Credits to

Powered by Blogger

Thursday, December 27, 2007

Kontemplasi



Detik…telah berkumpul menjadi menit

Menit...telah bersatu menjadi jam

Jam…telah melebur menjadi hari

Hari…telah bertambah menjadi bulan

Bulan…telah berjalan menjadi tahun


dan nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?...


Allah…

Demikian melimpah kasih yang telah Kau curahkan pada manusia dhaif ini

Adakah jalan yang lebih indah dibandingkan jalan yang telah Kau tunjukkan

Meski berliku dan harus melaluinya dengan ketertatihan

Sejatinya, itulah caraMu mencintaku


Allah…

Jauhkan hamba dari segala noktah yang kerap menodai jiwa

Hempaskan gelimang thaghut yang berkelibat tanpa sangka

Musnahkan seluruh bara yang menjadi hijab di antara kita

Harapku, miliki sayap tuk kepakkan ke ‘Arasy…jumpaiMu…


Allah…

Sungguh kupinta,

Hanya ingin dalam belaimu

Sekali lagi…

Jangan henti ajari memujiMu

Dalam tiap debaran…dalam tiap getaran..dalam tiap kerlipan…

Tak ingin khianati rahman dan rahimMu

Karena ku selalu yakini

Dalam dada pecinta sejati, tak kan terkumpul dua hati


*karena, tiap detik adalah Anugerah...tiap tawa adalah Karunia...dan tiap tetes air mata adalah Cinta...hari ini ruh baru telah lahir kembali, tak ada yang bisa berpulang ke masa lampau, tapi selalu akan ada kesempatan untuk memulai masa depan...semoga*


…special thanks to : Bul’e, Bang Anca, Deasyku, Fathy, Bang Nanda, Icha, Diyas, Unce Marunce, Tante Ida, Om Dhan, Jeng Dewi, Fitri, Meita, Andhika, Bang Ridho, Putri, Uda Ipeng, Bang Ipin, Mba Ut, Thea, Donna, Pak’e Aroeng, Desly, Tia, Indah, Mba Desan, Ditha, Kang Jamie , Evi, Ka Monce, Dwi [atas SMS dan teleponnya : sort by chronological order] ; Adis, Ita, Yudha, Dian, Ranny, Mba Roza, Mba Retno, Mba Intan, Luiz [atas offline messagenya di Y!M] ; Mas Novi, Mas Haryo, Azhar, Idzma, Ka Samsul, Any, Tity, Setta, Mba Wiet, Bunda Nila Aura, Wilda, Bunda Ira, Bunda Nila, Mas Riza, Dr. Ady, Bunda Gege, Marabunta, Nedia, Mas Adi [atas message dan komennya di FS] ; Andik [atas kirimannya] ; dan semua orang yang telah membuat hari lahir saya menjadi lebih berwarna...


Wednesday, December 19, 2007

Romantika Masa PTT

Pengalaman masa pengabdian profesi dokter atau yang lebih dikenal dengan istilah PTT [Pegawai Tidak Tetap] Departemen Kesehatan, kerap menjadi sebuah kisah yang tak akan terlupakan bagi dokter dan dokter gigi yang menjalaninya, terutama bagi mereka yang bertugas di daerah sangat terpencil. Mulai dari pengalaman yang menyenangkan hingga tak sedikit pula yang menyedihkan. Dari sekian banyak kisah yang dialami, tampaknya kisah mengenai romantika cinta dokter dan dokter gigi PTT menjadi salah satu kisah yang cukup menarik untuk disimak.


Bagi dokter dan dokter gigi yang masih berstatus lajang, tak jarang dapat menemukan belahan jiwanya saat sedang PTT. Ada yang berjodoh dengan rekan sejawat di lokasi tugas yang sama, bahkan ada pula yang lantas menikah dengan penduduk lokal. Hal ini mungkin tak mengherankan karena interaksi dokter dan dokter gigi dengan rekan sejawat mereka dan juga dengan penduduk lokal biasanya cukup intens.


Witing tresno jalaran soko kulino, cinta bersemi karena seringnya perjumpaan. Mungkin pepatah Jawa tersebut cukup tepat untuk menggambarkan suatu ‘chemistry’ yang terjadi antara sejawat yang masih sama-sama lajang saat sedang bertugas. Interaksi antara sejawat sendiri sudah dimulai semenjak pengarahan awal dari pihak Dinas Kesehatan setempat. Setelah itu, intensitas juga akan semakin meningkat setelah mereka menempuh perjalanan bersama hingga ke kabupaten lokasi peminatan. Jalinan kasih yang kerap terjadi adalah antara dokter umum laki-laki dengan dokter gigi perempuan. Hal ini disebabkan tingginya jumlah dokter umum laki-laki dan dokter gigi perempuan melaksanakan PTT di daerah sangat terpencil. Di samping itu, tak jarang pula terjadi jalinan kasih antara sesama dokter umum dan dokter gigi. Untuk itu, banyak dari mereka yang lantas meminta izin cuti untuk terlebih dahulu mengikat cinta mereka dalam ikatan pernikahan di daerah asal. Namun, banyak juga yang memilih untuk menundanya hingga masa tugas berakhir.


Selain itu, bukan hanya romantika antar sejawat saja yang dapat terjadi. Kehadiran dokter dan dokter gigi yang masih lajang di daerah penugasan yang sangat terpencil biasanya kerap mengundang perhatian dari penduduk lokal baik dari kalangan biasa hingga pejabat yang duduk di pemerintahan setempat. Sudah bukan merupakan cerita yang aneh bila mendengar ada penduduk lokal yang jatuh hati pada dokter dan dokter gigi yang bertugas di daerahnya. Ada banyak cara yang mereka lakukan untuk melakukan pendekatan. Mulai dari rajin untuk mengunjungi Puskesmas tempat dokter dan dokter gigi PTT bekerja, datang ke rumah dinas untuk membawakan makanan, mengirimkan surat cinta, dan lain sebagainya. Cara pendekatan tersebut mungkin masih dibilang wajar, karena tak jarang ada penduduk lokal yang melakukan pendekatan secara mistik, seperti guna-guna. Kejadian ini sudah pernah dialami oleh dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Selain itu, ada juga penduduk lokal yang melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap dokter dan dokter gigi perempuan seperti yang pernah terjadi di daerah Sumatera dan Sulawesi. Parahnya, penduduk lokal yang melakukan pendekatan terhadap dokter dan dokter gigi perempuan bukan hanya yang masih berstatus lajang. Banyak juga dari mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Jika sudah demikian, tak jarang yang jadi sasaran kebencian dari para istri adalah dokter dan dokter gigi perempuan tersebut.


Meski banyak dokter dan dokter gigi yang melaksanakan PTT dalam status lajang, tak jarang juga dari mereka yang telah menikah. Bagi dokter dan dokter gigi yang memiliki suami/istri dengan profesi yang sama, biasanya mereka memilih untuk melaksanakan PTT secara bersama di lokasi yang sama. Namun, terkadang hal ini pun tak lantas menutup kemungkinan bahwa tidak akan ada gangguan eksternal saat mereka bertugas. Terkadang, masih ada saja pihak-pihak yang ingin mengganggu kesetimbangan yang telah terjadi, entah itu datangnya dari penduduk sekitar atau bahkan staf pegawai Puskesmas tempat mereka bertugas. Bagi dokter dan dokter gigi yang memiliki suami/istri dengan profesi yang berbeda, maka saat harus melaksanakan PTT biasanya salah satu pihak harus meninggalkan pihak yang lain. Dalam keadaan seperti ini, terkadang masih ada saja yang berusaha untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.


Ada yang berbahagia, tetapi ada pula yang bermuram durja. Kesemuanya itu akan menjadi kenangan tersendiri bagi para dokter dan dokter gigi PTT ketika telah kembali ke daerah asal. Satu hal yang pasti adalah, tidaklah lengkap sejarah seorang dokter atau dokter gigi bila belum melaksanakan PTT.

Wednesday, December 12, 2007

…Born to Love…

We were born to love.

We were not born to suffer.

There are times when we will meet people who are heartless, and we feel like hitting them from behind. But, we were not born to hurt others.

There are times when we will meet people who are heartless, and we feel insecured, or stifled. But, we were not born to be hurt by others.


Sometimes, we create another person inside us.

Perhaps that is just a way of escaping from pain and suffering.

Perhaps we are only preparing ourselves for escape.

Shutting ourselves and running to another place, in order to talk to that other person, the friend inside us.

That is why no one is ever alone.

Everyone of us has a friend, the person inside of us.

There are times when we think that friend is bad company, that he is cowardly and cruel.

But in reality it is different.

The one that is cowardly and cruel is not our friend, but ourselves.

Why? Because in truth, the existence of that friend is created by us for our own sake.

