Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, July 25, 2007

Ibrah dari Seorang Raja

Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shalih, serta jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh nikmat.” [QS. Asy-Syu’ara: 83-85]

Awan kelabu sedikit menggelayut di langit pulau Seram siang itu. Rencananya, setelah pulang dari Puskesmas aku ingin merekam gambar-gambar pemandangan indah di sebuah gunung yang berjarak kurang lebih 25 kilometer dari desa Waimital, kecamatan Kairatu, tempatku bertugas. Di negeri [sebutan untuk desa di Maluku] yang bernama Hunitetu tersebut konon katanya akan dapat disaksikan pemandangan laut, gunung, dan padang rumput yang begitu menakjubkan. Namun, menurut informasi yang kudapat dari beberapa orang, untuk mencapai lokasi tersebut tidaklah mudah karena selain kondisi jalan yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah, banyaknya tanjakan dan tikungan tajam juga membuat perjalanan ke sana menjadi amat melelahkan. Apa hal ini membuatku patah arang untuk menuju tempat tersebut? Tentu tidak! Hal ini justru membangkitkan jiwa petualangku untuk mencapai negeri Hunitetu. Kebetulan, ada seorang mantri di Puskesmas yang berkenan mengantarkanku menuju negeri Hunitetu dengan motornya. Negeri Hunitetu sendiri terdiri dari beberapa dusun besar yang jarak antara satu dengan lainnya cukup berjauhan dan dipisahkan oleh hutan-hutan tropis. Hampir seluruh penduduk di negeri ini beragama Kristen. Maka, tak heran bila saat aku melewati satu dusun, penduduknya akan memperhatikan diriku dari ujung sepatu hingga ujung jilbab. Mungkin dalam benak mereka terlintas pikiran, “Mau apa caca [panggilan untuk perempuan Muslim di Maluku, semisal ‘mbak’ atau ‘uni’] ini ke daerah sini?


Memang benar adanya, jalan untuk menuju daerah tersebut sungguh jelek, aspal yang ada sudah banyak yang hancur dan banyak genangan air di sana-sini karena hujan memang baru saja mengguyur lokasi ini di pagi harinya. Udara siang itu tidak begitu panas bahkan sebaliknya demikian sejuk karena di kanan kiri jalan terdapat hutan tropis dengan pepohonan dan semak belukar yang rindang. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati suasana tropis itu, tiba-tiba saja terdengar ban motor mantri yang kutumpangi pecah. Memang jalan yang kami lewati mengalami kerusakan yang parah ditambah lagi dengan kondisi ban motor yang sudah gundul. Agak bingung juga saat hal itu terjadi, karena kondisinya kami sedang berada di tengah hutan yang jauh dari dusun berpenduduk. Menurut pak mantri, dusun terdekat berjarak sekitar empat kilometer menuruni gunung. Yang menjadi masalah adalah, kalau pun berjalan menuju dusun tersebut, apakah kami bisa melanjutkan perjalanan menuju negeri Hunitetu atau minimal dapat pulang kembali ke desa Waimital? Karena belum tentu di dusun tersebut terdapat tukang tambal ban untuk menambal ban motor yang pecah tersebut. Aku kemudian berpikir bahwa rencanaku ini akan berakhir dengan terjebaknya kami di tengah hutan tak berpenduduk dan tidak ada sinyal untuk menghubungi siapa pun.


Duh Bu Dok, tolong maafkan beta jua karna beta seng cek ban tadi. Padahal memang tadi beta su rasa akang su seng enak lai.” [Duh Bu Dok, tolong maafkan saya karena saya tidak cek ban tadi. Padahal memang tadi saya sudah rasa ban sudah tidak enak lagi]


Seng apa-apa Pak, kan beta jadi pung cerita par dong di rumah, kalo enak-enak sa kurang berkesan toh?” [Tidak apa-apa Pak, kan saya jadi punya cerita untuk mereka di rumah, kalo enak-enak saja kurang berkesan toh?]


