Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, January 31, 2007

Bermi'raj ke Langit Ketujuh


Senyapnya malam menjelang datangnya fajar
Hangatnya peraduan yang diliputi oleh kain panjang
yang terbuat dari bulu domba
Syahdunya mimpi-mimpi tentang kisah anak manusia
Makin melenakan mata yang rindu tuk terpejam
dan siapapun yang tak ingin terjaga

Di satu sudut selembar sajadah menggigil tampak memanggil
Berdebu ia wujudnya oleh jarangnya bahkan tak pernah dipakai
Rindunya ia pada sosok yang bersujud khidmat di atasnya
dan sesudahnya lantunan doa-doa panjang
Penuh khauf dan roja'
Pada Rabb Semesta Alam
yang pada waktu itu kan mengijabah setiap pinta

Di sudut lain terlihat sebuah mushaf yang agak usang
Ucapnya tak pernah dibuka oleh si empunya
Tenggelam dalam aktivitas duniawi yang seakan tiada usai
Sejatinya ia amat menantikan tilawah-tilawah tartil
Diselingi oleh tetesan bening air mata
Jujur dari sebuah hati yang demikian halus
Hati yang tergetar demikian hebat kala
nama Rabbnya dituturkan
Sukma yang kian bertambah keimanannya saat
ayat-ayat suci itu terbuncahkan

Tak jauh dari sudut itu segelintir tasbih tergolek lemah
Dahulunya ia adalah cindera mata dari sebuah walimatul'ursy
yang benderang bila gelap menerpanya
Kini tak ada lagi kejayaan lagi padanya
Jangankan sebagai pelengkap untaian dzikir-dzikir khusyuk
Asesoris pun bagai tak berarti

Usia kan terus beranjak menapaki dunia fana
Kadang tegar dan tak jarang tertatih
Terpaan badai selalu berhembus pada azzam sebuah hijrah
Seringkali bersangka bahwa kewajaran semata adanya
Karena panah-panah syaithoni kan menyerbu dari segala arah
Mungkin iya pada mulanya
Namun kelanjutannya adalah menjadi adat
dan makhluk terkutuk itu pun tinggal berongkang-ongkang kaki
nikmati capaiannya

Terbanglah ke langit ke tujuh
Bermi'rajlah ke langit ke tujuh
dan lihatlah dengan sejelas-jelasnya
syurga dengan cahaya yang demikian berkemilau
aromanya menjalar
sungai-sungai yang mengalir tiada henti
airnya tiada berubah rasa dan baunya
sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya
sungai-sungai dari madu yang disaring
buah-buahan tak henti-henti
bidadari-bidadari bermata jeli laksana mutiara
yang tersimpan baik
bangunan yang terbuat dari batu perak dan emas
yang perekatnya dari mutiara dan permata yaqut
sedang debu-debunya adalah za'faran
yang barangsiapa memasukinya
akan merasa senang
tak pernah susah dan tak pernah mati
pakaiannya tak pernah kumal dan masa mudanya tak pernah sirna
yang demikian itu sesungguhnya belum seberapa

Terbanglah lagi ke langit ke tujuh
Bermi'rajlah ke langit ke tujuh
tatap kembali sejelas-jelas
naar dengan azab teringannya
hanya dengan dua butir bara api di kedua telapak kaki
dapat merebus otak yang selama ini
begitu terlindungi oleh kerasnya cranium
sungai-sungai yang mengalir
baunya begitu busuk dan amat mengganggu penghuninya yang lain
minuman penghuninya adalah dari air
seperti besi mendidih yang dapat menghanguskan muka
pohonnya memiliki mayang seperti kepala-kepala setan
dan lagi-lagi itu baru sebagian kecil saja

Sekarang tinggallah memilih
mana yang akan ditinggali untuk kehidupan abadi...

-Deasy RoSalina-

Saturday, January 27, 2007

bercerita soal Jodoh

Salah seorang teman baikku, M, sedang pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru lantaran stres berat akan masalah yang sedang dihadapinya. Dia beralasan padaku bahwa masalah kliniklah yang paling membuatnya stres. Kebetulan dia kini sedang berada di klinik penyakit mulut dan mendapatkan dosen penguji yang terkenal sulit. Seingatku, klinik penyakit mulut adalah salah satu klinik yang paling menyenangkan. Di klinik tersebut aku tidak perlu risau memikirkan requirement pasien seperti di klinik-klinik lainnya. Di klinik penyakit mulut, tugas mahasiswa profesi hanyalah sebagai pendamping dokter-dokter yang sedang mengambil program spesialis penyakit mulut di RSCM untuk mencatat rekam medik pasien. Selain itu, requirement lainnya adalah membuat satu seminar jurnal dan satu seminar laporan kasus. That’s all. Maka akupun berpikir bahwa pasti ada hal lain yang membuatnya demikian stres hingga memutuskan untuk pulang dulu ke kampung halamannya pada akhir pekan ini. Aku berasumsi bahwa etiologi utama stresnya adalah masalah hubungannya dengan seorang pria. Setelah kukorek keterangan dari salah seorang temanku yang lain, ternyata asumsiku itu benar adanya. Dari keterangan temanku tersebut, M sedang pusing memikirkan hubungannya dengan seorang pria karena tidak disetujui oleh orang tua pria tersebut. Alasannya sungguh klise yaitu permasalahan suku! Menurut temanku yang kumintai keterangan tersebut, orang tua pria tersebut menolak hubungan mereka karena si M itu berasal dari Sumatera Barat, sedangkan pria tersebut berasal dari Sunda.