That is why, we have to part with that wonderful friend.

If we don’t do so, we will always dependent on that person inside us.


So, when will that happen?

It will happen when we meet the person we love.

When we give up loneliness, sorrow, pain, and the person inside us for that person that we love.


Let’s go look for the one we love.

Someone who love whom can talk to about anything, to laugh with, to cry with, to hold each other.

Someone from whom we can courage from, and to whom we can give courage in return.

Cause, the only reason we were born is to love…

Friday, November 02, 2007

Sebuah Keputusan

Tak ubahnya gugusan bintang yang menetaskan cahayanya sendiri, pepasir pantai di negeri Hukurila tampak gemilang dari kejauhan. Berbeda dengan pepasir di negeri Kamarian yang lusuh meski telah berbasuh air laut yang kerap menyambanginya bersama gelombang pasang. Batu-batu karang besar yang menghampar di pojokan tanjung menegaskan pada setiap yang bertandang agar selalu mawas pada keteduhan laut yang sejatinya ganas. Ketegasan tersebut bukan tanpa satu motif yang nyata. Garis pantai negeri Hukurila memang menelikung tepat di tepian laut yang tersohor di dunia karena kedalamannya yaitu Laut Banda. Jika awan gemawan sedang jenuh untuk bergumul, maka langit dan baruna laiknya karib yang tak terpisahkan lagi, pun oleh seutas benang cahaya mentari di siang hari.

Bocah kecil itu sedang duduk termenung di salah satu bongkahan batu karang yang cukup besar. Seakan tak hirau akan resiko maloklusi yang tengah menggerayanginya, dengan santai ia menyandarkan kedua telapak tangannya di bawah dagu sementara sikutnya bersua dengan tempurung lututnya. Angannya tengah jauh melanglang buana ke negeri asalnya, Kamarian, yang terletak di ujung barat daya pulau Nusa Ina. Ada rindu yang melantun merdu ke dalam setiap pembuluh jiwanya. Ada sesak yang berserak di balik bilik jantungnya. Ada pijar yang menggelegar di cemerlang siangnya. Ada pula gersang yang menyerang kala ia merapatkan sampan di tepian dermaga Hatuhuran. Sekejap, ia tepiskan jauh-jauh kesemuanya itu. Segala kegalauan yang dulu pernah menghinggapinya kini telah musnah berkeping-keping. ‘Azzamnya sudah bulat untuk meretas satu impian kolosal meski harus berkelahi dengan waktu.

Ada cakap yang menyergapnya agar duduk mantap di negerinya. Ada yang berujar jika kepergiannya ke tanah ini hanya untuk mengejar kepentingan duniawi semata. Bahkan, tak jarang ada celoteh yang terlontar bahwa anjangsananya adalah demi menghampiri segaraning nyawa. Namun, buncahan demi buncahan telah demikian mendidihkan darah mudanya. Sejatinya, ada sebuah alasan yang tiada akan pernah dapat dimengerti oleh khalayak dan hanya Rabbnya-lah yang mahfum mengapa akhirnya ia harus mengambil keputusan tersebut. Sebuah alasan yang ia harap dapat menggiringnya menatap bilur pesona Sang Kekasih.

Ia sungguh tak pedulikan lagi cakap orang banyak mengenai kepergiannya dari kampung halaman tercinta di usia yang masih teramat dini. Ia yakin bisa bertahan meski dalam kesendirian. Ia percaya bahwa ia mampu hadapi gaharnya angin Barat yang berhembus di penghujung tahun ini. Ia sepenuhnya mengimani bahwa satu-satunya kekuatan yang ia miliki merupakan limpahan rahman dan rahimNya. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, satu keputusan telah ia ambil dan tak ada yang akan pernah ia sesali atasnya. Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billaahil ‘aliyyil ‘adzhiim.

*sebuah tulisan lanjutan dari "Galau"*

Tuesday, October 30, 2007

Baku Pukul Manyapu

Suasana kota Ambon di hari Sabtu, 20 Oktober 2007, mendadak senyap. Seolah terjadi migrasi mendadak, ribuan warga Ambon berduyun-duyun menggunakan angkutan darat dan laut menuju ke negeri Mamala dan Morela yang terletak di Jazirah Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Langit yang berawan sendu tak menyurutkan langkah mereka untuk beranjangsana ke dua negeri yang saling bertetangga di penjuru utara pulau Ambon tersebut. Bukan tanpa perkara yang sederhana bila semangat mereka demikian membara seperti itu. Pasalnya adalah, di tiap hari yang bertepatan dengan hari ketujuh setelah Idul Fitri atau 8 Syawal pada penanggalan Hijriah, dua negeri adat yang penduduknya beragama Islam tersebut mengadakan satu tradisi pukul sapu atau yang lebih dikenal dengan Baku Pukul Manyapu.


Ritual ini dilaksanakan untuk mengenang Perang Kapahaha yang dipimpin oleh Kapitan Achmad Leakawa alias Tulukabessy pada zaman penjajahan dulu. Dalam acara ini, setiap peserta yang merupakan laki-laki asli negeri dibagi menjadi dua kelompok. Mereka lantas harus merelakan tubuhnya dipukuli oleh sapu lidi hingga terluka dan berdarah. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk memukuli kelompok lawan dengan menggunakan sapu lidi secara bergantian. Lidi yang digunakan dalam acara ini bukanlah sembarang lidi. Lidi yang digunakan adalah lidi yang berasal dari pohon sagu yang berukuran cukup besar. Panjang lidi berkisar antara 1,5 hingga 2 meter, sedangkan diameter pangkal lidi mencapai 1 hingga 3 sentimeter. Tak heran bila akhirnya para peserta yang dipukuli tersebut mendapatkan luka yang cukup parah. Namun, uniknya tidak ada satupun dari mereka yang merasakan sakit.


Sebelum acara dimulai para peserta dikumpulkan di suatu tempat untuk mendapatkan doa dari para tetua adat agar prosesi berlangsung lancar dan seluruh peserta diberi keselamatan. Selanjutnya, mereka harus berlari keliling kampung secara bersama-sama.


Meskipun warga negeri Mamala dan Morela beragama Islam, sejak dahulu tradisi tersebut selalu dihadiri oleh pula oleh umat Kristen terutama yang berasal dari negeri yang memiliki kekerabatan [pela] dengan kedua negeri tersebut. Negeri Mamala memiliki pela dengan negeri Lateri, sedangkan negeri Morela berpela dengan negeri Waai.


Acara baku pukul manyapu dilaksanakan di halaman Masjid Negeri Mamala dan Morela dan dihadiri pula oleh Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu. Sebelum acara inti dimulai, pengunjung disuguhi berbagai acara mulai dari penampilan band lokal, tari-tarian adat, hingga pertunjukan musikal dari negeri pela yang beragama Kristen.



Tiba di halaman masjid, para peserta Pukul Manyapu disambut meriah. Mereka langsung mengitari lapangan diiringi sorak-sorai seluruh penonton yang telah menjejali lapangan dan teras masjid. Para peserta yang berjumlah sekitar 60 orang datang dengan menggenggam puluhan lidi. Mereka hanya menggunakan celana pendek dengan dua warna berbeda dan bertelanjang dada. Tim dengan celana berwarna putih mengenakan ikat kepala putih, sedangkan tim dengan warna celana merah menggunakan ikat kepala merah.


Setiap kelompok dari setiap tim yang ada kemudian saling berhadapan. Dengan aba-aba dari pemimpin pertandingan, ritual Pukul Manyapu pun dimulai. Sst… plak… plak…! Bunyi lidi daun sagu berkelebat di udara saat dipukulkan ke tubuh. Kelompok yang mendapat giliran memukul langsung melecutkan lidi mereka ke kelompok yang mendapatkan giliran dipukul dengan lidi. Aturan yang harus dipegang, kelompok yang dipukul baru dapat memukul kelompok yang lainnya setelah ada aba-aba dari pengatur pertandingan. Pergantian waktu itu dilakukan bila peserta sudah mendekati tempat para penonton di pinggir lapangan. Penonton yang berada di pinggir lapangan pun bergerak maju mundur mengikuti irama para peserta. Penonton akan maju bila peserta bergerak ke sisi yang berseberangan, tetapi akan mundur bila peserta bergerak ke arah mereka. Hal ini dilakukan agar penonton terhindar dari lecutan lidi. Terkena sedikit sabetan ujung lidi terasa cukup panas di kulit. Guratan bekas pukulan lidi pun membekas pada seluruh tubuh peserta. Darah segar mengalir dari luka akibat lecutan lidi. Namun, umumnya peserta tetap mengikuti prosesi hingga selesai.


