Credits to

Powered by Blogger

Monday, October 30, 2006

My Beloved PC

Sudah hampir lima tahun ini hidupku ditemani oleh PCku yang setia. PCku ini memang tidak terlalu canggih. Ya spesifikasinya saja masih terhitung jadul dengan prosesor Intel Pentium III. Ada keinginan untuk mengupgradenya, tetapi apa daya belum ada biaya euy =(. Namun, Alhamdulillah dia masih bisa menjalankan hampir semua fungsi yang kubutuhkan. Mulai dari pengetikan tugas-tugas kuliah, artikel dan puisi yang sering kupublish ke blog, hingga keep in touch dengan teman-teman di dunia maya melalui chatting. Dengan kapasitas memori sebesar 10GB, PCku ini menyimpan demikian banyak data-data berharga dalam hidupku. Bahan-bahan kuliah, tulisan-tulisan yang telah kubuat baik puisi maupun artikel, koleksi artikel dan e-book hasil berbagai penelusuran, koleksi resep masakan, berbagai asesoris organisasi (proposal, surat-menyurat, proker, laporan pertanggungjawaban), foto-fotoku, mp3 murottal, nasyid, J-Melo, instrumental, love songs barat dan Indo, back-up nomor telepon semua orang yang ada di HPku (berhubung kemarin-kemarin sering kehilangan HP), sampai sms-sms yang menurutku berharga kusave dulu ke komputer sebelum kuhapus dari inbox di HP.


Selain itu, PC yang sangat kusayangi ini memiliki keunikan tersendiri yang mungkin tak dimiliki oleh PC-PC lain di dunia (huehehehe, hiperbolis amirrr :D). Keunikan pertama berhubungan dengan screen saver. Screen saver di PCku ini aku set my picture slideshow. Dengan begitu, bila PC ini kutinggal untuk beberapa saat, maka tampilan yang muncul adalah semua koleksi foto-fotoku, baik foto-foto sendiri, keluarga, maupun teman-teman. Yang unik adalah bila PC ini aku tinggal saat ada tamu yang berkunjung atau ada telepon yang ditujukan untukku, maka foto-foto yang muncul pada screen saverku adalah foto-foto dari orang tersebut atau orang-orang yang sedang kami perbicangkan (ups, ketauan deh sering ngomongin orang :D). Berhubung rumahku sempit, maka otomatis PC dan telepon diletakkan di ruang tamu depan. Dengan demikian, begitu screen saver ini berjalan tamu-tamuku yang sedang berkunjung ataupun aku yang sedang teleponan dapat dengan mudah melihat foto yang sedang terpampang di PC. Mudahnya begini, jika yang sedang berkunjung ke rumahku adalah si X, maka foto-foto yang terpampang adalah foto-foto si X dan bila aku dan teman lain sedang memperbincangkan soal si Y baik secara langsung ataupun via telepon, maka yang muncul di screen saver PCku adalah foto si Y!


Keunikan kedua, berkaitan dengan lagu-lagu yang ada di winampku. Aku memiliki kebiasaan untuk menaruh semua file lagu yang ada di winampku untuk kemudian kuputar secara shuffle. Uniknya adalah, lagu-lagu itu dapat berputar sesuai dengan kondisi, suasana hati, ataupun sesuatu yang sedang kupikirkan. Pernah waktu itu sedang terjadi sebuah perselisihan yang cukup besar antara aku dan seseorang di rumahku kemudian lagu yang terdengar adalah ’Manusia Bodoh’nya Ada Band (Des, Wi...you’re the witnesses of moment that night). Lain lagi waktu suatu malam aku dan mama sedang bermellow-mellow ria mengingat masa lalu, kemudian lagu yang terdengar adalah ’Mirai e’-nya Kiroro (lagu yang bercerita tentang cinta seorang ibu kepada anaknya). Dan masih banyak lagi momen yang seringkali sesuai dengan lagu yang sedang diputar secara shuffle di winamp PCku tersebut. Saking seringnya hal ini terjadi teman-temanku dengan bergurau menyarankan agar PCku ini diruqyah!Karena menurut mereka PCku ini jangan-jangan susah ’dirasuki’ oleh ’sesuatu’ sehingga bisa demikian pintar. Aku sendiri hanya tertawa saja mendengar saran dari teman-temanku tersebut. Ah PCku...apapun adanya dirimu, tetaplah demikian, karena ku sungguh menyayangimu...(waduh...koq segitunya sama PC yah??? :D)

Saturday, October 28, 2006

Teeth Describes Everything

Jika ditanyakan kepada Anda untuk apa Allah SWT menciptakan gigi geligi? Mungkin sebagian besar dari Anda akan menjawab diciptakannya gigi adalah agar kita dapat mengunyah makanan. Jawaban tersebut tak salah, tetapi perlu diketahui pula bahwa fungsi gigi bukan hanya untuk pengunyahan semata melainkan juga untuk pemenuhan terhadap fungsi estetika dan berbicara. Selain itu, dari gigi ternyata kita juga dapat mengetahui masa lalu dan kepribadian seseorang.


Kondisi gigi yang rapi dan teratur pada saat dewasa bukan hanya berasal dari faktor keturunan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh perawatan gigi ketika masa anak-anak. Hal ini berarti, jika perawatan gigi di masa kecil cukup baik maka gigi akan tumbuh dan tersusun rapi pada saat dewasa. Hampir sebagian besar pemilik gigi yang tidak tersusun rapi disebabkan oleh masalah gigi sewaktu kecil. Yang sangat umum, gigi tak beraturan disebabkan oleh karena banyaknya mengonsumsi makanan manis di masa kanak-kanak. Anak-anak tentu sangat menyukai hal manis seperti permen dan coklat. Makanan seperti itu sebenarnya tak masalah, asalkan sehabis makan gigi dibersihkan dengan cara menyikat atau berkumur agar sisa gula tak menempel pada gigi. Namun, karena anak-anak seringkali lalai mengontrol diri alhasil sisa makanan atau permen yang manis menempel di gigi berjam-jam dan mengundang kuman. Akibatnya kemudian kuman menyerang gigi dan efeknya gigi jadi rusak, berkarang, gripis, ompong, atau tanggal sebelum waktunya. Hal ini menyebabkan gigi tetap yang akan tumbuh akan bergeser dari posisi yang sebenernya dan menyebabkan di waktu dewasa gigi geliginya menjadi berjejal.


Bukan hanya disebabkan oleh konsumsi makanan manis, gigi yang tumbuhtidak teratur dapat pula disebabkan karena kebiasaan buruk pada saat balita. Salah satunya adalah kebiasaan ngedot. Kebiasaan ngedot pada anak membuat dot akan menekan pertumbuhan gigi. Yang harusnya tumbuh lurus, akibat seringnya tertekan oleh dot membuat gigi tumbuh agak miring ke kiri atau ke kanan. Demikian pula kebiasaan senang mengisap jari atau jempol tangan pada anak-anak. Kebiasaan yang disebabkan oleh faktor psikologi ini, efeknya sama dengan ngedot, akan menekan gigi yang sedang atau mau tumbuh sehingga membuat posisi gigi kadang bergeser ke kanan atau ke kiri. Dan bisa juga ke depan dan ke dalam. Untuk itulah agar gigi cantik dan sehat di masa remaja dan dewasa, perawatan gigi harus dimulai dari masa anak-anak.