Hal tersebut membuatku kembali teringat pada rentetan peristiwa yang terjadi hampir serupa dengan kejadian tersebut. Salah seorang teman satu grupku, kita sebut saja dia dengan E, pada saat berada di klinik penyakit mulut dia juga mengalami hal yang hampir sama. Berat badannya merosot drastis dari 47 kg menjadi 42 kg lantaran stres berat memikirkan hubungannya dengan seorang pria bersuku bangsa Aceh yang tinggal di Medan. Kebetulan, si E lahir dari kedua orang tua yang bersuku Batak. Usut punya usut, orang tuanya terutama sang ayah, sangat menentang hubungan jarak jauh mereka itu. Ayahnya memegang prinsip bahwa ia haruslah menikah dengan pria yang bersuku bangsa sama dengan mereka, yaitu Batak, dan lebih spesifik lagi jika bisa berasal dari Tapanuli Selatan. Segala cara sudah dilakukan oleh si E dan pria tersebut untuk dapat melunakkan hati kedua orang tuanya. Namun, hasilnya tetap nihil. Ternyata, sedemikian banyak mutasi dinas ayahnya ke seluruh Indonesia tidaklah membukakan pintu hatinya untuk mengizinkan putrinya tersebut menjalin hubungan dengan orang yang berbeda suku. Si E malah berpikir hal itulah yang mungkin menyebabkan ayahnya masih tetap keras dengan kesukuannya. Bertemu dengan banyak orang dari bermacam ragam adat yang berbeda rasanya kian mengukuhkan pemikiran konservatifnya tersebut. Ada hal yang menarik dari temanku si E ini. Dia pernah berujar padaku bahwa sejak dia tumbuh remaja, ayahnya telah mewanti-wantinya untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang berasal dari tiga suku yaitu, Sunda, Padang, dan Aceh. Namun, apa mau dikata, ternyata belakangan ia malah menjalin hubungan dengan pria dari ketiga suku tersebut. Pria pertama berasal dari Padang. Karena hubungannya ternyata ketahuan oleh ayahnya, akhirnya ia harus memutuskan hubungannya tersebut ketika masih SMU. Pria kedua berasal dari Sunda. Pria yang satu ini kebetulan adalah tetangganya sendiri. Lagi-lagi harus berakhir dengan pil pahit karena hubungannya juga tercium oleh ayahnya. Yang terakhir, dia menjalin hubungan dengan seorang pria yang juga sepupu temanku. Pria ini berdomisili di Medan, tetapi aslinya dia berasal dari Aceh. Aku sempat menanyakan pada si E mengenai alasan ayahnya untuk tidak mengizinkannya menjalin hubungan dengan pria dari ketiga suku tersebut. Dia berujar padaku bahwa ketiga suku tersebut memiliki kecenderungan untuk mendominasi. Orang Aceh cenderung keras [melebihi kerasnya orang Batak tuturnya], orang Padang menganut paham matrilineal [sangat bertentangan dengan suku Batak yang menganut paham patrilineal, sedangkan orang Sunda sering terlalu banyak berbasa-basi.


Masih seputar permasalahan hubungan berbeda suku, salah seorang temanku yang lain juga memiliki masalah yang sama. Kita sebut saja namanya A. Si A ini juga berasal dari Tapanuli Selatan. Dia juga bercerita padaku bahwa hubungannya dengan seorang perempuan agak mengalami halangan dari kedua orang tuanya. Orang tuanya menginginkan bahwa anak laki-lakinya ini bisa menikah dengan perempuan bersuku bangsa Batak. Mereka berpendapat bahwa dengan menikah dengan perempuan satu suku akan lebih mudah nantinya untuk menyesuaikan adat istiadat yang ada. Kedua orang tuanya juga mewanti-wantinya agar kalau bisa tidak menjalin hubungan dengan perempuan dari suku Sunda. Lucunya, justru perempuan yang kini sedang menjalin hubungan dengannya adalah berasal dari Sunda, tepatnya Cirebon. Lucunya lagi, kedua orang tuanya ini juga telah sejak lama mengalami mutasi dinas ke berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar kesamaan itulah, tadinya aku sempat memiliki niat untuk menjodohkan mereka berdua, hehehe. Namun, ketika aku utarakan niatku pada si A, dia berkata bahwa dia akan mencoba untuk mempertahankan hubungannya. Alhasil dia menyarankanku untuk menawarkan ’penawaranku’ tersebut pada abangnya. Jadilah aku dikenalkan dengan abangnya yang ternyata berdomisili di Jakarta, kita sebut saja dia dengan si D. Dari beberapa kali pertemuanku dengan si D ini, aku sempat mengajukan ’penawaranku’ tadi. Namun, ternyata dia tidak tertarik untuk mencobanya karena dia tidak mau merusak kesetimbangan yang sudah ada terlebih dahulu antara si E dan prianya tersebut. Uniknya, si D bercerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan seorang wanita kepadaku. Dia berkata bahwa dia pernah menjalin hubungan selama tiga tahun dengan seorang perempuan sewaktu dia berada di Medan. Hubungannya ini harus kandas dikarenakan orang tuanya tidak menyetujui hubungan tersebut karena perempuan tersebut berasal dari Aceh. Si D pernah berujar padaku bahwa jika sampai usianya yang ke-30 dia belum dapat menemukan seorang perempuan untuk menjadi pendampingnya, maka kemungkinan besar orang tuanya akan menjodohkannya dengan perempuan yang berasal dari Batak. Ternyata, kini di usianya yang ke-27 sepertinya dia telah menemukan perempuan untuk menjadi pendampingnya kelak. Namun, dia sendiri pun masih ragu apakah orang tuanya akan dapat menerima perempuan itu karena perempuan itu berasal dari Jawa!


