Credits to

Powered by Blogger

Saturday, January 27, 2007

bercerita soal Jodoh

Salah seorang teman baikku, M, sedang pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru lantaran stres berat akan masalah yang sedang dihadapinya. Dia beralasan padaku bahwa masalah kliniklah yang paling membuatnya stres. Kebetulan dia kini sedang berada di klinik penyakit mulut dan mendapatkan dosen penguji yang terkenal sulit. Seingatku, klinik penyakit mulut adalah salah satu klinik yang paling menyenangkan. Di klinik tersebut aku tidak perlu risau memikirkan requirement pasien seperti di klinik-klinik lainnya. Di klinik penyakit mulut, tugas mahasiswa profesi hanyalah sebagai pendamping dokter-dokter yang sedang mengambil program spesialis penyakit mulut di RSCM untuk mencatat rekam medik pasien. Selain itu, requirement lainnya adalah membuat satu seminar jurnal dan satu seminar laporan kasus. That’s all. Maka akupun berpikir bahwa pasti ada hal lain yang membuatnya demikian stres hingga memutuskan untuk pulang dulu ke kampung halamannya pada akhir pekan ini. Aku berasumsi bahwa etiologi utama stresnya adalah masalah hubungannya dengan seorang pria. Setelah kukorek keterangan dari salah seorang temanku yang lain, ternyata asumsiku itu benar adanya. Dari keterangan temanku tersebut, M sedang pusing memikirkan hubungannya dengan seorang pria karena tidak disetujui oleh orang tua pria tersebut. Alasannya sungguh klise yaitu permasalahan suku! Menurut temanku yang kumintai keterangan tersebut, orang tua pria tersebut menolak hubungan mereka karena si M itu berasal dari Sumatera Barat, sedangkan pria tersebut berasal dari Sunda.


Hal tersebut membuatku kembali teringat pada rentetan peristiwa yang terjadi hampir serupa dengan kejadian tersebut. Salah seorang teman satu grupku, kita sebut saja dia dengan E, pada saat berada di klinik penyakit mulut dia juga mengalami hal yang hampir sama. Berat badannya merosot drastis dari 47 kg menjadi 42 kg lantaran stres berat memikirkan hubungannya dengan seorang pria bersuku bangsa Aceh yang tinggal di Medan. Kebetulan, si E lahir dari kedua orang tua yang bersuku Batak. Usut punya usut, orang tuanya terutama sang ayah, sangat menentang hubungan jarak jauh mereka itu. Ayahnya memegang prinsip bahwa ia haruslah menikah dengan pria yang bersuku bangsa sama dengan mereka, yaitu Batak, dan lebih spesifik lagi jika bisa berasal dari Tapanuli Selatan. Segala cara sudah dilakukan oleh si E dan pria tersebut untuk dapat melunakkan hati kedua orang tuanya. Namun, hasilnya tetap nihil. Ternyata, sedemikian banyak mutasi dinas ayahnya ke seluruh Indonesia tidaklah membukakan pintu hatinya untuk mengizinkan putrinya tersebut menjalin hubungan dengan orang yang berbeda suku. Si E malah berpikir hal itulah yang mungkin menyebabkan ayahnya masih tetap keras dengan kesukuannya. Bertemu dengan banyak orang dari bermacam ragam adat yang berbeda rasanya kian mengukuhkan pemikiran konservatifnya tersebut. Ada hal yang menarik dari temanku si E ini. Dia pernah berujar padaku bahwa sejak dia tumbuh remaja, ayahnya telah mewanti-wantinya untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang berasal dari tiga suku yaitu, Sunda, Padang, dan Aceh. Namun, apa mau dikata, ternyata belakangan ia malah menjalin hubungan dengan pria dari ketiga suku tersebut. Pria pertama berasal dari Padang. Karena hubungannya ternyata ketahuan oleh ayahnya, akhirnya ia harus memutuskan hubungannya tersebut ketika masih SMU. Pria kedua berasal dari Sunda. Pria yang satu ini kebetulan adalah tetangganya sendiri. Lagi-lagi harus berakhir dengan pil pahit karena hubungannya juga tercium oleh ayahnya. Yang terakhir, dia menjalin hubungan dengan seorang pria yang juga sepupu temanku. Pria ini berdomisili di Medan, tetapi aslinya dia berasal dari Aceh. Aku sempat menanyakan pada si E mengenai alasan ayahnya untuk tidak mengizinkannya menjalin hubungan dengan pria dari ketiga suku tersebut. Dia berujar padaku bahwa ketiga suku tersebut memiliki kecenderungan untuk mendominasi. Orang Aceh cenderung keras [melebihi kerasnya orang Batak tuturnya], orang Padang menganut paham matrilineal [sangat bertentangan dengan suku Batak yang menganut paham patrilineal, sedangkan orang Sunda sering terlalu banyak berbasa-basi.