Seusai prosesi Pukul Manyapu, tubuh para peserta di negeri Mamala yang berdarah diobati dengan minyak tasala atau minyak mamala, yakni minyak khusus yang dibuat untuk mengobati luka para peserta. Berbeda dengan negeri Mamala, di negeri Morela bekas luka biasanya diobati dengan getah daun jarak. Tak ada dendam di antara mereka. Pengunjung pun tak lupa saling berebut untuk mengambil lidi-lidi yang telah dipakai selama prosesi. Ada yang mengambilnya sebagai tanda mata, atau mungkin ada juga yang ingin mencoba uji nyali pukul sapu dengan lidi tersebut setibanya di rumah? Tiada yang pernah tahu.

Monday, October 15, 2007

Wednesday, October 10, 2007

...Syawal ini...



…Lambat tapi pasti ekuinoks musim gugur segera disambangi solstice musim dingin, pun cercahan fajar Syawal yang seolah tak sabar tuk meronakan senja di penghujung Ramadhan. Tak ingin Ramadhan segera berlalu, karena sejatinya berada dalam kekhawatiran yang sungguh tiada dapat menemuinya kembali. Adapun manusia hanya dapat berdiri di antara kegetiran dan keyakinan, selebihnya Dialah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu. Semoga dengan sebilah kemaafan yang tulus ikhlas, dapat mempertemukan kembali dengan RamadhanNya yang indah….


The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.” [Gandhi]


~Taqabalallahu Minna wa Minkum~


::Deasy Rosalina::

Monday, October 08, 2007

Bukan Batu Biasa

Di satu malam dengan hujan deras yang disertai gemuruh petir, mantri gigi yang sudah enam belas tahun bekerja di Puskesmas Waimital itu tiba-tiba saja mendapatkan mimpi yang aneh. Ia bermimpi ada satu bintang di langit yang meluncur ke kebun kacang tepat di belakang rumahnya di negeri Hatusua. Tanpa menggubris mimpi tersebut, keesokan harinya ia memang berencana untuk memanen kacang tanah di kebun belakang rumahnya itu. Tak seperti saat panen-panen sebelumnya, ia merasakan kesulitan yang amat sangat ketika berusaha mencabut kacang-kacang di kebunnya dari tanah. Ketika kacang-kacang itu telah berhasil ia cabut, betapa kagetnya ia kala mendapati sebuah batu berbentuk aneh di bawahnya.


Konon, batu tersebut sangat terkenal di Maluku karena tidak sedikit orang yang memilikinya. Orang Maluku biasa menyebutnya sebagai batu guntur karena batu tersebut merupakan batu yang jatuh ke bumi pada saat terjadi hujan badai disertai petir. Ada juga versi yang menyebutkan bila batu guntur itu adalah batu yang terdapat di bumi yang pecah akibat adanya petir yang keras. Batu itu berbentuk gigi seri orang dewasa, halus, sangat licin, serta memiliki dua warna yaitu hitam dan hijau pekat.


Batu ini ternyata bukan batu biasa. Selain sangat baik digunakan untuk mengasah parang karena tingkat kekerasannya melebihi besi baja, syahdan, orang yang memegang batu ini bisa memiliki ‘kekuatan’; tidak akan berdarah bila disilet, tidak putus rambut bila dipotong, dan lain-lain. Tak heran bila batu guntur kepunyaan Pak Mantri tersebut pernah ditawar orang dari Jakarta seharga satu milyar rupiah. Tadinya, Pak Mantri telah setuju untuk menjual batu tersebut, tetapi istrinya melarang dan menghendakinya untuk tetap disimpan. Semenjak itu, menurut pengakuannya, ‘kekuatan’ batu guntur yang dimilikinya menjadi berkurang. Efek yang dihasilkan ketika memegang batu tersebut menjadi berselang seling atau terjadi secara diskontinuitas; dipegang pertama memiliki efek, dipegang selanjutnya tidak memiliki efek, dan seterusnya.


Entah bagaimana mekanisme yang terjadi hingga batu tersebut memiliki ‘kekuatan’ seperti itu. Adakah peran elektron-elektron yang dimiliki oleh batu guntur dan diperkuat oleh energi listrik dari petir? Lalu, bagaimana menjelaskan efek diskontinuitas yang terjadi akibat adanya perselisihan orang-orang di mana batu tersebut berada? Apakah benar batu tersebut juga dapat menyerap aura dari orang-orang di sekitarnya? Mungkin orang-orang yang berkompetensi di bidang fisika dapat menjelaskannya dengan lebih baik. Wallahu’alam bishshawab.


Thursday, October 04, 2007

Masih Mau Merokok ???

Anda punya kebiasaan merokok? Atau Anda ingin mencoba-coba menghisap rokok? Sebaiknya buang jauh-jauh kebiasan atau keinginan Anda tersebut. Kebiasaan merokok selain telah terbukti menjadi salah satu penyebab penyakit jantung koroner dan kanker paru, ternyata juga dapat mempertinggi resiko kehilangan gigi. Hal ini secara konkrit telah dibuktikan oleh Dr. Bayati dari Universitas Malaya, Malaysia. Dalam penelitiannya, Dr. Bayati mengambil sampel 2506 gigi permanen dari perokok dan bukan perokok yang berusia antara 15 hingga 64 tahun pada penduduk Sana’d, Yaman. Hasil yang didapatkan dari risetnya adalah ternyata perokok lebih mudah kehilangan gigi geligi daripada mereka yang bukan perokok.


Merokok sejatinya dapat menyebabkan perubahan panas pada jaringan mukosa mulut. Hal ini kemudian berdampak pada pengurangan aliran darah ke jaringan gingiva [gusi]. Rendahnya kebersihan mulut pada orang yang merokok juga menyebabkan akumulasi plak pada gigi. Akumulasi plak ini lama kelamaan dapat menyebabkan timbulnya karang gigi di bagian bawah gusi tanpa disadari. Dengan adanya karang gigi tersebut, maka perlekatan gigi dengan jaringan penyangganya akan semakin berkurang.


Pada orang yang yang tidak merokok, akumulasi karang gigi pada jaringan penyangga gigi dapat menyebabkan terjadinya peradangan yang salah satunya ditandai dengan adanya perdarahan [seperti misalnya saat menyikat gigi]. Berbeda halnya dengan orang yang merokok, akumulasi karang gigi pada jaringan penyangga gigi tetap menyebabkan peradangan, tetapi karena aliran darah ke gusi telah berkurang, maka akan sulit sekali ditemui adanya perdarahan. Padahal, perdarahan adalah salah satu manifestasi yang menandakan adanya peradangan. Jika tidak terdapat perdarahan, maka akan sulit sekali untuk mengetahui adanya peradangan pada jaringan penyangga gigi secara klinis. Akibatnya perokok biasanya tidak menyadari bahwa jaringan penyangga giginya telah mengalami peradangan.


Adapun proses peradangan jaringan penyangga ini berlangsung cukup lama sehingga biasanya baru disadari apabila telah terjadi kerusakan yang cukup parah. Kerusakan tersebut bervariasi mulai dari sekedar kegoyangan hingga akhirnya kehilangan gigi, meskipun tidak memiliki lubang.


Pada akhirnya, sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa kehilangan gigi akan mempengaruhi proses pengunyahan makanan, penampilan, dan fungsi bicara. Kehilangan gigi belakang, biasanya akan menyebabkan terganggunya proses pengunyahan makanan yang kemudian akan berimplikasi pada gangguan pencernaan. Selain itu, kehilangan gigi depan dapat menyebabkan penurunan rasa percaya diri dan gangguan pada pengucapan huruf-huruf tertentu. Jadi, masih mau merokok juga bila dampaknya demikian banyak ???


Sunday, September 30, 2007

Menyoal Simbol


Cuaca dan situasi kota Jakarta di bulan Ramadhan ini tampaknya memang benar-benar menguji kesabaran setiap orang yang sedang menjalani ibadah shaum. Bagaimana tidak? Darah seakan mendidih oleh matahari yang bersinar demikian teriknya. Kemacetan di seluruh titik ibukota, terutama menjelang waktu berbuka, seolah memaksa orang-orang untuk tetap duduk manis di rumah atau berdiam di kantor hingga lepas waktu berbuka. Pun demikian hal dengan saya, jika saja tidak ada keperluan yang urgen, maka saya memilih untuk tinggal di rumah ketimbang harus pergi ke sebuah kantor pemerintah yang terletak di bilangan Kota, Jakarta Barat, siang itu. Apalagi jika mengingat daerah tersebut rawan akan kemacetan yang disebabkan pembangunan terowongan penyebrangan orang [TPO] di halte busway yang tak kunjung usai.


