Credits to

Powered by Blogger

Monday, August 13, 2007

Kisah Kayu Putih

Selain tersohor sebagai penghasil rempah-rempah nomor satu di Nusantara sehingga kerap dijuluki ‘The Spice Islands’, tanah Maluku juga dikenal cukup banyak menghasilkan minyak kayu putih. Setiap tahunnya, propinsi di timur Indonesia ini dapat menghasilkan sekitar sembilan puluh ton minyak kayu putih. Jenis tanaman kayu putih [Melaleuca cajuputi sub sp. Cajuputi] sendiri memiliki daur biologis yang panjang, cepat tumbuh baik pada tanah yang berdrainase baik maupun buruk dengan kadar garam tinggi maupun asam, tahan panas, dan dapat bertunas kembali setelah terjadi kebakaran. Tanaman ini juga memiliki daya adaptasi yang sangat luas sehingga dapat ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa, atau membentuk hutan kecil di tanah kering hingga basah. Dengan sifat-sifat yang dimilikinya, tak heran bila tanaman kayu putih ini dapat tumbuh secara alamiah di seluruh tanah di kepulauan Maluku yang cenderung memiliki iklim kering. Tumbuh secara alamiah di sini memiliki makna bahwa tanaman ini tidak pernah dibudidayakan secara khusus, diremajakan, ataupun menggunakan bibit unggul. Total lahan tanaman kayu putih yang ada di Maluku diperkirakan dapat mencapai 120.000 hektar dengan kisaran kerapatan 100-160 pohon per hektar. Karena tersebar hampir di seluruh daerah, tanaman ini pun kemudian memiliki nama yang berbeda-beda untuk setiap tempat yang ada di Maluku ; iren atau sakelan di Piru, irano di Amahai, ai kelane di Hila, irono di Haruku, ilano di Nusa Laut dan Saparua, dan elan di Buru.

Adapun bagian dari tanaman kayu putih yang dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak kayu putih adalah daunnya. Daun kayu putih ini mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50%-65%, alfa-terpineol, valeraldehida, dan benzaldehida. Daun ini kemudian akan melalui proses destilasi atau penyulingan hingga nantinya akan menjadi minyak kayu putih yang berwarna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Pada lokasi yang daun kayu putihnya dipanen secara intensif, tinggi pohon sekitar 1-2 meter, sedangkan pada lokasi yang kurang terjamah pemanen, ketinggian pohon dapat mencapai 10-25 meter. Selain daun, bagian tanaman kayu putih yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Maluku adalah kulit batangnya. Kulit batang ini biasanya digunakan sebagai penutup celah antar kayu pada badan kapal-kapal tradisional yang ada di Maluku. Tidak ada yang dapat menggantikan kulit batang kayu putih ini dalam menutup celah pada kapal-kapal ini karena menurut masyarakat lokal, kulit batang kayu putihlah yang paling kuat bila dibandingkan dengan kulit-kulit batang tanaman lainnya.


Kembali berbicara mengenai minyak kayu putih, produksinya di Maluku pada umumnya dilakukan secara tradisional dengan teknologi yang sangat sederhana. Pengolahan daun kayu putih menjadi minyak oleh penduduk lokal menggunakan teknik penyulingan sederhana dan biasanya dilakukan langsung di lokasi pohon. Dua ketel atau tangki besar dibutuhkan untuk satu kali proses penyulingan. Satu ketel berfungsi untuk memanaskan daun kayu putih dan satu ketel lainnya berfungsi sebagai pendingin minyak yang telah dihasilkan untuk kemudian dialirkan ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Untuk menghasilkan satu liter minyak kayu putih biasanya dibutuhkan 100 kg atau sekitar lima karung daun kayu putih. Tak heran bila harga minyak kayu putih murni dari Maluku memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Proses destilasi minyak kayu putih secara tradisional membutuhkan waktu sekitar enam jam. Pada mulanya air dimasukkan ke dalam ketel pertama hingga batas yang telah ditentukan. Air tersebut kemudian dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar hingga mencapai suhu kurang lebih 90 derajat Celcius. Setelah air hampir mendidih, daun kayu putih yang telah dipanen lantas dimasukkan karung per karung ke dalam ketel. Daun kayu putih yang telah dimasukkan ke dalam ketel ini kemudian harus dipilih lagi untuk menghasilkan minyak kayu putih dengan kualitas yang baik. Daun yang dipilih haruslah daun yang sudah tua agar dapat menghasilkan minyak yang banyak. Setelah seluruh daun dimasukkan, ketel kemudian ditutup selama enam jam. Dalam kurun waktu tersebut, minyak atsiri yang terkandung dalam daun kayu putih akan tersuling melalui pipa yang langsung terhubung ke ketel kedua yang merupakan ketel pendingin. Dari pipa di ketel kedua ini, minyak atsiri yang telah mengalami proses pendinginan akan keluar dan langsung ditampung ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Sampai di sini maka selesailah proses penyulingan minyak kayu putih secara tradisional.