Masih seputar permasalahan hubungan berbeda suku, salah seorang temanku yang lain juga memiliki masalah yang sama. Kita sebut saja namanya A. Si A ini juga berasal dari Tapanuli Selatan. Dia juga bercerita padaku bahwa hubungannya dengan seorang perempuan agak mengalami halangan dari kedua orang tuanya. Orang tuanya menginginkan bahwa anak laki-lakinya ini bisa menikah dengan perempuan bersuku bangsa Batak. Mereka berpendapat bahwa dengan menikah dengan perempuan satu suku akan lebih mudah nantinya untuk menyesuaikan adat istiadat yang ada. Kedua orang tuanya juga mewanti-wantinya agar kalau bisa tidak menjalin hubungan dengan perempuan dari suku Sunda. Lucunya, justru perempuan yang kini sedang menjalin hubungan dengannya adalah berasal dari Sunda, tepatnya Cirebon. Lucunya lagi, kedua orang tuanya ini juga telah sejak lama mengalami mutasi dinas ke berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar kesamaan itulah, tadinya aku sempat memiliki niat untuk menjodohkan mereka berdua, hehehe. Namun, ketika aku utarakan niatku pada si A, dia berkata bahwa dia akan mencoba untuk mempertahankan hubungannya. Alhasil dia menyarankanku untuk menawarkan ’penawaranku’ tersebut pada abangnya. Jadilah aku dikenalkan dengan abangnya yang ternyata berdomisili di Jakarta, kita sebut saja dia dengan si D. Dari beberapa kali pertemuanku dengan si D ini, aku sempat mengajukan ’penawaranku’ tadi. Namun, ternyata dia tidak tertarik untuk mencobanya karena dia tidak mau merusak kesetimbangan yang sudah ada terlebih dahulu antara si E dan prianya tersebut. Uniknya, si D bercerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan seorang wanita kepadaku. Dia berkata bahwa dia pernah menjalin hubungan selama tiga tahun dengan seorang perempuan sewaktu dia berada di Medan. Hubungannya ini harus kandas dikarenakan orang tuanya tidak menyetujui hubungan tersebut karena perempuan tersebut berasal dari Aceh. Si D pernah berujar padaku bahwa jika sampai usianya yang ke-30 dia belum dapat menemukan seorang perempuan untuk menjadi pendampingnya, maka kemungkinan besar orang tuanya akan menjodohkannya dengan perempuan yang berasal dari Batak. Ternyata, kini di usianya yang ke-27 sepertinya dia telah menemukan perempuan untuk menjadi pendampingnya kelak. Namun, dia sendiri pun masih ragu apakah orang tuanya akan dapat menerima perempuan itu karena perempuan itu berasal dari Jawa!


Hhh....pusingnya mempersoalkan masalah suku dalam pernikahan. Orang-orang yang berpikir konservatif mungkin menganggap bahwa kesamaan suku dalam pernikahan dapat menyelesaikan masalah yang mungkin ada nantinya. Namun, orang-orang yang berpikir moderat berpendapat bahwa sudah tidak zamannya lagi orang harus menikah dengan satu suku.


Ada hal yang menarik untuk ditilik lebih lanjut tentang masalah ini. Dari segi genetika, bila ada dua orang-orang yang berbeda suku atau ras menikah, maka akan dihasilkan keturunan yang unik. Pertanyaannya adalah, seunik apa??? Sekedar contoh saja, jika orang Indonesia menikah dengan ekspatriat, maka biasanya akan menghasilkan keturunan yang memiliki darah berhesus negatif. Golongan darah rhesus sendiri ditemukan oleh orang Barat dengan klaim bahwa rhesus positif hanya ditemukan pada kera. Untuk itu, mereka beranggapan bahwa orang-orang dunia ketigalah [Asia dan Afrika] yang memilikinya. Itu satu contoh yang ditilik dari segi ras. Ada contoh lain untuk diamati pada pernikahan antar suku. Secara genetika, tiap-tiap suku telah dianugerahi karakteristik yang khas. Contohnya saja orang-orang yang berasal dari suku Jawa atau Sunda biasanya memiliki bentuk rahang dan gigi yang kecil. Mungkin ini dipengaruhi oleh jenis makanan mereka di waktu lampau yang lebih banyak memakan daun-daunan. Berbeda dengan orang-orang dari Sumatera yang kebanyakan memiliki rahang dan gigi yang besar. Oleh karena itu, biasanya pernikahan antar dua suku yang berbeda ini [Jawa dan Sumatera] menghasilkan keturunan yang kondisi gigi geliginya dapat renggang-renggang atau malah berjejal. Hal itu banyak kutemukan pada pasien-pasienku yang terlahir dari dua suku yang berbeda tersebut. Ada salah seorang pasienku yang bersuku bangsa Batak-Jawa memiliki kondisi gigi geligi yang amat berjejal. Kondisi giginya yang besar [sepertinya diperoleh dari ayahnya yang bersuku Batak] amat tidak harmonis dengan kondisi rahangnya yang kecil [sepertinya ini dari sang ibu yang bersuku Jawa] sehingga gigi-giginya pun dalam keadaan amat berjejal.