Setelah dialog yang kurang solutif tersebut, akhirnya dengan gontai kami memutuskan untuk berusaha berjalan di tengah hutan menuju dusun terdekat untuk kemudian kembali pulang ke desa Waimital. Arlojiku menunjukkan pukul 14.30 WIT saat itu dan aku terus berpikir, akan menempuh waktu berapa lama jika memang benar-benar kami harus berjalan sampai di dusun terdekat? Namun, Alhamdulillah pertolongan Allah memang senantiasa datang tak terduga-duga. Baru sekitar 50 meter kami berjalan dari lokasi pecahnya ban, tiba-tiba saja datang sebuah motor dari arah berlawanan. Motor tersebut lantas berhenti setelah mengetahui ban motor yang kami naiki pecah di tengah hutan. Ternyata motor tersebut adalah ojek yang sedang mengangkut penumpang menuju dusun Sukowati, dusun terdekat menuju arah gunung. Kemudian, supir ojek tersebut menyarankan kepada kami agar lebih baik berjalan naik ke arah gunung dibandingkan turun, karena di dusun Sukowati yang terletak di arah atas terdapat tukang tambal ban. Dia pun menawarkan bantuan kepada kami sekembalinya dia mengantar penumpang ke dusun Sukowati. Akhirnya, kami diminta untuk menunggu sebentar hingga tukang ojek itu mengantar penumpang. Selang sepuluh menit kemudian, tukang ojek tersebut sudah kembali di tempat kami berada. Dia kemudian mengantarkan kami ke dusun Sukowati yang berjarak sekitar tiga kilometer ke arah gunung. Setibanya di dusun Sukowati, tukang ojek tersebut lantas menurunkan kami di sebuah rumah yang terletak di depan SMP. Rumah tersebut berada cukup jauh dari perkampungan penduduk dusun. Menurutnya, rumah tersebut adalah rumah raja negeri Hunitetu. Jadi sementara tukang tambal menambal ban motor yang pecah, kami dipersilahkan menunggu di rumah bapak raja tersebut. Tanpa ditanya tukang ojek tersebut juga memberitahu kami bahwa bapak raja negeri ini adalah seorang muallaf jadi jika kami ingin melaksanakan sholat, ada tempat khusus di rumah ini. Subhanallah! Siapa yang akan menyangka jika di daerah pegunungan kabupaten Seram Bagian Barat yang mahsyur dengan penduduk beragama Kristen justru dapat dijumpai saudara seaqidah, apalagi beliau ternyata adalah raja negeri ini.


Begitu kami sampai di depan pintu rumah bapak raja, seorang perempuan paruh baya lantas menyambut kami dengan hangat. Dengan rambut sebatas bahu, tidak ada raut wajah khas Maluku pada dirinya. Rupanya dia adalah istri dari bapak raja Hunitetu. Tak lama kemudian, dari dalam rumah muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berambut putih dengan ciri raut asli Maluku. Dia adalah bapak raja Hunitetu, bapak Lattu Petel, atau setelah menjadi muallaf namanya berubah menjadi Taufik. Sesaat sesudah memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke rumahnya, sebuah perbincangan yang menarik pun terjadi.


Menurut bapak raja, beliau adalah raja Muslim pertama di tanah Maluku yang memimpin negeri yang seluruh penduduknya beragama Kristen. Hal ini dapat terjadi karena sistem kepemimpinan di negeri Hunitetu adalah sistem turun temurun. Jadi, seorang raja yang memimpin negeri Hunitetu pasti akan melanjutkan kepemimpinannya tersebut kepada keturunannya. Berhubung raja Hunitetu terdahulu, hanya memiliki seorang putra, yaitu beliau, maka secara otomatis tampuk kepemimpinan jatuh ke pundaknya. Syukur Alhamdulillah, tanggung jawab tersebut diamanahkan pada beliau ketika cahaya Islam telah melingkupi dirinya.


