Credits to

Powered by Blogger

Friday, November 02, 2007

Sebuah Keputusan

Tak ubahnya gugusan bintang yang menetaskan cahayanya sendiri, pepasir pantai di negeri Hukurila tampak gemilang dari kejauhan. Berbeda dengan pepasir di negeri Kamarian yang lusuh meski telah berbasuh air laut yang kerap menyambanginya bersama gelombang pasang. Batu-batu karang besar yang menghampar di pojokan tanjung menegaskan pada setiap yang bertandang agar selalu mawas pada keteduhan laut yang sejatinya ganas. Ketegasan tersebut bukan tanpa satu motif yang nyata. Garis pantai negeri Hukurila memang menelikung tepat di tepian laut yang tersohor di dunia karena kedalamannya yaitu Laut Banda. Jika awan gemawan sedang jenuh untuk bergumul, maka langit dan baruna laiknya karib yang tak terpisahkan lagi, pun oleh seutas benang cahaya mentari di siang hari.

Bocah kecil itu sedang duduk termenung di salah satu bongkahan batu karang yang cukup besar. Seakan tak hirau akan resiko maloklusi yang tengah menggerayanginya, dengan santai ia menyandarkan kedua telapak tangannya di bawah dagu sementara sikutnya bersua dengan tempurung lututnya. Angannya tengah jauh melanglang buana ke negeri asalnya, Kamarian, yang terletak di ujung barat daya pulau Nusa Ina. Ada rindu yang melantun merdu ke dalam setiap pembuluh jiwanya. Ada sesak yang berserak di balik bilik jantungnya. Ada pijar yang menggelegar di cemerlang siangnya. Ada pula gersang yang menyerang kala ia merapatkan sampan di tepian dermaga Hatuhuran. Sekejap, ia tepiskan jauh-jauh kesemuanya itu. Segala kegalauan yang dulu pernah menghinggapinya kini telah musnah berkeping-keping. ‘Azzamnya sudah bulat untuk meretas satu impian kolosal meski harus berkelahi dengan waktu.

Ada cakap yang menyergapnya agar duduk mantap di negerinya. Ada yang berujar jika kepergiannya ke tanah ini hanya untuk mengejar kepentingan duniawi semata. Bahkan, tak jarang ada celoteh yang terlontar bahwa anjangsananya adalah demi menghampiri segaraning nyawa. Namun, buncahan demi buncahan telah demikian mendidihkan darah mudanya. Sejatinya, ada sebuah alasan yang tiada akan pernah dapat dimengerti oleh khalayak dan hanya Rabbnya-lah yang mahfum mengapa akhirnya ia harus mengambil keputusan tersebut. Sebuah alasan yang ia harap dapat menggiringnya menatap bilur pesona Sang Kekasih.

Ia sungguh tak pedulikan lagi cakap orang banyak mengenai kepergiannya dari kampung halaman tercinta di usia yang masih teramat dini. Ia yakin bisa bertahan meski dalam kesendirian. Ia percaya bahwa ia mampu hadapi gaharnya angin Barat yang berhembus di penghujung tahun ini. Ia sepenuhnya mengimani bahwa satu-satunya kekuatan yang ia miliki merupakan limpahan rahman dan rahimNya. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, satu keputusan telah ia ambil dan tak ada yang akan pernah ia sesali atasnya. Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billaahil ‘aliyyil ‘adzhiim.

*sebuah tulisan lanjutan dari "Galau"*

15 comments:

Andik said...

Bismillaah...

Semoga keputusannya adalah yg terbaik dan pasti yg terbaik menurutNya... aamiiin...

(walaupun ga ngerti maksutnya.. hehe, huh selaluu saja bikin muka semrawut :p)

perasaan pernah denger istilah "maloklusi", kapan yah?? :-?

Anonymous said...

Coba coba aja

Upi said...

Tes

Agam said...

Meskipun aku sudah tau resiko maloklusi. Tapi tetep aja kadang2 menyandarkan dagu di tangan juga.
hehehe..
Tapi biasanya bukan aku sandarkan di genggaman tangan atau telapak tangan, melainkan di jempol, jadi resiko maloklusinya tidak seberapa besar. :)

Spedaman said...

Spedaman yakin keputusan yg diambil itu tepat.

banyak hikmah dan harapan terkandung didalamnya..

*nyambung ga yak?* :P

fathy said...

"...the fate is on your own creation..."

(the powerof the dream - celine dion)

wish u all the best, dear...
keep in touch ya. ntar gw kirimin pecel lele deh dari jakarta. hihi ;P

Yusuf Alam Romadhon said...

bismillaahi tawakaltu 'alallaahi wa laa haula wa laa quwwata illa billaah...

keputusan yang diberkahi... amin baik salah atau benar hasil akhirnya..

TaTa said...

psstt cha ada apa?? masih kesel mati lampu ??? *ngacir*

Ady said...

Abaikan saja semua cakap itu... tetap melangkah dan yakin pada nurani...
hehehe nyambung ga yah??

ichal said...

hati kitalah yang patut cakap atas diri kita,
keputusan kita yang punya!!

inda_ardani said...

halo dokter rosa! baru pertama ke sini nih, tapi karena oggix di browser saya agak ngambek makanya saya posting komen aja, pertama kali lihat blog ini pas di artikel orto. cantik deh blognya.

uhm, dokter rosa ini banyak posting artikel islami yaa, sayangnya untuk yang satu ini saya kurang mengerti, dok :) pengalaman pribadi atau fiksi niii?

salam kenal dari fkg ugm :)

Adis.web.id said...

Apakah kemilaunya pepasir mewakili perasaan orang yang tinggal di situ? Kebetulan aku pernah mengalami pecah ban di kamariyan, emang bener pantainya gak terlalu "bersih"

Maya Fajar said...

Bgmn dg drg.Rosa? terjadi cinlok ga? hehehe..ada yang kepilih ga selama disitu?:D ceritanya blom tuntas nih:)

RoSa said...

@Andik : Insya Allah, semoga Allah senantiasa meridhoi segala keputusan ini...Amiiin [-o< (TM)

@Anonymous : coba coba apa, tho?

@Upi : tes diterima :)

@Agam : nyenderin jempol kurang mantap deh kekna ;))

@Spedaman : Amin, semoga ya Om :)

@Fathy : mau mau, di sini orang pada g suka lele, tapi lebih milih belut euy :-/

@dr. Yusuf : Bismillah, semoga niat yang lurus, dapat membawa barokah :)

@mba Tata : iya ni, lagi krisis solar jadi sering mati lampu deh, hikz :(

@Ady : yap, pasti akan tetap yakin pada nurani :)

@Ichal : betul banget, Mas...makanya butuh kejernihan hati agar dapat membuat keputusan yang tepat :)

@inda : ini pengalaman pribadi sih, heheh, salam kenal juga ;)

@Adis : kemilaunya pepasir karena ada Dia yang menjadikannya demikian :)...di Kamarian memang pasirnya agak lusuh

@teh Maya : cinlok? wah gak deh kekna teh, nanti deh kapan2 ceritanya dtuntasin via Y!M aja yak :D

da3ng limpo said...

alam yang indah, penghormatan terhadap sesama, penduduk yang ramah, adalah keindahan yang tidak ditemukan lagi di kota-kota besar. Disini hanya kesibukan egoisme, materi, banyak manusia yang berbadan sehat tetapi sedikit sekali yang berjiwa sehat. Bersyukurlah.Salam.