Hhh....pusingnya mempersoalkan masalah suku dalam pernikahan. Orang-orang yang berpikir konservatif mungkin menganggap bahwa kesamaan suku dalam pernikahan dapat menyelesaikan masalah yang mungkin ada nantinya. Namun, orang-orang yang berpikir moderat berpendapat bahwa sudah tidak zamannya lagi orang harus menikah dengan satu suku.


Ada hal yang menarik untuk ditilik lebih lanjut tentang masalah ini. Dari segi genetika, bila ada dua orang-orang yang berbeda suku atau ras menikah, maka akan dihasilkan keturunan yang unik. Pertanyaannya adalah, seunik apa??? Sekedar contoh saja, jika orang Indonesia menikah dengan ekspatriat, maka biasanya akan menghasilkan keturunan yang memiliki darah berhesus negatif. Golongan darah rhesus sendiri ditemukan oleh orang Barat dengan klaim bahwa rhesus positif hanya ditemukan pada kera. Untuk itu, mereka beranggapan bahwa orang-orang dunia ketigalah [Asia dan Afrika] yang memilikinya. Itu satu contoh yang ditilik dari segi ras. Ada contoh lain untuk diamati pada pernikahan antar suku. Secara genetika, tiap-tiap suku telah dianugerahi karakteristik yang khas. Contohnya saja orang-orang yang berasal dari suku Jawa atau Sunda biasanya memiliki bentuk rahang dan gigi yang kecil. Mungkin ini dipengaruhi oleh jenis makanan mereka di waktu lampau yang lebih banyak memakan daun-daunan. Berbeda dengan orang-orang dari Sumatera yang kebanyakan memiliki rahang dan gigi yang besar. Oleh karena itu, biasanya pernikahan antar dua suku yang berbeda ini [Jawa dan Sumatera] menghasilkan keturunan yang kondisi gigi geliginya dapat renggang-renggang atau malah berjejal. Hal itu banyak kutemukan pada pasien-pasienku yang terlahir dari dua suku yang berbeda tersebut. Ada salah seorang pasienku yang bersuku bangsa Batak-Jawa memiliki kondisi gigi geligi yang amat berjejal. Kondisi giginya yang besar [sepertinya diperoleh dari ayahnya yang bersuku Batak] amat tidak harmonis dengan kondisi rahangnya yang kecil [sepertinya ini dari sang ibu yang bersuku Jawa] sehingga gigi-giginya pun dalam keadaan amat berjejal.


Yang demikian tersebut hanya segelintir contoh. Memang tidak dapat digeneralisir begitu saja, orang yang menikah berbeda suku akan menghasilkan keturunan yang tidak harmonis bentuk rahang dan gigi geliginya [kebetulan saya hanya mengamati dari segi ini]. Keharmonisan bentuk rahang dan gigi geligi justru bisa didapatkan dari keharmonisan suami istri pada saat istri sedang mengandung sang anak. Chemistry yang ada di antara suami istri pada saat istri sedang mengandung terutama pada saat tumbuh kembang gigi geligi, dapat memperbaiki kondisi gigi geligi dan rahang yang tidak harmonis. Kasih sayang suami pada istrinya di kala mengandung sang anak secara embriologi dapat mensinergiskan perkembangan rahang dan benih gigi geligi. Hal yang mungkin terlihat sepele tapi benar adanya.