Gigi yang tumbuh teratur dan rapi selain mencerminkan perawatan di masa anak anak, juga dapat menggambarkan kepribadian pemiliknya. Adamandios, pada abad ke-5 SM mengatakan bahwa : “Orang-orang yang bibirnya tertekan keluar karena posisi gigi taring yang tidak tepat biasanya memiliki sifat mudah emosi, suka berteriak kasar, dan penyumpah.Para psikolog di Amerika Serikat menyebutkan, orang yang giginya kecil dan rapi merefleksikan kepribadian yang simple, periang, irit, dan menyukai keunikan maupun keindahan. Hal tersebut kebalikannya dengan pemilik gigi rapi namun giginya besar-besar. Gigi tersebut mencerminkan pemiliknya punya pembawaan tenang, boros, lugu, dan pemberani. Sementara, gigi tak beraturan dan bertumpuk lebih merefleksikan serius, cool, dan sederhana. Kepribadian seseorang yang dominan juga dapat dilihat dari gigi geliginya. Orang yang memiliki dua gigi seri depan atas yang menonjol dengan sudut-sudut tepi gigi yang tajam dan gigi taring yang menonjol biasanya memiliki sifat yang mendominasi. Bagi pria yang mendambakan seorang istri yang lembut dan feminin, carilah perempuan dengan gigi geligi yang bentuknya oval dan sudut-sudutnya membulat serta ketika tersenyum geligi depannya membentuk garis melengkung. Sementara, bagi perempuan yang mendambakan seorang suami yang maskulin dan kuat, maka carilah pria yang memiliki gigi geligi dengan bentuk persegi dan lurus serta ketika tersenyum geligi depannya membentuk garis lurus. Wallahu’alam bishshawab

Thursday, October 26, 2006

Memasang Foto Diri di Friendster = Simbol Kesombongan [and Vise Versa : Tak Memasang Foto Diri = Simbol Ketawadhuan]









Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan pesan di akun Friendsterku dari salah seorang teman di FS yang pernah meng-addku [tapi sampai sekarang aku tidak pernah mengenalnya sama sekali karena dia pun tak pernah mengenalkan dirinya padaku selaku orang yang telah meng-add]. Pesan itu kira-kira berbunyi demikian, ”jadilah seorang populis yang tawadhu, memasang foto-foto anti di FS bukanlah cermin ketawadhuan seorang akhwat.” Aku hanya tersenyum saja membaca pesan itu. Alhamdulillah, masih ada orang yang peduli padaku dan mengirimkan pengingatan seperti demikian. Namun, yang kusesali adalah mengapa orang tersebut lantas memberikan justifikasi pada diriku yang notabene tidak ia kenal? Kemudian aku telaah dengan seksama kata-katanya tersebut. Apakah benar memasang foto diri di Friendster itu adalah simbol kesombongan? Dan sebaliknya, tidak memasang foto diri adalah simbol sebuah ketawadhuan? Menurutku, begitu naif jika seseorang kemudian memberikan justifikasi dengan mudahnya atas dipampangnya foto-foto diri orang lain di FS. Bukankah hal itu justru mengecilkan makna tawadhu itu sendiri? Sekarang, alasan apa sebetulnya yang membuat ia kemudian meng-add diriku di Friendster? Alasan pertama pastinya karena ia telah melihat foto diriku di Friendster dan ia berpikir bahwa aku ’sejenis’ dengannya. Alasan lainnya mungkin karena ia terkesima melihat profilku di Friendster [huehehehe...yang ini gak banget seh!:p].


Bila ditilik lebih jauh lagi, mungkin akan kembali pada hakikat penciptaan Friendster itu sendiri [halah bahasanya!:D]. Friendster diciptakan bukan hanya untuk menemukan teman-teman lama kita di dunia maya, tapi juga untuk menambah teman-teman dari dunia maya [atau bahkan mencari jodoh juga kali ye...:p]. Jika demikian, maka sarana yang dibutuhkan untuk memperkenalkan diri adalah profil singkat mengenai diri dan dibantu dengan foto sebagai tambahan. Namun, hal itu saja tidak cukup karena masih bersifat subyektif. Oleh karena itu, agar bisa dicapai sebuah keseimbangan, maka diperlukan juga pendapat dari orang lain mengenai diri kita sehingga ditambahkanlah fasilitas testimonial di Friendster [meski testimonial ini sendiri kadang tak obyektif]. Melalui dua hal itulah akhirnya orang dapat mengetahui diri kita, meski sifatnya hanya superfisial. Dari fasilitas-fasilitas yang ada di Friendster, biasanya fasillitas yang paling disukai oleh orang-orang adalah fasilitas foto. Hal ini menurutku disebabkan karena dengan melihat foto, kita dapat melihat siapa dan bagaimana kepribadian orang tersebut secara sekilas. Apalagi ada fasilitas ’caption’ yang membuat orang dapat mendeskripsikan foto yang telah ia pajang. Hanya dengan melihat foto, orang terkadang telah dapat memberikan penilaian terhadap orang yang ia profilnya tersebut. Berbeda dengan testimonial yang membutuhkan waktu untuk membacanya. Apalagi dengan fasilitas tambahan yang bisa di’embedded’ ke dalam testimonial membuat testimonial-testimonial yang ada di Friendster sekarang tidak terlalu ’penting’ dalam artian tidak terlalu memberikan opini mengenai orang tersebut. Bila setelah melihat profil orang tersebut ia kemudian merasa ’klik’, maka ada dua kemungkinan yang akan dilakukannya. Pertama, meng-add orang tersebut sebagai temannya, atau kedua tidak melakukan apa-apa. Untuk hal pertama, juga ada dua kemungkinan, apabila ia sopan, maka jika orang tersebut sama sekali tidak dikenalnya ia akan minta izin terlebih dahulu untuk meng-add orang tersebut. Namun, apabila ia cukup ’PD’, maka ia akan langsung meng-add orang tersebut tanpa basa-basi.


Kembali ke topik semula mengenai pasang memasang foto diri. Sejatinya, tiap orang meski sedikit pastinya memiliki rasa ingin dikenal oleh orang lain. Entah ia ingin dikenal melalui fisik atau kepribadiannya. Untuk itu ada beberapa kemungkinan cara orang membuat profil dirinya di Friendster. Pertama, memasang foto diri beserta testimonial. Kedua, tidak memasang foto diri, tapi tidak menolak testimonial yang ditujukan untuknya. Ketiga, memasang foto diri, tapi ia menolak atau menyortir testimonial yang ditujukan untuknya dengan berbagai alasan. Keempat, tidak ada foto diri ataupun testimonial dan profil seadanya. Untuk kemungkinan bisa jadi orang tersebut memang tidak pernah mengupdate Friendsternya atau ia jarang berinteraksi di dunia maya. Kemungkinan selanjutnya, ada yang bisa nambahin???


Dengan berbagai pemikiran di ataslah kemudian aku berpikir lebih lanjut, tanpa maksud membela diri, rasanya tiada bijak jika kita menjustifikasi seseorang tiada tawadhu apabila ia memasang fotonya di Friendster. Hanya ALLAH-lah yang berhak menentukan amalan pribadi orang. Memang, bisa jadi ada orang yang bermaksud sombong atau narsis dengan memasang foto-foto dirinya, tapi ada pula berbagai alasan lain mengapa seseorang kemudian mau memasang foto-foto dirinya di Friendster. Di situlah kedewasaan kita dalam memberikan penilaian terhadap orang lain diuji. Wallahu’alam bishshawab.

