Credits to

Powered by Blogger

Friday, July 06, 2007

Pela Gandong

Ada satu kultur khas di ranah Maluku, khususnya di Maluku Tengah, yang tidak dapat dijumpai di belahan bumi Indonesia lainnya. Kultur tersebut dikenal dengan sebutan pela gandong. Pela gandong ini kerap menjadi kebanggaan masyarakat Maluku sejak dulu hingga sekarang. Pela diartikan sebagai suatu relasi perjanjian persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama yang berbeda, sedangkan gandong sendiri bermakna adik. Perjanjian ini kemudian diangkat dalam sumpah yang tidak boleh dilanggar. Pada saat upacara sumpah berlangsung, campuran soppi [tuak] dan darah yang diambil dari tubuh masing-masing pemimpin negeri akan diminum oleh kedua pihak yang bersangkutan setelah senjata dan alat-alat tajam lain dicelupkan ke dalamnya. Adapun empat hal pokok yang mendasari pela yaitu: negeri-negeri yang berpela berkewajiban untuk saling membantu pada kejadian genting [perang, bencana alam, dll] ; jika diminta, maka negeri yang satu wajib memberikan bantuan kepada negeri lain yang hendak melaksanakan proyek kepentingan umum, seperti pembangunan sekolah, masjid, atau gereja ; jika seseorang sedang mengunjungi negeri yang berpela itu, maka orang-orang di negeri itu wajib untuk memberi makanan kepadanya dan tamu yang sepela itu tidak perlu meminta izin untuk membawa pulang hasil bumi atau buah-buahan yang menjadi kesukaannya ; karena penduduk negeri-negeri yang berhubungan pela itu dianggap sedarah, maka dua orang yang sepela tersebut dilarang untuk menikah. Bagi orang-orang yang melanggar segala ketentuan tersebut, konon katanya akan mendapatkan hukuman dari nenek moyang yang mengikrarkan pela. Sebagai contoh, seseorang ataupun keturunannya dapat jatuh sakit atau bahkan meninggal bila melanggar ketentuan itu. Jika ada yang melanggar pantangan untuk menikah, maka mereka akan ditangkap untuk kemudian disuruh berjalan mengelilingi negeri-negerinya dengan hanya berpakaian daun-daun kelapa, sedangkan seluruh penghuni negeri akan mencaci makinya.

Ada beberapa alasan mengapa pela gandong ini cukup kental di Maluku Tengah. Dari segi antropologis, masyarakat asli Maluku Tengah berasal dari dua pulau besar, yaitu pulau Seram dan pulau Buru, yang lantas bermigrasi ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Para migran dari pulau Seram menyebar ke Kepulauan Lease / Uliaser [pulau Haruku, pulau Saparua, dan pulau Nusalaut] dan pulau Ambon . Migrasi ini kemudian memberi dampak terhadap terjadinya asimilasi kebudayaan baru [kebudayaan Seram] yang mendapat pengaruh dari kebudayaan sekitarnya yaitu kebudayaan Melanesia, Melayu, Ternate , dan Tidore. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah Maluku Tengah memiliki satu kebudayaan yang sama. Kemudian, jika ditelusuri dari segi historisnya, para migran yang kebanyakan berdiam di pegunungan ini lantas dipindahkan ke pesisir pantai oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka pengawasan. Bukan hanya itu, Belanda juga mengganti nama komunitas-komunitas migran yang disebut Hena atau Aman, dengan istilah Negeri. Struktur pemerintahan di dalam Negeri diatur menyerupai struktur pemerintahan di Belanda. Dengan struktur pemerintahan tersebut, maka negeri-negeri menjadi ”negara-negara” kecil dengan pemerintah, rakyat dan teritori tertentu, dipimpin oleh raja yang diangkat dari marga-marga tertentu yang memerintah secara turun-temurun, dan kekuasaan di dalam negeri dibagi-bagi untuk seluruh marga dalam komunitas negeri.