So, semua telah Allah SWT tentukan untuk kita. Pastinya kita bersama-sama telah mengetahui bahwa rezeki, jodoh, dan maut telah ditentukanNya. Tugas kita hanyalah berikhtiar untuk bisa mendapatkan yang terbaik. Masalah pilih memilih jodoh, Rasulullah telah bersabda bahwa, Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat [HR. Bukhari, Muslim]. Khusus masalah agama, Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah. Sebab dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih. Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus `menyekolahkan` kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik. Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT. Dari sisi nasab atau keturunan, merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang berasal dari keluarga yang taat beragama dan baik keturunannya. Dengan mendapatkan istri dari nasab yang baik itu, diharapkan nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab mendapatkan keturunan yang baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di dalam Al-Quran Al-Karim. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”[QS. An-Nisa : 9] . Sebaliknya, bila istri berasal dari keturunan yang kurang baik nasab keluarga, seperti kalangan penjahat atau keluarga yang pecah berantakan, maka semua itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada jiwa dan kepribadian istri. Padahal nantinya peranan istri adalah menjadi pendidik bagi anak. Apa yang dirasakan oleh seorang ibu pastilah akan langsung tercetak begitu saja kepada anak. Pertimbangan memilih istri dari keturunan yang baik ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab bukan hal yang mustahil bahwa sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik. Namun masalahnya adalah pada seberapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan berpengaruh kepada calon istri. Selain itu juga pada status kurang baik yang akan tetap disandang terus ditengah masyarakat yang pada kasus tertentu sulit dihilangkan begitu saja. Tidak jarang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat. Maka bila masih ada pilihan lain yang lebih baik dari sisi keturunan, seseorang berhak untuk memilih istri yang secara garis keturunan lebih baik nasabnya. Yah, mau menikah berbeda atau sama sukunya tetap agamalah yang menjadi pertimbangan utama. Setelah itu adalah bagaimana nantinya kedewasaan kita dituntut dalam menghadapi terjangan berbagai badai yang pasti akan ada menerpa bahtera.


Thursday, January 25, 2007

Memoar Sepotong Pizza


Appetizer :

selada, red beans, cauliflower, japanese cucumber, cabbage, macaroni

chili powder sekedar berbasa-basi bahkan mungkin garing

olehnya disiram dengan thousand islands

tercipta

sepiring garden salad nan menggiurkan di keheningan mayonaise

meski sedikit pedas

dengan pandangan penuh selidik

mencoba tuk menerka tiap serpihan parmesan di dalamnya

berbincang dengan potongan garlic bread berhias sweet corn

dalam hangat cream soup tanpa nachos


Main Menu :

memacu epineprin memotong panasnya

panggangan enam potongan roti

tak hanya smoked beef, paprika, dan pineapple

mozarella pun tak mau kalah mengintip di balik keriuhan itu

bercakap atas nama kejujuran yang

diselingi fetuccini bercampur tomato sauce

berpetualang dalam gelimangan sierra mist dingin

sebentar

goresan pisau di potongan lima mengatakan

ingin bersua di carbonara tapinya

tak bisa karena belumlah selesai

cream soupnya hampir perforasi

padahal sudah dipreparasi secerdik mungkin

meguri ai


Dessert :

chocolate fundoo telah menanti di ujung sendok

tapi percakapan double chocolate sundae tak kunjung usai

bahkan heningnya Opera cake

tak jua menyudahinya

cinnamon sticks seakan tak sabar menyeret rembulan

ke atas pohon kelapa

dan ternyata potongan pizza itu pun masih belum habis

Monday, January 22, 2007

Menyusun Legenda

Surya baru saja hendak naik ke singgasananya. Menunggu di titik penantian akan debar tak kuasa. Tak pelak ingin meruntuh ruam-ruam perjalanan lampau. Lewati fragmen dengan sedikit jeda di perbatasan. Tiada gumam tersesali dalam kurun tersebut. Baiklah, mungkin ada tandasan akan ketidakjujuran dalam pencapaian. Sebentar, apakah nyata itu merupakan ketidakjujuran? atau terlalu naifkah mencari kemurnian jalan untuk meraih suatu tujuan?


Sunyi, tak seramai masanya dulu. Kala ratusan kaum intelektual itu berdesakkan untuk menggapai-gapai segala yang ada. Tak demikian dengan sesosok yang terduduk suntuk di satu sudut. Sebentar ada tangis, sekejap kemudian ada 'azzam, sedetik datang ada cemas. Silih berganti bak putaran pedati. Sejatinya, tak ada aroma apapun yang melambungkan memori pada momen-momen itu. Namun, goresan-goresannya masih sedikit merintih perih, mungkin di palung relung terdalam.


Sementara itu, cakapan-cakapan eksotika lain menggerayangi bak lengkingan suara tak berwujud di malam hari. Berdalih. Semua insan telah memiliki jalannya sendiri. Dari bawah yang lantas naik ke atas, ada juga yang dari bukit meluncur ke lembah. Tak jarang, stagnan di kedua titik kulminasi. Apakah semua abadi? Sudah sunnatullah, bak bulatan bumi yang berotasi dalam penggenapan dua puluh empat jamnya, ada titik yang akan mengejawantahkan halnya. Kerap kali kasat mata, tapi tak jarang serba jadi serba gaib. Nampaknya, hanya yang memiliki kejernihan nurani dapat membaca bagaimanapun situasi yang ada.


