Credits to

Powered by Blogger

Friday, January 19, 2007

Bleaching dalam Islam

Adakah orang di dunia ini yang tiada ingin tampil cantik dan menarik secara keseluruhan? Rasanya hampir semua orang memiliki keinginan demikian. Tidak hanya kaum hawa, kaum adam pun kini berbondong-bondong datang ke pusat-pusat perawatan tubuh untuk mendapatkan penampilan yang optimal. Tak luput pula dari perhatian adalah masalah gigi dan mulut. Memiliki gigi yang rapi dan putih berkilau bak mutiara tampaknya juga merupakan keinginan banyak orang. Langkah pertama yang banyak dilakukan orang untuk mempercantik gigi adalah dengan membuat gigi terlihat lebih putih. Dr. Bruce A. Matis, seorang profesor yang membidangi penelitian klinis di Departement of Restorative Dentistry, Indiana University, mengatakan bahwa warna gigi merupakan variabel penting dalam senyum yang menarik dan orang ingin giginya kelihatan lebih putih untuk membuat mereka terlihat lebih muda dan lebih cantik dalam rangka meningkatkan rasa percaya diri.


Untuk alasan tersebut, maka kini orang pun beramai-ramai membeli produk pemutih gigi yang dijual bebas ataupun jika ingin lebih aman mereka akan langsung datang ke dokter gigi terdekat. Namun, bagaimanakah sebetulnya Islam memandang perawatan pemutihan gigi [bleaching] ini? Apakah halal hukumnya bagi seorang Muslim untuk menjadikan giginya tampak lebih putih?


Sejatinya, Islam adalah dien yang mencintai kebersihan dan keindahan. Islam amat menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan dan bersih dalam berbagai. Seperti sabda Rasulullah SAW :

"Kebersihan sebagian dari iman" [HR. Muslim, At-Turmudzi dan Ahmad]

"Sesungguhnya ALLAH itu indah mencintai yang indah" [HR Muslim]


Terkait dengan anjuran membersihkan gigi, Rasulullah SAW bersabda:

"Siwak membersihkan mulut dan membuat ridha ALLAH" [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Al Hakim dan Al-Baihaqi]

"Kalau saja tidak memberatkan umatku akan aku suruh menggunakan siwak setiap akan shalat" [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]


Jadi, salah satu bentuk upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah dengan cara bersiwak, gosok gigi, dan lain-lain. Dalam hal ini, pemutihan gigi [bleaching] bisa jadi merupakan salah satu cara untuk memelihara keindahan gigi. Seperti telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, warna normal gigi permanen adalah kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Derajat perwarnaan gigi ini ditentukan oleh ketebalan dan translusensi email, ketebalan dan warna dentin yang melapisi di bawahnya, dan warna pulpa. Dengan bertambahnya usia, email dapat menjadi lebih tipis dan dentin dapat menjadi lebih tebal karena adanya proses fisiologis yang terjadi di dalam gigi. Warna gigi dapat berubah dikarenakan adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor-faktor dari dalam yang dapat menyebabkan perubahan gigi. Faktor instrinsik ini berhubungan dengan adanya penumpukan noda yang terdapat di dalam email dan dentin. Noda ini dapat berasal antara lain dari penggunaan antibiotik tetrasiklin, adanya perdarahan di dalam pulpa gigi [proses nekrosis/kematian gigi], dan gangguan pada saat tumbuh kembang gigi geligi. Adapun faktor ekstrinsik merupakan faktor-faktor dari luar yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi, misalnya saja noda tembakau pada orang yang merokok, minuman seperti teh atau kopi, atau bahan tambal gigi berupa amalgam. Apapun etiologi atau penyebab dari perubahan warna gigi ini dapat ditanggulangi dengan prosedur bleaching, meskipun dengan teknik yang berbeda-beda tergantung faktor penyebabnya.


Terkait dengan bleaching, maka pembahasan tak akan lepas dari domain proses perubahan dalam diri manusia. ALLAH SWT telah menciptakan alam semesta termasuk manusia dalam keadaan seimbang, baik, dan indah. Oleh karenanya, Islam melarang [mengharamkan] merubah ciptaan ALLAH, khususnya pada manusia, apalagi perubahan tersebut berdampak pada kerusakan. Khusus pada manusia, berusaha merubah dirinya yang tidak ada alasan yang kuat merupakan bentuk ketidakridhaan dia kepada ALLAH. Dan merubah ciptaan ALLAH merupakan salah satu cara syetan untuk menyuruh manusia agar mereka bermaksiat. Sehingga merubah ciptaan ALLAH adalah kemaksiatan yang diharamkan ALLAH. Merunut dari penyebab perubahan warna gigi itu sendiri, maka hal ini tidak termasuk merubah ciptaan ALLAH yang diharamkanNya, karena gigi pada dasarnya berwarna putih, dan jika tindakan memutihkan gigi tersebut tidak merusak kesehatan maka hukumnya boleh. Jadi, mungkin sekarang tak ada lagi keraguan bagi Anda yang ingin memiliki gigi putih dan cemerlang bak mutiara.


-Drg. Deasy RoSalina-


Maraji' :

1. www.syariahonline.com

2. Walton R., Torabinejad. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi. Jakarta: EGC. 1998.

10 comments:

Anonymous said...

duh..Rosa..
Jadi inget obrolan kita tempo hari tentang bleaching gigi..
nanti deh..kalo ada rejeki..sekarang pengennya sih bersihin karang gigi dulu niy..^^

kabul said...

klo make bayclin bisa ga yah?

iDi@N - iPpEN said...

chaa.... mau dunk di bleaching.. tapi aku maunay di bleaching hati, biar hilang niy penyakit hati dari hidupku *halah... :D

Anonymous said...

postingan kureenn

Vina said...

Alhamdulillah.. Asiiik,brarti ntar kl daku mudik dikau bleachingin gigiku yaaaah..

DeLaKeke said...

aq bleching sama bu dokter aja deh...
mau khan..
hehehe

arief said...

jadi bleaching halal bu dokter, bleaching khan mengurangi lapisan email lalu di lapis lagi... denger2 harus balik lagi ya stlh lapisan ini hilang akan jd kuning lagi, malah tambah kuning...?
Klo bleaching rambut gimana bu dokter?

triadi said...

wah bisa juga..apalgi kalo bleachingya gratis!!

Anonymous said...

wahhh mau dong bleaching gigi, secara gigiku warnanya sudah jelek banget...
tapi sayang bu dokter nggak nyantumin sekalian berapa biaya bleaching gigi....:))

ss said...

Kalo gigi palsu gimana? bahas ya. dokter gigiku sudah nanya terus dari setahun lalu sembari ngilangin musiba (apa nich bhs indonesia nya?) sementara ini aku pake yg tidak permanen.
salam.