Yang demikian tersebut hanya segelintir contoh. Memang tidak dapat digeneralisir begitu saja, orang yang menikah berbeda suku akan menghasilkan keturunan yang tidak harmonis bentuk rahang dan gigi geliginya [kebetulan saya hanya mengamati dari segi ini]. Keharmonisan bentuk rahang dan gigi geligi justru bisa didapatkan dari keharmonisan suami istri pada saat istri sedang mengandung sang anak. Chemistry yang ada di antara suami istri pada saat istri sedang mengandung terutama pada saat tumbuh kembang gigi geligi, dapat memperbaiki kondisi gigi geligi dan rahang yang tidak harmonis. Kasih sayang suami pada istrinya di kala mengandung sang anak secara embriologi dapat mensinergiskan perkembangan rahang dan benih gigi geligi. Hal yang mungkin terlihat sepele tapi benar adanya.


So, semua telah Allah SWT tentukan untuk kita. Pastinya kita bersama-sama telah mengetahui bahwa rezeki, jodoh, dan maut telah ditentukanNya. Tugas kita hanyalah berikhtiar untuk bisa mendapatkan yang terbaik. Masalah pilih memilih jodoh, Rasulullah telah bersabda bahwa, Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat [HR. Bukhari, Muslim]. Khusus masalah agama, Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah. Sebab dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih. Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus `menyekolahkan` kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik. Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT. Dari sisi nasab atau keturunan, merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang berasal dari keluarga yang taat beragama dan baik keturunannya. Dengan mendapatkan istri dari nasab yang baik itu, diharapkan nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab mendapatkan keturunan yang baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di dalam Al-Quran Al-Karim. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”[QS. An-Nisa : 9] . Sebaliknya, bila istri berasal dari keturunan yang kurang baik nasab keluarga, seperti kalangan penjahat atau keluarga yang pecah berantakan, maka semua itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada jiwa dan kepribadian istri. Padahal nantinya peranan istri adalah menjadi pendidik bagi anak. Apa yang dirasakan oleh seorang ibu pastilah akan langsung tercetak begitu saja kepada anak. Pertimbangan memilih istri dari keturunan yang baik ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab bukan hal yang mustahil bahwa sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik. Namun masalahnya adalah pada seberapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan berpengaruh kepada calon istri. Selain itu juga pada status kurang baik yang akan tetap disandang terus ditengah masyarakat yang pada kasus tertentu sulit dihilangkan begitu saja. Tidak jarang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat. Maka bila masih ada pilihan lain yang lebih baik dari sisi keturunan, seseorang berhak untuk memilih istri yang secara garis keturunan lebih baik nasabnya. Yah, mau menikah berbeda atau sama sukunya tetap agamalah yang menjadi pertimbangan utama. Setelah itu adalah bagaimana nantinya kedewasaan kita dituntut dalam menghadapi terjangan berbagai badai yang pasti akan ada menerpa bahtera.


15 comments:

Sita, Bunda-nya Calya said...

Alhamdulillah aku tidak mengalami masalah seperti teman2 Rosa. Kebetulan aku dan suami juga berbeda suku, aku Jawa, suami Bima (NTB). Ortu dari semula memang wanti2nya cuma satu, yang penting seiman. Btw, kalo perpaduan 2 suku kayak kami tu gimana dengan kemungkinan pertumbuhan gigi-geligi anak2 kami, bu dokter?

RoSa said...

kalau secara kalkulatif
bisa ada dua kemungkinan
kalau gak, si Calya rahangnya besar, kemudian gigina kecil2 --> nantinya, gigina bisa jarang2
atau kebalikannya, rahang kecil, gigi besar2 -->berjejal
nah utk mcegahnya sebaiknya diobservasi terus mba, pas umur2 pergantian gigi susu ke gigi tetap [6-12 tahun] ;)

Edo-S said...