Sejenak melepaskan bayang-bayang legenda yang tertampik. Bukan untuk dilupakan atau bahkan ditenggelamkan. Legendanya masih sama, hanya saja lewati labirin yang berbeda. Legendanya rasa tak berubah, meski pilihan datang bertubi-tubi. Dan kesemuanya memancarkan kilauan bak bintang di langit. Ada haru, masih diperkenankan menatap hamparan langit nan luas di ufuk barat. Ada harap, kala dihadapkan pada semiotika kejayaan di belahan timur. Ada senyum, saat dibenturkan dengan cadasnya pertarungan di masa mendatang. Entah mengapa, inginnya tetap sama. Hati telah membatu pada legenda itu.


Sebait dua bait rasa hampa bila legenda kembali tak tergapai. Tetap berpasrah, diparaleli ikhtiar, padaNya akan semua jalan dan pilihan. Sekali lagi, tiada sesal akan tertundanya legenda tempo hari. Karena Dia, telah sisipkan kebahagiaan di delik tetesan air mata yang tercurah. Dan di awal tahun ini, sebuah semangat baru tuk wujudkan resolusi diri, dengan izinMu, Rabb Penguasa Semesta Alam. Laa takhof wa Laa tahzan...Innallaha ma'ana...


Friday, January 19, 2007

Bleaching dalam Islam

Adakah orang di dunia ini yang tiada ingin tampil cantik dan menarik secara keseluruhan? Rasanya hampir semua orang memiliki keinginan demikian. Tidak hanya kaum hawa, kaum adam pun kini berbondong-bondong datang ke pusat-pusat perawatan tubuh untuk mendapatkan penampilan yang optimal. Tak luput pula dari perhatian adalah masalah gigi dan mulut. Memiliki gigi yang rapi dan putih berkilau bak mutiara tampaknya juga merupakan keinginan banyak orang. Langkah pertama yang banyak dilakukan orang untuk mempercantik gigi adalah dengan membuat gigi terlihat lebih putih. Dr. Bruce A. Matis, seorang profesor yang membidangi penelitian klinis di Departement of Restorative Dentistry, Indiana University, mengatakan bahwa warna gigi merupakan variabel penting dalam senyum yang menarik dan orang ingin giginya kelihatan lebih putih untuk membuat mereka terlihat lebih muda dan lebih cantik dalam rangka meningkatkan rasa percaya diri.


Untuk alasan tersebut, maka kini orang pun beramai-ramai membeli produk pemutih gigi yang dijual bebas ataupun jika ingin lebih aman mereka akan langsung datang ke dokter gigi terdekat. Namun, bagaimanakah sebetulnya Islam memandang perawatan pemutihan gigi [bleaching] ini? Apakah halal hukumnya bagi seorang Muslim untuk menjadikan giginya tampak lebih putih?


Sejatinya, Islam adalah dien yang mencintai kebersihan dan keindahan. Islam amat menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan dan bersih dalam berbagai. Seperti sabda Rasulullah SAW :

"Kebersihan sebagian dari iman" [HR. Muslim, At-Turmudzi dan Ahmad]

"Sesungguhnya ALLAH itu indah mencintai yang indah" [HR Muslim]


Terkait dengan anjuran membersihkan gigi, Rasulullah SAW bersabda:

"Siwak membersihkan mulut dan membuat ridha ALLAH" [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Al Hakim dan Al-Baihaqi]

"Kalau saja tidak memberatkan umatku akan aku suruh menggunakan siwak setiap akan shalat" [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]


Jadi, salah satu bentuk upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah dengan cara bersiwak, gosok gigi, dan lain-lain. Dalam hal ini, pemutihan gigi [bleaching] bisa jadi merupakan salah satu cara untuk memelihara keindahan gigi. Seperti telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, warna normal gigi permanen adalah kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Derajat perwarnaan gigi ini ditentukan oleh ketebalan dan translusensi email, ketebalan dan warna dentin yang melapisi di bawahnya, dan warna pulpa. Dengan bertambahnya usia, email dapat menjadi lebih tipis dan dentin dapat menjadi lebih tebal karena adanya proses fisiologis yang terjadi di dalam gigi. Warna gigi dapat berubah dikarenakan adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor-faktor dari dalam yang dapat menyebabkan perubahan gigi. Faktor instrinsik ini berhubungan dengan adanya penumpukan noda yang terdapat di dalam email dan dentin. Noda ini dapat berasal antara lain dari penggunaan antibiotik tetrasiklin, adanya perdarahan di dalam pulpa gigi [proses nekrosis/kematian gigi], dan gangguan pada saat tumbuh kembang gigi geligi. Adapun faktor ekstrinsik merupakan faktor-faktor dari luar yang dapat menyebabkan perubahan warna gigi, misalnya saja noda tembakau pada orang yang merokok, minuman seperti teh atau kopi, atau bahan tambal gigi berupa amalgam. Apapun etiologi atau penyebab dari perubahan warna gigi ini dapat ditanggulangi dengan prosedur bleaching, meskipun dengan teknik yang berbeda-beda tergantung faktor penyebabnya.


