Credits to

Powered by Blogger

Saturday, July 28, 2007

Anaknya di Laut

Mungkin seorang La Jamal tiada pernah menyangka bahwa anak kembarnya yang lahir lima belas tahun silam akan berbeda dengan anak kembar lainnya. Selama hamil, istrinya tidak pernah ngidam hal-hal yang aneh meski memang pernah mengeluhkan adanya suatu firasat yang kurang enak. Persalinan yang dibantu oleh seorang dukun beranak di desa Tulehu, Maluku Tengah, tersebut merupakan suatu keajaiban bagi ia dan keluarganya. Bayi laki-laki pertama yang terlahir dari rahim istrinya malam itu langsung meninggal di tempat sesaat setelah menatap dunia. Selang beberapa waktu berikutnya, lahirlah bayi keduanya. Namun, bayi keduanya ini sungguh berbeda dari bayinya yang telah lahir lebih dahulu. Bayi ini masih terbungkus rapi dengan plasenta. Dia tidak memiliki kepala, tangan, dan kaki seperti layaknya bayi manusia normal. Betapa kagetnya La Jamal begitu mengetahui bahwa bayi yang terbungkus plasenta itu justru berwujud seekor binatang laut yang kerap ditemuinya ketika sedang melaut. Ya, bayi keduanya itu berwujud seperti seekor gurita dengan kepala dan tentakel di dalam plasenta tersebut. Setelah menyadari bahwa tempat hidup anak yang kemudian diberi nama Ode Jaga itu bukanlah di daratan, maka pria asal Buton kelahiran tahun 1960 itu pun lantas melepasnya ke laut setelah menyematkan sebuah cincin emas pada salah satu tentakelnya.


Bagi sebagian orang perkara di atas mungkin merupakan hal yang sangat mustahil untuk terjadi di dunia nyata. Namun, bagi orang-orang yang berasal dari suku Buton kejadian tersebut bukanlah hal yang luar biasa karena sudah lumrah terjadi secara turun temurun. Dalam satu keluarga suku Buton, pasti ada saja yang memiliki kerabat berupa hewan yang kebanyakan berwujud gurita. La Jamal sendiri memiliki seorang sepupu yang tinggal di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, yang juga memiliki anak seekor gurita. Menurut lelaki yang kini berdomisili di desa Kelapa Dua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat ini, hal tersebut mungkin merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang mereka yang kebanyakan adalah pelaut.


Gurita yang lahir dari rahim manusia ini memiliki beberapa perbedaan dengan gurita yang kerap ditemui di laut. Dilihat dari bentuk kepalanya, gurita anak manusia memiliki bentuk kepala yang memanjang seperti cumi-cumi, berbeda dengan gurita laut yang memiliki kepala membulat dan agak pendek. Jika posisi mata gurita laut terletak agak menyamping, maka posisi mata gurita anak manusia terletak lebih ke depan. Satu perbedaannya lagi adalah, pada gurita anak manusia dapat ditemukan selaput-selaput yang saling menghubungkan antar tentakelnya. Hal ini tidak dapat ditemukan pada gurita laut. Hampir seluruh gurita anak manusia ini konon katanya berjenis kelamin perempuan. Meski dalam wujud seekor gurita tidak dapat diketahui jenis kelamin dari anaknya, tetapi La Jamal mengaku sering didatangi oleh anaknya tersebut dalam wujud seorang perempuan.


Walaupun domisili orang tuanya kini berbeda dengan pada saat ia dilepas ke laut, tetapi gurita ini dapat mengetahui tempat tinggal keduanya yang sekarang dengan benar. Menurut penuturan Wa Zahara, istri kedua La Jamal, Ode Jaga terakhir kali mengunjungi mereka di pantai belakang rumahnya pada tahun 2003 lampau. Bukan hanya mengunjungi kedua orang tuanya, masih menurut perempuan yang memiliki empat orang anak ini, Ode Jaga juga kerap menyambangi kediaman sanak saudaranya di berbagai tempat di pulau Ambon dan Seram.


