Credits to

Powered by Blogger

Thursday, September 28, 2006

Mimpi-Mimpi

Teringat satu momen di mana salah seorang sahabatku bercerita tentang sesuatu. Di usianya yang memasuki usia 33 tahun dan telah memiliki dua orang anak, dia masih terlihat amat muda laiknya seorang yang berusia 20 tahunan. Ketika kutanyakan apa resepnya agar ia bisa terlihat awet muda seperti itu, dia menjawab, “Mungkin karena seumur hidup gue belum pernah ngerasain yang namanya mimpi, jadi semua urusan yang terjadi dalam hidup gue gak pernah dibawa ke alam bawah sadar.” Wallahu’alam bishshswab…adakah seseorang di dunia ini yang tak pernah merasakan mimpi, bahkan sekalipun??? Hal yang berkebalikan dengan sahabatku tadi justru terjadi pada diriku di mana hampir setiap malam aku merasakan sesuatu yang bernama mimpi. Entah itu mimpi baik, mimpi buruk, atau mimpi yang menurutku tidak penting. Namun, yang membuatku merasa aneh adalah mimpi-mimpi yang menurutku tidak penting terkadang justru menjadi kenyataan entah di keesokan harinya atau lain waktu. Hal ini pula yang menjadikanku terkadang merasa Déjà vu. Misalnya saja pada suatu ketika aku bermimpi bertemu dengan seorang adik kelas yang nota bene yang jarang bertemu denganku, tiba-tiba keesokan harinya aku justru berpapasan dengannya. Ada juga kasus mimpi yang lucu di mana aku tiba-tiba saja bermimpi tentang seorang penyanyi country wanita, Shania Twain, apa lacur? Keesokan harinya aku mendapati tontontan di televisi yang menyiarkan lagu yang dibawakan oleh si Shania Twain tersebut. Pada awalnya, aku pribadi tidak terlalu mengacuhkan korelasi antara mimpi-mimpi tersebut dengan realita yang terjadi dalam keseharianku. Aku pikir itu hanyalah sebuah kebetulan biasa yang dapat terjadi pada semua orang di dunia ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, hal itu sering kali terjadi pada diriku dan membuatku tertarik untuk mempelajari mengenai mimpi lebih lanjut.

Orang berkata mimpi hanyalah sebuah bunga tidur. Mimpi hanyalah sebuah refleksi dari keinginan alam bawah sadar manusia yang tidak dapat terwujud di dunia nyata. Mimpi biasanya didefinisikan sebagai proses dari bayangan, perasaan, pergerakan dan pikiran yang kita alami saat tertidur. Mimpi dapat dialami pada setiap fase dalam tidur kita, dan tidak harus selalu melibatkan rangsang tertentu (misalnya rangsang visual). Mimpi disebabkan oleh proses biologis internal dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel otak besar pada bagian belakang otak secara periodik pecah dalam selang waktu sekitar 90 menit dan mengirimkan rangsangan (stimuli) yang bersifat random ke bagian korteks (batang) pada otak. Sebagai akibatnya, bagian memori, sensorik, kontrol saraf, dan kesadaran pada otak terstimulasi secara acak yang berdampak adanya rangsangan pada puncak bagian korteks pada otak. Menurut penelitian ini, proses di atas mengakibatkan kita mengalami apa yang kita sebut sebagai mimpi. Sebagian psikoterapis berpendapat bahwa saat rangsangan neurologis dari otak memicu proses terjadinya mimpi, isi atau representasi dalam mimpi dapat berasal dari kebutuhan, keinginan, atau harapan dari alam bawah sadar dan kehidupan sehari-hari pada orang yang mengalami mimpi tersebut. Karena itu sebagian psikoterapis beranggapan bahwa mimpi merupakan cetusan dari alam bawah sadar seseorang. Penjelasan ini dikenal sebagai penjelasan "phenomenological-clinical", atau "top-down". Di lain pihak, penjelasan neurologis atau "bottom-up", menyatakan bahwa mimpi sama sekali tidak memiliki arti khusus. Di antara keduanya terdapat pendekatan yang disebut "context analysis" yang menjelaskan dan mengklasifikasikan representasi yang ditemukan seseorang dalam mimpinya, seperti manusia, rumah, kendaraan, pohon, kendaraan, tanpa interpretasi yang mendalam mengenai detil objek tersebut. Perbedaan antara representasi telah ditemukan antara mimpi yang dialami pria dan wanita, serta mimpi yang dialami manusia dalam berbagai tingkatan pertumbuhan. Mengenai arti perbedaan tersebut saat ini masih dalam penelitian.