Sesampainya saya di kantor tersebut, satu realita lagi yang harus saya hadapi adalah : antrian. Selagi menunggu antrian, tiba-tiba HP saya berbunyi tanda ada sebuah SMS yang masuk. Ternyata SMS tersebut adalah sebuah SMS dari salah seorang sahabat saya ketika masih SMU. Setelah membaca SMS yang sepertinya juga terusan dari orang lain tersebut, saya tercenung sesaat. SMS tersebut berisi sebuah peringatan untuk menghindari penggunaan huruf-huruf “4JJ I” [baca : Allah] dalam berbagai penulisan. Ujarnya, huruf-huruf tersebut ternyata menyimpan sebuah makna lain yang memiliki hubungan kuat dengan satu agama tertentu. Intinya, makna yang tersirat dari peringatan tersebut adalah : jika kita menggunakan huruf-huruf tersebut dalam penulisan, maka sama saja kita memuja Tuhan dari agama lain.


Saya lantas jadi berpikir agak panjang mengenai hal ini. Saya pun termasuk salah satu orang yang memilih untuk menggunakan tiga huruf tersebut dibandingkan menggunakan huruf “A”, “L”, dan “H”, terutama dalam penulisan SMS. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun saya lakukan, jauh-jauh hari sebelum datangnya SMS tersebut tentunya. Saya lebih memilih huruf-huruf tersebut karena saya pikir huruf-huruf tersebut cukup representatif sebagai pengganti huruf hijaiyah dalam menuliskan kata “Allah” dan sama sekali tidak ada pikiran bahwa kemudian huruf-huruf tersebut memiliki koneksi makna dengan pemujaan terhadap Tuhan dari agama lain. Jika kini kemudian ada orang yang mengaitkan huruf-huruf tersebut dengan pemujaan terhadap Tuhan dari agama lain, mengapa kita harus terpancing? SMS maupun email tersebut bisa saja dibuat oleh orang-orang yang hendak menyulut emosi antar umat beragama dan menghendaki terjadinya perselisihan. Waspada boleh saja, tapi jika melulu harus menaruh curiga dan segala macam prasangka buruk juga bukan perkara yang menyehatkan jiwa.


Biarkanlah anjing menggonggong, kafilah akan tetap berlalu. Biarkanlah orang-orang itu membikin ribuan akronim, singkatan, atau plesetan yang merujuk kepada agama lain, tapi yang paling penting adalah bagaimana menyikapinya dengan dewasa dan pikiran yang jernih. Jangan lantas takut kepada sesuatu yang sejatinya merupakan buatan manusia. Innamal ‘amalu binniat. Sesungguhnya tiap amal atau perbuatan seseorang itu tergantung niatnya. Wallahu’alam bishshawab.


Saturday, September 29, 2007

Trismus

einfuhlung
kala blok mandibula
berkomplikasi pada buccinator
dan masseter sungkan meregang

ini bukan perihal
ameloblastoma meresorbsi tulang
atau gangren radiks
bermetastase
mengecap endokarditis

saksikan panorama ganglion
trigeminal yang acap tak lelah
entah ke opthalmicus
atau maksilaris

manusia
mau di mana
odontektomi?
bruxism?
bisa saja berujung pada trismus


*...sejatinya amalan-amalan hati tiadalah memiliki batas...sabar adalah salah satu amalan hati, karenanya sabar tiada memiliki batas...Innallaha ma'ashshabiriin, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar...semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan kesabaran kepada kita semua...*


Tuesday, September 25, 2007

Secarik Maaf



bertanya :

Apa yang akan kamu perbuat apabila ada orang yang telah menyakiti hatimu sedemikian rupa?


jawabnya :

Maafkanlah ia,


bertanya kembali :

Pun bila ia telah menyebabkan rentetan masalah dalam kehidupanmu?


jawabnya kembali :

Ya,

Ia berhak memiliki masa depan,

dan dengan keikhlasan serta kemaafan darimulah

Jalannya ke depan akan semakin lapang,

Demikian pula ketika ia harus bertanggung jawab di Yaumul Akhir


*the beauty of life does not depend on how happy you are, but on how happy others because of you*


Friday, September 21, 2007

Tilawah Al-Qur’an Dapat Mengurangi Bau Mulut Saat Berpuasa


Datangnya bulan Ramadhan kerap menghadirkan kesyahduan tersendiri bagi setiap kalbu yang merindunya. Momen-momen penting yang terjadi di bulan Ramadhan rasanya dapat menginspirasi siapa saja yang hendak melakukan rihlah [wisata] ruhaniyah. Mekkah yang berhasil ditaklukan oleh kaum Muslimin, kemenangan tentara Islam melawan tentara kafir Quraisy, kehadiran Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan lebih dari seribu bulan, adalah beberapa di antaranya. Adapun momen terpenting di bulan Ramadhan adalah diwajibkannya puasa dan turunnya Al-Qur’an berbarengan dengan diangkatnya Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah. Oleh karena itu, amal di bulan Ramadhan sejatinya terfokus pada dua hal tersebut. Sedangkan, amalan lainnya merupakan suatu jalan untuk mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.


Karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan [QS. Al-Baqarah : 185], tak heran bila Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk memuroja’ah [mendengar dan menilai] bacaan Al-Qur’an beliau. Oleh karenanya, amat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Tilawah [membaca] Al-Qur’an ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan hakikat dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi, dipahami, dan diamalkan. Allah berfirman :

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” [QS. Ash-Shad : 29].


Maha Benar Allah dengan segala firmanNya, selain mendatangkan pahala yang berlipat ganda apabila dilakukan secara ikhlas, tilawah al-Qur’an pada saat berpuasa ternyata dapat pula mengurangi bau mulut [halitosis / fetor ex ore]. Pada saat berpuasa, selain karena adanya faktor lokal dalam rongga mulut berupa kebersihan mulut yang kurang baik dan faktor luar rongga mulut berupa penyakit kencing manis [diabetes mellitus], infeksi paru-paru, serta infeksi lambung atau usus, tidak aktifnya pengunyahan adalah penyebab utama terjadinya bau mulut. Tidak aktifnya pengunyahan ini kemudian akan memiliki implikasi berupa pengurangan produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga keadaan rongga mulut pun menjadi kering. Pada saat yang bersamaan, zat yang disebut volatile sulfur compound [VSCs] akan meningkat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. VSCs adalah zat yang mengandung hidrogen sulfid, metil mercaptan, dan dimetil disulfid yang merupakan produk bakteri atau flora normal rongga mulut. Dengan meningkatnya kadar VSCs ini, maka aktivitas bakteri anaerob dalam mulut pun akan turut meningkat. Aktivitas bakteri anaerob inilah yang lantas menyebabkan bau VSCs tercium oleh indera penciuman.


Dari paparan sebelumnya dapat dideduksi bahwa air liur atau saliva memegang peranan penting terhadap terjadinya bau mulut. Kondisi yang disepakati sebagai penyebab terjadinya bau mulut adalah berkurangnya air liur di dalam rongga mulut. Jika air liur dalam rongga mulut berkurang, secara otomatis proses pembersihan dalam mulut pun akan berkurang. Dengan demikian, plak pada permukaan gigi pun akan terus berakumulasi dan bakteri yang terdapat di dalamnya dapat menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.


Berkurangnya air liur ini dalam rongga mulut dapat memiliki dua makna, yaitu; produksi air liur oleh kelenjar liur memang berkurang sehingga aliran air liur ke dalam rongga mulut menjadi berkurang atau dapat juga terjadi kondisi di mana produksi air liur oleh kelenjar liur tetap normal, tetapi aliran air liur ke dalam rongga mulut berkurang. Kondisi berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga menyebabkan berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut biasanya disebabkan oleh faktor penyakit [aplasia, sialolitiasis, dll], terapi radiasi pada leher dan kepala, dan usia lanjut. Sedangkan kondisi berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu [atropin, belladona, efidrin], pemakaian gigi tiruan lepasan, merokok, dan puasa.


Kondisi berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur biasanya membutuhkan penatalaksanaan yang lebih kompleks. Sementara itu, kondisi berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut dapat diatasi dengan cara menginisiasi peningkatan alirannya. Cara yang paling sering digunakan untuk menginisiasi peningkatan aliran air liur ke dalam rongga mulut adalah dengan banyak mengkonsumsi air putih ataupun mengunyah permen karet. Namun, bagi orang yang sedang berpuasa dua cara tersebut tentunya tidak dapat dilakukan karena dapat membatalkan puasa.


Adapun tilawah Al-Qur’an sejatinya dapat menjadi satu alternatif yang dapat menginisiasi peningkatan aliran air liur ke dalam rongga mulut. Tilawah Al-Qur’an secara tartil [mentajwidkan huruf dan mengenal waqaf] pada saat berpuasa dapat berperan sebagai suatu substituen dari proses pengunyahan yang akan mengaktifkan otot-otot lidah, bibir, dan pipi. Dengan aktifnya otot-otot tersebut maka kelenjar liur yang terdapat di bawah lidah, dekat telinga, dan di ujung rahang bawah, juga akan lebih aktif untuk mengalirkan air liur ke dalam rongga mulut. Bila aliran air liur ke dalam rongga mulut telah meningkat, maka proses pembersihan secara mekanis juga akan terjadi. Terlepas dari keterikatan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan bau mulut dan dengan tetap memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, hal inilah yang kemudian dapat mengurangi bau mulut pada saat berpuasa.