Untuk mengetahui apakah gurita yang naik ke pantai belakang rumahnya adalah Ode Jaga atau bukan, biasanya La Jamal menggunakan bahasa isyarat. Jika benar ia adalah Ode Jaga, maka tentakel gurita tersebut biasanya akan langsung memeluk jari sang ayah. Sebagaimana layaknya hewan laut lainnya yang tidak dapat hidup lama di daratan, maka biasanya Ode Jaga hanya berada di rumah orang tuanya paling lama satu malam. Sebelum dilepas kembali ke laut, orang tuanya biasa membekali Ode Jaga dengan sejumput ketupat, telur, piring putih, uang, dan sirih pinang. Perbekalan tersebut biasanya akan dipeluk oleh tentakel Ode Jaga untuk kemudian dibawa serta ke dalam laut.


Meski tak serupa dengan anak-anak lainnya, La Jamal bersyukur memiliki seorang anak di laut. Anaknya kerap menunjukkan jalan baginya apabila tiba-tiba tersesat di tengah lautan. La Jamal tinggal menyebut nama anaknya tersebut, maka sesaat kemudian ia akan bisa melihat daratan tujuannya. Karena ketiadaan bukti otentik berupa gambar anak guritanya, kisah La Jamal ini mungkin terdengar seperti isapan jempol belaka. Namun, sebagai seorang hamba yang meyakini kebesaran Rabbnya, maka hal tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk diciptakan oleh Allah. Dan, sejatinya Rabb Semesta Alam tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Seekor Ode Jaga, bisa terlahir dari rahim seorang manusia adalah agar umatnya mau lebih mentafakuri segala ciptaanNya.


Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” [QS. Al Hajj : 54]


Friday, July 27, 2007

Commonwealth War Cemetery


Ada banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang terdapat di pulau Ambon. Salah satunya adalah pemakaman tentara sekutu Perang Dunia II. Pemakaman ini terletak di Kapahaha, Tantui, yaitu sekitar dua kilometer dari pusat kota Ambon. Sebidang tanah ini merupakan sumbangan dari masyarakat kota Ambon untuk digunakan sebagai tempat pemakaman bagi tentara sekutu pada Perang Dunia II. Lokasi ini sendiri dulunya adalah pusat tawanan tentara Jepang yang kebanyakan adalah warga negara Australia.



Ada sekitar 2000 kuburan di tempat ini, kebanyakan adalah mereka yang meninggal saat menjadi tawanan Jepang, tapi ada juga yang tewas dalam perang di Maluku, Sulawesi, dan bagian lain Indonesia selama Perang Dunia II. Sebagian besar dari mereka berkebangsaan Australia, tetapi banyak juga yang berasal dari Inggris dan Belanda sebanding dengan India dan Pakistan, serta sebagian kecil berasal dari Afrika Selatan, Kanada, New Zealand, dan Amerika.


Setiap tanggal 25 April dilaksanakan peringatan hari ANZAC di tempat ini. Hari ANZAC adalah satu momen untuk memperingati para tentara yang tewas selama Perang Dunia I dan II. Banyak dari kerabat, rekan, dan veteran yang datang ke sini untuk menghormati para tentara yang dikubur di pemakaman ini.


Wednesday, July 25, 2007

Ibrah dari Seorang Raja

Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shalih, serta jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh nikmat.” [QS. Asy-Syu’ara: 83-85]

Awan kelabu sedikit menggelayut di langit pulau Seram siang itu. Rencananya, setelah pulang dari Puskesmas aku ingin merekam gambar-gambar pemandangan indah di sebuah gunung yang berjarak kurang lebih 25 kilometer dari desa Waimital, kecamatan Kairatu, tempatku bertugas. Di negeri [sebutan untuk desa di Maluku] yang bernama Hunitetu tersebut konon katanya akan dapat disaksikan pemandangan laut, gunung, dan padang rumput yang begitu menakjubkan. Namun, menurut informasi yang kudapat dari beberapa orang, untuk mencapai lokasi tersebut tidaklah mudah karena selain kondisi jalan yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah, banyaknya tanjakan dan tikungan tajam juga membuat perjalanan ke sana menjadi amat melelahkan. Apa hal ini membuatku patah arang untuk menuju tempat tersebut? Tentu tidak! Hal ini justru membangkitkan jiwa petualangku untuk mencapai negeri Hunitetu. Kebetulan, ada seorang mantri di Puskesmas yang berkenan mengantarkanku menuju negeri Hunitetu dengan motornya. Negeri Hunitetu sendiri terdiri dari beberapa dusun besar yang jarak antara satu dengan lainnya cukup berjauhan dan dipisahkan oleh hutan-hutan tropis. Hampir seluruh penduduk di negeri ini beragama Kristen. Maka, tak heran bila saat aku melewati satu dusun, penduduknya akan memperhatikan diriku dari ujung sepatu hingga ujung jilbab. Mungkin dalam benak mereka terlintas pikiran, “Mau apa caca [panggilan untuk perempuan Muslim di Maluku, semisal ‘mbak’ atau ‘uni’] ini ke daerah sini?


