikasi untuk dilakukan perawatan saluran akar. Subhanallah! Akhirnya, aku bisa mendapatkan satu requirement untuk perawatan saluran akar.

Lain lagi ceritanya pada saat aku mendapatkan requirement untuk perawatan pulpotomi. Aku memiliki satu orang pasien yang bernama Ali Mustaqim dan biasa dipanggil Aqim. Pada saat pemeriksaan lengkap dengan satu orang supervisor, salah satu giginya yang telah mengalami resorbsi akar diindikasi untuk dicabut. Padahal, menurutku resorbsinya tersebut belum terlalu besar sehingga masih dapat dilakukan perawatan saluran akar. Aku mencoba untuk mencabut gigi tersebut, tetapi ternyata gigi tersebut masih begitu kuat tertanam di dalam tulang.
Oleh karena itu, aku berpikir bahwa gigi tersebut masih bisa dirawat saluran akar. Akhirnya, pada hari itu aku berniat untuk melakukan pembukaan kamar pulpa pada gigi Aqim. Setelah meminta izin kepada supervisor pada saat itu, aku pun mulai melakukan tindakan. Apa yang terjadi kala itu? Ketika aku melakukan pengeboran terhadap gigi tersebut, ternyata mengalir darah segar dari dalam kamar pulpa yang menunjukkan bahwa gigi tersebut masih dalam keadaan vital. Sesegera mungkin aku melapor pada Drg. Syahril yang menjadi supervisor saat itu untuk melakukan tindakan pulpotomi. Jadi, gigi Aqim tersebut mengalami penurunan indikasi perawatan, mulai dari ekstraksi, perawatan saluran akar, hingga akhirnya pulpotomi! Untuk requirement pulpotomi yang satunya juga kudapatkan secara tidak sengaja. Pasienku kali ini namanya Herry yang kebetulan juga adalah tetanggaku. Tadinya salah satu giginya aku indikasi untuk dilakukan ekstraksi atau pencabutan. Dari hasil foto Rontgennya pun menunjukkan akar telah mengalami resorbsi hingga servikal [leher] gigi sehingga tidak mungkin untuk dilakukan perawatan. Namun, pada saat diperiksa oleh Drg. Ike, ternyata gigi tersebut mengalami perdarahan yang berarti masih dalam kondisi vital. Drg. Ike mengindikasi gigi tersebut untuk dilakukan pulpotomi, meskipun resorbsi akarnya sudah cukup besar.

