Credits to

Powered by Blogger

Sunday, July 16, 2006

Flamboyan

di raut malam yang berkawan pada suatu kesunyian
getirnya dedaunan menelusup tak hendak memeluk sisa-sisa arang
demikian Arasy mengejawantahkannya
di antara puing-puing salju yang tiada pernah ada
resahnya belulang akan pengembaraan telisik dingin
menapaki tiap jejak-jejak kaki di bawah guguran pepohonan
cawan-cawannya tak habis berisi jernih air
seakan ingin merefleksikan suatu keabadian

gelombang bebukitan menghijau di kejauhan
tak ingin mengalah pada awan-awan yang kian menebal
rasa-rasa toska hampir saja menang
andai secarik iftitah dan hipotalamus tak bereaksi
hembusan telaga sewarna bak biusan khamr
menanti reruntuhan kamboja di sudut jalan

siapa nyana kan secercah hudan di bilik khauf
kala mushaf berkidung kan sebuah antologi
dalam gempita aliran tausiyah
tiap aksaranya meski telah empat belas abad berlalu
hamparan pesonanya menggetarkan jiwa-jiwa yang terzholimi

hantarkan asa ke terbitnya mentari pagi
sanjungkan puitisasi angan dalam bait-bait lantunan dzikir
Subhanallah...Walhamdulillah...wa Laa ilahaillahuallahuakbar

Thursday, July 13, 2006

Aufklarung

detik
bagai berjalan di tempat
menit
tak hendak berlari meninggalkan diri
masa
kan tetap menunggu apapun adanya jiwa

tahniah
atas kecakapan suatu kejayaan
retorika tiada tara
melesat demikian pesat

mauidzah
hakikat sebuah ketawadhuan
dalam rinai-rinai juwita nan elok

hamasah
terbit hingga ke profunda
meski pucuk-pucuknya mengering
di satu fase dalam perjalanan

Sunday, July 09, 2006

Harafisy

Terdiam diri ini…sungguh ku tersentak kala kau sampaikan kabar itu padaku. Sejak awal ku telah mengira bahwa detik-detik itu lambat laun kan menghampiri kita.

Saat di mana dirimu kan meninggalkan diriku.

Saat di mana tiada lagi celoteh-celoteh riangmu di malam hari.

Saat di mana tak ada lagi dering telponku yang berasal darimu.

Saat di mana kisahku tiada lagi berarti untukmu.

Saat di mana semua petualangan kita kan berakhir.

Saat di mana kau merasa harus menjemput kebahagiaanmu sendiri.

Saat di mana rasionalitasmu telah kalah oleh hawa nafsu yang berbungkus rasa sayang.


Melunglai raga ini...sungguh ku terkejut menerima pengakuanmu kala itu.

Tiada ku sadari...butiran-butiran hangat dari mata ini meleleh kala kau kirimkan pesan singkat itu padaku. Pesan yang menyatakan bahwa kau telah mengikrarkan janji dengan seseorang yang telah mencuri hatimu.


Cintaku...mungkin aku telah gagal tuk merebut hatimu. Sungguh, demikian sayang diri ini padamu. Ku tak ingin dirimu mengalami penyesalan di kemudian hari. Apalagi nuraniku berkata bahwa dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu.
Dan dirimu pun bertutur padaku jua ragu akan dirinya. Namun, sejatinya seorang pelakon dengan mudahnya ia berucap janji-janji manis tentang masa depan.

Kau pun meluluh...

Kau abaikan nuranimu

Kau biarkan air itu mengalir

Kau runtuhkan semua bentengmu

Kau semaikan harapan-harapan semu

Kau sambangi dirinya dengan senyuman


Sayangku...kau minta diriku tuk tetap temani dirimu. Apatah alasan diriku tuk menolak permintaan dirimu itu?

Karena ku tulus menyayangimu

Karena ku ingin tetap berada di sampingmu

Karena ku kan mendukungmu dalam letihmu

Karena ku terus semangatimu meski diriku pun merintih

Karena ku ingin segala yang terbaik untukmu

Karena ku ingin pelukmu dalam kasihku

Karena ku ingin bawamu pada cintaNya


Kasihku...semoga Allah SWT senantiasa menuntunmu di jalanNya...semoga pilihan yang kau ambil tiada kau sesali di kemudiannya...semoga kau dapat berhijrah menuju cahayaNya...karena kita adalah Harafisy...semoga Allah selalu menaungi kita dalam cintaNya...Amin...

-teruntuk seorang sahabatku...semoga kehadiran pria itu tak lantas menjadi pembatas bagi kita berdua...ku yakin kau telah cukup dewasa tuk memilih apa yang terbaik untuk dirimu-



Kejahatan Intelektual

Plagiarisme…mungkin hanya salah satu contoh dari sekian banyak kejahatan intelektual. Dalam dunia akademisi, plagiarisme adalah sebuah dosa besar. Ada orang yang bilang jika seorang politisi itu boleh berbohong, tapi tak boleh salah, tetapi seorang peneliti atau akademisi itu boleh salah, tapi tak boleh berbohong. Pun teringat perkataan seorang dosenku yang menyatakan bahwa dia lebih bisa menerima sebuah kebodohan dibandingkan kebohongan. Sungguh, pada titik ini plagiarisme merupakan suatu kebohongan yang sejatinya tidak mencerminkan seorang akademisi sejati.