Memang benar adanya, jalan untuk menuju daerah tersebut sungguh jelek, aspal yang ada sudah banyak yang hancur dan banyak genangan air di sana-sini karena hujan memang baru saja mengguyur lokasi ini di pagi harinya. Udara siang itu tidak begitu panas bahkan sebaliknya demikian sejuk karena di kanan kiri jalan terdapat hutan tropis dengan pepohonan dan semak belukar yang rindang. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati suasana tropis itu, tiba-tiba saja terdengar ban motor mantri yang kutumpangi pecah. Memang jalan yang kami lewati mengalami kerusakan yang parah ditambah lagi dengan kondisi ban motor yang sudah gundul. Agak bingung juga saat hal itu terjadi, karena kondisinya kami sedang berada di tengah hutan yang jauh dari dusun berpenduduk. Menurut pak mantri, dusun terdekat berjarak sekitar empat kilometer menuruni gunung. Yang menjadi masalah adalah, kalau pun berjalan menuju dusun tersebut, apakah kami bisa melanjutkan perjalanan menuju negeri Hunitetu atau minimal dapat pulang kembali ke desa Waimital? Karena belum tentu di dusun tersebut terdapat tukang tambal ban untuk menambal ban motor yang pecah tersebut. Aku kemudian berpikir bahwa rencanaku ini akan berakhir dengan terjebaknya kami di tengah hutan tak berpenduduk dan tidak ada sinyal untuk menghubungi siapa pun.


Duh Bu Dok, tolong maafkan beta jua karna beta seng cek ban tadi. Padahal memang tadi beta su rasa akang su seng enak lai.” [Duh Bu Dok, tolong maafkan saya karena saya tidak cek ban tadi. Padahal memang tadi saya sudah rasa ban sudah tidak enak lagi]


Seng apa-apa Pak, kan beta jadi pung cerita par dong di rumah, kalo enak-enak sa kurang berkesan toh?” [Tidak apa-apa Pak, kan saya jadi punya cerita untuk mereka di rumah, kalo enak-enak saja kurang berkesan toh?]


Setelah dialog yang kurang solutif tersebut, akhirnya dengan gontai kami memutuskan untuk berusaha berjalan di tengah hutan menuju dusun terdekat untuk kemudian kembali pulang ke desa Waimital. Arlojiku menunjukkan pukul 14.30 WIT saat itu dan aku terus berpikir, akan menempuh waktu berapa lama jika memang benar-benar kami harus berjalan sampai di dusun terdekat? Namun, Alhamdulillah pertolongan Allah memang senantiasa datang tak terduga-duga. Baru sekitar 50 meter kami berjalan dari lokasi pecahnya ban, tiba-tiba saja datang sebuah motor dari arah berlawanan. Motor tersebut lantas berhenti setelah mengetahui ban motor yang kami naiki pecah di tengah hutan. Ternyata motor tersebut adalah ojek yang sedang mengangkut penumpang menuju dusun Sukowati, dusun terdekat menuju arah gunung. Kemudian, supir ojek tersebut menyarankan kepada kami agar lebih baik berjalan naik ke arah gunung dibandingkan turun, karena di dusun Sukowati yang terletak di arah atas terdapat tukang tambal ban. Dia pun menawarkan bantuan kepada kami sekembalinya dia mengantar penumpang ke dusun Sukowati. Akhirnya, kami diminta untuk menunggu sebentar hingga tukang ojek itu mengantar penumpang. Selang sepuluh menit kemudian, tukang ojek tersebut sudah kembali di tempat kami berada. Dia kemudian mengantarkan kami ke dusun Sukowati yang berjarak sekitar tiga kilometer ke arah gunung. Setibanya di dusun Sukowati, tukang ojek tersebut lantas menurunkan kami di sebuah rumah yang terletak di depan SMP. Rumah tersebut berada cukup jauh dari perkampungan penduduk dusun. Menurutnya, rumah tersebut adalah rumah raja negeri Hunitetu. Jadi sementara tukang tambal menambal ban motor yang pecah, kami dipersilahkan menunggu di rumah bapak raja tersebut. Tanpa ditanya tukang ojek tersebut juga memberitahu kami bahwa bapak raja negeri ini adalah seorang muallaf jadi jika kami ingin melaksanakan sholat, ada tempat khusus di rumah ini. Subhanallah! Siapa yang akan menyangka jika di daerah pegunungan kabupaten Seram Bagian Barat yang mahsyur dengan penduduk beragama Kristen justru dapat dijumpai saudara seaqidah, apalagi beliau ternyata adalah raja negeri ini.