Alhamdulillah wa Syukurillah....pada waktu tambahan klinik, akhirnya aku dapat menyelesaikan seluruh requirement klinik Pedodonti termasuk space-maintaner dengan pasienku bernama Diana.
Sesegera mungkin aku mendaftarkan diri untuk mengikuti Ujian Dokter Gigi [UDG] Pedodonti yang terdiri dari satu kali ujian pasien berupa pemeriksaan lengkap dan satu kali ujian lisan dengan satu orang supervisor. Sebelum dilaksanakan ujian pasien, aku harus mencari satu anak lagi untuk menjadi pasien ujianku. Dibantu oleh salah seorang temanku, Widya, aku berhasil mendapatkan pasien ujian dari SD yang direkomendasikannya. Nama pasien ujianku adalah Nurul Livianti atau dipanggil Livia. Sebelum ujian, aku harus melakukan pemeriksaan lengkap bayangan untuk mengetahui kasus-kasus apa saja yang terdapat di dalam rongga mulutnya. Dibantu oleh dua orang temanku, Eveline dan Deasy Daniasari, aku melakukan pemeriksaan lengkap seadanya dengan alat standar dan lampu senter di ruang senat mahasiswa. Pada hari Jumat tanggal 10 Juni 2005 aku memantapkan diri untuk mengikuti ujian pasien. Sebelumnya aku telah banyak bertanya pada senior-seniorku tentang tipikal pertanyaan yang akan diberikan oleh supervisor pada saat ujian pasien. Karena aku mengikuti ujian pasien pada hari Jumat, maka kemungkinan supervisor yang akan menjadi pengujiku adalah Drg. Levi dan Drg. Ike. Sedari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk diuji oleh Drg. Levi karena pada hari itu temanku, Dhani Ayu Andini, juga akan ujian. Pagi hari pukul 06.00 WIB aku sudah berangkat dari rumah karena harus menjemput Livia terlebih dahulu. Aku dan ibunya telah berjanji untuk bertemu pada pukul 07.00 di SDnya. Tiba di SDnya yang terletak di daerah Kramat Sentiong pada pukul 06.45 WIB. Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00 WIB dan belum tampak tanda-tanda kedatangan Livia beserta ibunya. Aku masih bisa menyabarkan diri sambil menunggu aku mengirimkan SMS ke beberapa orang temanku untuk memohon doa. Lima belas menit kemudian, Livia dan ibunya belum juga muncul. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya meskipun aku belum mengetahui lokasi rumahnya tersebut. Berbekalkan alamat yang diberikan oleh ibunya, pagi itu sebelum ujian, aku menyusuri gang-gang di daerah Kramat Sentiong untuk menemukan rumah Livia. Setelah beberapa kali bertanya-tanya pada orang sekitar, Alhamdulillah aku berhasil menemukan rumah Livia. Saat aku datang, Livia sedang bersiap memakai sepatu dan makan. Dari pengakuan ibunya, Livia telat bangun karena malamnya tidur terlalu larut menonton acara TV. Berangkat dari rumahnya pada pukul 07.45 WIB membuat hatiku agak ketar ketir karena aku belum mempersiapkan peralatan untuk ujian. Belum lagi harus berebutan kursi dental unit dengan mahasiswa-mahasiswa tambahan yang sedang ada di klinik Pedodonti. Tiba di kampus UI Salemba pada pukul 07.55 WIB, aku langsung bergegas untuk menyiapkan alat dan pintu klinik ternyata juga sudah dibuka. Tadinya aku berpikir akan mendapatkan bangku ujian yang ada sekatnya sehingga tidak perlu terlalu tegang terlihat oleh supervisor dari tempat duduknya, tapi temanku Dhani ternyata sudah mengambil tempat itu terlebih dahulu. Akhirnya aku mendapatkan kursi di sebelahnya yang tidak bersekat. Pukul 08.30 WIB, semua peralatan telah aku sterilisasi dan aku kembali membuka bahan-bahan untuk ujian. Pada saat itu, Dhani masuk ke ruangan dan berkata padaku bahwa dia sudah melapor ke Drg. Ike untuk ujian pasien pada hari itu. Aku kaget, karena berpikir untuk ujian pasien biasanya melapor pada saat supervisor berada di ruangan. Seketika itu pula aku berpikir bahwa kesempatanku untuk mendapatkan penguji Drg. Ike sudah berkurang karena Dhani terlah lebih dahulu melapor padanya. Sebagai catatan meskipun aku sudah bersiap untuk mendapatkan penguji Drg. Levi, aku tetap berharap mendapatkan penguji Drg. Ike karena dari beliau lebih baik dan santai dibandingkan Drg. Levi. Pukul 09.00 WIB Dr. Ike masuk ke ruangan dan memberi waktu untuk aku dan Dhani untuk melakukan pemeriksaan hingga pukul 11 WIB. Hingga pukul 09.30 WIB, aku belum melihat kedatangan Drg. Levi. Seketika itu hatiku bertanya, seketika itu pula pintu ruangan klinik Pedodonti dibuka dan Drg. Levi masuk. Aku berpikir bahwa aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan penguji beliau. Pada pukul 10.50, aku sudah selesai melakukan pemeriksaan ulang dan aku memutuskan untuk segera melapor pada Drg. Ike. Dhani yang kuajak serta untuk melapor memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya dahulu. Pada saat aku melapor, kemudian Drg. Ike berkata pada Drg. Levi bahwa dia akan menjadi penguji mahasiswa yang satunya lagi yaitu temanku Dhani. Alhamdulillah! Tak disangka-sangka Drg. Ike menjadi pengujiku. Sebelum memeriksa pasien, terlebih dahulu aku ditanya mengenai pengisian kartu status dan Alhamdulillah dalam waktu lima belas menit aku dapat menjawab semua pertanyaan dari beliau. Begitu memeriksa Livia, tidak pertanyaan Drg. Ike berkisar soal crossbite [gigitan silang] yang ada padanya. Aku mengalami sedikit stagnasi pada pertanyaan mengenai syarat-syarat rencana perawatan kasus tersebut. Akhirnya, Drg. Ike memberiku tugas tentang rencana perawatan crossbite yang dikenal dengan nama Incline Bite Plane. Alhamdulillah, dalam waktu tiga puluh menit saja aku telah dapat melewati ujian pasien dengan Drg. Ike. Sementara itu, temanku Dhani harus melanjutkan ujiannya dengan Drg. Levi seusai beliau sholat Jumat. Sehabis ujian pasien, masih ada satu ujian lagi yang harus kulalui yaitu UDG lisan. Hari Rabu, tanggal 15 Juni aku mendapatkan kabar bahwa pengujiku adalah Prof. Dr. Drg. Retno Hayati, SKM, SpKGA. Meskipun aku belum pernah berinteraksi dengan beliau, tetapi dari kabar angin yang kudengar beliau cukup baik. Akhirnya pada tanggal 20 Juni 2005 aku, Deasy Rosalina, menghadapi UDG lisan klinik Pedodontia. Semua teman-teman satu kelompokku mendukung dan memberikanku doa. Alhamdulillah, meskipun penuh dengan poci-poci aku bisa melewati ujian tersebut mulai dari pukul 07.45 hingga pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah lagi, hasilnya tidak terlalu mengecewakan, aku mendapatkan angka 77 [B+] untuk seluruh kumulatif requirement beserta ujianku di klinik Pedodontia.

