Credits to

Powered by Blogger

Monday, January 22, 2007

Menyusun Legenda

Surya baru saja hendak naik ke singgasananya. Menunggu di titik penantian akan debar tak kuasa. Tak pelak ingin meruntuh ruam-ruam perjalanan lampau. Lewati fragmen dengan sedikit jeda di perbatasan. Tiada gumam tersesali dalam kurun tersebut. Baiklah, mungkin ada tandasan akan ketidakjujuran dalam pencapaian. Sebentar, apakah nyata itu merupakan ketidakjujuran? atau terlalu naifkah mencari kemurnian jalan untuk meraih suatu tujuan?


Sunyi, tak seramai masanya dulu. Kala ratusan kaum intelektual itu berdesakkan untuk menggapai-gapai segala yang ada. Tak demikian dengan sesosok yang terduduk suntuk di satu sudut. Sebentar ada tangis, sekejap kemudian ada 'azzam, sedetik datang ada cemas. Silih berganti bak putaran pedati. Sejatinya, tak ada aroma apapun yang melambungkan memori pada momen-momen itu. Namun, goresan-goresannya masih sedikit merintih perih, mungkin di palung relung terdalam.


Sementara itu, cakapan-cakapan eksotika lain menggerayangi bak lengkingan suara tak berwujud di malam hari. Berdalih. Semua insan telah memiliki jalannya sendiri. Dari bawah yang lantas naik ke atas, ada juga yang dari bukit meluncur ke lembah. Tak jarang, stagnan di kedua titik kulminasi. Apakah semua abadi? Sudah sunnatullah, bak bulatan bumi yang berotasi dalam penggenapan dua puluh empat jamnya, ada titik yang akan mengejawantahkan halnya. Kerap kali kasat mata, tapi tak jarang serba jadi serba gaib. Nampaknya, hanya yang memiliki kejernihan nurani dapat membaca bagaimanapun situasi yang ada.


Sejenak melepaskan bayang-bayang legenda yang tertampik. Bukan untuk dilupakan atau bahkan ditenggelamkan. Legendanya masih sama, hanya saja lewati labirin yang berbeda. Legendanya rasa tak berubah, meski pilihan datang bertubi-tubi. Dan kesemuanya memancarkan kilauan bak bintang di langit. Ada haru, masih diperkenankan menatap hamparan langit nan luas di ufuk barat. Ada harap, kala dihadapkan pada semiotika kejayaan di belahan timur. Ada senyum, saat dibenturkan dengan cadasnya pertarungan di masa mendatang. Entah mengapa, inginnya tetap sama. Hati telah membatu pada legenda itu.


Sebait dua bait rasa hampa bila legenda kembali tak tergapai. Tetap berpasrah, diparaleli ikhtiar, padaNya akan semua jalan dan pilihan. Sekali lagi, tiada sesal akan tertundanya legenda tempo hari. Karena Dia, telah sisipkan kebahagiaan di delik tetesan air mata yang tercurah. Dan di awal tahun ini, sebuah semangat baru tuk wujudkan resolusi diri, dengan izinMu, Rabb Penguasa Semesta Alam. Laa takhof wa Laa tahzan...Innallaha ma'ana...


6 comments:

kabul said...

smakin ribet kate2nye, smakin suse tuk ngartiinnye... jd umpame sale2 kate, maapin aje... :P ~ini toh yg namanya seni~

azfa said...

wah dokter yang satu initernyata sastrwan juga yah... ;)

Anonymous said...

jangan dihapus lagi ya bu dok....
blon ngarti udah ilang...

Anonymous said...

berkisah soal legenda kembali,

apa yang sebetulnya menjadi legendamu Dinda?
bukankah Sang Pangeran hampir dalam dekapmu?
dan padanya, tak henti kulayangkan ucap 'Selamat', 'Selamat', dan 'Selamat', karena tlah berhasil memenangkan pertarungan tuk merebut hatimu

dan aku, hanya dapat berujar lirih..
"betapa beruntungnya ia"

iDi@N - iPpEN said...

Terimakasih buat anonymous aku emg sangat beruntung.. beruntung sekali.. amiieenn... :D
anonymous siapakah dirimu, siapakah namamu? kenalan dunk? :P

kan kujaga selalu dirinya ddi dalam lubuk hati yg terdalam *loh ngomong apaan siy? :P

*kabur ah..ntar ocha lapor ke abangnya, aku bisa di timpukin... *kabuuuuuuuuuuuuuuurr...

Laa takhof wa Laa tahzan...Innallaha ma'ana... *artinya apa yah cha?

iman said...

the alchemist