Biar bagaimanapun juga, berkurangnya bau mulut hanyalah salah satu dari sekian banyak manfaat dari memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Adapun Ramadhan harus dapat menjadi momen untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai langkah untuk meraih keridhoan Allah dan mendapatkan kebarokahan dalam hidup sebagaimana firmanNya : “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [QS. Al-Ma’idah: 15-16]. Jadi, hempas jauh-jauh segala kemalasan dan jangan ragu lagi untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Wallahu'alam bishshawab.

Tuesday, September 11, 2007

Marhaban Ya Syahrul Mubarak


Dalam semburat lembayung di bulan Sya'ban...kerinduan akan bulan Ramadhan laksana khamr yang hendak menelan kesadaran...Namun, apalah arti merindu bila salah dan khilaf pada insan terlanjur membiru? Terhatur permohonan maaf dari lubuk hati yang terdalam dari saya, semoga Ramadhan ini dapat memberikan keberkahan, Amin Ya Rabbal'alamin...

Sunday, September 09, 2007

...September Kelabu...

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria milik kita bersama


Sepertinya tembang lawas yang dibawakan oleh Vina Panduwinata tersebut menjadi tembang wajib acapkali almanak menunjukkan bulan September. Lirik demi liriknya mencerminkan sebuah optimisme dalam menghadapi bulan ke-sembilan pada penanggalan Masehi tersebut. Namun, sebuah kondisi yang paradoksal dengan tembang tersebut sedang dihadapi oleh para dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil. Pasalnya, sudah dua bulan terhitung mulai bulan Juli, dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil belum juga menerima gaji beserta insentif dari Departemen Kesehatan.


Entah mengapa permasalahan gaji dokter dan dokter gigi PTT kini menjadi demikian pelik. Contoh kasusnya seperti yang terjadi di kabupaten saya yaitu kabupaten Seram Bagian Barat. Berhubung kabupaten tempat saya bertugas ini adalah kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Maluku Tengah, maka seluruh urusan perbendaharaan negara masih dipusatkan di kota Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah. Saat pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat dimintai konfirmasi mengenai kejelasan gaji dan insentif para dokter dan dokter gigi, mereka justru melimpahkan masalah ini kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Pihak dinas Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat menjelaskan bahwa mereka akan mengirimkan seluruh daftar nama dokter dan dokter gigi yang bertugas di seluruh unit kerja Puskesmas Kabupaten Seram Bagian Barat kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Kemudian, apabila sudah ada respon dari pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah, maka pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat baru akan mengirimkan data tersebut ke Departemen Kesehatan di Jakarta.


Begitu kompleks jalur birokrasi yang harus dilalui agar gaji dan insentif tersebut bisa turun. Hal ini membuat kebanyakan dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah sangat terpencil harus benar-benar dapat mengatur keuangannya sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan hidup. Padahal biaya hidup di daerah sangat terpencil terutama di Indonesia bagian Timur cukup mahal.


Sebetulnya masalah keterlambatan gaji para dokter dan dokter gigi PTT dari pusat ke propinsi ini bukan tanpa sebab yang jelas. Ketika saya mengkonfirmasi ke Departemen Kesehatan mengenai permasalahan ini, yang menjadi penyebab utama adalah karena banyaknya oknum dokter dan dokter gigi PTT yang tidak bertugas di tempat selama waktu yang telah ditentukan. Sebagai contoh, ada dari mereka yang ditugaskan selama enam bulan di tempat sangat terpencil hanya bertugas selama tiga bulan saja, atau bahkan ada yang tidak pernah berada sama sekali di Puskesmas selama enam bulan! Namun, karena pihak Dinas Kesehatan Kabupaten setempat jarang melakukan pelaporan mengenai perkara ini ke pusat, maka oknum dokter dan dokter gigi PTT tersebut tetap saja menerima gaji dan insentif. Akibat nila setitik, rusak lah susu sebelanga. Karena ulah oknum yang mangkir dari tugasnya, seluruh dokter dan dokter gigi PTT akhirnya harus menanggung konsekuensi.


Sumpah profesi yang dulu digaungkan dengan lantang, kini hanya jadi cerita usang. Idealisme sedikit demi sedikit telah tereliminasi karena materi. Bila sudah begini adanya, bagaimanakah nasib pelayanan kesehatan di Indonesia kelak? Pasien hanya dijadikan obyek untuk menghasilkan keuntungan pribadi tanpa mendapatkan pelayanan yang optimal. Sedangkan dokter terus saja menghalalkan segala cara agar dapat mengembalikan biaya perkuliahan mereka yang cukup mahal. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga idealisme saya sebagai seorang dokter gigi hingga kapan pun jua.


Thursday, September 06, 2007

In Memoriam, Mas Bebek

+ “Ros, cariin aku cewek donk, udah gak betah nih ngejomblo terus”
- “Emang Mas maunya cari yang kayak gimana sih?”

+ “Ya, yang kira-kira mau sama aku aja, hehehe”


Acapkali kita bertegur sapa via Yahoo! Messenger, pertanyaan itu kerap kau ajukan padaku. Meski kita baru satu kali kita bertatap muka saat kopdaran blogger Jakarta di Kebun Raya Bogor Januari lalu, tetapi intensitas perbincangan kita cukup sering. Mulai dari masalah pekerjaan, penulisan, hingga perjodohan. Masih teringat jelas di ingatanku kala engkau dengan begitu gigihnya hendak menjodohkan aku dengan salah seorang sahabatmu. Demi mewujudkan niatanmu tersebut, pulsa yang kian menipis rasanya tak kau hiraukan hanya untuk menanyakan perkembangan ‘proyek’mu dengan meneleponku ke handphone.

Ah Mas Wan, aku sering mengatakan padamu bahwa aku sungguh salut dengan tulisan-tulisanmu. Walau dari penampilan luar engkau terlihat sebagai sosok yang cuek, tapi sungguh sejatinya engkau adalah laki-laki yang penuh kepedulian. Kini, tulisan-tulisan cerdas itu tak dapat lagi kunikmati. Kecelakaan kapal laut di laut Aceh tanggal 2 September yang lampau telah merenggut nyawamu. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Mas Wan, doaku : semoga Allah SWT menerima segala amal dan ibadahmu di dunia dan diringankan segala bebanmu di akhirat. Amin Ya Rabbal’alamin…

* Alm Mas Bebek [Susiawan Wijaya] duduk tepat di depan rosa [Kopdaran Kebon Raya Bogor 060107]


Thursday, August 23, 2007

Serenada untuk Belahan Jiwa

Sayang…
Sungguh belum jua ada ilham yang menyambangiku mengenai siapa sejatinya dirimu, yang menjadi belahan jiwaku. Bertanya-tanya di tiap desahan nafas, apakah kau dan aku telah saling melontar kata, atau memang persinggungan aura itu belum pernah terjadi? Sekejap, seolah ku jumpaimu dalam serpihan do’a, sujud panjang, mimpi, lembaran lontar, atau bahkan pada secarik elegi cinta. Ternyata, isyarat itu hanyalah sebilah fatamorgana, meski roja’ kerap menyertai kala ku kepakkan sayap menuju bianglala.

Ksatriaku…
Aku dengan segenap keimananku sungguh meyakini bahwa engkau adalah lelaki pilihanNya. Engkau adalah makhlukNya yang terbaik yang akan berada di sampingku hingga pada saatnya senja menempa raga. Engkaulah bintang Venus yang bersinar cerah di jingga langitku. Duhai ksatria, terbangkan aku dengan kuda sembranimu menuju romantika cinta yang bukan sekedar semiotika. Kau dan aku disandingkan oleh iradahNya, karenanya ku mohon jangan sekali-kali kau ingkar dari mencintaiNya. Cintailah aku, setelah engkau persembahkan cinta tertinggimu pada Allah dan RasulNya.

Rindu...
Di belahan bumi manapun engkau berdiri kini, meski mungkin tak sebaik padang pertemuan Adam dan Hawa, aku percaya bahwa Sang Pemilik Jiwa telah menyiapkan tempat terbaik untuk kita bersua. Wahai rindu, untuknya tak perlu kau berkeras menyelami Atlantis yang tinggal legenda. Aku pun jua rasakan resah yang menjarah hatimu. Bahkan, kerinduan ini layaknya khamr yang kian menelan kesadaranku. Namun, sekali lagi aku mohon : bersabarlah. Kesabaran akan selalu berbuah indah, dan sungguh sesuatu yang indah akan datang pada saatnya kelak.