Satu hal yang terpenting di klinik Pedodontia adalah kebersamaan. Alhamdulillah, bersama Ariyadi Prakajaya, Deasy Daniasari, Desly Reinina, Dewi Kurniyanti, Dhani Ayu, Ditha Indah Lestari, Emmawati Prawitasari, Erly Zuliana Lubis, dan Eveline, aku dapat melalui hari-hari di klinik Pedodontia. Kelompok kami memiliki kebiasaan untuk berkonsolidasi dengan tujuan
menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kelompok. Pada forum konsolidasi tersebut biasanya kamu menumpahkan semua unek-unek yang ada baik mengenai orang per orang, klinik, atau hal-hal lainnya. Dari situ memang cukup terbukti efektif untuk mendekatkan tiap-tiap pribadi yang sebelumnya tidak terlalu intens bersama dalam satu kelompok. Dari klinik Pedodonti ini akan terus berlanjut ke klinik-klinik berikutnya.

Wednesday, March 01, 2006

Gembul of the Dayz...

Pagi ini sebenarnya rada-rada kurang semangat buat datang ke kampus. Dari semalam badan berasa meriang dan tenggorokan sakit, mau demam sih kayaknya. Berhubung udah ada janji sama dua orang pasienku untuk perawatan periodontal hari ini jadilah harus tetap meluruskan niat kembali untuk tetap datang ke kampus. Berangkat dari rumah jam 6.45 udah siang banget buatku [karena biasanya berangkat jam 6.15-6.30]...Alhamdulillah sampai di kampus masih jam 7.15, pintu RS belum dibuka dan batang hidung teman-temanku yang biasanya udah nongkrong lebih dulu pun tak ada. Alhasil aku pun membawa barang bawaanku yang lumayan banyak ke lokerku di lantai 4 karena gak ada orang buat nitipin barang.

