Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, July 11, 2007

Pintu Kota

Siang itu, gelombang di Teluk Ambon terlihat begitu menderu. Hembusan angin laut serasa menusuk tulang. Meski demikian, kumpulan bocah tampak asyik berenang di pesisir seolah tak hirau ombak yang kian mengganas. Dinding-dinding penahan ombak terlihat menjadi pembatas antara jalan raya dengan pantai. Perjalanan kali ini adalah menuju satu tempat yang konon katanya merupakan tempat yang harus disambangi bagi setiap orang yang datang ke Pulau Ambon. Tempat ini bernama Pintu Kota. Pintu Kota adalah salah satu lokasi obyek wisata alam yang memiliki daya tarik luar biasa baik bagi setiap orang yang ingin menikmati keindahan bebukitan dan laut. Bertempat di Desa Air Louw, Kecamatan Nusaniwe atau berjarak sekitar dua puluh kilometer dari pusat kota Ambon, Pintu Kota dapat dicapai dengan menggunakan mobil pribadi ataupun angkutan umum jurusan Air Louw.

Tidak salah bila Pintu Kota menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi karena lokasi ini benar-benar menyajikan pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Suasana sejuk diiringi lambaian nyiur, batu-batu besar dengan tebing karang yang terjal, serta teluk yang memiliki pantai berpasir putih di lokasi ini rasanya sangat cocok sebagai tempat untuk berkontemplasi. Selain itu, pemandangan birunya Laut Banda yang merupakan laut terdalam di Indonesia juga memberikan eksotika tersendiri bagi Pintu Kota.


Nama Pintu Kota sendiri sebetulnya berasal dari satu batuan karang besar yang terletak di pesisir pantai dengan bagian tengahnya kosong berbentuk menyerupai pintu dan berhadapan dengan Laut Banda. Bila air Laut Banda sedang dalam kondisi pasang, maka bentuk pintu di karang ini hampir tidak terlihat lagi. Terdapat jalan setapak dan banyak anak tangga yang harus dilalui bila ingin mencapai puncak batuan karang Pintu Kota. Dari puncak Pintu Kota, panorama Laut Banda akan dapat terlihat dengan jelas. Bila melayangkan pandangan ke arah bawah, maka akan terlihat warna laut yang demikian biru, menandakan bahwa memang benar bila Laut Banda disebut sebagai salah satu laut terdalam di dunia. Selain itu, dari puncak Pintu Kota dapat pula terlihat pulau yang menjadi basis perlawanan Kapitan Pattimura pada zaman kolonial Belanda, yaitu Pulau Saparua.

Lokasi yang didominasi oleh bebatuan karang ini, pada bagian sisinya juga dapat dipergunakan sebagai lokasi berenang. Pada musim hujan, hempasan ombak yang demikian menderu kian meneguhkan diri bahwa sejatinya manusia sungguh tiada berdaya di hadapan Tuhan. Bila letih dirasa setelah menaiki anak tangga yang cukup banyak, maka shelter-shelter yang terletak di dataran atas perbukitan dapat digunakan sebagai tempat beristirahat sambil menikmati keindahan Laut Banda. Tak henti lisan melafazkan tasbih, Subhanallah…


3 comments:

Anonymous said...

Asw jeng..
penasaran nih, kamu belajar sejarah daerah situ yah? Lengkap buanged infonya lohh!
Belajarnya dimana? sama siapa? hayooo ngakuuuu!! Hwehehe...
Wass
*Orang Meruya*

kabul said...

waduh.. pintu kota? gmn ya klo seandainya stiap org yg mau masuk ke ambon mesti lewatin bolongan karang dulu.. waaahhh gw gak lulus dah! hehehe.. ga bisa brenang sih.. :P

Ocktave said...

Sebagai tambahan informasi saja:
1. Kita juga bisa naik keatas bukit persis diatas "pintu kota" dan memandang karah laut yang indah dengan luas (harusnya ada photonya juga dari atas ke bawah).
2. Disekitar pintu kota juga dihuni oleh Ketam Kenari yang rasanya sangat lezat. Saya pernah berburu Ketam tersebut dengan pawang laut disana.Ketam tersebut cukup berbahaya karena dapat memutuskan jari jemari anda jika anda salah cara menangkapnya. Peerburuan dimulai dengan memasang umpan di sore hari berupa kelapa yang dibelah dua lalu diikat didepan lubang lubang di tebing karang sekitar pintu kota. Pada malam harinya baru kita memburu para ketam yang sedang menikmati kelapa umpan tersebut.
3. Hal yang menarik lainnya adalah jenis ikan yang ada di laut sekitar pintu kota. disamping karangnya masih alami juga dihuni oleh species ikan yang cukup beragam dan sangat indah.
Walau saya tinggal dengan nelayan disana selama hanya satu bulan namun mereka tetap ingat saya walau sudah hampir 20 tahun meninggalkan pintu kota