Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, October 30, 2007

Baku Pukul Manyapu

Suasana kota Ambon di hari Sabtu, 20 Oktober 2007, mendadak senyap. Seolah terjadi migrasi mendadak, ribuan warga Ambon berduyun-duyun menggunakan angkutan darat dan laut menuju ke negeri Mamala dan Morela yang terletak di Jazirah Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Langit yang berawan sendu tak menyurutkan langkah mereka untuk beranjangsana ke dua negeri yang saling bertetangga di penjuru utara pulau Ambon tersebut. Bukan tanpa perkara yang sederhana bila semangat mereka demikian membara seperti itu. Pasalnya adalah, di tiap hari yang bertepatan dengan hari ketujuh setelah Idul Fitri atau 8 Syawal pada penanggalan Hijriah, dua negeri adat yang penduduknya beragama Islam tersebut mengadakan satu tradisi pukul sapu atau yang lebih dikenal dengan Baku Pukul Manyapu.


Ritual ini dilaksanakan untuk mengenang Perang Kapahaha yang dipimpin oleh Kapitan Achmad Leakawa alias Tulukabessy pada zaman penjajahan dulu. Dalam acara ini, setiap peserta yang merupakan laki-laki asli negeri dibagi menjadi dua kelompok. Mereka lantas harus merelakan tubuhnya dipukuli oleh sapu lidi hingga terluka dan berdarah. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk memukuli kelompok lawan dengan menggunakan sapu lidi secara bergantian. Lidi yang digunakan dalam acara ini bukanlah sembarang lidi. Lidi yang digunakan adalah lidi yang berasal dari pohon sagu yang berukuran cukup besar. Panjang lidi berkisar antara 1,5 hingga 2 meter, sedangkan diameter pangkal lidi mencapai 1 hingga 3 sentimeter. Tak heran bila akhirnya para peserta yang dipukuli tersebut mendapatkan luka yang cukup parah. Namun, uniknya tidak ada satupun dari mereka yang merasakan sakit.


Sebelum acara dimulai para peserta dikumpulkan di suatu tempat untuk mendapatkan doa dari para tetua adat agar prosesi berlangsung lancar dan seluruh peserta diberi keselamatan. Selanjutnya, mereka harus berlari keliling kampung secara bersama-sama.


Meskipun warga negeri Mamala dan Morela beragama Islam, sejak dahulu tradisi tersebut selalu dihadiri oleh pula oleh umat Kristen terutama yang berasal dari negeri yang memiliki kekerabatan [pela] dengan kedua negeri tersebut. Negeri Mamala memiliki pela dengan negeri Lateri, sedangkan negeri Morela berpela dengan negeri Waai.


Acara baku pukul manyapu dilaksanakan di halaman Masjid Negeri Mamala dan Morela dan dihadiri pula oleh Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu. Sebelum acara inti dimulai, pengunjung disuguhi berbagai acara mulai dari penampilan band lokal, tari-tarian adat, hingga pertunjukan musikal dari negeri pela yang beragama Kristen.



Tiba di halaman masjid, para peserta Pukul Manyapu disambut meriah. Mereka langsung mengitari lapangan diiringi sorak-sorai seluruh penonton yang telah menjejali lapangan dan teras masjid. Para peserta yang berjumlah sekitar 60 orang datang dengan menggenggam puluhan lidi. Mereka hanya menggunakan celana pendek dengan dua warna berbeda dan bertelanjang dada. Tim dengan celana berwarna putih mengenakan ikat kepala putih, sedangkan tim dengan warna celana merah menggunakan ikat kepala merah.


Setiap kelompok dari setiap tim yang ada kemudian saling berhadapan. Dengan aba-aba dari pemimpin pertandingan, ritual Pukul Manyapu pun dimulai. Sst… plak… plak…! Bunyi lidi daun sagu berkelebat di udara saat dipukulkan ke tubuh. Kelompok yang mendapat giliran memukul langsung melecutkan lidi mereka ke kelompok yang mendapatkan giliran dipukul dengan lidi. Aturan yang harus dipegang, kelompok yang dipukul baru dapat memukul kelompok yang lainnya setelah ada aba-aba dari pengatur pertandingan. Pergantian waktu itu dilakukan bila peserta sudah mendekati tempat para penonton di pinggir lapangan. Penonton yang berada di pinggir lapangan pun bergerak maju mundur mengikuti irama para peserta. Penonton akan maju bila peserta bergerak ke sisi yang berseberangan, tetapi akan mundur bila peserta bergerak ke arah mereka. Hal ini dilakukan agar penonton terhindar dari lecutan lidi. Terkena sedikit sabetan ujung lidi terasa cukup panas di kulit. Guratan bekas pukulan lidi pun membekas pada seluruh tubuh peserta. Darah segar mengalir dari luka akibat lecutan lidi. Namun, umumnya peserta tetap mengikuti prosesi hingga selesai.


Seusai prosesi Pukul Manyapu, tubuh para peserta di negeri Mamala yang berdarah diobati dengan minyak tasala atau minyak mamala, yakni minyak khusus yang dibuat untuk mengobati luka para peserta. Berbeda dengan negeri Mamala, di negeri Morela bekas luka biasanya diobati dengan getah daun jarak. Tak ada dendam di antara mereka. Pengunjung pun tak lupa saling berebut untuk mengambil lidi-lidi yang telah dipakai selama prosesi. Ada yang mengambilnya sebagai tanda mata, atau mungkin ada juga yang ingin mencoba uji nyali pukul sapu dengan lidi tersebut setibanya di rumah? Tiada yang pernah tahu.

5 comments:

Andik said...

Kalo di Jawa Timur, khususnya di daerah Kediri sampai Trenggalek, juga ada tradisi semacam ini, tapi sudah lama ditinggalkan. Namanya Tiban. Agak berbeda dengan Baku Pukul Manyapu, Tiban ini menggunakan anyaman bambu yg dibentuk seperti cambuk (ga tau lebih sakit atau ga hehe). Setelah acara selesai, luka2nya dibasuh dengan irisan pisang yg masih muda. Ga kebayang perihnya kek gmn.. :D

desan said...

mbikin kangen ambon..

hwa.. ga tau kapan aku bisa kesana lagi..

Galuh said...

Wah.. (seperti biasa) tulisannya menarik. Pengen juga satu saat bisa nulis hal kayak gini --berkaitan sama seni, adat & kebudayaan.

ilham said...

Nggak Tau deh mesti bilang apa
hiks.. hiks... hiks...

Bangga ..? karena memiliki tradisi dan budaya. atau malu akan tingkah laku ..?

Secara hukum Islam entah bagai mana, yang pasti tidakan ini tidak jauh berbeda dengan kaum syiah dlm mengenang tragedi Karbala yang telah merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain r.a.

Bangga atau malu ..!?

www.eink4ufen.wordpress.com
www.cumasekedar.blogspot.com

Deasy Rosalina said...

@Andik : oh ada juga yah yang mirip2 kek gitu, kalo ini diolesin minyak asli dari desa ato getah daun jarak

@mba Desan : hayo donk mba, ke mari, mumpung aku masih ada di sini ;)

@Galuh : doumo arigatou, pastinya bisa donk :)

@Ilham : ya, awalnya tradisi ini memang digunakan sebagai tanda perpisahan dua kubu yang saling berperang saat melawan Belanda, tapi akhirnya supaya g hilang, jadi tradisi macam ini :)