Sesudah nyiapin semua perlengkapan dan sterilisasi alat, perutku udah berasa laper gitu. Untung tadi dibekalin roti keju dan pisang coklat sama mama. Langsung aja deh kulahap keduanya :D. Jam udah nunjukkin pukul 8.30, pasien yang mau bersihin karang gigi belum terlalu banyak dan aku pun berencana untuk gak skeling [bersihin karang gigi] hari ini berhubung udah ada janji pasien. Jam udah nunjukkin pukul 9, pasien janji pertamaku belum datang juga, rada deg-degan juga nunggunya karena biasanya dia tepat waktu. Aku SMS pun dia gak jawab, akhirnya aku tunggu kedatangannya dengan skeling satu pasien, itu pun aku gak minta acc dari supervisornya. Gak lama aku kelar skeling, pasien pertamaku ngabarin kalo dia udah di parkiran. Rencananya memang dia mau dilakukan perawatan pengasahan dan penstabilan gigi-gigi yang goyang. Karena perawatan pengasahannya udah aku lakuin hari Senin kemarin, sekarang giliran temanku, Eveline, yang merawatnya. Tapi dari pagi supervisor yang ada di klinik cuma ada satu orang dan dokter itu terkenal jutek banget dan susah minta acc sama dia selain tindakan skeling. Eveline pun punya pengalaman buruk sama dia karena untuk melakukan suatu tindakan desensitisasi gigi-gigi yang hipersensitif perlu prosedur yang lebih panjang dari biasanya. Alhamdulillah, hari ini dia lebih lunak dari biasanya dan tindakan pengasahan pun bisa dilakukan dengan lancar. But not with me! Setelah Eveline selesai melakukan pengasahan, aku pun lantas meminta izin untuk memasang kawat penstabil gigi-geligi tapi dia tidak memberi izin. Alasannya tindakan itu harus dilakukan di lain hari saja. Padahal menurutku dan Eveline tindakan itu tidak mengapa dilakukan pada hari yang sama mengingat keefektifan waktu. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu supervisor siang untuk meminta izin melakukan tindakan splinting tersebut. Pasienku ku minta untuk menunggu dulu selama setengah jam dan sementara itu aku suruh saja dia untuk makan siang terlebih dahulu. Tepat pukul 11.30 supervisor yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Lantas saja aku meminta izin untuk melakukan tindakan splinting dan Alhamdulillah beliau tidak memperlama prosesnya dan menyuruhku untuk segera mengerjakannya. Dibantu oleh Pak Min, aku mulai proses pemasangan kawat untuk menstabilkan gigi-gigi pasienku yang mantan pemain bola PSMS Medan tersebut. Alhamdulillah, tidak perlu memakan waktu terlalu lama, pukul 12.30 pemasangan kawat tersebut sudah selesai dan diacc oleh supervisor.

After klinik, aku dan teman-teman segrupku sudah berencana pergi ke Plasa Semanggi untuk membeli kado temanku yang akan berulang tahun esok hari, Ariyadi Prakajaya. Berhubung yang punya mobil, Eveline, ada janji diskusi tatap muka dulu, jadilah aku dan Erly menunggunya sambil makan di kantin. Niatnya sih mau sekedar nyemil aja karena mau cari makanan di Plangi, tapi lapernya udah gak tertahankan. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli spaghetti dan Erly beli bandeng presto plus nasi. Berhubung porsi spaghettinya sedikit, pas itu makanan udah abis, perutku masih aja berasa laper. Eh ternyata si Erly gak ngabisin makanannya dan akupun bantuin Erly buat ngabisin bandeng prestonya:D. Usai dari kantin ternyata si Eveline gak jadi buat diskusi sama dosennya. Langsung aja deh kami chao ke Plasa Semanggi. Sampai di sana si Eveline yang belum makan siang teriak-teriak minta cari makan dulu. Kami mutusin buat makan di Mister Baso di lantai 3A. Tadinya sih aku niat cuma buat nyemil doangan, tapi ternyata tergiur juga ngeliat bakso berhubung udah lumayan lama juga gak makan bakso. Aku dan Erly sama-sama pesen baso urat dan Eveline pesen mie ayam baso jamur. Abis makan kami tertarik buat nyari pencuci mulut dan aku ngusulin buat nyemil Banana Splitnya Celcius Cafe yang terletak arah jam 10 dari Mister Baso. Sampe di Celcius ternyata kami tergiur lagi sama menu-menunya. Waduh gawat bener sih nih emang perut. Acara nyari kado malah jadi acara makan-makan. Aku dan Eveline akhirnya pesen Banana Split Ice Cream dan Erly Strawberry Ice. Berhubung masih keinget enaknya lumpia Celcius, selain itu aku juga pesen lumpianya. Eh, si Eveline juga gak mau kalah dengan pesen sate ayam khas Celcius [khasnya sih tambahan aja :D]. Dan Banana Splitnya pun datang!!!Wahhh…enak buangettt itu Banana Split emang tob abizzz…lumpianya juga enak…Jadilah hari ini kami kekenyangan makan, untungnya gak kelupaan nyari kado buat si Ari…huehehehe….