Terkait dengan bleaching, maka pembahasan tak akan lepas dari domain proses perubahan dalam diri manusia. ALLAH SWT telah menciptakan alam semesta termasuk manusia dalam keadaan seimbang, baik, dan indah. Oleh karenanya, Islam melarang [mengharamkan] merubah ciptaan ALLAH, khususnya pada manusia, apalagi perubahan tersebut berdampak pada kerusakan. Khusus pada manusia, berusaha merubah dirinya yang tidak ada alasan yang kuat merupakan bentuk ketidakridhaan dia kepada ALLAH. Dan merubah ciptaan ALLAH merupakan salah satu cara syetan untuk menyuruh manusia agar mereka bermaksiat. Sehingga merubah ciptaan ALLAH adalah kemaksiatan yang diharamkan ALLAH. Merunut dari penyebab perubahan warna gigi itu sendiri, maka hal ini tidak termasuk merubah ciptaan ALLAH yang diharamkanNya, karena gigi pada dasarnya berwarna putih, dan jika tindakan memutihkan gigi tersebut tidak merusak kesehatan maka hukumnya boleh. Jadi, mungkin sekarang tak ada lagi keraguan bagi Anda yang ingin memiliki gigi putih dan cemerlang bak mutiara.


-Drg. Deasy RoSalina-


Maraji' :

1. www.syariahonline.com

2. Walton R., Torabinejad. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsi. Jakarta: EGC. 1998.

Monday, January 15, 2007

...Kaeru Basho...


Itsumo mawari wo miwatasuto

[selalu saja ketika melihat sekeliling]

Atatakana egaoga sokoni

[ada wajah yang tersenyum hangat]

Don na ni tsurai michinorimo

[biar bagaimanapun beratnya cobaan yang dihadapi]

Sasaeau koto de norikoetekita

[kita lewati dengan saling mendukung]


Bokura no ikitekitamichi wa

[jalan hidup kita]

Kitto subarashii monodaroh

[adalah sesuatu yang menakjubkan]

Bokura ni wa itsudatte

[kapan pun kita]

Kaeru basho ga aru

[ada tempat untuk kembali]

Soratakaku maiagaru

[lihatlah langit setinggi-tingginya]

Kiboh daki ashita e mukai habatakoh

[gapailah cita setinggi-tingginya]


Yume mo omoi mo taisetsu ni

[mimpi dan angan-angan selalu diharapkan]

Sodatete kureta kono basho wo

[di tempat ini di mana kita dibesarkan]

Wasureta koto wa naikara

[tak kan ada yang dilupakan]

Itsudatte mae e susumeru n da

[tapi kita kapanpun harus selalu maju ke depan]

Shizukani nagareru namioto

[suara ombak yang mengalir lembut]

Oorenji iro shita yasashiisora

[langit lembut yang berwarna jingga]


Bokura wa hitorijanai

[kita tidak sendiri]

Hokori takaki daichi

[yang terpenting kebanggaan setingginya]

Kokokoni aru shiawase wo

[kedamaian yang ada di sini]

Hanasanai wasurenaiyo itsumademo

[tidak akan dilupakan dan dilepaskan, kapanpun juga]


*seberat apapun badai yang membentang di depan kita...semoga ALLAH selalu membikin kita kuat tuk hadapinya...akan selalu ada jalan tuk kembali padaNya...dan selalu ada jalan tuk wujudkan segala mimpi dan cita*

Saturday, January 13, 2007

Why ?

110107 @08.23 WIB :

"Kalo ngelepas R**** adalah hal yang bener kenapa rasanya begitu sakit ya cha?

Kenapa dia harus menangis? dan kenapa gw ngerasa sedih?

Apa gw udah ga waraz ya cha, ngelepasin orang yang begitu gw sayang?
btw buku weine lu ada di gw,

Pinjem dulu yaa cha mpe gw lulus hehe

Makasii banyak cha, ure an angel =]"

-V****-


Haaa???

Koq bisa buku itu ada sama V**** sih???

Perasaan yang pinjam dulu itu si P**** deh.

Udah selesaikah dia ujian???


120107 siang hari menjelang sholat Jumat di kampus FKG UI :

"Eh cha, buku Weinenya ocha kayaknya ada di si V**** deh"

-berpapasan dengan R**** -


120107 malam hari :

Masih menunggu kabar dari P****. Mungkin dia sedang tak ada pulsa untuk mengabari bahwa bukunya telah selesai dipinjam. Beri dia waktu sehari lagi.


130107 malam hari :

Akhirnya, tak sabar pula untuk tak bertanya pada P**** tentang keberadaan bukuku tersebut.

"Assalamu'alaikum P**, buku Weine-nya rosa sudah selesai dipinjamkah?"


130107 @20.34 WIB :

"Wa'alaikumsalam cha, sebelumnya gw mo minta maaf banget sama loe, buku loe dipinjem ama V****, kemarin sih pengen bilang dulu ma ocha, emang kenapa cha? Mau dipake ya? Buat kapan?"

-P****-

Glekz...tak ada reply untuk ini...

