Credits to

Powered by Blogger

Sunday, September 09, 2007

...September Kelabu...

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria milik kita bersama


Sepertinya tembang lawas yang dibawakan oleh Vina Panduwinata tersebut menjadi tembang wajib acapkali almanak menunjukkan bulan September. Lirik demi liriknya mencerminkan sebuah optimisme dalam menghadapi bulan ke-sembilan pada penanggalan Masehi tersebut. Namun, sebuah kondisi yang paradoksal dengan tembang tersebut sedang dihadapi oleh para dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil. Pasalnya, sudah dua bulan terhitung mulai bulan Juli, dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil belum juga menerima gaji beserta insentif dari Departemen Kesehatan.


Entah mengapa permasalahan gaji dokter dan dokter gigi PTT kini menjadi demikian pelik. Contoh kasusnya seperti yang terjadi di kabupaten saya yaitu kabupaten Seram Bagian Barat. Berhubung kabupaten tempat saya bertugas ini adalah kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Maluku Tengah, maka seluruh urusan perbendaharaan negara masih dipusatkan di kota Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah. Saat pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat dimintai konfirmasi mengenai kejelasan gaji dan insentif para dokter dan dokter gigi, mereka justru melimpahkan masalah ini kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Pihak dinas Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat menjelaskan bahwa mereka akan mengirimkan seluruh daftar nama dokter dan dokter gigi yang bertugas di seluruh unit kerja Puskesmas Kabupaten Seram Bagian Barat kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Kemudian, apabila sudah ada respon dari pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah, maka pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat baru akan mengirimkan data tersebut ke Departemen Kesehatan di Jakarta.


Begitu kompleks jalur birokrasi yang harus dilalui agar gaji dan insentif tersebut bisa turun. Hal ini membuat kebanyakan dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah sangat terpencil harus benar-benar dapat mengatur keuangannya sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan hidup. Padahal biaya hidup di daerah sangat terpencil terutama di Indonesia bagian Timur cukup mahal.


Sebetulnya masalah keterlambatan gaji para dokter dan dokter gigi PTT dari pusat ke propinsi ini bukan tanpa sebab yang jelas. Ketika saya mengkonfirmasi ke Departemen Kesehatan mengenai permasalahan ini, yang menjadi penyebab utama adalah karena banyaknya oknum dokter dan dokter gigi PTT yang tidak bertugas di tempat selama waktu yang telah ditentukan. Sebagai contoh, ada dari mereka yang ditugaskan selama enam bulan di tempat sangat terpencil hanya bertugas selama tiga bulan saja, atau bahkan ada yang tidak pernah berada sama sekali di Puskesmas selama enam bulan! Namun, karena pihak Dinas Kesehatan Kabupaten setempat jarang melakukan pelaporan mengenai perkara ini ke pusat, maka oknum dokter dan dokter gigi PTT tersebut tetap saja menerima gaji dan insentif. Akibat nila setitik, rusak lah susu sebelanga. Karena ulah oknum yang mangkir dari tugasnya, seluruh dokter dan dokter gigi PTT akhirnya harus menanggung konsekuensi.


Sumpah profesi yang dulu digaungkan dengan lantang, kini hanya jadi cerita usang. Idealisme sedikit demi sedikit telah tereliminasi karena materi. Bila sudah begini adanya, bagaimanakah nasib pelayanan kesehatan di Indonesia kelak? Pasien hanya dijadikan obyek untuk menghasilkan keuntungan pribadi tanpa mendapatkan pelayanan yang optimal. Sedangkan dokter terus saja menghalalkan segala cara agar dapat mengembalikan biaya perkuliahan mereka yang cukup mahal. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga idealisme saya sebagai seorang dokter gigi hingga kapan pun jua.


4 comments:

Anonymous said...

wah bu dokter belum dapat gaji ya? harus hemat2 dong nih, makan sagu dulu ya? kekekekekek :D

Ady said...

Ros,
Ga ada.. emang ada yang hipersalivasi atau ada apa dengan salivanya hehehe...

Spedaman said...

wahduh kasian banget dok...

walaupun KPPN Masohi yang jadi tempat pencairan dana APBN untuk gaji dokter PTT tapi yang mengurus gaji tsb seharusnya bendahara Dinkes Seram Bagian Barat yang termasuk dalam wilayah pembayaran KPPN Masohi:D

Bendaharanya dapet honor pengelola keuangan lho,,,
jadinya harus mau lah bersusah payah mengurusi gaji dokter Ocha ;)

iDi@N - iPpEN said...

waduhh? kirain di kantor tempatku kerja aja yg gajinya sering telat.

Sabar2 cha... sekarang udah gajian kan?

nah klo gitu kapan dunk traktirannya hahahaha :P