Tuesday, October 24, 2006

Peningkatan Angka Kelahiran Kembar Siam, Akibat Krisis Berkepanjangankah?






Lagi, pasangan bayi kembar siam dilahirkan di Indonesia. Bayi kembar siam berbadan satu dan berkepala dua ini lahir melalui proses caesar di RS Baptis, Kota Batu, Jawa Timur pada tanggal 23 Oktober 2006. Dari hasil pemeriksaan fisik didapati bahwa bayi tersebut memiliki dua tulang belakang, dua kepala, dua kaki, empat tangan, dan satu kelamin. Sebelumnya bayi kembar siam putra pasangan Melvin Adulano dan Marce Louk Fanggi Adulano yang lahir dengan badan menyatu, dengan dua kepala, tiga tangan, dan tiga kaki telah menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Oktober 2006, empat hari setelah kelahirannya, akibat adanya gangguan pernafasan.

Akhir-akhir ini rasanya memang makin banyak kasus kelahiran bayi kembar siam di Indonesia. Kelahiran bayi kembar siam di Indonesia sendiri bukan merupakan hal baru. Menurut data RSCM, dalam 20 tahun terakhir terdapat rujukan sekitar 14 bayi kembar siam dari berbagai daerah. Pada tanggal 31 Juli 1987, bayi kembar siam Yuliana dan Yuliani lahir di RS Tanjung Pinang, Riau dengan kondisi saat itu dempet kepala di bagian ubun-ubun. Kemudian pada tanggal 21 Oktober 1987 di saat usia mereka mencapai 2 bulan 21 hari, mereka menjalani operasi pemisahan kepala di RS Cipto Mangunkusumo. Operasi yang berlangsung selama 13 jam yang dipimpin oleh Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo ini akhirnya berhasil memisahkan bayi kembar siam tersebut. Kasus mereka ini kemudian menjadi momentum. Ini untuk pertama kalinya dokter Indonesia berhasil memisahkan bayi kembar siam yang dempet pada tengkorak kepala. Jarang kembar siam dengan kondisi seperti mereka yang selamat dari meja operasi. Bayi kembar siam lainnya adalah Nugroho Yuliana dan Nugroho Yuliani asal Desa Balerejo, Madiun, Jawa Timur. Keduanya lahir melalui operasi ceasar di RSUD dr Soedono Madiun pada 3 Maret 2003. Pihak RSUD dr Soedono Madiun merujuk bayi kembar siam tersebut ke RSUD Dr . Soetomo Surabaya karena tidak mampu menanganinya. Namun, pada Minggu 21 Maret 2003, kembar siam itu meninggal dunia sekitar pukul 04.50 WIB akibat kegagalan bawaan fungsi-fungsi organ secara multipel. Kelainan itu antara lain otak bayi mengalami pembengkakan karena kekurangan oksigen. Selain itu, tulang dada dan leher keduanya saling menarik. Kedua bayi ini pun hanya memiliki satu kantung jantung, sementara paru-parunya mengembang tidak sempurna.


Kembar siam sendiri sebetulnya adalah kondisi anak kembar di mana tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Istilah kembar siam berawal dari pasangan kembar siam terkenal Chang dan Eng Bunker (1811-1874) yang lahir di Siam (sekarang Thailand). Kasus kembar siam tertua yang tercatat adalah Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang lahir di tahun 1100-an.


Epidemiologi Kasus Kembar Siam

Kasus kembar siam memang lebih sering ditemukan di negara-negara berkembang daripada di negara maju. Pasalnya, di negara maju kembar siam biasanya langsung digugurkan begitu terdeteksi. Alasannya karena bisa membahayakan kehidupan si ibu saat melahirkan dan kalau dibiarkan hidup, akan menyulitkan kehidupan bayi siam itu sendiri.


Menurut sejumlah kesimpulan medis, satu kasus kembar siam terjadi untuk setiap 200 ribu kelahiran. Kebanyakan dari mereka (75%) berjenis kelamin perempuan. Jadi, jika Indonesia berpenduduk 200 juta, ada peluang 1000 kasus kembar siam. Dari semua kelahiran kembar siam, diyakini tak lebih dari 12 pasangan kembar siam yang hidup di dunia. Saat dilahirkan kebanyakan kembar siam sudah dalam keadaan meninggal dan yang dapat lahir dalam keadaan hidup hanya sekitar 40 persen. Dari mereka yang lahir hidup, 75 persen meninggal pada hari-hari pertama dan hanya 25 persen yang bertahan hidup. Itu pun sering kali disertai dengan kelainan bawaan dalam tubuhnya. Apakah itu organ pada bagian ektoderm, yakni kulit, hidung dan telinga, atau mesoderm yang mencakup otot, tulang dan saraf, atau bisa juga indoderm, yakni bagian organ dalam seperti hati, jantung, paru dan otak.


Etiologi [Penyebab] Kelahiran Kembar

Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor genetik, obat penyubur yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang secara sempurna, juga diduga ikut memicu terjadinya bayi kembar. Alasannya, jika indung telur bisa memproduksi sel telur dan diberi obat penyubur, maka sel telur yang matang pada saat bersamaan bisa menjadi banyak, bahkan sampai lima atau enam. Sebab lain yang diperkirakan dapat menjadi penyebab kelahiran kembar adalah usia ibu saat kehamilan, wanita dengan riwayat persalinan yang sering, dan wanita yang hamil segera setelah berhenti minum pil KB.


Proses Terjadinya Bayi Kembar

Secara garis besar, kembar dibagi menjadi dua, yaitu kembar monozigot alias kembar yang berasal dari satu telur dan dizigot, yaitu kembar yang berasal dari dua telur. Kembar monozigot, bayi mempunyai gen yang sama, jenis kelamin yang sama, dan muka yang serupa. Kembar monozigot biasa disebut sebagai kembar identik. Proses terjadinya kembar identik yaitu karena pada masa pembuahan sebuah sel telur matang dibuahi oleh sebuah sperma yang membentuk zigot, kemudian zigot ini akan membelah. Masa pembelahan zigot ini dibagi dalam empat waktu, yaitu 0 - 72 jam, 4 - 8 hari, 9 - 12 dan 13 hari atau lebih. Jika pembelahan zigot ini terjadi saat awal pembuahan (1-3 hari setelah pembuahan) maka setiap embrio biasanya akan memiliki kantong ketuban yang berbeda, dan satu plasenta. Namun, bila pembelahan terjadi setelah 13 hari maka kemungkinan kembar akan terjadi menempel bersama pada bagian dari tubuhnya atau pembelahan yang tidak sempurna yang disebut sebagai kembar siam lebih tinggi. Bila pembelahan berlangsung pada 6 jam - 4 hari, akan terjadi diamniotik, yakni rahim mempunyai dua selaput ketuban, serta dikorionik, yakni rahim mempunyai dua plasenta. Jika pembelahan setelah 4 - 8 hari, selaput ketuban tetap dua, tetapi plasenta hanya satu. Pada kondisi ini, bisa saja terjadi salah satu bayi mendapat banyak makanan, sementara bayi satunya tidak. Akibatnya, perkembangan bayi bisa terhambat. Pada pembelahan setelah 8 - 12 hari, selaput ketuban dan plasenta masing-masing hanya satu, tetapi pembelahan pada umumnya masih normal. Pada pembelahan setelah hari ke-13, rahim hanya mempunyai satu plasenta dan satu ketuban, sehingga kemungkinan terjadi angka lahir kembar siam sangat besar. Pasalnya, pembelahannya terlambat. Jadi keadaan kembar siam terjadi pada kembar monozigot akibat pembelahan sel telur yang tidak sempurna [lebih dari 13 hari].