Cinta…
Kau adalah imamku. Engkau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu. Karenanya, kenakanlah baju zirahmu tuk bertarung demi kehormatanku karena engkau adalah pahlawan yang telah lama kuimpikan. Hari demi hari akan kita hiasi dengan ketundukan padaNya. Kelamnya malam akan kita terangi dengan tangis munajat kehadiratNya. Sunyinya istana kecil akan kita riuhkan dengan tawa jundi-jundi yang kelak dititahkan melanjutkan perjuangan menegakkan dienNya di muka bumi.

Kasih…
Kau dan aku miliki masa lalu. Masa lalu kerap menjadi bumerang bagi insan yang enggan memandang ke depan. Namun, dengan peleburan jiwa sebuah lembar baru kehidupan pun telah dimulai. Akadnya, kita hidup untuk hari ini dan hari esok, dan tiada guna hari kemarin melainkan ibrah dan mauidzah. Sekali lagi kuyakini bahwa itu adalah bekalan terbaik untuk merengkuh masa depan nan futuh.

Pangeranku…
Tetaplah sanjungkan harap di dua pertiga malammu. Biar ku dengar lamat isakmu di balik hijab penantianku. Duhai pangeran, bukan hanya Pandawa yang bisa berbangga dengan loyalitas seorang Drupadi, satu ikrarku dengan persaksian malaikatNya : aku jua akan berikhtiar tuk menjadi yang kau bangga.


Friday, August 17, 2007

Galau


Seorang bocah kecil sedang berasyik mahsyuk bermain di dermaga negeri Kamarian. Sesekali ia menuruni tangga dermaga untuk kemudian menyusuri pantai berpasir kelabu. Angin Timur yang berhembus di pulau tempatnya tinggal bulan ini jauh lebih ganas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Debur gelombang seolah sigap untuk meluluhlantakkan dinding-dinding penahan ombak yang berdiri di sepanjang garis pantai. Deras hujan seakan hendak menunjukkan bahwa ada yang lebih berkuasa atas bumi dibanding manusia. Namun, sungguh yang demikian itu tak lantas membikin sang bocah bergeming dari tempatnya. Entah apa yang akan diperbuatnya di tengah situasi tersebut. Orang tuanya pun tak tahu berada di mana. Perlahan, dia berupaya untuk mengambil sejumput pasir pantai yang telah basah dengan tangan kanannya. Meski basah, ternyata pepasir itu cukup keras untuk bisa diraup oleh jari jemari kecilnya. Pecahan batu karang yang terbawa ombak lalu terendap di antaranya, atau kerang-kerang kecil yang kerap bersembunyi dengan membuat lubang-lubang mikro di baliknya, bisa menjadi beberapa musabab mengapa pepasir itu kemudian menjadi demikian keras.

Seperti tak mau digelari ‘bocah’ walau dari perawakannya ia baru berusia sekitar empat tahun, ia pun lalu mempertontonkan kemampuan motorik selayak anak usia di atasnya. Masih di bawah butiran-butiran air yang tanpa paksaan meluncur bebas dari kumulus nimbus, diambilnya potongan tempurung kelapa yang terserak bebas di bawah deretan apik pepohonan kelapa yang berjarak beberapa meter dari garis batas pasang air laut. Potongan itu lantas digunakan untuk mengeruk pepasir tersebut. Setelah berhasil mengambilnya, ia pun kemudian mulai menimbun pasir-pasir itu sedikit demi sedikit. Dari gundukan pasir yang dibuatnya, sepertinya ia sedang berusaha untuk membangun sebuah istana pasir. Pemandangan tersebut layaknya sebuah isyarat untuk mendekonstruksi sebuah prasangka yang hadir di awal. Sejatinya, ia bukanlah seorang bocah yang begitu brilian, melainkan hanya seorang bocah yang belum semahir itu untuk melihat semesta dengan kejernihan matanya. Rasanya khalayak ramai telah sepakat menyimpan satu rahasia bahwa mendirikan istana pasir di tengah kondisi yang demikian itu adalah kesiaan belaka.

Berkali ia bermimpi pasir-pasir itu bermetamorfosis menjadi sebuah istana megah bak dalam dongeng seribu satu malam, berkali itu pula ia menatap hujan menggerusnya hingga tirus. Ia lantas duduk terpekur sejenak sembari menyandarkan kedua punggung tangannya ke bawah dagu. Keletihan tergurat di rautnya yang sama sekali belum berkeriput. Rupanya gaung kegagalan yang terngiang di telinganya telah sampai ke susunan saraf pusat. Hipotalamusnya kemudian unjuk diri dengan merangsang sakus lakrimalis untuk menggulirkan buliran-buliran bening hangat dari matanya. Mitos yang diyakini awam kerap menjadi laku manusia seusianya terbukti saat itu. Dalam ketidakberdayaan, apa lagi yang bisa dilakukan olehnya? Sesaat, dahinya tampak berkernyit layaknya orang dewasa yang serius memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang telah membuatnya jadi resah gelisah.

Sedikit demi sedikit hujan mulai menunjukkan sikap yang bersahabat. Butiran yang sedari mula sebesar biji jagung kini telah berkurang menjadi sebesar biji kecambah. Matahari pun tampaknya sudah geram dengan tingkah polah kumulus nimbus yang demikian angkuh bak raja diraja dunia. Disingkirkannya satu persatu kumpulan awan yang menghalau pandangannya. Meski ombak belum mau mengamini kehendaknya, cercahan sinarnya kini mulai mencerahkan wajah pantai yang tadi begitu lusuh. Bocah itu lalu bangkit dari ketermenungannya. Disekanya lelehan air yang tadi sempat membanjiri kedua matanya. Sepertinya, asa untuk mewujudkan legendanya kembali merekah. Potongan tempurung kelapa yang tadi telah dihempasnya lalu direngkuh kembali. Namun, tak seperti saat awal ia mengambilnya, sepenggal keraguan tergores di matanya.

Suatu kejanggalan tiba-tiba saja terjadi. Ia lantas berlari dengan kencang meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoninya. Namun, sekeras apapun ia berusaha, kecepatannya tentu saja tidak dapat mencapai kulminasi karena pasir yang masih basah telah mempersulit gerakan kaki kecilnya. Ia terus saja berlari dan berlari hingga mencapai sebuah rumah kecil di sudut jalan tak beraspal. Rumah tak berpagar itu tampak amat sederhana ; hanya beratapkan rumbia dan dinding yang terbuat dari jalinan gaba-gaba atau pelepah sagu. Walau mungil, rumah itu terlihat begitu nyaman untuk ditinggali. Pohon asoka yang berjejer elok di muka rumah kian menambah suasana asri. Pintu rumah yang terbuka lebar seakan mempersilahkannya untuk masuk. Sebuah ayunan kecil yang tersusun dari batang bambu di samping rumah juga tak ketinggalan merayu sang bocah agar mau bermain di atasnya. Hidung bangirnya lantas mengendus wangi rempah-rempah yang banyak terdapat di negerinya dari dapur yang terletak di belakang rumah. Lambungnya yang memang sedari tadi kosong mau tak mau menjadi bergejolak menuntut pemenuhan haknya. Seakan tak hirau dengan kenyataan itu, ia tetap tak beranjak dari tempatnya.

Hujan kini telah benar-benar reda. Ia lalu membentangkan kedua tangannya sambil menatap cakrawala yang sebagian masih tertutup awan. Memori jangka panjangnya lalu melayang pada sebuah dongeng yang dikisahkan Bundanya kala ia hendak terlelap. Ceritanya bertutur mengenai Abu Thalhah, seorang saudagar kafir terpandang di Madinah. Adalah ia yang hendak melamar Al-Ghuamayda binti Milhan, ibu dari seorang perawi hadits Anas bin Malik. Demi mengejawantahkan maksud tersebut, ia menawarkan tujuh kebun kurma pada perempuan itu dengan syarat dua kalimat syahadat untuk dibaku tukar. Perempuan mana yang teguh untuk tak bergeming mendapati seuntai penawaran selaksa oase di tengah teriknya pergumulan menjadi sesosok orang tua tunggal? Ya, perempuan yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim itulah yang kemudian dengan tegas menandas : “Wahai Abu Thalhah, cukuplah keIslamanmu sebagai maharku!” Gairah keteguhannya tersebut lantas berlanjut menjadi benang merah hidayah bagi Abu Thalhah. Tak hanya sampai di situ, dengan iradah Rabbul ‘Izzati, Abu Thalhah kemudian menjelma menjadi satu dari sepuluh orang yang dijamin menginjak jannahNya. Sungguh, ia juga ingin singgah di satu tempat yang bernama surga itu.