Nathaniel Kleitman pada tahun 1953 membuat suatu penemuan penting mengenai fase REM (Rapid Eye Movement) dalam tidur. Fase ini ditandai dengan pergerakan bola mata yang cepat secara periodik yang terjadi baik pada manusia maupun hewan saat tertidur. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan sukarelawan sebagai subjek penelitian, saat tidur subjek penelitian dihubungkan dengan peralatan-peralatan EEG (ElectroEncephaloGram : pengukur gelombang otak), EMG (ElectroMyoGram : pengukur pergerakan otot), dan EOG (ElectrOculoGram : pengukur gerakan bola mata). Sekitar 90% subjek yang dibangunkan dari tidur saat mengalami fase REM melaporkan bahwa mereka mengalami mimpi (sekitar 60% subjek yang dibangunkan sebelum mengalami fase REM juga melaporkan mengalami aktifitas mirip mimpi dalam tidurnya). Sebelum adanya penelitian mengenai REM, masih belum diketahui persis seberapa sering manusia bermimpi. Beberapa teori bahkan menyebutkan bahwa impian merupakan tanda-tanda gangguan mental bagi mereka yang mengalaminya. Melalui riset laboratorium mengenai mimpi, subjek dibangunkan dari tidurnya setelah mengalami fase REM untuk diteliti aktifitas mentalnya selama tidur secara seksama. Manusia diketahui mengalami mimpi pada setiap malam. Pada manusia dewasa, mimpi biasanya berlangsung pada sekitar 90 menit setelah mulai tertidur dan terjadi lagi setiap 90 menit dengan durasi yang lebih lama, selama total 2 jam fase REM dalam tidur malam. Dengan rata-rata 5 mimpi tiap malam, manusia rata2 mengalami 136.000 impian sepanjang hidupnya dengan waktu yang setara dengan 6 tahun fase REM dalam tidur. Saat mengalami mimpi dalam fase REM, manusia mengalami peningkatan pada detak jantung, pernafasan, tekanan darah, konsumsi oksigen, dan pengeluaran getah lambung. Tidur fase REM biasanya disebut sebagai tidur paradoks karena memiliki karakteristik seperti tidur fase awal (light sleep) dan tidur fase lanjut (deep sleep) sekaligus. Berdasarkan pengukuran pada EEG, fase REM adalah tidur fase awal (tingkat I), sedangkan berdasarkan pengukuran EMG merupakan tidur fase lanjut (tingkat IV), karena sebagian besar otot seolah-olah dilumpuhkan secara bersamaan untuk mencegah si pemimpi secara fisik melakukan apa yang diimpikannya (misalnya berjalan sambil tidur).


20 hingga 25% waktu tidur kita digunakan untuk mimpi. Kita mimpi berkali-kali dalam semalam dan setiap mimpi itu waktunya antara 5 s/d 40 menit. Walaupun demikian bayi bisa mimpi sampai delapan jam, maklum bayi tidurnya juga jauh lebih lama. Kita jarang bisa mengingat mimpi, sebab pengalaman mimpi kita pada umumnya di simpan dalam otak sementara yang hanya bisa di ingat antara 5 hingga 10 menit saja. Pada saat kita mimpi otak tempat di mana biasanya kita berpikir (prefrontal cortex) itu tidak aktif sama seperti lumpuh, sebab mimpi terjadinya hanya di bagian depan otak kita (forebrain) oleh sebab itulah kita tidak bisa mengendalikan jalan arusnya mimpi kita. Kita tidak akan pernah bisa mengatur malam ini ingin mimpi apa atau mau ketemu dengan siapa dalam mimpinya ? Pada saat kita mimpi kita terbebas dari ikatan waktu maupun ruangan, jadi bisa saja kita mimpi berada di tempat yang jauh atau di masa lampau maupun yang akan datang, walaupun demikian perlu diketahui; lima menit waktu di dalam mimpi itu sama seperti juga lima menit waktu dalam keadaan nyata jadi tidak ada bedanya.


