Credits to

Powered by Blogger

Sunday, July 22, 2007

Cerita Taniwel

Taniwel. Acapkali mendengar nama itu, rasanya hampir semua penduduk di desa Waimital bergidik ngeri. Bukan karena salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Seram Bagian Barat itu merupakan kecamatan yang angker atau berbau mistis, tapi hal tersebut lebih dikarenakan faktor lokasi dari kecamatan itu sendiri. Ya, kecamatan Taniwel memang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Seram Bagian Barat yang memiliki lokasi sulit dijangkau dari desa Waimital. Berjarak sekitar 120 kilometer dari desa Waimital, kecamatan Taniwel terletak di pegunungan bagian Utara pulau Seram. Adapun jalan yang harus dilewati telah mengalami kerusakan yang amat parah sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat mencapai lokasi ini. Hal itulah yang rupanya mendatangkan keresahan tersendiri bagi penduduk desa jika harus memiliki urusan ke daerah tersebut. Selain sulitnya akses untuk mencapai lokasi, minimnya sarana komunikasi di kecamatan Taniwel juga menjadi salah satu penyebab mengapa banyak penduduk yang enggan untuk pergi ke sana bila tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Tidak adanya satu pun pemancar sinyal dari perusahaan-perusahan komunikas selular di Indonesia menyebabkan penduduk di kecamatan ini harus menggunakan telepon satelit bila ingin melakukan komunikasi melalui telepon. Listrik di kecamatan ini pun hanya menyala selama 12 jam mulai pukul 18-06 WIT.


Berbagai rupa pendapat orang di desa ini mengenai Taniwel tak lantas membuat keinginanku untuk menjejakkan kaki di kecamatan itu mengendur. Aku telah bertekad bahwa selama aku masih bertugas di sini, aku harus dapat menjejakkan kakiku di kecamatan tersebut. Alhamdulillah, akhirnya tiba juga kesempatan yang aku tunggu tersebut. Secara kebetulan, ada seorang wakil anggota DPRD kabupaten Seram Bagian Barat yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera mengajakku turut serta dalam kunjungan komisi untuk dengar pendapat dengan para raja di kecamatan Taniwel. Tanpa berpikir dua kali, aku pun langsung mengiyakan ajakannya tersebut. Pukul 8.30 WIT aku bersama rombongan anggota DPRD kabupaten Seram Bagian Barat berangkat dengan menggunakan Innova milik Pak Waka DPRD dari desa Waimital. Menurut si Bapak, perjalanan kami akan menempuh waktu sekitar empat jam. Dari desa Waimital kecamatan Kairatu, kami terlebih dahulu harus mencapai ibukota kabupaten Seram Bagian Barat, Piru, yang berjarak sekitar 40 kilometer. Perjalanan Waimital-Piru sudah cukup sering kulakukan karena untuk pengurusan segala administrasi berlokasi di sana. Untuk menuju Piru, kami harus melewati jalan menanjak yang cukup curam dengan tikungan yang sempit. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa melalui jalur ini, biasanya akan mudah sekali terkena mabuk darat. Tekanan di dalam telinga pun mendadak akan meningkat karena sedang berada di ketinggian beberapa ratus meter dari permukaan laut. Untungnya, kondisi aspal jalan yang harus dilalui masih cukup bagus sehingga perjalanan menuju Piru hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam saja. Setibanya di Piru, kami harus menjemput terlebih dahulu salah seorang anggota dewan yang berdomisili di ibukota kabupaten Seram Bagian Barat ini. Kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kecamatan Taniwel.