Beliau telah memeluk Islam sejak tahun 1987 karena keinginannya sendiri. Islam sendiri diperkenalkan oleh seorang perempuan yang kini menjadi pendamping hidupnya. Awal pertemuan dengan istrinya merupakan sebuah keajaiban tersendiri baginya. Bagaimana tidak? Beliau yang menurutnya hanya seorang laki-laki gunung kemudian dapat bertemu bahkan berjodoh dengan seorang perempuan Muslim yang berasal dari Jawa di tanah Maluku. Baginya, jodoh memang telah ditentukan oleh Tuhan, tapi manusia sebagai hambaNya harus tetap berikhitiar untuk bisa menemukan seseorang yang menjadi belahan jiwanya. Jika seorang laki-laki menginginkan seorang perempuan yang pintar, maka laki-laki tersebut harus bercermin terlebih dahulu pada dirinya sendiri, apakah ia sendiri pintar atau tidak? Jika ia merasa tidak pintar, maka berikhtiarlah untuk bisa menjadi pintar. Demikian yang menjadi tekadnya dalam hidup : selalu berikhtiar untuk menjadi seorang yang lebih baik. Akhirnya, dengan berbekal keberanian dan ilmu beliau lantas mengukuhkan niatnya untuk turun dari gunung tempatnya berdiam selama ini dan mencari nafkah di pulau Ambon. Dan, di situlah awal mula pertemuannya dengan ibu Nona, perempuan yang menjadi ibu bagi anak-anaknya kini.


Ketertarikannya pada Islam sendiri bermula karena beliau memandang bahwa Islam adalah sebuah agama yang bersih dan suci. Islam yang mewajibkan umatnya untuk berwudhu sebelum sholat, melepas alas kaki sebelum memasuki masjid, dan mandi junub setelah melakukan hubungan suami istri, membuatnya kian bersemangat untuk terus mempelajari Islam hingga detik ini. Tak hanya itu, beliau juga cukup bersemangat dan tak segan untuk memberikan dakwah kepada penduduk sekitar agar dapat merasakan indahnya Dienul Islam.


Kini, di seluruh negeri Hunitetu, hanya beliau, istri, dan ketiga anaknyalah yang memeluk Islam. Subhanallah…Jika mau dipandang dari sisi duniawi, mungkin akan lebih baik jika beliau dan keluarganya pindah ke tempat yang lebih nyaman di daerah pesisir yang berpenduduk mayoritas Muslim. Namun, hidup memang merupakan pilihan dan bapak raja beserta keluarga telah memilih untuk berdiam di pedalaman gunung pulau Seram yang demikian sunyi dengan komunitas sekitar yang tidak seiman. Beliau akan terus memerintah sebagai raja di negeri Hunitetu yang seluruh penduduknya beragama Kristen hingga kelak saatnya tampuk kepemimpinan harus diwariskan kepada keturunannya. Semoga saja negeri Hunitetu akan menjadi sebuah negeri yang kian makmur dan sejahtera di bawah kepemimpinannya. Atau bisa jadi mungkin kelak akan terjadi sejarah baru di negeri Hunitetu dari yang berpenduduk mayoritas beragama Kristen menjadi sebuah negeri yang mahsyur akan keIslamannya.


Matahari semakin tak sabar untuk beranjak menuju peraduannya. Ban motor yang sudah tertambal memaksaku untuk menyudahi perbincangan sore itu dan pulang kembali ke desa Waimital. Ya, begitulah cara Allah memberi pelajaran pada makhlukNya, ketika satu keinginan tidak dapat terwujud bukan berarti Dia tidak mengabulkannya. Justru Dia membuka pintu-pintu pemberian yang lain jika manusia peka dan bersabar. Meski aku tidak berhasil mendapatkan gambar-gambar indah di negeri Hunitetu karena terjadi sebuah ‘insiden’, tetapi Allah telah memberiku sebuah persembahan indah di tengah rerimbunan hutan tropis pulau Seram : ibrah dari seorang raja.


12 comments:

Ree said...

naek motor de?
heeehh, ntar jatoh lagi lhooo..

iDi@N - iPpEN said...

hemmm.. Subhanallah.. moga aja semakin banyak yg memluk islam disana..

wah gelo. rupanya Rosa mo jadi pembalap motor :D

Cowo_Gondrong_Neh... said...

