Credits to

Powered by Blogger

Friday, August 17, 2007

Galau


Seorang bocah kecil sedang berasyik mahsyuk bermain di dermaga negeri Kamarian. Sesekali ia menuruni tangga dermaga untuk kemudian menyusuri pantai berpasir kelabu. Angin Timur yang berhembus di pulau tempatnya tinggal bulan ini jauh lebih ganas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Debur gelombang seolah sigap untuk meluluhlantakkan dinding-dinding penahan ombak yang berdiri di sepanjang garis pantai. Deras hujan seakan hendak menunjukkan bahwa ada yang lebih berkuasa atas bumi dibanding manusia. Namun, sungguh yang demikian itu tak lantas membikin sang bocah bergeming dari tempatnya. Entah apa yang akan diperbuatnya di tengah situasi tersebut. Orang tuanya pun tak tahu berada di mana. Perlahan, dia berupaya untuk mengambil sejumput pasir pantai yang telah basah dengan tangan kanannya. Meski basah, ternyata pepasir itu cukup keras untuk bisa diraup oleh jari jemari kecilnya. Pecahan batu karang yang terbawa ombak lalu terendap di antaranya, atau kerang-kerang kecil yang kerap bersembunyi dengan membuat lubang-lubang mikro di baliknya, bisa menjadi beberapa musabab mengapa pepasir itu kemudian menjadi demikian keras.

Seperti tak mau digelari ‘bocah’ walau dari perawakannya ia baru berusia sekitar empat tahun, ia pun lalu mempertontonkan kemampuan motorik selayak anak usia di atasnya. Masih di bawah butiran-butiran air yang tanpa paksaan meluncur bebas dari kumulus nimbus, diambilnya potongan tempurung kelapa yang terserak bebas di bawah deretan apik pepohonan kelapa yang berjarak beberapa meter dari garis batas pasang air laut. Potongan itu lantas digunakan untuk mengeruk pepasir tersebut. Setelah berhasil mengambilnya, ia pun kemudian mulai menimbun pasir-pasir itu sedikit demi sedikit. Dari gundukan pasir yang dibuatnya, sepertinya ia sedang berusaha untuk membangun sebuah istana pasir. Pemandangan tersebut layaknya sebuah isyarat untuk mendekonstruksi sebuah prasangka yang hadir di awal. Sejatinya, ia bukanlah seorang bocah yang begitu brilian, melainkan hanya seorang bocah yang belum semahir itu untuk melihat semesta dengan kejernihan matanya. Rasanya khalayak ramai telah sepakat menyimpan satu rahasia bahwa mendirikan istana pasir di tengah kondisi yang demikian itu adalah kesiaan belaka.

Berkali ia bermimpi pasir-pasir itu bermetamorfosis menjadi sebuah istana megah bak dalam dongeng seribu satu malam, berkali itu pula ia menatap hujan menggerusnya hingga tirus. Ia lantas duduk terpekur sejenak sembari menyandarkan kedua punggung tangannya ke bawah dagu. Keletihan tergurat di rautnya yang sama sekali belum berkeriput. Rupanya gaung kegagalan yang terngiang di telinganya telah sampai ke susunan saraf pusat. Hipotalamusnya kemudian unjuk diri dengan merangsang sakus lakrimalis untuk menggulirkan buliran-buliran bening hangat dari matanya. Mitos yang diyakini awam kerap menjadi laku manusia seusianya terbukti saat itu. Dalam ketidakberdayaan, apa lagi yang bisa dilakukan olehnya? Sesaat, dahinya tampak berkernyit layaknya orang dewasa yang serius memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang telah membuatnya jadi resah gelisah.

Sedikit demi sedikit hujan mulai menunjukkan sikap yang bersahabat. Butiran yang sedari mula sebesar biji jagung kini telah berkurang menjadi sebesar biji kecambah. Matahari pun tampaknya sudah geram dengan tingkah polah kumulus nimbus yang demikian angkuh bak raja diraja dunia. Disingkirkannya satu persatu kumpulan awan yang menghalau pandangannya. Meski ombak belum mau mengamini kehendaknya, cercahan sinarnya kini mulai mencerahkan wajah pantai yang tadi begitu lusuh. Bocah itu lalu bangkit dari ketermenungannya. Disekanya lelehan air yang tadi sempat membanjiri kedua matanya. Sepertinya, asa untuk mewujudkan legendanya kembali merekah. Potongan tempurung kelapa yang tadi telah dihempasnya lalu direngkuh kembali. Namun, tak seperti saat awal ia mengambilnya, sepenggal keraguan tergores di matanya.