Begitu kami sampai di depan pintu rumah bapak raja, seorang perempuan paruh baya lantas menyambut kami dengan hangat. Dengan rambut sebatas bahu, tidak ada raut wajah khas Maluku pada dirinya. Rupanya dia adalah istri dari bapak raja Hunitetu. Tak lama kemudian, dari dalam rumah muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berambut putih dengan ciri raut asli Maluku. Dia adalah bapak raja Hunitetu, bapak Lattu Petel, atau setelah menjadi muallaf namanya berubah menjadi Taufik. Sesaat sesudah memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke rumahnya, sebuah perbincangan yang menarik pun terjadi.


Menurut bapak raja, beliau adalah raja Muslim pertama di tanah Maluku yang memimpin negeri yang seluruh penduduknya beragama Kristen. Hal ini dapat terjadi karena sistem kepemimpinan di negeri Hunitetu adalah sistem turun temurun. Jadi, seorang raja yang memimpin negeri Hunitetu pasti akan melanjutkan kepemimpinannya tersebut kepada keturunannya. Berhubung raja Hunitetu terdahulu, hanya memiliki seorang putra, yaitu beliau, maka secara otomatis tampuk kepemimpinan jatuh ke pundaknya. Syukur Alhamdulillah, tanggung jawab tersebut diamanahkan pada beliau ketika cahaya Islam telah melingkupi dirinya.


Beliau telah memeluk Islam sejak tahun 1987 karena keinginannya sendiri. Islam sendiri diperkenalkan oleh seorang perempuan yang kini menjadi pendamping hidupnya. Awal pertemuan dengan istrinya merupakan sebuah keajaiban tersendiri baginya. Bagaimana tidak? Beliau yang menurutnya hanya seorang laki-laki gunung kemudian dapat bertemu bahkan berjodoh dengan seorang perempuan Muslim yang berasal dari Jawa di tanah Maluku. Baginya, jodoh memang telah ditentukan oleh Tuhan, tapi manusia sebagai hambaNya harus tetap berikhitiar untuk bisa menemukan seseorang yang menjadi belahan jiwanya. Jika seorang laki-laki menginginkan seorang perempuan yang pintar, maka laki-laki tersebut harus bercermin terlebih dahulu pada dirinya sendiri, apakah ia sendiri pintar atau tidak? Jika ia merasa tidak pintar, maka berikhtiarlah untuk bisa menjadi pintar. Demikian yang menjadi tekadnya dalam hidup : selalu berikhtiar untuk menjadi seorang yang lebih baik. Akhirnya, dengan berbekal keberanian dan ilmu beliau lantas mengukuhkan niatnya untuk turun dari gunung tempatnya berdiam selama ini dan mencari nafkah di pulau Ambon. Dan, di situlah awal mula pertemuannya dengan ibu Nona, perempuan yang menjadi ibu bagi anak-anaknya kini.


Ketertarikannya pada Islam sendiri bermula karena beliau memandang bahwa Islam adalah sebuah agama yang bersih dan suci. Islam yang mewajibkan umatnya untuk berwudhu sebelum sholat, melepas alas kaki sebelum memasuki masjid, dan mandi junub setelah melakukan hubungan suami istri, membuatnya kian bersemangat untuk terus mempelajari Islam hingga detik ini. Tak hanya itu, beliau juga cukup bersemangat dan tak segan untuk memberikan dakwah kepada penduduk sekitar agar dapat merasakan indahnya Dienul Islam.