Berkelindan ia dalam angan ; mempedulikan hasrat berarti mengeyahkan istana pasir yang hendak disandingkannya dengan rumah mungil di hadapannya, sebaliknya, menapaki pantai untuk membangun kembali istana pasir sama saja dengan mengubur separuh nafasnya dalam kengerian akan badai. Kengerian akan badai tidak dimaknai sebagai ketakutan menghadapi maut karena Bundanya sering berujar bahwa maut memang satu konstanta yang akan dialami setiap manusia. Bait itu ia artikan sebagai sebuah kegamangan apabila kembali harus menghadang kebengisan angin Timur dalam senyap. Kepala bocah itu kini tertunduk dalam posisi berdiri dengan mata terpejam dan bibir terkatup rapat. Kedua tangannya kini kosong tak memegang sesuatu apa pun jua. Sepoi angin mengibaskan rambut dan ujung helai bajunya. Ia terdiam. Ia termangu.

Monday, August 13, 2007

Kisah Kayu Putih

Selain tersohor sebagai penghasil rempah-rempah nomor satu di Nusantara sehingga kerap dijuluki ‘The Spice Islands’, tanah Maluku juga dikenal cukup banyak menghasilkan minyak kayu putih. Setiap tahunnya, propinsi di timur Indonesia ini dapat menghasilkan sekitar sembilan puluh ton minyak kayu putih. Jenis tanaman kayu putih [Melaleuca cajuputi sub sp. Cajuputi] sendiri memiliki daur biologis yang panjang, cepat tumbuh baik pada tanah yang berdrainase baik maupun buruk dengan kadar garam tinggi maupun asam, tahan panas, dan dapat bertunas kembali setelah terjadi kebakaran. Tanaman ini juga memiliki daya adaptasi yang sangat luas sehingga dapat ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa, atau membentuk hutan kecil di tanah kering hingga basah. Dengan sifat-sifat yang dimilikinya, tak heran bila tanaman kayu putih ini dapat tumbuh secara alamiah di seluruh tanah di kepulauan Maluku yang cenderung memiliki iklim kering. Tumbuh secara alamiah di sini memiliki makna bahwa tanaman ini tidak pernah dibudidayakan secara khusus, diremajakan, ataupun menggunakan bibit unggul. Total lahan tanaman kayu putih yang ada di Maluku diperkirakan dapat mencapai 120.000 hektar dengan kisaran kerapatan 100-160 pohon per hektar. Karena tersebar hampir di seluruh daerah, tanaman ini pun kemudian memiliki nama yang berbeda-beda untuk setiap tempat yang ada di Maluku ; iren atau sakelan di Piru, irano di Amahai, ai kelane di Hila, irono di Haruku, ilano di Nusa Laut dan Saparua, dan elan di Buru.

Adapun bagian dari tanaman kayu putih yang dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak kayu putih adalah daunnya. Daun kayu putih ini mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50%-65%, alfa-terpineol, valeraldehida, dan benzaldehida. Daun ini kemudian akan melalui proses destilasi atau penyulingan hingga nantinya akan menjadi minyak kayu putih yang berwarna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Pada lokasi yang daun kayu putihnya dipanen secara intensif, tinggi pohon sekitar 1-2 meter, sedangkan pada lokasi yang kurang terjamah pemanen, ketinggian pohon dapat mencapai 10-25 meter. Selain daun, bagian tanaman kayu putih yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Maluku adalah kulit batangnya. Kulit batang ini biasanya digunakan sebagai penutup celah antar kayu pada badan kapal-kapal tradisional yang ada di Maluku. Tidak ada yang dapat menggantikan kulit batang kayu putih ini dalam menutup celah pada kapal-kapal ini karena menurut masyarakat lokal, kulit batang kayu putihlah yang paling kuat bila dibandingkan dengan kulit-kulit batang tanaman lainnya.


Kembali berbicara mengenai minyak kayu putih, produksinya di Maluku pada umumnya dilakukan secara tradisional dengan teknologi yang sangat sederhana. Pengolahan daun kayu putih menjadi minyak oleh penduduk lokal menggunakan teknik penyulingan sederhana dan biasanya dilakukan langsung di lokasi pohon. Dua ketel atau tangki besar dibutuhkan untuk satu kali proses penyulingan. Satu ketel berfungsi untuk memanaskan daun kayu putih dan satu ketel lainnya berfungsi sebagai pendingin minyak yang telah dihasilkan untuk kemudian dialirkan ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Untuk menghasilkan satu liter minyak kayu putih biasanya dibutuhkan 100 kg atau sekitar lima karung daun kayu putih. Tak heran bila harga minyak kayu putih murni dari Maluku memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Proses destilasi minyak kayu putih secara tradisional membutuhkan waktu sekitar enam jam. Pada mulanya air dimasukkan ke dalam ketel pertama hingga batas yang telah ditentukan. Air tersebut kemudian dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar hingga mencapai suhu kurang lebih 90 derajat Celcius. Setelah air hampir mendidih, daun kayu putih yang telah dipanen lantas dimasukkan karung per karung ke dalam ketel. Daun kayu putih yang telah dimasukkan ke dalam ketel ini kemudian harus dipilih lagi untuk menghasilkan minyak kayu putih dengan kualitas yang baik. Daun yang dipilih haruslah daun yang sudah tua agar dapat menghasilkan minyak yang banyak. Setelah seluruh daun dimasukkan, ketel kemudian ditutup selama enam jam. Dalam kurun waktu tersebut, minyak atsiri yang terkandung dalam daun kayu putih akan tersuling melalui pipa yang langsung terhubung ke ketel kedua yang merupakan ketel pendingin. Dari pipa di ketel kedua ini, minyak atsiri yang telah mengalami proses pendinginan akan keluar dan langsung ditampung ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Sampai di sini maka selesailah proses penyulingan minyak kayu putih secara tradisional.

Apabila dikembangkan secara baik, sebetulnya industri minyak kayu putih di ranah seribu pulau ini sangat potensial untuk menambah pendapatan asli daerah dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan luasnya lahan tanaman kayu putih yang ada, seharusnya negara tidak perlu lagi mengimpor untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Tidak banyak diketahui memang jika ternyata Indonesia termasuk salah satu pengimpor terbesar minyak kayu putih. Berdasarkan data yang ada, kebutuhan domestik minyak kayu putih adalah 1500 ton per tahun, tetapi saat ini Indonesia hanya memproduksi kurang dari 500 ton setahun. Karena itu sisanya harus diimpor dari negara Cina dan Vietnam.

Tidak terawatnya tanaman kayu putih merupakan salah satu kendala dalam pengembangan jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Layaknya tanaman liar, tidak ada yang mencegah tanaman kayu putih terjangkit hama atau memberantasnya. Jarang sekali dilakukan pemangkasan gulma yang mengganggu tanaman induk. Selain itu, pengembangan minyak kayu putih tampaknya juga kurang didukung oleh kebijakan yang memadai dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Tidak ada koordinasi kebijakan antara Dinas Perindustrian yang membina industri rakyat dengan Dinas Kehutanan yang membina kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman kayu putih di daerah. Industri rakyat juga tidak mendapat insentif atau dukungan yang cukup untuk pengembangan dari sudut pemasaran, pembinaan, dan pengembangan teknologi sehingga masyarakat produsen minyak kayu putih tradisional mendapat keuntungan yang sangat kecil dibandingkan dengan pedagang perantara. Jika berbagai persoalan ini tidak segera diatasi, maka tampaknya industri minyak kayu putih masih akan menghadapi berbagai kendala serius di masa mendatang.


