Credits to

Powered by Blogger

Friday, August 03, 2007

Manusia Dhaif


Satu siang dengan paras surya yang merekah bak putri bunga. Adalah suatu jalan yang telah digariskan, ketika teriknya bergumul dengan kelebatan tatapan tajam menerkam. Itulah perkara yang sejak dahulu dinisbatkan sebagai anugerah, tetapi kelanjutannya dapat menjadi salah satu etiologi dari petaka besar dalam sejarah manusia. Bila kemudian ia bersanding dengan gemerlap keduniawian, maka tak ayal kenistaan telah menanti di ujung jalan. Adapun kilaunya bisa menyambangi tiap pucuk dedaunan muda bersama angin yang mengalir semilir. Karenanya, penampikan demi penampikan tak akan membuat gelora semakin meredup, tapi justru kian meletup. Semiotika lantas dikejawantahkan dalam bilangan-bilangan syair. Setiap ucap harus dimaknai dengan lamat dan cermat. Hening kerap menjadi saksi sejarah berjuta metamorfosis karenanya. Dunia yang makin tenggelam karena runtuhnya pegunungan es di belahan Antartika atau tanah tandus yang berganti menjadi taman bunga dalam tempo sekejap, bisa menjadi sepenggal bukti. Bukan hanya dalam satu babak saja manusia memilih, tapi hidup memang merupakan pilihan, bergerak cepat atau tinggal di tempat. Ketika keputusan untuk bergerak cepat telah dipilih, maka tak seharusnya melihat pada apa yang telah lampau melainkan ibrah dan mauidzah.
---
Memang, terik yang teramat sangat terkadang dapat menyayat urat. Pada saat itu, meski jujur sebilah tutur justru dapat membuat izzah meluntur hingga kemudian futur. Jika sudah demikian adanya, nurani kadang dikhianati dengan alibi terkurung dalam jeruji kejengahan bergelimang angkara. Lantas, apa jadinya seonggok daging bila terjebak di lautan yang asing? Atau adakah belalang dapat hidup tanpa ilalang? Hidup hanyalah persinggahan sementara karena kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kematian datang menghampiri. Karenanya, tiada masa dalam hidup yang dapat digunakan hanya untuk sekedar berpangku tangan. Ia harus diisi dengan kerja keras untuk meraih kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Semesta akan selalu membantu memperjuangkan seuntai legenda, sebodoh apapun itu. Untuk itu, apa-apa yang menjadi legenda senantiasa diasah dengan hamasah. Letih di raga hingga profunda pasti dirasa, tapi bayangan tempat peristirahatan yang demikian eksotis di jannahNya akan memupuskan segalanya.
---
Nyiur melambai riang seolah tak peduli dengan sengatan sinar matahari. Sampaikan sepucuk pesan perjumpaan di balik persembunyian. Mencari dan mencari di tengah keriuhan manusia-manusia yang haus untuk mereguk seteguk air di oase gurun kehampaan. Kemudian sebongkah roja’ dilontar ke ‘Arasy agar hidayahNya serta merta melingkupi jiwa dan berharap agar dapat singgah di tepian jannahNya nan luas. Namun, apakah ikhtiar itu telah salah memilih jalannya? Atau memang hidayah itu sendiri yang tiada ingin digapai? Lama kelamaan cahaya tampak semakin menjauh bahkan menghilang. Duhai gerangan apa yang nyatanya terjadi? Syahdan, arif bijak sejak dulu bertutur bahwa kesetiaan adalah buah dari satu pohon yang bernama cinta. Hubungan kausalitas kemudian berlaku. Jika ia adalah buah, maka ia akan tumbuh dengan sendirinya di pohon itu tanpa ada yang harus memaksa. Sebaliknya, bila pohon itu telah runtuh, apakah buah itu dapat tumbuh? Bisa, bila pohon itu ditanam kembali dan dipupuk agar tumbuh dengan subur. Namun, menanamnya ulang tentu tak semudah laiknya sedari mula. Diperlukan kegigihan dan ketangguhan yang luar biasa untuk mengejawantahkannya. Meski koyak dan air mata terserak di lubuk yang sesak, langkah gontai menuruni sayup Mintaraga.
---
Tak setiap derik jangkrik di sunyinya malam menjelma menjadi epik yang berwujud takikardia. Namun, tak demikian halnya dengan serenada biru yang melantun semu. Lantunannya begitu syahdu hingga tiada sadar tergiring ke lorong gelap. Memang, seberkas cahaya dapat menjadi pelipur lara yang gulita. Bila kemudian terus menerus berharap padanya, maka silau yang akan didapat. Pilihan terbaik adalah membiarkannya layu sebelum berkembang atau izinkan ia melayang bersama hembusan angin. Dengan demikian, angin akan membawanya ke pucuk kebenaran hakiki. Bahwa, siapa yang tak mengenal dirinya, maka tiada akan dapat mengenal Rabbnya. Tak perlu lagi diskursus di gulita malam. Kemegahan luna dapat saja segera bertukar dengan ganasnya jilatan aurora di polar dunia. Semuanya hanya tunduk pada satu aturan dan hanya tertuju pada satu tujuan.
---
Derasnya hujan merupakan salah satu pesona yang kerap membawa ketakjuban tersendiri. Konon setelahnya akan ada bidadari cantik yang turun berbarengan dengan terlukisnya bianglala di angkasa. Meski banyak orang yang kagum karena kesempurnaan yang dimilikinya mendekati kulminasi, tapi tiada pernah ia hiraukan. Mungkin, baginya itu hanya sebuah fitnah belaka. Lalu, mengapakah sebuah fitnah dicakap orang sebagai perkara yang lebih despotis disbanding menghilangkan sebuah nyawa? Ialah fitnah yang sejatinya bisa menorehkan noda kelam pada seorang manusia selama jiwa masih dikandung raga. Selagi bibir tak dapat bertutur jujur tentang hakikat yang sebenarnya, maka yakinlah kuasa Ilahi akan selalu menyertai pada kesejatian. Entah ia akan menghampiri dalam alam kesadaran atau kala bola-bola mata bergerak demikian cepatnya.
---
Rembulan dan kerlip bintang di langit malam selalu menghadirkan romantisme tersendiri pada setiap hati yang merindu. Apalagi ketika sedang memadu cinta dengan Sang Kekasih, berharap buliran-buliran hangat selalu mengalir dari mata sebagai tanda kesyukuran dan kelembutan jiwa. Dalam sekejap, lidah mengalunkan bait-bait puitisasi bak pujangga lama. Apa lacur? Kala bait-bait itu kemudian menjadi sempurna di tengah sebuah penantian akan malam seribu bulan, momen untuk berkontemplasi pun lantas dihiraukan. Segala hipokrit juga serta merta melesat ke titik hampa lantaran sebuah ‘azzam untuk persembahan yang sempurna. Namun, kesempurnaan memang layaknya sebelanga susu yang tak menghendaki setitik nila tercelup di dalamnya. Seluruh kredo akan menjadi tidak berarti lagi bila sudah demikian. Sejatinya, kesempurnaan hanyalah bagi Sang Pemilik Jiwa dan mencari kesempurnaan pada manusia hanyalah ibarat menegakkan benang basah.
---
Allah senantiasa mengajarkan pada makhlukNya, tiada pantas berjalan di bumiNya dengan kepongahan karena segala yang diduga tidak akan ada dalam sekejap dapat saja menjadi ada. Karenanya, pantaskah manusia mengatakan bahwa dirinya telah benar-benar beriman, sedangkan ia belum lagi mendapatkan ujian dalam hidup? Hidup di alam fana hanyalah satu episode di mana manusia harus mengumpulkan bekalan untuk menyongsong satu kehidupan yang abadi. Lantas, sepatutnya manusia bertanya darimanakah ia bisa mendapatkan segala perbekalan yang dibutuhkan sedangkan belum ada secuil pengorbanan pun yang ia lakukan untuk itu. Dari situlah manusia kemudian menyadari bahwa kehidupannya akan berjalan dari satu fase ujian menuju ujian yang lainnya, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Di tiap fase tersebut manusia kemudian akan belajar untuk berkorban demi setiap jengkal bekal.