Kembar dizigot disebut juga sebagai kembar fraternal, yaitu kembar yang berasal dari dua telur. Mereka biasanya tidak terlalu mirip atau seperti kakak adik saja. Proses terjadinya kembar fraternal yaitu karena pada masa pembuahan terdapat dua buah sel telur matang yang akan masing-masing dibuahi oleh sperma yang berbeda. Karena berasal dari dua telur dan sperma yang berbeda maka masing-masing mempunyai kantung ketuban dan plasenta sendiri. Jadi kembar fraternal, adalah terjadinya dua proses pembuahan dalam satu kehamilan.


Melihat kepada proses pembelahan sel di atas, tentu saja yang terbaik adalah pembelahan pertama, karena bayi dapat membelah dengan sempurna. Namun, keempat pembelahan ini tidak bisa diatur waktunya. Hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti penyebab terjadinya keterlambatan pemisahan sel. Namun, diperkirakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi waktu pembelahan dan kenapa bisa membelah tidak sempurna sehingga mengakibatkan dempet. Faktor yang pertama adalah faktor gizi, dalam hal ini bisa jadi asupan makanan mencukupi tetapi gizi tidak seimbang atau dapat juga pola makan terbatas sehingga asupan makanan kurang mencukupi. Faktor lainnya adalah yang diduga berhubungan adalah penggunaan obat-obatan, infeksi, ataupun masalah lingkungan. Sebagaimana diketahui bila diperhatikan selama ini, kasus kembar siam yang diungkap di media massa memang lebih banyak berasal dari keluarga kurang mampu. Mungkinkah krisis ekonomi yang berkepanjangan bagi sebagian masyarakat menyebabkan peningkatan persentase kelahiran bayi kembar siam di Indonesia? Mungkinkah dengan semakin tingginya biaya hidup kemudian dapat berimplikasi pada sulitnya memberi asupan makanan dengan gizi yang baik pada ibu hamil? Atau mungkinkah pula semakin kerasnya kehidupan menyebabkan tekanan-tekanan intra uterin semakin meningkat sehingga dapat menghambat proses pembelahan sel? Wallahu’alam bishshawab.

-dari berbagai sumber-


Friday, October 20, 2006

Flashback

Sekedar flashback ke lima tahun yang lampau. Saat itu aku harus membuat suatu pilihan yang akan menentukan masa depanku selanjutnya. Ya momen itu adalah UMPTN. Sejak naik ke kelas 3 jurusan IPA, aku telah banyak mencari info-info mengenai berbagai jurusan yang ada di universitas negeri pilihan. Waktu itu universitas negeri pilihanku adalah UI, ITB, dan UGM sedangkan pilihan jurusannya sendiri sangat beragam. Aku pribadi saat SMU sangat menyukai pelajaran Kimia dan Biologi serta tidak terlalu menyukai Fisika dan Matematika, meskipun saat duduk di bangku kelas 3 aku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan guru Fisikaku. Melihat kompetensiku sendiri, pada awalnya memang aku ingin masuk jurusan Kedokteran UI. Namun, setelah mengamati aktivitas salah seorang seniorku di SMU yang berkuliah di Kedokteran UI, aku pun kemudian berpikir untuk merubah pilihanku nanti. Aku berpikir bahwa kuliah di Kedokteran itu amat melelahkan, harus rajin belajar, banyak menghapal, ditambah lagi dengan tugas jaga malam pada waktu ko-as. Karenanya aku membulatkan tekad untuk tidak mengambil jurusan yang berbau bau kedokteran, entah itu Kedokteran atau pun Kedokteran Gigi.


Oh ya, pas kelas 3 SMU itu, aku sempat mengikuti psikotes. Dari hasil psikotes itu dibilang kalau aku memiliki arah minat pada tiga hal yaitu; Investigatif, Realistik, dan Sosial. Untuk minat investigatif, maka profesi yang sesuai bagiku adalah ahli kimia atau ahli astronomi, untuk minat realistik profesi yang sesuai adalah ahli teknik sipil atau ahli instalasi listrik, sedangkan untuk minat sosial profesi yang sesuai adalah psikolog klinis. Oleh karenanya, dari hasil tersebut aku disarankan untuk memilih program studi kimia, teknik sipil, atau psikologi. Berdasarkan semua hasil tersebut, memang ada beberapa bidang yang aku minati sejak awal.


Pertama adalah astronomi, sejak kecil aku senang sekali mengamati bintang-bintang di angkasa raya [jadi ingat lagunya Ken Hirai : Miagete Goran Yoru no Hoshi wo]. Satu-satunya bab di pelajaran fisika yang paling aku senangi juga adalah bab mengenai perbintangan. Untuk itu, aku kemudian memasukkan Astronomi ITB dalam sebagai salah satu alternatif pilihan. Namun, setelah kudiskusikan dengan papaku, beliau kemudian menolak pilihanku tersebut dengan alasan yang mungkin sama dengan sebagian besar orang tua lain, ”Mau jadi apa nantinya kamu masuk astronomi De?” Akhirnya kuputuskan untuk mengeliminasi pilihan tersebut.


Bidang kedua adalah psikologi, untuk bidang yang satu ini sejak lama memang kuminati karena aku senang sekali memperhatikan dan menganalisis kepribadian orang-orang. Untuk itu, aku kemudian juga memasukkan Psikologi UI sebagai salah satu alternatif pilihanku nantinya. Namun, mengingat aku berasal dari jurusan IPA maka untuk dapat memilih Psikologi UI aku harus mengikuti program IPC saat UMPTN. Mungkin karena aku telah lama tidak belajar mengenai ilmu-ilmu sosial maka pada saat itu sejujurnya aku begitu malas jika harus mengikuti program IPC. Memang ada alternatif lain yaitu Psikologi Unpad yang tidak mengharuskan peminat yang berasal dari jurusan IPA untuk ikut program IPC, tetapi pada saat itu Unpad bukan merupakan universitas negeri pilihanku. Akhirnya lagi-lagi pilihan ini terpaksa kueliminasi.


Bidang ketiga adalah kimia, untuk bidang yang satu ini seperti telah kujelaskan di awal memang dari awal aku menyukai pelajaran kimia. Pada bidang kimia ini ada dua pilihan jurusan yang menjadi minatku yaitu Teknik Gas dan Petrokimia [TGP] UI dan Farmasi UI. Untuk jurusan TGP UI ini, aku punya cerita khusus mengenainya. Saat kelas 3 dulu, para mahasiswa dari TGP UI sempat melakukan promosi ke sekolahku. Deskripsi mereka mengenai TGP UI sungguh memukau dan membuat niatku untuk memilihnya semakin kuat. Ditambah rasanya tiada aral dari diriku dan orangtua untuk memilihnya. Kemudian untuk jurusan Farmasi UI, dari orangtuaku sebetulnya tidak ada masalah, tapi dari aku pribadi justru pada saat itu kurang PD untuk memilihnya dikarenakan passing grade yang lumayan tinggi. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengeliminasi pilihan tersebut.


