Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, February 21, 2007

Tunduk



Mi,

mengapa butiran-butiran mutiara

tiada berdaya mengelak ujaran Newton?

menyisakan sembab di cemerlang pagi

tanya : einfuhlung

berkerat sekejap meronta

gaster berkejaran riuh

semesta serasa syahdu


Mi,

mengapa detik-detik lamat nian tuk berputar?

sedang legenda terus mengejar

semburat lembayung hendak menggores senja

yang beranjak raib perlahan tapi pasti

serenada melantun hening dalam jingganya


Mi,

bilakah burung-burung dari Negeri Cumulus

kan sampai di bumi?

sejak mula penantian Lailatul Qadr

yang datang hanya panorama


Mi,

apa tanda patri ‘azzam dalam nurani?

imaji rupa menolak masa di mayapada

tatapan mata bening lelehkan salju

berkas dahi tanda penghambaan

pipi yang melesung dalam tarikan labia

setelah bola-bola opthalmicus

bergerak dengan cepatnya


Mi,

katakan

apa cuma itu yang membikin

sanguinis mendadak plegmatis

hingga kadang autis?

koleris yang tunduk pada kuntum kenanga

mendedah jarak : hingga Selatan

lantas enggan berlayar ke Timur

inginnya mencabik jarak


Mi,

menuliskannya di pasir

hanya kan biarkan ombak menyapunya

melukiskannya di batu

lalu terjangan hujan kan mengikisnya

mencoretkannya di halimun

mentari kan memamahnya kala terik


Mi,

menorehkannya di belantara hati

hanya Ar-Rahiim yang kuasa mencerabutnya

membuncah tapi tak akan pecah

karena sajak-sajak sarat roja’

terlontar seluas cakrawala

tak ada satu gatra pun yang lesap

dan semoga Lauh Mahfuzh jua bertutur

rahim Harafisy sungguh cinderamata

ikhlas tuk menanam benih cintanya

diam,

duduk,

menatap,

Istiqomah


*Mi = Ami = Tomodachi = Freund = Friend


15 comments:

Bali said...

Salam kenal, puisinya bagus,... saya jadi terbawa emosi

Anonymous said...

Bu Dokter yang cantik,

Saya nantikan terbitnya buku antologi puisinya ya. It must be great! =)

bebek said...

bu dokter... capa cih yang terpisahkan oleh lautan itu?? di aceh ya "si yang terpisahkan oleh lautan" :p

Anonymous said...

mau juga donk didoakan di dua pertiga malam oleh Bu Dokter, jangan cuma yang dipisahkan oleh lautan aja, hehehe

btw, lautnya apa sih?Laut Jawa?Laut Cina Selatan?Selat Sunda? ato Samudera Pasifik? *curios mode on* :P

pyuriko said...

Ada yg terpisahkan, siapakah diaa???

kabul said...

ochaaaa.....!!! klo bikin karya jgn yg susyah2 dunk... daku kan tak paham macam kamu tulis nie...

bagi yg mau beli selimut jepang, alquran di kulit, dll... liat aja di
http://kabulshop.multiply.com

Gege said...

Rosaa...
puisinya cantik sekali..
nyentuh hati banget...

agussyafii said...

mbak rosa..
apa kabar?

NiLA Obsidian said...

dear auntie rossa....
perenungannya dalem bgt.....
untaian katanya bikin aku termangu...utk berpikir

RoSa said...

@Bali : salam kenal kembali, terima kasih atas komennya :)

@Anonymous 1 : berkenan jadi publishernya nih? heheheh ;)

@Mas Wawan : hah?!di Aceh???gak usah ngaku2 deh Mas!

@Anonymous 2 : iya, mau didoakan apa nih? lautnya laut apa yah? yang pasti sih laut biru!, kqkqkqkq :D

@Mbak Iko : yang terpisahkan adalah...jreng jreng...siapa yah? ;)

@Kabul : gak susah koq Bul'e, cuma butuh sedikit penghayatan ajah ;)...BTW, bayar royalti yah kalo mo promosi di blog orang!

@Bunda Gege : semoga, apa2 yang tertuang dari hati, akan sampai di hati pula...

@Pak Agus : Alhamdulillah wa Syukurilahh,baik Pak, terima kasih :)

@Bunda Nila : jangan terlampau lama termangunya yah, hehehe

jaya_dc said...

puisinya bagus
tapi
einfuhlung apa ya? :-D
gaster itu perut ya? atau?
maklum rada-rada kuper nih :-)

ahsan_lau said...

Mbak Rosa, trims bgt commentnya di blogku..
sbg new comer tak pantas rasanya dpt pujian dari yg telah sedemikian tunduknya..

Insya Allah, "cahaya" datang kepada siapa saja yg dikehendaki-NYA.. kepada yg mengharapkan perjumpaan denganNYA

RoSa said...

@Mas Jaya : Einfuhlung adl satu istilah dalam ilmu kedokteran kejiwaan yg memiliki arti, dokter harus dapat merasakan apa yang sedang dirasakan dan dibayangkan oleh pasien. Mungkin memiliki kedekatan arti dengan empati. Gaster = lambung :D

@Mas Ahsan : No, pujian itu pantas ditujukan untuk orang yg dapat merangkai kata sedemikian cerdas seperti Mas

jaya_dc said...

Ooh, soalnya berasa spt bahasa Jerman:
einfühlungsvermögen
artinya juga empati atau intuisi

RoSa said...

@Mas Jaya : iya sih, pas saya pertama kali tau istilah itu, udah berasa bahasa Arianya :D