Apabila dikembangkan secara baik, sebetulnya industri minyak kayu putih di ranah seribu pulau ini sangat potensial untuk menambah pendapatan asli daerah dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan luasnya lahan tanaman kayu putih yang ada, seharusnya negara tidak perlu lagi mengimpor untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Tidak banyak diketahui memang jika ternyata Indonesia termasuk salah satu pengimpor terbesar minyak kayu putih. Berdasarkan data yang ada, kebutuhan domestik minyak kayu putih adalah 1500 ton per tahun, tetapi saat ini Indonesia hanya memproduksi kurang dari 500 ton setahun. Karena itu sisanya harus diimpor dari negara Cina dan Vietnam.

Tidak terawatnya tanaman kayu putih merupakan salah satu kendala dalam pengembangan jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Layaknya tanaman liar, tidak ada yang mencegah tanaman kayu putih terjangkit hama atau memberantasnya. Jarang sekali dilakukan pemangkasan gulma yang mengganggu tanaman induk. Selain itu, pengembangan minyak kayu putih tampaknya juga kurang didukung oleh kebijakan yang memadai dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Tidak ada koordinasi kebijakan antara Dinas Perindustrian yang membina industri rakyat dengan Dinas Kehutanan yang membina kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman kayu putih di daerah. Industri rakyat juga tidak mendapat insentif atau dukungan yang cukup untuk pengembangan dari sudut pemasaran, pembinaan, dan pengembangan teknologi sehingga masyarakat produsen minyak kayu putih tradisional mendapat keuntungan yang sangat kecil dibandingkan dengan pedagang perantara. Jika berbagai persoalan ini tidak segera diatasi, maka tampaknya industri minyak kayu putih masih akan menghadapi berbagai kendala serius di masa mendatang.


Maraji’
1. IPTEKnet. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=79. 2005.
2. Berita Bumi. Minyak Kayu Putih : Produksi dan Kebutuhan Dalam Negeri. http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=433. 2005.
3. Kompas. Kabupaten Buru. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/05/otonomi/835963.htm. 2004.
4. Produsen minyak kayu putih tradisional negeri Hatusua, kec. Kairatu, kab. Seram Bagian Barat, Maluku : Bapak Yunus Pattiasina

3 comments:

ursecretadmirer said...

tak sabar untuk menantikan petualangan-petualanganmu berikutnya..

jangan pernah bosan untuk menulis hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain untuk menuliskannya

karena aku akan senantiasa loyal menantikan tiap aksara yang kau tuliskan :)

Andik said...

kalau baca artikel ini jadi teringat dengan sebotol kecil minyak kayu putih saya yang sejak dari tanggal 7 Agustus 2001 sampai sekarang belum habis... padahal lumayan sering dipake kalau pas kebetulan lagi agak ga enak perut (baca. mules) :) kok bisa ya??

tetap semangat Bu.. terima kasih kemaren telah menunjukkan kpd saya paragraf pertama nya :) manstab

wassalam.. :)

Erik Tapan said...

Dear Rosa,
Salam kenal.
Kebetulan saya tinggal di daerah Kayu Putih, jadi tahu dech sejarahnya.
Ternyata pohon yang ada di depan rumah saya (yang kelihatannya 'bulukan' kaya psoriasis tersebut), ternyata adalah pohon kayu putih yha.

Trims atas infonya.