Namun, tidak pilihan-pilihanku tidak berhenti sampai di situ saja. Sempat juga aku berpikir untuk memilih Teknik Nuklir UGM dikarenakan aku ingin sekali menjadi seorang ahli nuklir di Indonesia. Setelah kuutarakan maksud ini kepada orangtuaku, mereka kontan saja menolak dengan alasan mereka khawatir anak semata wayangnya ini akan banyak terkena radiasi nantinya sehingga tidak mampu menjalankan proses reproduksi. Lagi-lagi pilihan ini harus aku eliminasi. Sempat juga terpikir untuk memilih Teknik Informatika ITB, tetapi berhubung passing gradenya yang juga lumayan tinggi, lagi-lagi dengan sadar diri akan kapabilitasku, aku mengeliminasi pilihan tersebut. Karena benar-benar bingung harus memilih jurusan apalagi selain TGP UI, akhirnya aku melakukan sholat istikharah. Setelah beberapa kali istikharah, aku mendapatkan mimpi bahwa aku sedang berada di kampus Teknik Metalurgi UI. Sebetulnya dari awal aku tidak pernah berpikir untuk memilih jurusan ini, tapi aku merasa mungkin ini adalah jawaban ALLAH untukku. Namun, setelah banyak mencari informasi mengenai jurusan ini, aku pribadi merasa tidak sreg untuk memilihnya dikarenakan bayangan lapangan pekerjaan yang harus kujalani nantinya. Akhirnya karena semakin bingung, aku memutuskan untuk memilih jurusam berdasarkan mata pelajaran yang paling aku senangi, yaitu jurusan Biologi UI. Aku berpikir bahwa nantinya aku bisa berkuliah dengan nyaman karena aku menyukai bidang tersebut. Ditambah lagi banyak masukan cerita dari pada seniorku di SMU bahwa kuliah di Biologi UI itu banyak petualangannya, mulai dari jalan-jalan ke pegunungan hingga diving.


Pada H-2 pengumpulan formulir UMPTN, akhirnya kutuliskan dua pilihan program studi yang kuminati, TGP UI dan Biologi UI. Namun, ternyata takdirku tak sampai di situ saja. Ketika akan menyerahkan formulir tersebur, salah seorang temanku melihat kedua pilihanku tersebut. Kemudian dia berkomentar agak merendahkan saat itu, dia berkata, ”Oh, Ocha pilihan keduanya Biologi supaya kalo gak dapet pilihan pertama jadi kayak sekolah lagi ya???” Terus terang saja, pernyataannya tersebut membuatku mendidih. Aku membuat suatu keputusan besar untuk memilih dua pilihan tersebut bukan untuk sekedar main-main belaka. Akhirnya, aku tidak jadi untuk mengumpulkan formulir pendaftaran pada hari itu. Aku kemudian pulang ke rumah dan membuka kembali semua pilihan program studi yang ada. Kali ini aku hanya fokus pada pilihan program studi yang ada di UI. Aku buat tabel positif dan negatif mengenai semua jurusan IPA yang ada di UI. Yang sempat menjadi pilihanku saat itu adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat [FKM] dan Teknik Industri. Tapi, lagi-lagi dengan penuh pertimbangan aku memutuskan untuk tidak memilih keduanya. Setelah aku melihat-lihat kembali dengan seksama, ternyata ada dua program studi yang selama ini tidak terlalu aku perhatikan yaitu Fakultas Ilmu Komputer [Fasilkom] dan Fakultas Kedokteran Gigi [FKG]. Tadinya memang aku sempat berpikir untuk memilih jurusan Teknik Informatika ITB, tapi aku tidak berpikir untuk memilih Fasilkom UI. Meski passing grade Fasilkom UI saat itu melebihi passing grade FK UI, tanpa banyak pertimbangan akhirnya kutetapkan pilihan pertamaku pada Fasilkom UI. Kemudian untuk FKG, seperti telah kusebutkan di awal, bahwa aku sangat menghindari pilihan Kedokteran atau Kedokteran Gigi. Namun, setelah kupertimbangkan, jika nantinya aku tidak berhasil mendapatkan pilihan pertama di Fasilkom UI, setidaknya aku bisa mendapatkan pilihan program studi yang tidak ecek-ecek. Selain itu, aku berpikir bahwa kuliah di FKG tidak terlalu berat dibandingkan dengan FK [dan ternyata aku salah besar saudara-saudara!!!kuliah di FKG ternyata sungguh menguras kekuatan fisik, mental, dan terutama materiil] dan peluang untuk mendapatkan kerja lebih besar dikarenakan dokter gigi adalah sebuah profesi. Akhirnya, dengan mengucap Bismillah aku menuliskan Fasilkom UI dan FKG UI pada formulir pendaftaranku. Sebagai catatan, kedua orangtuaku pada awalnya tidak mengetahui bahwa aku telah memilih dua fakultas tersebut. Mereka masih mengira bahwa anaknya ini memilih TGP UI dan Biologi UI. Kurang lebih dua minggu setelah pengumpulan formulir itulah aku baru mengatakan kepada mereka mengenai pilihanku tersebut dan reaksinya adalah kekagetan yang luar biasa!Tapi apa boleh buat, keputusan telah dibuat dan mereka mendukung apa yang menurutku baik.


Setelah selesai UMPTN, di masa penantian pengumuman aku telah bertekad bahwa jika kelak akhirnya aku tidak diterima di kedua pilihan tersebut, maka aku akan mengikuti kursus-kursus untuk meningkatkan kapabilitas diri sementara menunggu UMPTN di tahun depan. Aku tidak mempersiapkan alternatif PTS karena aku menurut hematku, apabila pada tahun depan aku mengikuti UMPTN lagi dan berhasil, maka akan terlalu banyak biaya yang dikeluarkan oleh orangtuaku. Namun, ternyata papaku berpikir lain, beliau malah menyuruhku untuk mendaftarkan diri ke Universitas Bina Nusantara. Apa boleh buat, akhirnya aku menuruti keinginan beliau untuk mendaftarkan diri ke Binus. Namun, berhubung pendaftarannya sudah di gelombang terakhir, jurusan-jurusan yang menjadi favorit seperti Teknik Informatika, Sistem Informasi, dsb sudah tidak membuka jadwal reguler lagi [hanya tinggal jadwal kuliah malam], aku terpaksa memilih jurusan yang membuka jadwa kuliah reguler. Dan jurusan yang tersisa tersebut adalah Jurusan Ganda! Dengan total 177 SKS. Akhirnya aku memilih jurusan ganda Sistem Informasi dan Teknik Industri. Sejujurnya aku dan mamaku tidak sreg untuk berkuliah di situ, dikarenakan suasananya yang kurang ’kondusif’, tapi aku tidak ingin mengecewakan papaku yang telah demikian bersemangat untuk mendaftarkan diriku. Untungnya pihak Binus memberikan keringanan, apabila calon mahasiswanya yang telah mendaftar diterima di UMPTN, maka uang pendaftaran akan dikembalikan, meski tidak sepenuhnya.