Suatu kejanggalan tiba-tiba saja terjadi. Ia lantas berlari dengan kencang meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoninya. Namun, sekeras apapun ia berusaha, kecepatannya tentu saja tidak dapat mencapai kulminasi karena pasir yang masih basah telah mempersulit gerakan kaki kecilnya. Ia terus saja berlari dan berlari hingga mencapai sebuah rumah kecil di sudut jalan tak beraspal. Rumah tak berpagar itu tampak amat sederhana ; hanya beratapkan rumbia dan dinding yang terbuat dari jalinan gaba-gaba atau pelepah sagu. Walau mungil, rumah itu terlihat begitu nyaman untuk ditinggali. Pohon asoka yang berjejer elok di muka rumah kian menambah suasana asri. Pintu rumah yang terbuka lebar seakan mempersilahkannya untuk masuk. Sebuah ayunan kecil yang tersusun dari batang bambu di samping rumah juga tak ketinggalan merayu sang bocah agar mau bermain di atasnya. Hidung bangirnya lantas mengendus wangi rempah-rempah yang banyak terdapat di negerinya dari dapur yang terletak di belakang rumah. Lambungnya yang memang sedari tadi kosong mau tak mau menjadi bergejolak menuntut pemenuhan haknya. Seakan tak hirau dengan kenyataan itu, ia tetap tak beranjak dari tempatnya.

Hujan kini telah benar-benar reda. Ia lalu membentangkan kedua tangannya sambil menatap cakrawala yang sebagian masih tertutup awan. Memori jangka panjangnya lalu melayang pada sebuah dongeng yang dikisahkan Bundanya kala ia hendak terlelap. Ceritanya bertutur mengenai Abu Thalhah, seorang saudagar kafir terpandang di Madinah. Adalah ia yang hendak melamar Al-Ghuamayda binti Milhan, ibu dari seorang perawi hadits Anas bin Malik. Demi mengejawantahkan maksud tersebut, ia menawarkan tujuh kebun kurma pada perempuan itu dengan syarat dua kalimat syahadat untuk dibaku tukar. Perempuan mana yang teguh untuk tak bergeming mendapati seuntai penawaran selaksa oase di tengah teriknya pergumulan menjadi sesosok orang tua tunggal? Ya, perempuan yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim itulah yang kemudian dengan tegas menandas : “Wahai Abu Thalhah, cukuplah keIslamanmu sebagai maharku!” Gairah keteguhannya tersebut lantas berlanjut menjadi benang merah hidayah bagi Abu Thalhah. Tak hanya sampai di situ, dengan iradah Rabbul ‘Izzati, Abu Thalhah kemudian menjelma menjadi satu dari sepuluh orang yang dijamin menginjak jannahNya. Sungguh, ia juga ingin singgah di satu tempat yang bernama surga itu.

Berkelindan ia dalam angan ; mempedulikan hasrat berarti mengeyahkan istana pasir yang hendak disandingkannya dengan rumah mungil di hadapannya, sebaliknya, menapaki pantai untuk membangun kembali istana pasir sama saja dengan mengubur separuh nafasnya dalam kengerian akan badai. Kengerian akan badai tidak dimaknai sebagai ketakutan menghadapi maut karena Bundanya sering berujar bahwa maut memang satu konstanta yang akan dialami setiap manusia. Bait itu ia artikan sebagai sebuah kegamangan apabila kembali harus menghadang kebengisan angin Timur dalam senyap. Kepala bocah itu kini tertunduk dalam posisi berdiri dengan mata terpejam dan bibir terkatup rapat. Kedua tangannya kini kosong tak memegang sesuatu apa pun jua. Sepoi angin mengibaskan rambut dan ujung helai bajunya. Ia terdiam. Ia termangu.

3 comments:

ursecretadmirer said...

mari merapat ke mari
ke dermaga Ilahi,

kita kayuh sampan sederhana
bernyalakan lentera,

redup redam ditelan malam
arungi laut kehidupan,

atasi gelombang halau karang
hadapi badai serta hujan

dan hadapi badai serta hujan
di sini bersama..

Andik said...

terima kasih telah mempercayakan pada saya untuk menjadi orang pertama yg membaca paragraf awal.. :D

wassalam..

Tia said...

lagi galauin apa sih Cha? :p