Seorang ustad pernah berkata bahwa pada prinsipnya mimpi yang baik itu bersumber dari aneka amal yang benar dan mengingatkan akan aneka akibat dari berbagai urusan. Dari mimpi yang baik itu muncullah aneka perintah, larangan, berita gembira, dan peringatan. Dikatakan demikian karena mimpi yang baik merupakan sisa dan bagian dari kenabian, bahkan ia merupakan satu dari dua bagian kenabian, sebab ada nabi yang wahyunya berupa mimpi. Orang yang menerima wahyu melalui mimpi disebut Nabi. Adapun orang yang menerima ucapan malaikat saat dia terjaga disebut Rasul. Inilah yang membedakan antara nabi dan rasul. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa, Jika masa semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Mimpi ada tiga macam: mimpi yang baik sebagai berita gembira dari Allah ‘Azza wa Jalla, mimpi seorang muslim yang dialami oleh dirinya sendiri, dan mimpi sedih yang berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kamu mengalami mimpi yang tidak disukai, janganlah menceritakannya kepada orang lain, bangunlah, kemudian shalatlah.” (Muttafaq ‘alaih). Dari dua keterangan di atas, maka sebetulnya dapat disimpulkan bahwa mimpi itu memang sesuatu yang benar secara substansial dan bahwa mimpi itu memiliki ketentuan dan dampak. Di antara dalil yang menunjukkan kebenaran mimpi ialah bahwa saat Nabi Ibrahim as tidur, Allah memperlihatkan kepadanya seolah-olah dia menyembelih putranya. Setelah bangun, dia pun melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya saat tidur. Allah SWT mengisahkan kejadian tersebut, “Maka tatkala anak itu mencapai kesanggupan berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (ash-Shaaffat: 102). Setelah Nabi Ibrahim as memahami mimpinya dan berupaya melaksanakannya, lalu Allah memberinya jalan keluar karena kasih sayangNya, dia mengetahui bahwa mimpi itu merupakan hukum. Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf as yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.


Melihat kenyataan bahwa mimpi-mimpi baik yang menjadi kenyataan dimiliki oleh orang-orang yang memiliki derajat keshalihan yang tinggi, maka dapat dideduksi bahwa seseorang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Seperti sabda Rasulullah dalam hadits Muttafaq ’alaih, ”Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.” Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad SAW) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi SAW menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)


Sejatinya, mimpi terbagi menjadi dua yaitu mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid. Peristiwa yang menggembirakan yang benar yang terjadi setelah bermimpi tidak memerlukan penafsiran. Adapun mimpi yang batil ialah mimpi yang tidak dapat diperincikan oleh orang yang bermimpi. Artinya orang yang bermimpi itu tidak sanggup mengingat jalan cerita mimpi itu. Mimpi seperti ini dianggap batil dan tidak mempunyai makna atau tafsir. Termasuk dalam kategori ini adalah mimpi yang disebabkan karena keinginan nafsu Seperti kita ketahui nafsu ada tiga, yaitu nafsu mutmainnah, nafsu lawwamah, dan nafsu ammarah. Mimpi seperti inilah yang terjadi karana pengaruh pikiran seseorang. Sesuatu yang seseorang lakukan atau khayalkan siang hari atau menjelang tidurnya dapat menjelma ketika tidurnya. Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.


Ternyata, mimpi tak sesederhana yang kita kira. Mimpi juga dapat menentukan kualitas kedekatan dan keshalihan seseorang kepada Allah SWT. Mungkin sudah saatnya kita melakukan kontemplasi lewat mimpi-mimpi yang kita dapati. Wallahu’alam Bishshwab.

-dikompilasi dari berbagai sumber-

Tuesday, September 26, 2006

Puasa Identik dengan Bau Mulut???



Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' "


Rasulullah SAW telah bersabda bahwa sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. Dapat diibaratkan kesturi adalah wewangian yang paling harum di dunia ini, sedangkan bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum dari itu. Meski telah diibaratkan demikian, tapi tetap saja bagi sebagian orang bau mulut ketika berpuasa dapat mengganggu.


Bau mulut dalam bahasa medis disebut sebagai Halitosis atau Fetor Ex Ore. Istilah Halitosis digunakan apabila kondisi bau mulut yang ada berhubungan dengan keadaan tubuh secara umum (sistemik), sedangkan Fetor Ex Ore digunakan apabila bau mulut berasal dari faktor-faktor yang ada dalam rongga mulut itu sendiri.