Akhirnya, hari yang telah dinanti-nanti tiba, pengumuman UMPTN!Pihak bimbel yang kuikuti berjanji akan meneleponku tengah malam bila aku berhasil diterima di salah satu program studi yang kupilih. Semua orang rumah menanti dengan penuh harap-harap cemas. Tepat jam 12 malam, telepon rumahku pun berdering dan papaku kemudian membangunkan diriku yang sedang terlelap bahwa diriku diterima di FKG UI!Pada awalnya aku agak kecewa karena tidak berhasil diterima di pilihan pertamaku, Fasilkom UI, tapi Alhamdulillah!Aku harus banyak-banyak bersyukur pada ALLAH SWT yang telah menentukan demikian jalanku. Dan yang paling membuatku bersyukur adalah ternyata hampir semua bidang yang aku minati di awal, bisa kudapatkan dengan berkualiah di FKG UI. Mulai dari Biologi dan Kimia [dua mata kuliah dasar yang harus dikuasai], Teknik Metalurgi [kuliah yang berkaitan dengan material kedokteran gigi], Farmasi [musti belajar mengenai obat-obatan juga], Kesehatan Masyarakat [harus bisa memberikan penyuluhan kepada pasien dan masyarakat], Psikologi [memahami kondisi kejiwaan pasien], dan meskipun tidak berkuliah di Fasilkom tapi bisa kenal dengan banyak orang yang kuliah di sana. And here I am...being a dentist...

Thursday, October 19, 2006

Memelihara Sikat Gigi yang Baik dan Benar



Pemeliharaan sikat gigi kadang kala sering diabaikan oleh banyak orang. Padahal ’benda kecil’ ini turut memegang peranan penting dalam upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kondisi gigi yang berlubang atau gusi yang meradang bukan hanya berasal dari faktor di dalam mulut itu sendiri, tapi faktor dari luar mulut seperti pemilihan dan pemeliharaan sikat gigi ternyata juga dapat berpengaruh. Berikut ini ada sedikit tips tentang bagaimana caranya memelihara sikat gigi yang baik dan benar.


Setelah sikat gigi yang baik dan benar selama dua menit, sikat gigi dibersihkan dengan cara :

  1. Ketuk-ketuk sikat gigi supaya sisa air dari sikat gigi yang kita bersihkan dapat menjadi kering
  2. Keringkan sikat gigi secara perlahan-lahan dengan menggunakan handuk yang halus dan usahakan untuk menjemur sikat gigi di tempat yang terkena sinar matahari
  3. Tidak menyimpan sikat gigi di kamar mandi karena udara kamar mandi sangat lembab sehingga sikat gigi mudah ditumbuhi kuman dan jamur
  4. Siapkan minimal 2 sikat gigi yang sebaiknya digunakan bergantian pada pagi dan malam hari apabila sikat gigi yang satu sedang kita keringkan
  5. Ganti sikat gigi tiap tiga bulan sekali

Semoga tips-tips ringan di atas dapat membantu untuk mewujudkan kondisi gigi dan mulut yang lebih sehat. Selamat mencoba.

Saturday, October 14, 2006

Sumpah Drg...Wujud Suatu Persembahan



· Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan, terutama dalam bidang kesehatan

· Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan Kedokteran Gigi

· Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai Dokter Gigi

· Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran Gigi saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan

· Dalam menunaikan kewajiban saya, Saya akan berikhtiar sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik, kepartaian, atau kedudukan sosial

· Saya ikrarkan sumpah janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan

Hari ini, 21 Ramadhan 1427 H, di bawah ayat-ayat suci yang dibawa 14 abad yang lampau, semesta telah menjadi saksi atas sebuah kesakralan sumpah yang telah diikrarkan. Sebuah sumpah yang bukan sekedar dilafalkan di bibir saja, tapi juga kan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sungguh, gelar ini bukanlah untuk dibanggakan atau bahkan dipamerkan. Sejatinya, gelar ini adalah sebuah amanah dan tanggung jawab yang demikian berat baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk itu gelar ini kupersembahkan kepada :

  1. ALLAH SWT

Ya Rabbana...sesungguhnya hanya karena pertolongan Engkaulah semuanya ini dapat tercapai, hanya karena cintaMu hamba yang dhaif ini dapat melalui perjalanan ini, dan hanya karena iradahMu aku diamanahi oleh gelar ini.

”Wamaa Khalaqtul Jinna wal Insa illa Liya’buduun”...Sesungguhnya Engkau tak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaMu...

Untuk itu, jadikanlah tiap peluh dan perih yang kurasakan sebagai pemberat amalan di Yaumul Mizan kelak. Meski ku tahu, jannahMu tiada kan bisa dicicipi hanya dengan amalan-amalanku yang tiada berarti ini, kecuali dengan rahmat dan kasih sayangMu.

Untuk itu, rahmat dan ridhoMu-lah yang selalu kurindukan dalam tiap degup jantungku, dalam tiap hembusan nafasku, dan dalam tiap tetesan air mataku.


Kupersembahkan gelar ini sebagai tanda penghambaanku padaMu...

Kupersembahkan gelar ini sebagai cindera mata cintaku untukMu

Kupersembahkan gelar ini sebagai ungkapan pembuktian bahwa diriMu lah, Rabb Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim, tiada daya dan upaya melainkan karena kekuatanMu...Sesungguhnya diri ini telah demikian nista, namun Engkau masih berkenan mengulurkan tanganMu agar ku dapat bangkit...


Ya Rabbana...hari ini di bawah untaian indah firman-firmanMu aku tlah bersumpah...aku menyadari bahwa diri ini hanyalah insan yang mudah khilaf, maka kumohon padaMu, tetapkanlah aku di jalanMu, kokohkanlah pijakan kakiku di bumiMu, dan jauhkanlah aku dari segala godaan syetan dan syahwat yang akan selalu menerjang dari berbagai arah...

Amin Ya Rabb


  1. Orang tuaku

Duhai Mama,

semasa ku masih berada dalam kepompongmu aku telah banyak demikian banyak menyusahkanmu...

setelah keluar melihat dunia, aku pun bertambah memberimu banyak kesusahan demi kesusahan, tak jarang ku keluarkan kata-kata kasar, ku banyak menuntut ini itu darimu, ku seringkali membuatmu khawatir, ku acapkali menyebabkanmu menangis

namun apa balasanmu padaku terhadap semuanya itu???

kau tetap merawatku demikian cemerlang penuh kasih sayang, melindungiku dari segala marabahaya yang coba mengancam, mendoakanku dalam tiap sujud-sujud panjangmu


Duhai Papa,

di darahku mengalir darahmu, pandangi wajahku di cermin laiknya ku memandang wajahmu...

saksikanlah...detik demi detik diri ini selalu saja membuatmu dirimu repot dengan keluh kesahku, uang sakuku, dan permintaan-permintaan lain yang tak terduga

dan apa reaksimu padaku terhadap hal-hal tersebut?

berapa juta peluh yang telah kau cucurkan agar ku tetap dapat bertahan di dunia ini??? berapa milyar rasa sayang yang kau curahkan agar ku selalu merasa bahagia dan tak sendiri??? berapa banyak untaian kemarahan yang kau tujukan karena semata-mata kau peduli dan begitu mencintaiku???


Mah...Pah...

