Credits to

Powered by Blogger

Monday, June 04, 2007

Takdir




Tak pernah terbersit sebelumnya dalam benakku untuk berdiam di ranah itu. Ranah yang demikian jauh dari kampung halaman, melewati ribuan awan, menyeberangi ratusan pulau, dan melintasi puluhan laut. Ranah yang khalayak bilang merupakan ranah yang sarat konflik, rawan kekerasan, dan penuh kebengisan. Namun, laiknya mimpi yang memaksa diri untuk tidak terjaga, ternyata aku kini benar-benar berada di ranah itu. Dalam semburat ketercabikan, sebuah kenyataan telah menanti di hadapan, tugas pengabdian profesi harus dijalani, dan semua thagut keengganan harus dipecut.


Adalah iradahNya, yang telah menuntun diri untuk menentukan pilihan ini. Tiada sanak saudara atau pun handai taulan yang pernah singgah di ranah ini. Tak ada pula gambaran paripurna mengenainya. Berbekal tawakkal Ilallah, nurani pun tergerak menggenapkan capaian yang dulunya hanya sebilah asa. Hati kerap bertanya, adakah jalan yang lebih indah dibandingkan jalan yang telah ditunjukkan olehNya? Saat itu juga ia kan menjawab : Tidak. Sebesar apa pun makar yang diciptakan oleh manusia, tiada akan ada yang dapat mengalahkan makar Allah.

Dalam eksotika gelombang kehidupan yang kian menderu, bersabar menanti tiap detik untuk jalani hari demi hari. Begitulah sejatinya seorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, kesenangan akan membawa diri pada kesyukuran dan kesulitan akan mendorong diri ke puncak kesabaran. Momen ini adalah momen pembuktian, bagaimana sebuah cita harus dikejawantahkan. Bukan sekedar mimpi atau hanya sebongkah janji, tetapi diri harus dididik untuk mengurai benang kusut agar kelak ia dapat menjadi pribadi yang tangguh. Ketangguhan tak semata diperoleh dari secercah tekad, tapi jua harus dimatangkan dengan menghadapi berbagai aral. Sebuah awalan yang menyakitkan belum tentu diakhiri dengan episode kepedihan dan sebaliknya, permulaan yang menyenangkan tidak selalu ditutup dengan babak kebahagiaan. Sungguh, Allah Maha Adil, Dia telah menentukan tiap rezeki, jodoh, dan maut bagi hambaNya. Oleh karenanya, tidak sepatutnya hati diliputi oleh rasa iri atau bahkan dengki pada makhlukNya yang lain.

Ini baru awal perjalanan, seorang manusia dhaif harus melaluinya dalam kesunyian dan kesendirian. Meniti langkah dalam rangkak untuk mengejar jannah sebagai legenda utama. Semoga gelora cinta padaNya kian membuncah pada tiap kontemplasi di alamNya. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?

13 comments:

ES alias WH said...

Cha,

Sunyi selalu saja membuat kita merasa sepi, sendiri....

Padahal, seringkali DIA menghadirkan banyak "cerita" pada sepi itu, untuk dinikmati keindahannya.

Tak percaya kah kau ?

Salam dari kejauhan :
=====================
WH

iDi@N - iPpEN said...

Ayo Chaaaaaaaaaaaaaaa tetep semangkaaaaaaaaaaaaaa ups semangaaaaaaaaaaaat.....
tinggal beberapa bulan lagi kan :)

Anisa said...

Rosaaaaaaaa kangen nih,,,apa kabar ?
Hayooo Rosa bisaaaaaaaaaaaaa

Munawir said...

huhuhuhu... curang lo cha... foto bareng nyokap gw di halaman rumahkuh yang tercintah... gw aja dulu sekali kesana ga sempat foto-foto... huhuhuhuhuhuhu...

NiLA Obsidian said...

welkambek auntie Rosa....
perjalan mu ke ranah yg sebelumnya antah berantah.....semoga menjadi awal dari semua perjalan mu ke depan....
perjalanan menuju kedewasaan, menyikapi hidup...bukan melulu hanya karir dan pencapaian materi ya....tp juga bathin....

mizz u

ahsan_lau said...

Mbak Rosa,

yang sabar ya.. dulu diawal karir saya penempatan awalnya lbh jauh lg lho.. di Papua, 6 thn boo !! :D

Insya Allah, ada hikmah yg besar dibalik ini.. dan hanya manusia yg berjiwa besar yg diberi cobaan yg berat.

Salam dari jiwa,

Ica Dimyati said...

m rosa salam sayank selalu salam kangen salam rindu pokoknya semuwanyaaa hiks jgn menghilang lg ya ttp semangat ttp kasi kabar ...luv yu sis

jaga diri , kesehatan jg ya bu dokter...ok

dik said...

sumpah!! gw ini dipaksa buat ngisi komen!! males banget sebenarnya ngisi komen buat nih anak, itung2 gw ngehibur aja deh :D

gw tau des lo tuh kesepian, gak gaul lagi, jauh dari kota, tapi plisss dehh gak usah maksa2 gw buat ngisi komen :))

ngasih semangat ke desi ??? mending manja2in dia aja, dia tuh senengnya dimanjain, ya dimanja2in ngerti lahh :D

ok des... insyaAllah kita jalan2 ke jepun akhir tahun ini, tapi sekali lagi deh, plisss jgn sebut2 nama bokap lo lagi, gila aja lo ampe umur segini bokap lo masih nganterin lo lagiii ??? maaf, gak ada bajaj sampe ke tokyo!! apalagi bemo... beuh, gak deh des.. ampun gw ampuuunnn... uh sudahlah, lupakan, gw tau sih bokap lo kangen ma gw :)) wakakakaka

note:
kamar lo tuh gelap banget, gak ada lampu ? tapi pc bisa idup yak, pake petromak kali ye kamar lo :))

hehe iya, lo jadi tembem gituh des :)) bagus deh, biar gak cupu lagi :D

Anonymous said...

Asw Cha...
dari orang meruya neh
Yang sabar aza yah Cha, makin berat cobaan yang menimpa kita, Insya Allah makin tertempa jiwa kita dan semoga makin cantik pula jiwa kita.. ya semoga, walaupun tidak jadi sempurna, tapi kita bisa menjadi manusia-manusia yang lebih diridhoi Allah, semakin matang menjalani hidup ini, dan lebih dewasa n bijaksana, amin :D Diatas langit masih ada langit, diatas cobaan berat yang menimpa kita, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat yang menimpa saudara-saudara kita yang lain.
So... Caiyoooooooooooooooooooo!!! (jangan lupa freetalk kalo dah ada kepastian yah, 2 or 3? :p)
Wass

bibipbondry said...

waaa si tante lagi ngjalanin penempatan yah..gag ada yg lebih mulia drpd menolong org kecil^o^ pasti bnyk hikmahnya dah Alloh slalu punya rencana hebat buat hambaNya. Hebat tante... ganbatte ne simpasinaide...^o^

Spedaman said...

Wuih keren2 juga yak pemandangan disana.

selamat mengabdikan diri kemasyarakat pedalaman ya!

suatu saat nanti, Spedaman juga akan penempatan ke Indonesia Timur.

*tapi semoga aja ke kota yg ada bioskopnya* :P

Evy., DDS., OMFS said...

wah selamat akhirnya berangkat PTT juga ya...sukses yaa... enjoy your time there

Ady said...

Hi dok berangkat PTT yah?? wah asik tuh dulu saya di Tolitoli Sulteng.. emang dokter dimana??
Semoga betah ya...
Salam