Bau mulut dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain faktor lokal yang ada di dalam rongga mulut, faktor di luar rongga mulut, faktor fisiologis, dan faktor psikis. Di dalam rongga mulut terdapat zat yang disebut volatile sulfur compound (VSCs). Zat ini mengandung hidrogen sulfid, metil mercaptan, dan dimetil disulfid yang merupakan produk bakteri atau flora normal rongga mulut. Pada orang yang menderita bau mulut, kadar VSCs di dalam mulutnya mengalami peningkatan. Peningkatan kadar VSCs dalam mulut disebabkan oleh adanya peningkatan aktivitas bakteri anaerob yang menyebabkan bau VSCs tercium indera penciuman. Aktivitas bakteri anaerob itu terjadi apabila rongga mulut mengandung sedikit oksigen, terutama saat mulut kering di mana aliran liur atau saliva rendah. Kondisi bau mulut ini dapat diperberat apabila seseorang memiliki kebersihan mulut yang rendah. Rendahnya kebersihan mulut ini biasanya ditandai oleh dua hal yaitu banyaknya gigi yang berlubang atau karang gigi yang menumpuk. Bila ada gigi yang berlubang maka sisa-sisa makanan akan tertinggal di dalam lubang dan di sela-sela gigi yang pada akhirnya akan membusuk dan menyebabkan bau mulut. Demikian pula dengan karang gigi yang menumpuk karena sejatinya pada karang gigi banyak terdapat bakteri-bakteri yang produk metabolismenya juga dapat menyebabkan bau mulut.


Selain faktor di dalam rongga mulut, bau mulut juga dapat disebabkan oleh faktor di luar rongga mulut. Penyebabnya dapat berasal dari hidung, jantung, atau karena penyakit tertentu, misalnya kencing manis, infeksi paru-paru, serta infeksi lambung atau usus. Infeksi karena kanker atau radang amandel kronis juga bisa membuat napas tak sedap. Penyebab lain adalah asam lambung tinggi, misalnya pada penderita maag. Bau mulut timbul karena asam dan basa tidak seimbang. Pada penderita maag, misalnya, asam lambungnya meningkat. Begitu maag kumat, otomatis tingkat keasaman mulut naik ke atas tenggorokan, sehingga timbul bau mulut.


Pada saat berpuasa, bau mulut dapat terjadi karena beberapa hal. Penyebab pertama adalah karena tidak aktifnya pengunyahan pada saat berpuasa. Hal ini memiliki implikasi berkurangnya produksi kelenjar liur. Dengan demikian, produksi zat-zat VSCs seperti yang telah disebutkan di atas akan meningkat dan menimbulkan timbulnya bau yang tak sedap. Penyebab kedua adalah konsumsi makanan atau minuman yang menimbulkan bau tajam seperti bawang putih, bawang merah, petai, jengkol, dan lain-lain pada saat sahur. Penyebab yang ketiga adalah karena adanya faktor lokal dalam rongga mulut berupa gigi berlubang atau karang gigi.


Untuk mengatasi bau mulut pada saat berpuasa maka disarankan untuk minum lebih banyak air putih pada saat sahur. Konsumsi makanan berserat dan buah seperti buah semangka atau bengkuang juga dianjurkan karena memiliki sifat sebagai cleaner atau pembersih dalam perut. Jadi, selain untuk gigi, juga untuk kesehatan. Menggosok gigi setelah sahur dibantu dengan berkumur-kumur cairan antiseptik mulut juga dapat membantu mengurangi bau mulut. Selain itu, apabila diketahui ada gigi yang berlubang atau karang gigi, segeralah pergi ke dokter gigi untuk menambal dan membersihkannya. Puasa identik dengan bau mulut??? Tidak lagi tentunya! Semoga puasa Ramadhan kali ini dapat membawa banyak keberkahan.