Kupersembahkan gelar ini sebagai tanda bakti, hormat, dan cintaku pada kalian

Kupersembahkan gelar ini sebagai ikhtiarku tuk menggiring kalian berdua ke jannahNya karena dengan hadiah dari kalianlah aku dapat memeluk Islam, agama yang paling diridhoi oleh ALLAH SWT,

Selalu ku mohon padaNya agar kelak kita dipersatukan kembali sebagai satu keluarga yang utuh di jannahNya kelak

Amin Ya Rabb



  1. Seseorang yang akan menemaniku sepanjang hidup

Aku belum mengetahui siapa dirimu

Kapan kita kan dipertemukanNya

Di mana kau berada sekarang

Bagaimana kita akan dipersatukanNya

Sungguh, tiada petunjuk yang tlah datang kepadaku tuk mengabarkan semua itu

Namun aku yakin bahwa

engkau adalah karunia ALLAH yang paling indah untukku

engkau adalah seorang pria yang mampu membawaku ke jannahNya dengan selalu menjaga Dienku

engkau adalah seorang pria yang bisa membantuku tuk mewujudkan seluruh cita-citaku baik di dunia maupun di akhirat kelak

engkau adalah seorang pria yang berakhlak paling baik terhadap diriku

engkau adalah seorang pria yang mencintai diriku apa adanya

engkau adalah seorang pria yang paling berani membelaku dari segala ancaman yang menghadang

engkau adalah seorang pria dapat memanjakanku dengan kedewasaan yang kau miliki

engkau adalah seorang pria yang paling tampan di mata hati dan kepalaku


Kupersembahkan gelar ini untukmu sebagai kado termanis di hari terindah kita kelak

Kupersembahkan gelar ini sebagai infak di jalan perjuanganmu

Kupersembahkan gelar ini sebagai pondasi awal kita tuk bersama membangun sebuah peradaban

Semoga hanya karena ALLAH-lah kita saling mencintai dan mengasihi satu sama lain

Amin Ya Rabb


  1. Jundi-jundi yang akan lahir dari rahimku

Wahai jundi-jundi peradaban

yang lahir dari cinta kasih sepasang insan karena Rabbnya

kalian adalah jundi-jundi yang dapat mengajak kedua orang tuamu ke jannahNya

kalian adalah jundi-jundi yang selalu menegakkan panji-panji kebenaran di bumiNya

kalian adalah jundi-jundi yang menceriakan dan menyejukkan mata-mata yang mulai rabun karena usia

kalian adalah jundi-jundi yang mengalirkan sungai-sungai kesejukan di kala penat meregang jiwa

kalian adalah jundi-jundi yang menyanjungkan kebahagiaan tak terhingga bagi sepasang manusia yang akan renta nantinya


Kupersembahkan gelar ini sebagai semaian bibit eksotika nan elok di hari kelahiranmu kelak

Kupersembahkan gelar ini sebagai langkah agar kalian dapat meretas perjuangan di jalanNya

Semoga kalian dapat menjadi jundi-jundi yang selalu takut akan Rabbnya

Amin Ya Rabb

Thursday, October 12, 2006

Cinta vs Fikroh

Assalamu’alaikum…aku terserang VMJ [Virus Merah Jambu, red], menurut Ocha mana yang bagus? Apa harus mengkhitbah seorang ”akhwat” ato ”wanita biasa”? Jujur, dia bukan dari kalangan ”akhwat” seperti yang kita pahami, tapi aku lihat dia punya keinginan kuat untuk berbenah. Toh semua orang punya potensi menjadi lebih baik kan? [sms dari 0813462XXXXX]


”Cha, gmana ya misalnya ada seseorang yang ingin melamarku, tapi dia bukan ’ikhwan’?” [perbincangan dengan seorang teman]


”Ros, menurutmu mungkin gak sih tipe-tipe ’akhwat’ gitu bisa tertarik sama aku?” [perbincangan dengan seorang teman yang lain]


”Kk punya seorang temen seangkatan di S2 sini, kita sama-sama seneng kalo ngeliat akhwat-akhwat lagi pada ngaji di Salman, ingin rasanya kalo bisa punya istri kayak mereka” [perbincangan dengan seorang teman yang lain lagi]


Rasanya dialog-dialog di atas sudah tak asing lagi di telingaku. Menurutku hal tersebut merupakan sebuah ambiguitas yang sering tak dapat terelakkan. Saat rasa cinta pada lawan jenis yang merupakan fitrah dariNya datang tak terduga-duga, ia tak bisa memilih apakah ia akan mencintai lawan jenis dari ”golongannya sendiri” ataukah dari ”golongan lain”. Ketika rasa itu membuncah untuk lawan jenis yang memiliki fikroh atau pemikiran yang sama, mungkin bagi sebagian orang tidak akan menjadi satu persoalan berat. Si ikhwan atau si akhwat dapat mengutarakan kecenderungannya tersebut pada sang murobbi untuk kemudian diproses dengan cara yang baik. Namun, tak sedikit dari mereka yang memiliki kesamaan fikroh ini juga akan memilih proses yang baik. Banyak di antara mereka yang sering pula main kucing-kucingan dengan murobbi dan ”komunitas” mereka. Dalihnya adalah hal itu juga merupakan proses ta’aruf atau pengenalan untuk satu sama lain. Untuk penguatan dalih tersebut mereka enggan menyebut hubungan itu sebagai ”pacaran”, bahkan mungkin mereka lebih bahagia dengan sebutan hubungan tanpa status [HTS] atau teman tapi mesra [TTM]?


Sekarang, bagaimana bila kasusnya adalah si ”ikhwan” atau si ”akhwat” jatuh cinta dengan lawan jenis yang berbeda fikroh? Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bagaimana itu tipikal seorang ikhwan atau akhwat, sehingga tak perlu lagi kujelaskan di sini. Sejatinya, seorang ikhwan atau seorang akhwat juga manusia biasa yang dapat jatuh cinta pada siapa saja tanpa pandang bulu. Namun, mungkin sudah menjadi stigma bagi sebagian besar orang dalam komunitas ”tarbiyah” untuk menginginkan pasangan hidup yang memiliki fikroh yang sama. Dengan adanya kesamaan fikroh ini diharapkan bahwa nantinya bahtera rumah tangga dapat dinakhodai oleh sebuah visi yang sama. Namun, pada kenyataannya seringkali didapati hati berbicara sebaliknya. Hati justru tertambat pada seseorang yang tidak memiliki kesamaan fikroh. Hal ini jelas menjadi satu pergulatan mental tersendiri bagi si ikhwan atau si akhwat. Di satu sisi, harapan untuk memiliki pasangan hidup dari komunitasnya sendiri sedemikian besar, tetapi di sisi yang lain hati juga tak dapat berdusta bahwa buncahan pada lawan jenis yang berbeda fikroh juga telah begitu besar.