Well...rasanya menjadi korban plagiat memang betul-betul menyakitkan. Apalagi yang melakukan plagiarisme adalah seseorang yang kita kenal baik. Kejadian itu menimpa diriku beberapa minggu yang lalu. Seperti halnya di Departemen lain, di Departemen Prostodontia aka Gigi Tiruan yang sedang aku jalani saat ini juga memiliki requirement untuk membuat satu laporan kasus yang diseminarkan. Kasus-kasus yang diseminarkan biasanya merupakan kasus-kasus pasien yang unik dan perlu penatalaksanaan khusus dalam pembuatan gigi tiruannya. Alhamdulillah, aku telah menyelesaikan seminar laporan kasus untuk pembuatan gigi tiruan cekat pada bulan Desember 2005 yang lalu dengan pembimbing Drg. Djaja Suminta, SpProst. Topik yang kuangkat adalah mengenai pembuatan gigi tiruan pasak pada pasien dengan Diabetes Mellitus terkontrol.


Mungkin satu hal lain yang menjadi kelemahanku adalah aku sulit sekali menolak permintaan orang lain. Beberapa minggu lalu ketika salah seorang temanku ingin meminjam file laporan kasus Prostodontiaku, dengan serta merta aku mengiyakannya karena kupikir dia hanya akan melihat format yang telah aku buat. Kebetulan topik yang akan diangkat oleh temanku ini adalah juga mengenai pembuatan gigi tiruan pasak. Namun, bagaikan disambar petir di malam hari, pada suatu malam h-2 sebelum dia mengadakan seminar laporan kasus, dia mengirimkanku sebuah SMS yang berbunyi:”Ass Ocha, maaf ya ......[dia menyebutkan namanya] terpaksa mencopy seluruh laporannya Ocha karena waktunya udah mepet, semoga Allah membalas semua kebaikan Ocha, Amin.” Ya Rabb...apakah hal yang telah kulakukan dengan meminjamkan file laporanku adalah sebuah kebaikan??? Pada titik itu, aku masih optimis bahwa dia tidak akan mungkin mencopy seluruh hasil laporan yang telah kubuat. Namun, kenyataan berkata lain. Pada hari H temanku tersebut mempresentasikan laporan kasusnya, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata dia benar-benar memplagiat seluruh laporan kasusku mulai dari bab Pendahuluan hingga Daftar Pustaka!!! Hanya pada bagian penatalaksanaan kasus saja yang berbeda, itupun dikarenakan pasien kami berbeda.
Selebihnya??? Gambar-gambar dan titik komanya pun sama. Hingga kata-kata yang menurut teman-temanku menjadi ciri khasku jika presentasi yaitu ’komprehensif’ dan ’holistik’ juga disebut oleh temanku tersebut. Dan tanpa rasa bersalahnya sebelum dia presentasi, dia berkata padaku, ”eh Ocha, ngerasa kenal gak sama makalahnya?” Begitu menyesakkan sebetulnya bagiku mengingat pedih dan peluh yang kurasakan untuk membuat makalah tersebut bahkan sampai melibatkan orang lain dalam pengerjaannya untuk mengedit tampilan makalahku. Berkali-kali aku harus memperbaiki revisi dari pembimbing. Dan dia??? dengan tinggal memplagiat makalahku, tanpa perlu bersusah payah, sudah bisa mendapatkan poin untuk mengikuti ujian Drg di Departemen Prostodontia. Tadinya ingin kuluapkan kekesalanku padanya saat itu, tapi sudahlah toh tiada gunanya. Satu hal yang membuatku agak khawatir adalah pembimbingnya dan pembimbingku adalah sama-sama Drg. Djaja Suminta Sp.Prost. Entah beliau menyadari atau tidak kesamaan makalahnya dengan makalah yang telah kubuat pada bulan Desember lalu. Satu alasannya yang tidak dapat kuterima adalah karena waktunya sudah mepet. So what gitu loh??? Yang namanya jadwal seminar laporan kasus itu biasanya sudah diumumkan sebulan sebelumnya. Jadi menurutku tidak ada alasan baginya untuk bilang jika waktunya sudah terlalu mepet. Toh, dia dapat mencicilnya sejak pengumuman tersebut ditempel.


Aku hanya membayangkan, apa jadinya jika semua akademisi calon dokter gigi seperti itu. Ingin lulus program profesi dokter gigi tepat waktu selama 1.5 tahun, tetapi tidak mau menjunjung nilai-nilai keilmiahan. Ingin menjadi seorang dokter gigi yang sukses, tetapi tidak jujur dan hanya bisa memplagiat hasil pekerjaan orang lain. Semoga ALLAH SWT mengampuniku atas rasa kesal yang merasuk ke dalam dada ini dan juga semoga Dia menunjukkan lorong kebenaran pada temanku untuk bertindak jujur lain kali. Amin Ya Rabb.

Saturday, July 08, 2006

Secerah Pewarna

pada sujud-sujud panjang
menghamba diri
telusuri kepakan-kepakan
sayap yang tiada bisa melanglang
tersudut pada sebuah metafora
titipkan sebuah roja' amat sangat
menghitung masa demi masa


selaksa mendedah angkasa
dalam tutur kearifan
secerah pewarna surgawi
terpancar dalam bilur-bilur aura
sayup-sayup
hentakkan ke kurva bianglala
tak sekedar semiotika sahaja
merunduk bak bulir-bulir padi
hantarkan semburat mistis
dialog-dialog malam
tiada sangka sebelum ada
euforianya
mengalir jernih lagi jujur
Laa takhof wa laa takhzan
Innallaha ma'ana