-Drg. Deasy Rosalina-

Tuesday, September 19, 2006

Simfoni tuk Semesta


Kala mentari pagi semburatkan terik sang surya

Kugubahkan untaian melodi kesyukuran

Atas diperkenankannya kembali bersua dengan sang tamu tercinta


Kala terik surya kian tak tertahankan

Kupintal tali temali ukhuwah yang kian mendingin bak polar dunia

Agar semua simfoni tak sekedar semiotika belaka


Kala rembulan memunculkan serpihan romantika alamiah

Kupersembahkan tutur terindah tak berhijab seutas benangpun

Tertuju untuk dirimu yang telah menshibghoh detik dalam kehidupanku


Adapun mungkin kau telah tershibgoh pula dengan aura kedhaifanku

Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan kelapangan dada

Kumohonkan kemaafan

Seluas lautan Atlantik

Setinggi puncak Everest

Sedalam palung Mariana

Semoga tiada tersiakan tiap berkah di Ramadhan ini

Semoga telisik hembusan nafas selalu membawa limpahan kebaikan

dan semoga tiap peluh dan perih yang dirasakan

dapat menjadi pemberat amalan baik kelak di Yaumul Mizan

- H-5 menjelang Ramadhan 1427 H -

Saturday, September 16, 2006

Bait-Bait Petualang

Bunga bunga merekah indah

Dalam suatu periode semi

Tersemaikan gurat-gurat persembahan

Meski dalam terik raja siang

Tak letih dalam asanya

Tak tidur dalam harinya

Tak acuh kan riuh gaster yang berharap

Susuri lautan jiwa yang resah dingin

Kadang menggelorakan

Kadang terisak memilukan

Kadang membumbungkan

Berlingkar

Laik fase demi fase yang kian resisten

Akankah sepotong gumam mendidihkan

Dedaunan yang melayang bebas

Dalam lambaian Istighfar

Antarkan pesisir dunia

Bismillah

Thursday, September 14, 2006

Menjadi Dewasa

Menjadi tua adalah absolut, tetapi menjadi dewasa merupakan suatu pilihan. Berbicara mengenai kedewasaan, maka kita harus merujuk pada pengertian egostate. Egostate didefinisikan sebagai suatu pola konsisten yang didapat dari pengalaman yang menjadi perilaku individu tersebut. Sedangkan pengalaman sendiri diartikan sebagai suatu rekaman di otak yang menyimpan kejadian semasa hidup yang dapat direplay/recall pada kondisi-kondisi yang dibutuhkan. Egostate ini terbagi menjadi tiga bagian. Egostate yang pertama dikenal dengan Child Egostate. Child Egostate ini diartikan sebagai egostate yang terdiri dari impuls-impuls pada masa bayi. Tindakan mengolok-olok orang lain adalah salah satu contoh dari kondisi child egostate. Egostate yang kedua dikenal dengan Adult Egostate. Adult egostate ini tidak berhubungan dengan usia dan biasanya berorientasi terhadap realitas dan informasi yang obyektif. Kondisi adult egostate ini dapat juga diartikan menjadi suatu kemampuan seseorang untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan, tidak memihak, teratur, dan mudah beradaptasi. Egostate yang ketiga dikenal dengan Parent Egostate. Parent egostate ini biasanya berupa sikap dan perilaku yang diinkorporasi dari luar, terutama dari orang tua, orang tua kandung atau orang dewasa sekeliling. Adapun sikap yang biasa ditunjukkan adalah berupa sikap preyudis (menghakimi), kritikal (selalu saja ada yang tidak sempurna), dan menuduh tanpa data. Semua egostate pada dasarnya harus berimbang, masing-masing bisa saling berpindah sesuai kondisi dan komunikasi yang terjadi. Namun, adult egostate biasanya paling diharapkan dalam suatu komunikasi karena biasanya egostate ini paling bersifat universal dan bersifat empatik.