Dan, di sinilah awal petualangan itu dimulai. Selepas dari pusat kota Piru, kami mulai memasuki jalan yang aspalnya sudah demikian rusak sehingga mobil harus berjalan pelan-pelan. Medan menuju Taniwel memang sepertinya sangat cocok untuk digunakan offroad, karena selain jalan yang menanjak menaiki gunung, kondisi jalan tersebut sudah dalam keadaan rusak parah di sana-sini. Namun, kondisi yang demikian dapat diimbangi dengan pemandangan yang demikian mengagumkan di sisi kanan dan kiri jalan. Di sisi kanan jalan, bebukitan dengan padang rumput luas yang diselingi dengan pepohonan serta ilalang begitu menyegarkan pandangan. Mungkin jika padang rumput seperti ini ada di Jawa, banyak pengembang yang akan menjadikannya sebagai lapangan golf. Bukan hanya itu, di sisi kiri jalan panorama yang tak kalah meluluhkan membuat perjalanan ke Taniwel menjadi begitu menyenangkan. Birunya Laut Seram beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya tampak demikian jelas dilihat. Panorama ini dapat disaksikan terus hingga kami memasuki desa Pelita Jaya, salah satu desa yang mash berada di kecamatan Piru.


Selepas desa Pelita Jaya, jalan yang harus dilalui boleh dibilang lebih jelek dibandingkan sebelumnya. Banyak lubang di kanan dan kiri jalan yang membuat mobil harus ekstra hati-hati untuk melaju. Panorama di sisi kanan dan kiri jalan yang dapat disaksikan kini hanyalah rerimbunan hutan hujan tropis. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WIT, tapi kami belum juga sampai di kecamatan Taniwel. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang dapat ditemukan. Hingga akhirnya pada pukul 12.15 WIT, kami melewati dusun Wee, salah satu dusun yang terdapat di kecamatan Taniwel. Namun, bukan hanya sampai di situ saja tujuan kami karena kami harus mencapai desa Taniwel, desa yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan Taniwel. Pada pukul 12.30 WIT, kami sampai di desa Lisabata. Desa Lisabata adalah salah satu dari tiga desa yang berpenduduk Muslim di kecamatan Taniwel selain desa Kasiye dan Sukaraja. Di kecamatan Taniwel sendiri terdapat 34 desa hingga perbatasan dengan kabupaten Maluku Tengah.


Setibanya di Desa Lisabata, rombongan kami pun singgah sejenak di rumah Sekretaris Desa Lisabata untuk melaksanakan sholat Zuhur dan makan siang. Sembari menunggu rombongan yang lain selesai sholat, aku menggunakan kesempatan ini untuk berkeliling-keliling desa. Ternyata, hampir seluruh desa di kecamatan Taniwel ini berada di garis pantai Laut Seram. Cuaca di daerah ini cukup panas dan begitu membakar kulit. Setelah seluruh rombongan usai melaksanakan sholat Zuhur, kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa Taniwel pada pukul 13.30 WIT. Pada pukul 14 WIT kami pun akhirnya tiba di desa Taniwel. Setibanya di desa ini, kami langsung disambut dengan terik mentari yang begitu menyengat serasa menyayat urat. Di kantor kecamatan telah menanti puluhan raja yang memimpin negeri [desa] di Taniwel. Raja-raja tersebut tampak sangat bersemangat untuk menyalurkan aspirasi mereka kepada para anggota dewan. Cukup banyak permasalahan yang mereka utarakan dalam forum yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut. Adapun permasalahan yang paling banyak dikeluhkan adalah mengenai minimnya sarana transportasi jalan yang bagus khususnya ke arah timur kecamatan Taniwel dan keterbatasan tenaga kerja yang bertugas di dinas-dinas pemerintahan setempat. Selain itu, telah rusaknya berbagai infrastruktur yang ada di desa-desa kecamatan Taniwel juga menjadi keluhan yang cukup banyak dilontarkan oleh para raja.


Aku sendiri pada forum tersebut diperkenalkan oleh Pak Waka DPRD sebagai dokter gigi yang sedang melaksanakan PTT di Puskesmas Waimital Kecamatan Kairatu. Rupanya, kehadiranku dalam forum turut mengundang perhatian dari para raja di Taniwel. Mereka mengeluhkan tentang minimnya tenaga dokter PNS yang bertugas di kecamatan ini. Untuk itu mereka juga sempat meminta kesediaanku agar mau bertugas di kecamatan Taniwel. Tidak kukira sebelumnya sambutan mereka terhadapku akan demikian hangat. Hingga saat rombongan kami akan kembali pulang, mereka berbondong-bondong menghampiriku ke mobil untuk sekedar memberikan salam. Bahkan, ada beberapa orang dari mereka yang meminta alamatku untuk disambangi apabila sewaktu-waktu mereka punya kesempatan datang ke Jakarta.