Deuuuuu....,
Yang lagi nunggu dipinang secara resmi ma Putra-Mahkota sang Raja neh. Jadi deh, jalan2 mulu kerjaannya.

Masih suka dianter ma Waka DPRD gak neh ?

Wakakakakakakak...!

Anonymous said...

Mawarku..
Aku menyanjung bukan karena nafsu..
Aku terpesona karena fitrah..
Aku sayang atas nama Rabb yang Maha Pengasih..

Mawarku..
andai aku bisa mendapatkan teman hidup sesuci dan seputih dirimu,
insya 4JJI, betapa ringannya bebanku di sini dan di sana nanti

kabul said...

wedew... beduaan di tengah hutan.. yummy! untungnya yg boncengin kamu bukan gw cha, klo gw mah udah gw embat tuh !!! =)) secara.. kagak ada orang laen getho loh.. n kamu ga bisa minta pertolongan :P
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
embat perbekalan yg dibawa maksutnaaa... secara, laper getho loh menempuh perjalanan jauh :D

lagian pada ngerez aja neh yg baca! sono cuci otak dulu pake sabun! klo perlu disapu dulu tuh pikiran...

kabul
~horny itu fitrah, gak usah munafik deh~

Raquel Brenda said...

Tante dokter jadi pintar logat ambon ya...kalah deh mamanya Vanya..

Tenang aja tante orang ambon walaupun sangar2 tapi hatinya baik...

naya said...

Asw chaa... deuu..
yang segitunya menantikan komen akuuu.. ampe sms segala nih :p
iya, ini aku kasih dech!
Hmm... ternyata emank pertolongan Allah SWT tuh ngga jauh-jauh dari kamu ya, baru aja jalan, eehh udh ketemu ojeg...
Yang bikin aku heran, lha kamu kok dah fasih bahasa wong sana tho nduk??
Hebat banged euyyy!! ;)
Nanti ajarin ya kalo kamu pulank ke Jakarta??!!
Eh, ehhh... kok makin banyak aja yang godain kamu sama Pak Waka?? Upss... kabur ahhh!!
Wass!! :p

buyaku.blogspot.com said...

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

buyaku.blogspot.com said...

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

buyaku.blogspot.com said...

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

Halo mbak Rosa...pa kabar. Sorry aku link blog ku dengan blog mbak.

makasih

dik said...

duh sekali lagi nih gw dipaksa ngisi komen :))

*hahaha ampun2

asli deh gw tuh gak pinter ngisi komen des, dan lagi gw gak suka ngomentarin orang...

tapi buat elo ajah nih gw dengan senang hati ngisi komen :)) ntar gw baca lagi deh, biar gw bisa bikin komen yg ajipppp....

oce yeee.. gituh ajah dulu.. ane mau asoy geboy dulu nehh.. alias masak nasi + ngangetin ayam suir2 ... hehehe :D

nn sekali lagi gw tetep berdoa supaya predikat jomblo lepas dari lo bulan depan... amiinnn

RoSa said...

@Bang Ree : Tenang aja Bang, Insya 4JJI sekarang udah gape boncengannya :D

@Ippen : Bukan pembalap Pen, tapi penebeng motor :p

@Cowo_Gondrong_Neh : Udah, jangan sirik aja kerjaan lo, urusin aja rambut yang udah mule gondrong thu, huehuheuheueh

@Anonymous : terima kasih, tapi ini dengan siapa ya? :-?

@Kabul : Huahahaha, buruan nikah lo makanya Bul'e

@M'Brenda : Iya nih Mom, Scara tiap hari ngadepin orang Ambon terus, jadi mau gak mau jadi lancar bahasa Ambon :D

@Naya : iseng banget sih ni orang satu, mau minta ajarin??? bayar duluw, kqkqkqkqkq

@Buyaku : mangga atuh, silahkan aja

@Dik : Aminnn ya Rabbal'alamin, makasih ya Ndik :)