Apakah indikator yang dapat digunakan untuk mengklaim bahwa seseorang adalah sosok yang dewasa atau dalam hal ini adult egostatenyalah yang paling dominan? Menurutku, indikator yang digunakan untuk satu label ’DEWASA’ di sini terbagi menjadi dua. Indikator pertama adalah adalah indikator kuantitas, dalam hal ini berarti bahwa seberapa sering seseorang tersebut mendapatkan ujian atau cobaan dalam kehidupannya. Layaknya sebuah besi yang makin ditempa akan menjadi sebuah besi yang kuat. Hal ini dikarenakan ukuran-ukuran atom yang berada di dalam logam akan semakin kecil dan tidak beraturan ketika mengalami tempaan sehingga akan menghasilkan tingkat energi yang lebih tinggi dibandingkan atom-atom logam yang lebih besar dan beraturan. Kondisi ini dapat direfleksikan ke dalam kehidupan di mana jika seseorang semakin sering ditempa oleh berbagai masalah, maka kemungkinan besar ia akan menjadi seseorang yang kuat dalam menjalani kehidupan. Secara statistik mungkin akan menghasilkan perbedaan yang bermakna dengan seseorang yang dalam hidupnya tidak pernah mengalami masalah atau hidup lurus-lurus saja. Namun, jika hanya dilihat dari satu indikator ini maka ada kemungkinan kita akan terjebak pada suatu justifikasi karena tidak melihat dari sudut pandang yang obyektif. Memang, semakin sering diterpa oleh berbagai masalah akan dapat menjadikan seseorang menjadi kuat, tetapi itu semua harus juga dilihat dari sisi lain. Dalam hal ini kita harus melihat pada indikator kedua yaitu indikator kualitas, yang dimaksud di sini adalah dari berbagai masalah yang dihadapi oleh seseorang, bagaimana ia dapat mengatasinya dengan bijak. Banyak orang yang diterpa masalah dan banyak juga yang berusaha lari dari masalah tersebut dengan harapan masalah itu akan dapat hilang dengan sendirinya. Pada kondisi ini, dapat dikatakan bahwa seseorang itu belum menjadi dewasa. Menjadi dewasa adalah selalu siap mengatasi berbagai kemungkinan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan. Menjadi dewasa adalah menghindari justifikasi dalam bentuk apapun dengan atau tanpa adanya data dan konfirmasi. Menjadi dewasa adalah selalu menciptakan seribu satu alasan untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Menjadi dewasa adalah siap melapangkan dada seluas-luasnya untuk mengikhlaskan rasa sakit dan benci yang mungkin timbul sebagai akibat dari masalah tersebut. Menjadi dewasa adalah suatu pilihan dan siapkah kita mengambil pilihan tersebut?

Sebuah Pencarian

Suatu hari aku mendengar sebuah pernyataan mengejutkan dari salah seorang sahabat. Dia berkata bahwa dalam waktu dia akan melakukan general check-up untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Memang dia pernah mengeluh padaku bila akhir-akhir ini kondisi kesehatannya agak memburuk. Dia curiga kalau-kalau ternyata dia mengidap suatu penyakit yang parah. Yang mengejutkanku adalah dia berkata bahwa bila nanti hasil dari general check-upnya menyatakan dia benar-benar mengidap suatu penyakit yang parah dia memutuskan untuk tidak akan menikah seumur hidupnya. Agak parau suaranya saat menyatakan hal itu. Dia akan melakukan hal itu dengan alasan khawatir akan pendampingnya kelak. Dia khawatir pendampingnya akan kerepotan bila harus mengurus dirinya yang sakit-sakitan di sisa usianya.


Teruntuk sahabatku, bukankah Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, ”Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari). Sejatinya kau tidak ingin menjadi demikian bukan? Berusahalah tuk temukan pelabuhan hatimu. Justru di situ kau akan dapat temukan sebuah cinta sejati. Sebuah cinta yang bersahaja, yang mengharapkan rinai-rinai keridhoan Rabbnya dengan mengabdi pada dirimu. Dengan sanjungan doa-doa dan ikhtiar, Insya ALLAH kau kan bisa mendapatkannya. Lihatlah diriku di sini, Insya ALLAH meski dalam tertatih kan tetap taburkan jutaan semangat untukmu, kan tetap layangkan ribuan doa untukmu, kan sunggingkan senyuman terindah tuk hiasi hari-harimu, kan temanimu dalam sebuah pencarian.....

Monday, September 04, 2006

the appreciations on my graduation



Assalamu’alaikum. Ayamour…sedang apa dirimu? Ayamour selamat wisuda ya sabtu kemarin…cie bu drg. Insya Allah cepet dapet jodoh ya, soalnya kan udah dapet kerja…hehe…traktir, traktir…

-Mutiara Harvia Dewi, SKG [040906-14.23]


Assalamu’alaikum...K’ocha, pa kabar? Lagi ngapain niy? Tadi wisudaan ya? Selamat ya ka’...doain juga supaya aku bisa diwisuda tepat waktu seperti kakak...hehe...

-Mita Fauziah Damanik, FKG UI’05 [020906-16.09]


Selamat diwisuda Ibu Drg. Deasy Rosalina...semoga semakin sukses selalu...