-----


Bila musim ujian masuk klinik atau ujian dokter gigi tiba, entah kenapa teman-temanku di kampus sering sekali mencariku untuk meminjam bahan-bahan kuliah, entah itu kumpulan hand-out, textbook, atau sekedar ringkasan bahan kuliah yang telah kubuat. Selama aku tidak sedang menggunakannya, aku biasanya akan dengan senang hati meminjamkannya pada mereka. Aku senang karena mungkin dengan demikian secara tak langsung aku dapat membantu mereka.


Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini tiap kali ada teman yang hendak meminjam bahan-bahan kuliahku, aku merasa enggan untuk meminjamkannya. Bukan maksud hati untuk bersikap pelit, tapi pengalaman-pengalaman soal pinjam meminjam inilah yang aku sesalkan.


Pada saat mereka membutuhkan bahan-bahan tersebut, maka mereka biasanya akan selalu mengejar-ngejar aku hingga dapat, mulai dari mengSMS, menelepon, atau bahkan menyambangi aku di tempat praktek. Namun, kejadian yang terjadi paska ujian usai adalah, aku kerap tak mengetahui bahwa harta berhargaku itu telah berpindah tangan ke orang lain. Parahnya adalah, orang yang pertama kali meminjam bahkan tak memberiku ucapan pemberitahuan apalagi sejumput untaian terima kasih.


Bukan gila akan kata "terima kasih", tapi aku hanya meminta suatu pertanggungjawaban atas kepercayaan yang telah kuberikan kepada mereka. Acapkali, kutemui hartaku tersebut sudah dalam kondisi yang menyedihkan. Entah jilidannya ada yang lepas, lembarannya ada yang robek, dan hal-hal lainnya. Hhhhh...padahal aku adalah orang yang sangat menjaga harta-hartaku itu dengan baik dan apik, tapi kemudian dirusak begitu saja oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Bila sudah begitu, orang terakhir yang memegang harta berhargaku itu justru biasanya berkelit,

"Gw gak tau cha, pas gw pinjem udah robek kayak begitu."


Seperti kejadian di atas tadi, apa sulitnya sih untuk mengSMS rosa sekedar memberitahukan bahwa buku tersebut telah selesai dipakai dan ingin dipinjam oleh teman yang lain? Toh, pada waktu dia meminjam buku itu dia dengan bersenang hati menelpon hingga menghampiriku di klinik. Lantas, mengapa sekarang justru kontraproduktif tanpa sepucuk alasan yang jelas? Salahkah aku bila akhirnya aku kecewa padanya karena tak bisa menjaga harta berhargaku itu?


Untuk mereka yang merasa pernah meminjam bahan-bahan kuliah apapun dari rosa dan tak dapat menjaganya dengan baik, bila pada teman sejawat saja kalian sudah tak dapat menunjukkan suatu tanggung jawab, bagaimana dengan tanggung jawab kalian pada pasien-pasien nantinya???

Wednesday, January 10, 2007

N A R S I S


Alkisah, Narcissus adalah seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh ke dalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga yang dinamakan narcissus. Setelah itu, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin.

"Mengapa engkau menangis?" tanya dewi-dewi itu.

"Aku menangisi Narcissus," jawab danau.

"Oh, tak heranlah jika kau menagisi Narcissus," kata mereka, "sebab walau kami selalu menari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat."

"Tapi...indahkah Narcissus?" tanya danau.

"Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?" dewi-dewi bertanya heran. "Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!"

Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata :

"Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri."

[a story taken from "The Alchemist" by Paulo Coelho]


Terminologi narsis tampaknya akhir-akhir ini kian jamak dilontarkan oleh sebagian besar orang. Perempuan, lelaki, dewasa, atau remaja, kerap menggunakan kata tersebut. Kata ini biasanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya sendiri dan kemudian bermanifestasi pada tingkah lakunya. Hal yang paling sering dilakukan orang yang mendapatkan label narsis adalah orang tersebut senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri di hadapan orang lain. Bisa jadi pujian pada dirinya tersebut benar adanya, tetapi yang kerap kali terjadi adalah pujian tersebut sesungguhnya sangat jauh kenyataan. Seseorang yang senang memotret dirinya, juga dapat dengan mudah diberi label narsis.


Sigmund Freud, bapak ilmu jiwa menguraikan dalam tulisannya bahwa narsis mengacu pada NPD [Narcissistic Personality Disorder], sebutan untuk mengenali kondisi yang mengarah pada gangguan karakter individu yang menunjukkan kesombongan, egoisme, dan kecintaan yang berlebihan pada diri sendiri. Namun, istilah tersebut dapat juga dikenakan pada kelompok sosial tertentu yang mengarah pada sikap membenarkan keburukan anggotanya, Jadi, dipandang dari sisi psikologis, sifat narsis sebetulnya telah masuk dalam kategori penyakit kejiwaan. Setiap orang sejatinya punya sifat ini, tetapi dalam derajat yang berbeda. Jika Anda memiliki derajat narsis yang cukup tinggi, siap-siap saja berobat ke psikolog.


Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung menjadi narsis. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor instrinsik [bawaan lahir...hati-hati nih buat calon orang tua yang narsis, bisa menurun ke anaknya lho ternyata!] dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Terkait dengan faktor eksternal, narsis biasanya timbul akibat adanya pengakuan yang berulang kali dari orang lain terhadap seseorang. Misalkan saja, seseorang kemudian merasa dirinya cantik karena banyak orang yang memberikan predikat tersebut kepadanya, meski pada awalnya dia tak merasa demikian.


Lebih lanjut, narsis ternyata tidak hanya bermanifestasi pada perilaku yang senang memuji dirinya sendiri, berlama-lama berdiri di depan cermin, atau kerap berfoto layaknya seorang model, tetapi juga terdapat implikasi lain dari sifat narsis ini sendiri. Di antara implikasi tersebut adalah; orang narsis merasa lebih hebat dan besar dibandingkan orang lain, memiliki fantasi untuk mencapai kesuksesan dan kekuasaan yang sangat tinggi, merasa dirinya unik dan berbeda dari orang lain, selalu merasa butuh pengakuan yang lebih dari orang lain, selalu ingin diperlakukan istimewa, cenderung manipulatif dan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak dapat berempati, dan selalu arogan. Jika lantas Anda memiliki salah satu dari ciri di atas maka Anda telah tergolong sebagai orang yang narsis.


Lebih lanjut, ada orang yang bertutur bahwa sekali-kali bersikap narsis tidaklah mengapa karena narsis memiliki efek positif terhadap kesehatan jiwa. Jika sudah demikian, maka rasanya perlu ada garis tegas yang membedakan terminologi narsis dan percaya diri [PD]. PD yang normal biasanya menghargai pujian yang datang kepadanya, tetapi tidak menganggap itu sebagai keharusan demi menjaga self esteem. PD yang pula tercermin dari keterbukaan terhadap kritik dan hanya mengalami kekecewaan yang sebentar kalau dikritik. Meskipun tidak mendapat perlakuan istimewa, orang yang PD tidak akan merasakan kekecewaan layaknya orang narsis. Kadar PD juga masih sehat ketika masih bisa mengerti dan empati pada perasaan orang lain. Cara terbaik untuk mencegah PD tidak berkembang menjadi narsis adalah dengan
mau mendengarkan kritik dari orang lain. Selalu mau mengeksplorasi kelebihan dan kekurangan pada diri juga merupakan salah satu cara agar PD tak lantas berubah menjadi narsis. Orang yang benar-benar PD tidak perlu memamerkan semua kelebihannya. Dia tahu kualitas dirinya dan tidak bergantung kepada orang lain agar merasa nyaman. Sebaliknya, orang narsis justru butuh pengakuan orang lain demi menggenjot rasa PDnya. Inilah rahasia terbesar orang narsis. Jauh dalam hati mereka, tersimpan sebuah jiwa yang sangat rapuh dan mereka menutupinya dengan menekankan betapa hebatnya mereka yang terbukti dari banyaknya pujian dari orang lain. Layaknya ibu tiri Snow White yang selalu bertanya pada kaca ajaibnya, "Mirror mirror on the wall! Who's the fairest of them all?"


*Terinspirasi dari Kopdaran Kebon Raya Bogor yang heboh itu...sepertinya dunia perNarsisan di tanah air ini menarik juga bila diulas lebih lanjut*

soal Kebon Raya Bogor

Sebelumnya RoSa mau minta maaf heula nih buat temen-temen yang udah pada nungguin postingan kopdaran Kebun [ato Kebon sih???] Raya Bogor kemaren, dikarenakan adanya kesibukan baru [ceileeee...gaya deh gw] baru bisa posting sekarang. Tapi, semoga hal itu tak mengurangi kesyahduan momen-momen indah kita kemarin...Ini ada beberapa foto gabungan yang berasal dari kamera RoSa dan temen-temen yang lain...



Nah...kalo yang ini sumpe de...foto eksklusif abis! Cuma kamera rosa yang bisa menangkap penampakan 'getar-getar cinta' dari mba tari dan mas yang di sebelahnya...hehehe



Anyway, mudah-mudahan bulan depan bisa ngadain kopdaran lagi yah. Seperti janjinya mas dq, obyek foto kita berikutnya adalah di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Itu loh, pulau yang syahdan memiliki banyak peninggalan masa Belanda termasuk berbagai macam penampakan, huehuehue...Jadi pesannya jangan banyak berisik kalo entar ada di sana alias musti pada behave ya!!!

Friday, January 05, 2007

Hiatus again ???

Sudah selama satu minggu ini blognya RoSa ganti template...Cuma sepertinya masih ada beberapa masalah dalam coding Javascriptnya yang menyebabkan blog ini sulit dibuka jika menggunakan IE [tapi tidak demikian dengan MF]. Jadi sementara dalam proses perbaikan oleh para ahli [tulung yak Pen, Mas Adi! :D], maklum lha RoSa ini gaptek pisan, maka blog ini akan kembali ke templatenya semula. Terima kasih banyak atas perhatian teman-teman semua...*lagi gak mood ngapa2in*...