Sejatinya, Allah tiada akan pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuan dan sungguh ujianNya tersebut merupakan cara Allah untuk membersihkan segala kekurangan yang ada dalam diri manusia. Jika ada kekurangan di satu pintu, maka Allah akan berusaha menyadarkan manusia akan perkara tersebut dengan jalan menutupnya. Ya, ketika sebuah ujian sedang menyambangi seorang manusia, tandanya Ia sedang memberikan cinta yang lebih terhadapnya. Karena hakikat dari ujian adalah setara dengan tingkat keimanan, maka jika manusia tersebut mau bersabar, Allah akan tingkatkan derajat keimanannya. Sebaliknya, jika ia menjadi kufur maka akan Allah turunkan derajat keimanannya.

Seberat apapun ujian yang diberikanNya, Allah tidak akan pernah memalingkan rupaNya dari manusia. Justru, Ia begitu menantikan malam-malam di mana manusia kerap menangis, mengingat berbuih dosa dan maksiat yang dilakukan, merenungi segala nikmat yang telah Ia berikan. Karenanya, hanya Allah sahabat sejati manusia dalam tiap delik kesendiriannya dan hanya Allah sumber solusi atas segala permasalahan yang menimpa manusia. Jadi, masihkah manusia akan berujar, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku memiliki masalah yang besar.” ? jika ia dapat dengan lantang mengumandangkan, “Wahai masalah, sesungguhnya aku memiliki Tuhan Yang Maha Besar.”

5 comments:

Anonymous said...

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah : 155)

Rupanya ujian demi ujian telah membuat dirimu tegar seperti sekarang ini,

Aku hanyalah pengembara yang sedang mencari setetes embun untuk menyejukkan jiwa dahaga ini,

Semoga engkau sudi memberikannya dengan ketulusan hatimu yang suci

Paijo said...

Bait-bait perasaan ini dilontarkan dengan apik dan puitis... Bagus!

Demooo... gome budok.... wakarimasen... ^_^'
aiih.... ketinggian euy buat paijo

NiLA Obsidian said...

auntie ocha....tutur kata yng puitis dan mneyejukan hati....

memang sering kali kita lupa ketika tertimpa masalah....untuk
berpasrah diri pada kebesaran dan kekuatanNya..

mizz u..& take care
terima kasih buat ayat2 yg selalu dikirim via YM....

Andik said...

test isi komentar... semoga kali ini bisa... [-o<

Andik said...

whew.. kosa kata nya banyak yg tidak saya mengerti :(

baru nyampe tengah-tengah udah puyenk.. dah pingin balik lagi ke atas.. hehe..

tetap semangat Bu.. ;)

wassalam..