-Napoleon, D.Eng [020906-14.45]


Assalamu’alaikum...Kak ocha selamat ya untuk kelulusannya, Semoga sukses di kemudian hari, jadi Drg yang baik, ramah, banyak pasiennya, berguna buat masyarakat..Amin. Doain ninez biar cepet nyusul ya kak...

-Ninez, SKG[020906-13.53]


Selamat ya bu dokter...Semoga kita-kita cepet menyusul...=]

-Ditha Indah Lestari, SKG [020906-11.45]


Assalamu’alaikum...Cha selamat hari ini wisuda, senantiasa sukses ya cha, amin...Tolong sampaikan salam sayang buat temen-temen yang lain...Miss U all

-Dewi Kurniyanti, SKG [020906-09.51]


Assalamu’alaikum, ka ochaaa! Selamat ya ka sudah menjadi dokter gigi..!Alhamdulillah! Semoga ka ocha menjadi drg yang sukses!

-Armalia Iriano, FKG UI’05 [140806-20.54]


Assalamu’alaikum Wr Wb...Subhanallah cepet bener lulusnya? Selamat ya! Doakan aku cepet nyusul nih! =)

-Bayuane Anggarini, SKG [130806-10.01]


Alhamdulillah, Barakallah, traktiran dong! J

-Yulim Sri Wicaksono, S.Sos[120806-14.25]


Assalamu’alaikum wr wb d, selamat dapat titel Drg ya? Alhamdulillah kalo d Rosa dapat apa yang d Rosa usahakan selama ini. Raihlah rizqi 4JJI dari sana ya?

-Dimas Widyasastrena, SSi, MT [110806-19.39]


Selamat ya, bisa dong aktif di PDGI

-Drg. Wahyu Sulistio, MARS [110806-19.28]


Deasy semoga dapat menjadi Drg yang amanah. Herwati.

-Drg. Herwati Djoharnas, DDPH, MSc [110806-15.19]


Selamat ya k’ocha, doain aku juga ya biar kuliah aku lancar-lancar aja n bisa lulus tepat waktu, trus sekarang k’ocha mau ptt dong? Ptt di mana kak? Mudah-mudahan setelah lulus ini k’ocha jadi Drg yang baik n pasiennya banyak, hehehe J Sukses selalu ya buat k’ocha J

-Windy, FKG UI’05 [110806-15.15]


Selamat ya, Semoga ilmunya bermanfaat dan selalu dalam ridho Allah.

-Drg. Kamizar, SpKG [110806-19.48]


Alhamdulillah, semoga selalu dirahmati seluruh kehidupannya.

-Masrangga Cili, SKom [110806-08.28]


Wah seneng banget pasti Cha’o! Satu doamu sudah terkabul :D Aku juga ikut seneng J

-Kabul Wahono [100806-22.08]


Syukur Alhamdulillah kami sekeluarga turut berbahagia atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT berupa anugrah kelulusan kepada dokter Rossa.

-Drg. Gunarso Gunadi, PhD [100806-18.33]


Assalamu’alaikum. Rosa...Barokalloh...Selamat ya sa...Diyas ikut senang...Kapan ni traktirannya..Diyas tunggu ya.

-Cahyanti WS, SKG [100806-17.23]-


Kegembiraanku melebihi kesedihanku, kini tak akan kubiarkan kau menyentuh airmataku walau kutahu, kau pasti melihatnya…Esok bukan akhir kemenanganmu tapi awal langkah hidupmu! Bergembiralah sahabatku karena kau layak untuk itu! Kelak kau tak ada di sisiku berjuanglah selalu di jalan 4JJI, kutitipkan engkau selalu padaNya ketika ruang dan waktu memisahkan kita! Terima kasih sudah menerima kekuranganku sahabatku…Mari berjuang bersama walau di jalan berbeda…I’m gonna Miz u chaku…

-Deasy Daniasari, SKG[080806-23.19]-


Jazakumullah untuk semua orang yang telah mengirimkan pesan-pesan singkat untuk RoSa di hari kelulusan, tak hanya via SMS, melainkan juga via langsung, Y!M, email, dll [yang tak dapat disebutkan satu persatu di sini] …semoga doa-doa kalian didengar oleh 4JJI SWT dan kalian juga mendapatkan hal yang sama, Aminnn Ya Rabb…