Credits to

Powered by Blogger

Saturday, June 30, 2007

Masjid Wapaue

Awan hitam nan lusuh tampak bergelayut manja di langit pulau Ambon siang itu. Di kiri kanan jalan masih tampak sisa-sisa dinding bangunan yang hancur pada saat terjadi konflik delapan tahun silam. Beranjangsana ke jazirah Leihitu rasanya akan memberikan roman tersendiri bagi setiap orang yang menghampirinya. Terletak di utara pulau Ambon atau berjarak sekitar 46 kilometer dari pusat kota Ambon, ibukota provinsi Maluku, jazirah ini tepat menghadap teluk Piru dan selat Seram. Dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam dari pusat kota, jalan berkelok dan berbukit harus dilalui untuk dapat mencapai daerah ini. Dari kejauhan, pulau Seram dengan bebukitannya tampak samar karena ditutupi kabut yang dibarengi dengan gerimis tipis. Perkampungan nelayan sederhana akan sangat mudah untuk ditemui di sepanjang jalan. Ibu-ibu rumah tangga juga terlihat menjajakan ikan komo atau ikan cakalang kecil segar. Tak lupa barisan pepohonan kelapa, sagu, dan cengkih juga menghias selayang pandang.

Jazirah Leihitu sendiri merupakan salah satu daerah di Maluku yang menjadi pusat penyebaran agama Islam pertama di Indonesia. Selain di Ternate, Maluku Utara, yang pula merupakan pintu masuk Islam, nama jazirah Leihitu kala itu sudah mahsyur. Hingga kini, jazirah Leihitu tercatat sebagai daerah pertama masuknya Islam di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya masjid tertua di Indonesia yang bernama Masjid Wapaue yang terletak di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di desa inilah, masjid yang bertarikh tahun 1414 M ini masih tegak berdiri. Bangunan masjid ini memberikan bukti otentik bahwa penyebaran Islam di pulau Ambon sebetulnya telah berlangsung sekitar tujuh abad yang lampau. Bahkan, bila dibandingkan dengan Masjid Demak yang dianggap sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa sekalipun, Masjid Wapaue ternyata jauh lebih tua usianya. Masjid Demak, sebagaimana candrasangkala di pintu bledeknya, bertarikh tahun 1399 Saka atau 1467 M.

Syahdan, masjid ini dibangun pertama kali oleh Perdana Jamilu, keturunan kesultanan Islam Jailolo dari Moloko Kie Raha (Maluku Utara), dan berlokasi di lereng gunung Wawane. Perdana Jamilu sendiri datang ke jazirah Leihitu sekitar tahun 1400 M untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane, yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehalla, dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari Timur Tengah. Masjid ini kemudian mengalami perpindahan lokasi akibat invasi Belanda di jazirah Leihitu pada tahun 1580, setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima negeri yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, masjid Wawane kemudian dipindahkan pada tahun 1614 ke kampung Tehalla, yang berjarak enam kilometer sebelah timur Wawane. Konon katanya, pemindahan masjid ini berlangsung dengan menggunakan kekuatan gaib. Kondisi tempat pertama masjid ini berada di lereng gunung Wawane (delapan kilometer arah selatan lokasi masjid sekarang) sudah menyerupai kuburan. Jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satu pun daun yang jatuh di atasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan, di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut “Wapa”. Itulah sebabnya tempat ibadah ini diganti namanya dengan sebutan masjid Wapaue, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Berbeda dengan masjid lainnya yang ada di Indonesia, masjid Wapaue memiliki keunikan yaitu menggunakan kayu, berdinding gaba-gaba (pelepah sagu kering), beratapkan rumbia, dan sama sekali tidak menggunakan paku. Sistem sambungannya adalah bagian ujung kayu yang satu masuk ke bagian kayu sambungannya yang lain. Dengan tipologi berbentuk empat bujur sangkar berukuran sekitar 10 x 10 meter tanpa serambi (setelah pemugaran ada penambahan pada bagian serambi dengan ukuran 6,35 x 4,75 meter), masjid ini masih digunakan untuk shalat Jumat maupun shalat lima waktu untuk jama’ah perempuan meskipun telah ada masjid baru di desa tersebut. Bagian utama ditopang oleh empat tiang dan sekeliling dindingnya ditopang dua belas tiang. Layaknya masjid di desa adat di Maluku, di samping kanan kiri mimbar terdapat dua bendera berbentuk segitiga berwarna merah putih.

Di masjid ini juga terdapat sejumlah bukti sejarah merupakan tertua di Indonesia. Mushaf ini ditulis tangan oleh imam pertama masjid ini, Muhammad Arikulapessy, pada tahun 1550. Pada mushaf ini t antara lain adalah mushaf Al Qur’an yangak ada iluminasi atau hiasan pinggiran sebagaimana terdapat pada Al-Qur’an saat ini. Selain itu, terdapat pula timbangan zakat kayu dengan pemberat batu karang berbobot 2,5 kilogram, tongkat khotib, dan lampu minyak kuno yang masih tergantung.

Sayup mentari mulai tersembul di balik awan langit Kaitetu meski gerimis masih menangis. Perlahan tapi pasti kaki harus kembali melangkah. Telusuri perjalanan-perjalanan berbuncah eksotika di ranah seribu pulau. Bismillah.

4 comments:

kabul said...

seakan diriku berada disana.. enak banget ceritanya, detailnya itu loh.... MAK NYUZZ !!! :D

kabul
~lg ga horny~

Dimas said...

Ass wr wb,

Wah ternyata perjalanannya bisa menyaingi Riyani Djangkaru rupanya :D saya sendiri jadi teringat kalo salah satu da'wah Islam adalah di daerah ini ... subhanallah.

Terusin posting ya d semoga informatif dan bermanfaat bagi yang lain juga :)

Wass wr wb

--Dimas

Bunda Faikar said...

eehhh Bu Dokter lagi terdampar di Ambon ya...
Selamat bertugas ya Rosa,
ki o tsukete kudasai.....

patriawan said...

Asslamualaikum wr. wb.

Kemarin saya baru dari Ambon, sempat mampir di masjid ini diantar teman. Emang bener2 terasa syahdu sholat Jumat di situ, walaupun udara di luar puaanas banget, tapi pas menginjakkan kaki di dalam mesjid, suasana hening dan sejuk terasa sekali walaupun jamaah jumat sudah relatif penuh... jadi bikin ngantuk. Tapi ajaib.... ngantuknya langsung ilang, soalnya pengurus mesjid memukul bedug dengan keras sekali, bukan apa-apa, bedugnya ada di dalem mesjid dan gede pula, he he... untung saya gak latah...

Wassallam,
Hendra Patriawan