Taniwel, akan tetap menjadi satu kecamatan yang mungkin cukup terpuruk di Maluku bila tidak ada tindak lanjut dari berbagai aspirasi yang telah disalurkan. Semoga saja setelah forum dengar pendapat tersebut akan terjadi banyak perbaikan di kecamatan ini sehingga tidak akan ada lagi orang yang bergidik ngeri ketika mendengar atau menyebut nama : Taniwel.


9 comments:

Dimas said...

Ass wr wb,

Sehubungan dengan potensi yg mereka miliki cukup tinggi seperti alam dan demografi, hal ini seharusnya membuat daerah Taniwel memiliki kemampuan untuk meningkatkan ekonominya.

But alas ... sepertinya masih belum ada usaha yang kentara dari pihak pengembang.

Mungkin dimulai dari sisi infrastruktur komunikasi barangkali ? Low cost internet, VoIP, fax, email, dll ?? Hmm ... mungkin alternatif ini termasuk dapat diperhitungkan.

Insya 4JJ1 suatu saat nanti bisa berkembang, amin.

Wass wr wb,

--Dimas

Gonderuwo.... said...

Duuuhhhh....senengnya nih yang lagi sering banget 'dianter' ma Pak Waka DPRD. Duduknya di kursi depan or belakang neh ?

Weekkzz....!

kabul said...

jd pengen kesono.. tp kok raja2nya kagak ada yg pake pakaian perang yak? masak sih raja make baju dines??? pns yah? wah, makin jauh aja neh petualangan sang dokter mencari cinta... =))

T A T A R I said...

rosaaa..pa kabar??
seru ceritanya

Anonymous said...

Asw Cha!...
Ehem ehem... ooww... jadi ini toh keseluruhan cerita dari sepenggal cerita yang kamu ceritakan ke aku lewat freetalk?! Hmm...
Wah... kok yang kebayang dipikiranku malah hal yang lain yak????!!!!
Nani koreeeee??! ;)
Hmmm.. kayaknya perjalannya lumayan romantis, sekaligus menegangkan yah...
Yah, aku cuma bisa komen ini aja dech,semoga Allah SWT senantiasa melindungimu nak. Amin. Wass : orang meruya

iDi@N - iPpEN said...

hemm waktu di forum DPRD itu selain di kenalkan ama pak Waka.. di kenalin ama siapa lagi cha *hehehhe....masih sering di SMS-in gak :P

RoSa said...

@K Dimz : Iya, semoga saja nanti habis pulang ke Indo, K Dim bisa jadi salah satu tokoh pengembang komunikasi di Indonesia Timur yah, hehehehe

@Gonderuwo : Duh, ni orang sirik aja sih, mau tauuu aja, terserah beta donk mau duduk di depan ato di belakang, wekzzz :P

@Kabul : hehehe, iya thu Bul'e, status raja-raja di sono pan PNS aseli :D

@M'Tatari : Alhamdulillah, kabar rosa baik aja mba :X

@Orang Meruya : huehehehe, romantis dari HongKong???! orang jalannya ancur gitu koq dbilang perjalanan romantisss ???

@Ippen : ya, yang ngenalin cuma Pak Waka Pen, scara dia pimpinan forumnya gitu lho, hehehe

Anonymous said...

Selamat.

Beta dari tanah Belanda, tapi opa-ku lahir di Negeri Taniwel.

Mengkali ale ada foto2 dari Negeri Taniwel?

Minta maaf tapi beta pun bahasa indonesia seng baik!


Selamat dan hormat dari tanah belanda!

puji obets said...

Aku datang dari jawa,udah 2mlm..dan smentara msh tinggal di kediaman bu Camat Taniwel..
Yg rencananya akan memajukan kecamatan Taniwel
Ada yg ingin di pesan?