Hhhmmmm...,

Jodoh ? Lagi2 soal CINTA kan ?

CINTA memang aneh Ros,
Ia sungguh tak terbatas. Karena itu, ketika ia ingin dibatasi oleh hal2 yang (nampak) mulia sekalipun, justru hanya akan menambahkan energi baginya untuk memberontak.

Entahlah, cermat ato gak persfektif spt itu.

Yang jelas,
Ber-CINTA lah dg TULUS, karena Ia pangkal dari seluruh energi bagi kehidupan dan keindahan, di sini.

Wah, gak jelas yah.

Salam,

Anonymous said...

bilakah kita berjodoh, Dinda?

-ursecretadmirer-

iDi@N - iPpEN said...

heuheu..yg komen puitis aja nih..

Alhamdulillah ortu gw gak mempermasalahkan suku... yg penting mah se iman, solehah dan baiklah... amiiennn....

salam buat si Abang ya cha.. di tunggu undangannya hehehehe

joni jontor said...

yang bisanya njlimet memang ortu, kemudian kitanya jadi ikut2 rumit.
kalo emang udah cinta ya gmana lagi :P

dewi said...

keiknya baru nanti anak2 dari generasi Rosa yg ngga ngalamin permasalahan suku lagi ya...

Anca Syah said...

Ass. Wr.wb
Wah wah, suka salut dengan postingan Dek rosa yang detail dan teliti.

Hmm, another story ttg cinta tp msh bs di tautkan dengan kedokteran gigi ya
Hehehehehehe

bahtiar said...

hmmmm ... :)

Rinto said...

Rosa,
Salam buat teman mu ya. Hrsnya dia kuat, shg bisa berpikir lbh jernih. Kekhawatiran org tua pada dasarnya adl mereka tdk kenal dengan calon menantunya itu. Jd, cobalah ajak, pertemukan dan kenalkan. Lalu yakinkan org tua bahwa pilihan hatinya akan membawa dia ke masa depan yang baik. Tak kenal maka tak sayang khan?
Mudah2an ada manfaatnya. Insya Allah.

pyuriko said...

Terkadang keinginan ortu tdk sama dgn keinginan anak.

Dulu kakakku jg termasuk yg tdk disetujui menikah dgn suku A... tp alhamdulillah dgn keyakinan bahwa suku A itu adalah jodohnya kakak, Ibupun mau menerima dan mengerti,.. bahwa suku bukanlah alasan atas langgengnya suatu hubungan rumah tangga. Walaupun ada perbedaan, tp tho bisa diimbangin bersama.

Amelia Dewi said...

WOW... pemikirannya soal sukuisme & gigi geligi itu menarik :D
jadi inget hari2 nemenin kakak ku hunting pasien & di klinik. she's a dentist too ^_^

Dik Keren said...

ah bilang aja desi ini blm dapet jodoh! jadi kan nanti orang2 yg ngeliat ke sini lebih tau gitu maunya desi ni apa :D mau nikah sama siapa ya nih anak nanti, udah kalah 3-0 sama gw, ckckck.. buru2 des, nanti keburu expired lo ! :D

*desi, kecilnya suka pamer gigi, apalagi kl difoto, default abis, sampe skrg kali ya :D

*desi cari suku2 tertentu, buat nanti anak2nya punya gigi bagus :D kl gak bagus, paling diservice sendiri heuheuheu

peace aaahhh :D

Bagus SW said...

Assalaamu'alaikum..

Ocha, nda nyangka iseng2 googling, lah malah blogmu yang representatif dengan keyword saya.. (kebayang kan keyword yang saya masukkin di google) Hehe..

Tapi kok ceritanya ngegantung? Pengen tau solusinya dong...

Kayaknya saya tau tuh beberapa inisial diatas, ups..

Harusnya analisis mengenai gigi geligi dijadiin seminar internasional aja Cha, ambil sample yang banyak... Tarik kesimpulan, selesei dah. Hehe...

Kenapa Aceh, Padang, Sunda ya??

Kenapa SELALU ketiga suku tersebut??!!!

Kenapa??

ABSURD! LHO??

btw, Cha, ada secret admirer tuh, wehehe..

Peace ukhti.. Maaf kalo ada salah2 kata.

Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

temon said...

Ooo... jadi karena itu ya gigi saya empet-empetan begini :D
[eh salam dulu luh!] oh iya

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

menarik sekali post-nya nih makasih banyak ya :)
kebetulan ada temen sedang terbentur masalah serupa
[temen apa elo?]
eh serius gw
Ok sekali lagi makasih keep sharing :)
Salam kenal
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.