Dalam perkembangannya secara sosio-historis, negeri-negeri ini kemudian mengelompok dalam komunitas agama tertentu, sehingga timbul dua kelompok masyarakat yang berbasis agama, yang kemudian dikenal dengan sebutan Anak Negeri Salam dan Anak Negeri Sarani. Anak Negeri Salam adalah penduduk yang beragama Islam dan Anak Negeri Sarani adalah penduduk yang beragama Kristen. Laki-laki yang beragama Islam biasa dipanggil dengan sebutan ‘abang’ dan perempuannya dipanggil ‘caca’, sedangkan laki-laki yang beragama Kristen dipanggil dengan sebutan ‘bu’ dan perempuannya dipanggil ‘usi’. Kultur seperti ini memperlihatkan adanya suatu kecenderungan yang akan mengentalkan solidaritas kelompok, tetapi pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan konflik. Oleh sebab itu, dikembangkanlah pela gandong sebagai suatu pola manajemen konflik tradisional guna mengatasi kerentanan konflik.
Dari paparan di atas, dapat dikatakan bahwa pela gandong sebetulnya bukan merupakan suatu kultur lokal penduduk Maluku sendiri, melainkan suatu produk hasil asimilasi kebudayaan di Maluku Tengah. Peran pemerintah kolonial Belanda juga cukup besar dalam pengembangan pela gandong ini sehingga banyak yang mengatakan bahwa kultur ini hanyalah bentuk rekayasa mereka pada saat ingin menguasai rempah-rempah di tanah Maluku. Hal ini cukup beralasan bila ditelusuri lebih jauh lagi dari segi historis. Menurut sejarah awalnya, Maluku merupakan sebuah jasirah dengan hasil alam yang berlimpah ruah dan berpenduduk mayoritas Muslim. Pada saat Belanda menginvasi Maluku, umat Muslim di tanah ini lantas menentang dengan keras. Perlawanan bersenjata kemudian dilancarkan oleh raja-raja dan sultan-sultan yang berada di Maluku, antara lain Raja Leihitu, Raja Leitimu, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Khairun, Sultan Baabullah, dan lain-lain. Karena adanya perlawanan yang sengit ini, maka Belanda mulai melancarkan politik “Devide et Impera” atau politik pecah belah. Belanda sendiri masuk ke Maluku dengan membawa tiga misi, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold adalah misi Belanda untuk mengambil seluruh kekayaan alam di Maluku, Glory untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat di Eropa, dan Gospel membawa misi Kristen dengan iming-iming materi. Misi yang terakhir ini berhasil menyebabkan masyarakat Maluku yang awalnya mayoritas Muslim menjadi terpengaruh dan kemudian terpecah dua : Muslim dan Kristen [Anak Negeri Salam dan Anak Negeri Sarani]. Karena adanya sentimen kelompok, maka perkelahian antara Negeri Muslim dan Negeri Kristen pun kerap terjadi. Agar dapat diterima oleh seluruh komunitas masyarakat Maluku, maka pemerintah Belanda pun mulai mengembangkan kultur pela gandong. Untuk memperluas jajahannya, Belanda kemudian mempengaruhi masyarakat Maluku yang pro kepadanya untuk memperluas daerah kekuasaannya dengan jalan membentuk pela gandong dengan daerah baru yang Muslim.

Namun, terlepas dari kesemuanya itu, di tengah beragamnya komunitas yang berada di Maluku dan potensi konflik di dalamnya saat ini, tampaknya pela gandong cukup dapat berperan sebagai peredam yang mampu meminimalisir gejolak sosial bernuansa primordial. Sentimen antar kelompok dapat tereliminasi dengan kearifan budaya dan kepentingan ekonomi yang substitusional sehingga tidak terjadi suatu konflik sosial.


8 comments:

iDi@N - iPpEN said...

Aku kirain Pala Gondrong *ups itu mah rambut gondrong yah?* :P
ternyata Pela Gandong..
Hemm sepertinay Rosa udah mulai meresapi menjadi orang maluku hehehe..

hehehe tingal beberapa bulan lagi ya bu.. jgn lupa oleh2nya :D

kabul said...

pela gandong? hmmm.. gw taunya pela mampang :D itu singkatan kli yah? dr PEkerjaan LAki2 GANteng DONG!

Amelia Fauzia said...

Trims, catatannya sangat bermanfaat. apalagi kalo ada referensinya sekalian. bisa kasih tahu buku-buku yang mbahas pela gandong ini? saya pengin tahu apa emang pela gandong ini berjalan baik? misalnya untuk urusan kalo ada bencana alam, untuk tamu ke negeri lain, dan urusan perang?

business solutions said...

Web Solutions Services|1,2| Web Application Development | Logo Design | Website Promotion 1| Web Directory | Web 2.0 | Flash Development | Web Hosting | Graphics | Multimedia Websites| | Software Development | Information Technology | Technical Support | Data Processing | IT Services | SEO| Call Center | Data Entry | Manufacturer | Marketing |Architecture | Travel | Law | Marriage | Doctor | Photography | Catering | Fashion | Shopping |

business solutions said...

civilwarcommandcivilwarcommandarmorvenuepetsarmorvenuecivilwarcommandcivilwarclothingcivilwarrifle
historicalpiratecostumescarcustomzEventbeautyparlordubai-rentalsseoWebdirectorySEO directory
1111111

Timoti said...

halo salam kenal. saya mahasiswa sosiologi.
Saya mau tanya nih, kenapa justru belanda mengembangkan pela gandong ya?
bukankah kalo rakyat tidak akur, maka belanda semakin mudah menjajaki ambon?
makasi

raachaan said...

IMHO, kalo rakyat tidak akur potensi konflik jadi tinggi, maka rakyat tidak akan membayar pajak ke Belanda dan berkonsentrasi untuk memenangi perang daerahnya. malah ada kemungkinan para Sultan minta bantuan Belanda supaya daerahnya menang, dan buat Belanda ini sama aja pemborosan anggaran. jadi, dengan menciptakan pela gandong, maka Belanda bisa mengurangi potensi konflik dan mereka bisa berkonsentrasi untuk meraup pajak setinggi-tingginya pada rakyat Maluku.

yaman sangadji(mantek) said...

Abang, bisa bantu katong kaseng..
katong dari paguyuban Jujaro Mungare universitas Indonesia ada mau bikin sosialisasi tentang budaya Pela Gandong. bt pingin sering dan minta saran dari abng..
nnt balas di bt no 081315106219
danke Abng