Bila telah dihadapkan pada persoalan seperti ini, maka biasanya ada dua pilihan yang diambil oleh si ikhwan atau si akhwat. Pilihan pertama adalah langsung mengutarakannya pada sang murobbi, dengan harapan sang murobbi dapat membantu prosesnya agar tetap terjaga dengan baik. Pilihan kedua adalah si ikhwan atau si akhwat akan berusaha terlebih dahulu untuk menyamakan fikroh dengan cara mencarikan seorang murobbi bagi lawan jenisnya tersebut tanpa sepengetahuan murobbinya. Pilihan ini memiliki tiga kemungkinan implikasi. Implikasi pertama adalah, si lawan jenis bersedia untuk menerima tawaran untuk ”ngaji” tersebut dengan sungguh-sungguh dan niat yang ikhlas, bukan hanya karena menginginkan dapat menikah dengan si ikhwan atau si akhwat. Implikasi kedua adalah, si lawan jenis tersebut bersedia ”ngaji” hanya sekedar untuk labelisasi ”ikhwan” atau ”akhwat”. Niatnya untuk ”ngaji” hanya sekedar agar dapat menikah dengan si ikhwan atau si akhwat. Biasanya, pada implikasi yang seperti ini, setelah menikah rutinitas ”ngaji”nya akan menurun atau bahkan tidak sama sekali ”ngaji”. Implikasi ketiga adalah, si lawan jenis tersebut tidak sama sekali menerima tawaran untuk ”ngaji” karena mungkin merasa sudah cukup dengan ilmu dan pemikiran yang ia miliki.


Bila yang terjadi adalah implikasi yang ketiga, maka si ikhwan atau si akhwat harus siap dengan berbagai konsekuensi yang ada. Si ikhwan atau si akhwat harus dapat memperkirakan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Kekuatan dalam hal ini adalah kekuatan beragama tentunya. Menurutku, sebuah pernikahan adalah suatu momen panjang di mana setiap elemennya harus dapat membawa elemennya yang lain untuk menuju jannahNya. Oleh karenanya jannahNya harus dicapai dengan sebuah pemahaman yang baik mengenai keberagamaan itu sendiri, dalam hal ini Islam tentunya. Biasanya posisi ikhwan yang jatuh cinta pada yang ”non akhwat” akan lebih kuat karena sejatinya dialah yang akan menjadi qowwam atau pemimpin dalam rumah tangganya kelak. Dialah yang akan menentukan arah rumah tangganya. Berbeda halnya dengan akhwat yang jatuh cinta pada yang ”non ikhwan”. Pada kasus ini, si akhwat harus benar-benar memiliki kekuatan dan kesabaran untuk dapat menuntun suaminya yang ”non ikhwan” agar tetap pada koridorNya. Bersyukur apabila nantinya dapat membukakan pintu hidayah pada sang suami agar mau ’ngaji”. Namun, apabila si akhwat ini telah mengukur kekuatan dirinya dan sekiranya ia tak mampu, maka sebaiknya ia harus rela membunuh perasaan yang sudah ada pada lawan jenisnya tersebut bila ia menginginkan tetap istiqomah di jalanNya.


Sesungguhnya, penjabaran tadi hanya aku lihat dari sudut pandang yang telah aku yakini selama ini. Bukan berarti komunitas tarbiyahlah yang paling benar dan orang selainnya salah dan tak paham apa-apa mengenai Islam. Sebagai manusia sudah seharusnya kita sama-sama belajar mencari kebenaran tersebut dan mau secara rendah hati menerima kebenaran dari siapapun jua. Kebenaran yang hakiki hanya datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Kebenaran, maka marilah sama-sama kita datang menuju Allah SWT. Wallahu’alam bishshowab.

Monday, October 09, 2006

Paralelism

Perempuan itu terduduk di satu sudut serambi di bawah gurat lembayung senja. Tampak keratan-keratan tajam di bawah matanya. Sepertinya perlahan tapi pasti wajahnya telah menua melebihi usia kronologisnya. Bagian kelopak matanya pun tampak menggelembung, hampir sama dengan makhluk hijau yang bersuara buruk. Pupilnya hampir-hampir tenggelam laksana mentari di balik gunung yang tampak jelas dari tepi Senggigi senja hari. Rambutnya lembar demi lembar selalu saja berjatuhan ke lantai. Namun, ia masih harus bersyukur bahwa warna putih belum menghiasi mahkotanya itu. Tubuhnya??? Jangan ditanya, laiknya selembar papan tipis yang siap untuk diterbangkan oleh hembusan angin. Malulah ia menampakkan dirinya sekarang ini pada khalayak ramai.


Perempuan itu melayangkan pandangan ke sudut lain. Dilihatnya seorang balita kecil sedang merangkak, mencoba tuk berjalan seorang diri. Ya, sedikit lagi ia hampir bisa berjalan, sedikit lagi saja. Namun, kemudian ia terjatuh. Perempuan itu kemudian serta merta bangkit dari kursinya, berusaha menolong balita itu tuk bangkit. Digendongnya balita kecil itu dengan penuh kasih sayang untuk kemudian ia mencari ibunya.


Perempuan itu kembali duduk di tempatnya semula. Sesekali ia tersenyum bila mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Membayangkan balita tadi, serasa menghempaskan dirinya jua. Beberapa saat sepertinya ia bisa berdiri sendiri, tapi tampaknya terjangan halilintar itu terlalu kuat untuknya sehingga jatuhlah ia kembali. Seolah-olah dunia tak pernah mengizinkannya tuk dapat bangkit kembali. Entah sampai kapan.....

Saturday, October 07, 2006

Ketika Kursi itu Ingin Mencurahkan Segenap Rasa




Kursi itu terbujur lapuk

Gunungan debu telah mempercantiknya

Kucing hitam tak pelak tak jatuh hati padanya

Bahkan hanya tuk bersandar



Kursi itu bukan kursi jaman dulu

Kursi itu cukup modern untuk ukuran orang masa kini

Warnanya juga cukup menarik

Meneduhkan dan tiada menyilaukan



Kursi itu mungkin buta

Karena memang tiada bermata

Kursi itu mungkin bisu

Karena memang tiada berlidah dan berbibir

Kursi itu mungkin tuli

Karena memang tiada bertelinga

Namun

Kesemuanya bukan jadi aral berarti untuknya

Pahami semua teka-teki yang ada

Belajar dari menit demi menit



Ada bicara

Ada tatapan

Ada senyuman

Ada tawa

Ada tangis

Ada rayuan

Ada umpatan

Ada perjanjian

Ada tawar menawar

Ada pembelajaran

Ada prasangka



Kursi itu benar-benar mati sekarang

Berusaha mencurahkan segenap apa yang didapat

Tapi dia tak kan pernah sanggup

Dijamin

Sampai kapan pun

Wednesday, October 04, 2006

Putih

putih

terpanggil di balik guratan malam

merongrong sanubari berasa

kian menusuk sumsum

seolah meregang

kadang menyayat

sekali waktu menghujam

lain masa merintih

kadang jua mengibaskan semarak petir


sekiranya babak-babak itu

dimainkan oleh para pujangga

sejatinya berbuncah syair penuh ghadhab

lagi-lagi bicara tiap sajak yang berima

ada pantulan aura yang menyeruak


Ya!!!

namun Yang Maha Rahman tak sekedar

sajikan Deja Vu belaka

telurkan bait-bait

ibroh, ibroh, dan ibroh


saksikan

semua fase telah dikompilasi menjadi satu

dominasi keuletan

loyalitas Drupadi pada Pandawa

jenaka Nasrudin Hoja

kercerdasan seorang Einstein

dogma rasionalitas

hikayat bukit dan lembah yang

terbalut perasan sakus lakrimalis

lagi-lagi Dia tunjukkan kuasaNya


putih

lembaran itu telah bersih

dilumuri cercahan bening Kalamullah


putih

dan tawakkal

adalah jawabannya

...