Maraji’
1. IPTEKnet. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=79. 2005.
2. Berita Bumi. Minyak Kayu Putih : Produksi dan Kebutuhan Dalam Negeri. http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=433. 2005.
3. Kompas. Kabupaten Buru. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/05/otonomi/835963.htm. 2004.
4. Produsen minyak kayu putih tradisional negeri Hatusua, kec. Kairatu, kab. Seram Bagian Barat, Maluku : Bapak Yunus Pattiasina

Friday, August 03, 2007

Manusia Dhaif


Satu siang dengan paras surya yang merekah bak putri bunga. Adalah suatu jalan yang telah digariskan, ketika teriknya bergumul dengan kelebatan tatapan tajam menerkam. Itulah perkara yang sejak dahulu dinisbatkan sebagai anugerah, tetapi kelanjutannya dapat menjadi salah satu etiologi dari petaka besar dalam sejarah manusia. Bila kemudian ia bersanding dengan gemerlap keduniawian, maka tak ayal kenistaan telah menanti di ujung jalan. Adapun kilaunya bisa menyambangi tiap pucuk dedaunan muda bersama angin yang mengalir semilir. Karenanya, penampikan demi penampikan tak akan membuat gelora semakin meredup, tapi justru kian meletup. Semiotika lantas dikejawantahkan dalam bilangan-bilangan syair. Setiap ucap harus dimaknai dengan lamat dan cermat. Hening kerap menjadi saksi sejarah berjuta metamorfosis karenanya. Dunia yang makin tenggelam karena runtuhnya pegunungan es di belahan Antartika atau tanah tandus yang berganti menjadi taman bunga dalam tempo sekejap, bisa menjadi sepenggal bukti. Bukan hanya dalam satu babak saja manusia memilih, tapi hidup memang merupakan pilihan, bergerak cepat atau tinggal di tempat. Ketika keputusan untuk bergerak cepat telah dipilih, maka tak seharusnya melihat pada apa yang telah lampau melainkan ibrah dan mauidzah.
---
Memang, terik yang teramat sangat terkadang dapat menyayat urat. Pada saat itu, meski jujur sebilah tutur justru dapat membuat izzah meluntur hingga kemudian futur. Jika sudah demikian adanya, nurani kadang dikhianati dengan alibi terkurung dalam jeruji kejengahan bergelimang angkara. Lantas, apa jadinya seonggok daging bila terjebak di lautan yang asing? Atau adakah belalang dapat hidup tanpa ilalang? Hidup hanyalah persinggahan sementara karena kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kematian datang menghampiri. Karenanya, tiada masa dalam hidup yang dapat digunakan hanya untuk sekedar berpangku tangan. Ia harus diisi dengan kerja keras untuk meraih kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Semesta akan selalu membantu memperjuangkan seuntai legenda, sebodoh apapun itu. Untuk itu, apa-apa yang menjadi legenda senantiasa diasah dengan hamasah. Letih di raga hingga profunda pasti dirasa, tapi bayangan tempat peristirahatan yang demikian eksotis di jannahNya akan memupuskan segalanya.
---
Nyiur melambai riang seolah tak peduli dengan sengatan sinar matahari. Sampaikan sepucuk pesan perjumpaan di balik persembunyian. Mencari dan mencari di tengah keriuhan manusia-manusia yang haus untuk mereguk seteguk air di oase gurun kehampaan. Kemudian sebongkah roja’ dilontar ke ‘Arasy agar hidayahNya serta merta melingkupi jiwa dan berharap agar dapat singgah di tepian jannahNya nan luas. Namun, apakah ikhtiar itu telah salah memilih jalannya? Atau memang hidayah itu sendiri yang tiada ingin digapai? Lama kelamaan cahaya tampak semakin menjauh bahkan menghilang. Duhai gerangan apa yang nyatanya terjadi? Syahdan, arif bijak sejak dulu bertutur bahwa kesetiaan adalah buah dari satu pohon yang bernama cinta. Hubungan kausalitas kemudian berlaku. Jika ia adalah buah, maka ia akan tumbuh dengan sendirinya di pohon itu tanpa ada yang harus memaksa. Sebaliknya, bila pohon itu telah runtuh, apakah buah itu dapat tumbuh? Bisa, bila pohon itu ditanam kembali dan dipupuk agar tumbuh dengan subur. Namun, menanamnya ulang tentu tak semudah laiknya sedari mula. Diperlukan kegigihan dan ketangguhan yang luar biasa untuk mengejawantahkannya. Meski koyak dan air mata terserak di lubuk yang sesak, langkah gontai menuruni sayup Mintaraga.
---
Tak setiap derik jangkrik di sunyinya malam menjelma menjadi epik yang berwujud takikardia. Namun, tak demikian halnya dengan serenada biru yang melantun semu. Lantunannya begitu syahdu hingga tiada sadar tergiring ke lorong gelap. Memang, seberkas cahaya dapat menjadi pelipur lara yang gulita. Bila kemudian terus menerus berharap padanya, maka silau yang akan didapat. Pilihan terbaik adalah membiarkannya layu sebelum berkembang atau izinkan ia melayang bersama hembusan angin. Dengan demikian, angin akan membawanya ke pucuk kebenaran hakiki. Bahwa, siapa yang tak mengenal dirinya, maka tiada akan dapat mengenal Rabbnya. Tak perlu lagi diskursus di gulita malam. Kemegahan luna dapat saja segera bertukar dengan ganasnya jilatan aurora di polar dunia. Semuanya hanya tunduk pada satu aturan dan hanya tertuju pada satu tujuan.
---
Derasnya hujan merupakan salah satu pesona yang kerap membawa ketakjuban tersendiri. Konon setelahnya akan ada bidadari cantik yang turun berbarengan dengan terlukisnya bianglala di angkasa. Meski banyak orang yang kagum karena kesempurnaan yang dimilikinya mendekati kulminasi, tapi tiada pernah ia hiraukan. Mungkin, baginya itu hanya sebuah fitnah belaka. Lalu, mengapakah sebuah fitnah dicakap orang sebagai perkara yang lebih despotis disbanding menghilangkan sebuah nyawa? Ialah fitnah yang sejatinya bisa menorehkan noda kelam pada seorang manusia selama jiwa masih dikandung raga. Selagi bibir tak dapat bertutur jujur tentang hakikat yang sebenarnya, maka yakinlah kuasa Ilahi akan selalu menyertai pada kesejatian. Entah ia akan menghampiri dalam alam kesadaran atau kala bola-bola mata bergerak demikian cepatnya.
---
Rembulan dan kerlip bintang di langit malam selalu menghadirkan romantisme tersendiri pada setiap hati yang merindu. Apalagi ketika sedang memadu cinta dengan Sang Kekasih, berharap buliran-buliran hangat selalu mengalir dari mata sebagai tanda kesyukuran dan kelembutan jiwa. Dalam sekejap, lidah mengalunkan bait-bait puitisasi bak pujangga lama. Apa lacur? Kala bait-bait itu kemudian menjadi sempurna di tengah sebuah penantian akan malam seribu bulan, momen untuk berkontemplasi pun lantas dihiraukan. Segala hipokrit juga serta merta melesat ke titik hampa lantaran sebuah ‘azzam untuk persembahan yang sempurna. Namun, kesempurnaan memang layaknya sebelanga susu yang tak menghendaki setitik nila tercelup di dalamnya. Seluruh kredo akan menjadi tidak berarti lagi bila sudah demikian. Sejatinya, kesempurnaan hanyalah bagi Sang Pemilik Jiwa dan mencari kesempurnaan pada manusia hanyalah ibarat menegakkan benang basah.
---
Allah senantiasa mengajarkan pada makhlukNya, tiada pantas berjalan di bumiNya dengan kepongahan karena segala yang diduga tidak akan ada dalam sekejap dapat saja menjadi ada. Karenanya, pantaskah manusia mengatakan bahwa dirinya telah benar-benar beriman, sedangkan ia belum lagi mendapatkan ujian dalam hidup? Hidup di alam fana hanyalah satu episode di mana manusia harus mengumpulkan bekalan untuk menyongsong satu kehidupan yang abadi. Lantas, sepatutnya manusia bertanya darimanakah ia bisa mendapatkan segala perbekalan yang dibutuhkan sedangkan belum ada secuil pengorbanan pun yang ia lakukan untuk itu. Dari situlah manusia kemudian menyadari bahwa kehidupannya akan berjalan dari satu fase ujian menuju ujian yang lainnya, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Di tiap fase tersebut manusia kemudian akan belajar untuk berkorban demi setiap jengkal bekal.

Sejatinya, Allah tiada akan pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuan dan sungguh ujianNya tersebut merupakan cara Allah untuk membersihkan segala kekurangan yang ada dalam diri manusia. Jika ada kekurangan di satu pintu, maka Allah akan berusaha menyadarkan manusia akan perkara tersebut dengan jalan menutupnya. Ya, ketika sebuah ujian sedang menyambangi seorang manusia, tandanya Ia sedang memberikan cinta yang lebih terhadapnya. Karena hakikat dari ujian adalah setara dengan tingkat keimanan, maka jika manusia tersebut mau bersabar, Allah akan tingkatkan derajat keimanannya. Sebaliknya, jika ia menjadi kufur maka akan Allah turunkan derajat keimanannya.

Seberat apapun ujian yang diberikanNya, Allah tidak akan pernah memalingkan rupaNya dari manusia. Justru, Ia begitu menantikan malam-malam di mana manusia kerap menangis, mengingat berbuih dosa dan maksiat yang dilakukan, merenungi segala nikmat yang telah Ia berikan. Karenanya, hanya Allah sahabat sejati manusia dalam tiap delik kesendiriannya dan hanya Allah sumber solusi atas segala permasalahan yang menimpa manusia. Jadi, masihkah manusia akan berujar, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku memiliki masalah yang besar.” ? jika ia dapat dengan lantang mengumandangkan, “Wahai masalah, sesungguhnya aku memiliki Tuhan Yang Maha Besar.”