Kini, di seluruh negeri Hunitetu, hanya beliau, istri, dan ketiga anaknyalah yang memeluk Islam. Subhanallah…Jika mau dipandang dari sisi duniawi, mungkin akan lebih baik jika beliau dan keluarganya pindah ke tempat yang lebih nyaman di daerah pesisir yang berpenduduk mayoritas Muslim. Namun, hidup memang merupakan pilihan dan bapak raja beserta keluarga telah memilih untuk berdiam di pedalaman gunung pulau Seram yang demikian sunyi dengan komunitas sekitar yang tidak seiman. Beliau akan terus memerintah sebagai raja di negeri Hunitetu yang seluruh penduduknya beragama Kristen hingga kelak saatnya tampuk kepemimpinan harus diwariskan kepada keturunannya. Semoga saja negeri Hunitetu akan menjadi sebuah negeri yang kian makmur dan sejahtera di bawah kepemimpinannya. Atau bisa jadi mungkin kelak akan terjadi sejarah baru di negeri Hunitetu dari yang berpenduduk mayoritas beragama Kristen menjadi sebuah negeri yang mahsyur akan keIslamannya.


Matahari semakin tak sabar untuk beranjak menuju peraduannya. Ban motor yang sudah tertambal memaksaku untuk menyudahi perbincangan sore itu dan pulang kembali ke desa Waimital. Ya, begitulah cara Allah memberi pelajaran pada makhlukNya, ketika satu keinginan tidak dapat terwujud bukan berarti Dia tidak mengabulkannya. Justru Dia membuka pintu-pintu pemberian yang lain jika manusia peka dan bersabar. Meski aku tidak berhasil mendapatkan gambar-gambar indah di negeri Hunitetu karena terjadi sebuah ‘insiden’, tetapi Allah telah memberiku sebuah persembahan indah di tengah rerimbunan hutan tropis pulau Seram : ibrah dari seorang raja.


Sunday, July 22, 2007

Cerita Taniwel

Taniwel. Acapkali mendengar nama itu, rasanya hampir semua penduduk di desa Waimital bergidik ngeri. Bukan karena salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Seram Bagian Barat itu merupakan kecamatan yang angker atau berbau mistis, tapi hal tersebut lebih dikarenakan faktor lokasi dari kecamatan itu sendiri. Ya, kecamatan Taniwel memang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Seram Bagian Barat yang memiliki lokasi sulit dijangkau dari desa Waimital. Berjarak sekitar 120 kilometer dari desa Waimital, kecamatan Taniwel terletak di pegunungan bagian Utara pulau Seram. Adapun jalan yang harus dilewati telah mengalami kerusakan yang amat parah sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat mencapai lokasi ini. Hal itulah yang rupanya mendatangkan keresahan tersendiri bagi penduduk desa jika harus memiliki urusan ke daerah tersebut. Selain sulitnya akses untuk mencapai lokasi, minimnya sarana komunikasi di kecamatan Taniwel juga menjadi salah satu penyebab mengapa banyak penduduk yang enggan untuk pergi ke sana bila tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Tidak adanya satu pun pemancar sinyal dari perusahaan-perusahan komunikas selular di Indonesia menyebabkan penduduk di kecamatan ini harus menggunakan telepon satelit bila ingin melakukan komunikasi melalui telepon. Listrik di kecamatan ini pun hanya menyala selama 12 jam mulai pukul 18-06 WIT.


Berbagai rupa pendapat orang di desa ini mengenai Taniwel tak lantas membuat keinginanku untuk menjejakkan kaki di kecamatan itu mengendur. Aku telah bertekad bahwa selama aku masih bertugas di sini, aku harus dapat menjejakkan kakiku di kecamatan tersebut. Alhamdulillah, akhirnya tiba juga kesempatan yang aku tunggu tersebut. Secara kebetulan, ada seorang wakil anggota DPRD kabupaten Seram Bagian Barat yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera mengajakku turut serta dalam kunjungan komisi untuk dengar pendapat dengan para raja di kecamatan Taniwel. Tanpa berpikir dua kali, aku pun langsung mengiyakan ajakannya tersebut. Pukul 8.30 WIT aku bersama rombongan anggota DPRD kabupaten Seram Bagian Barat berangkat dengan menggunakan Innova milik Pak Waka DPRD dari desa Waimital. Menurut si Bapak, perjalanan kami akan menempuh waktu sekitar empat jam. Dari desa Waimital kecamatan Kairatu, kami terlebih dahulu harus mencapai ibukota kabupaten Seram Bagian Barat, Piru, yang berjarak sekitar 40 kilometer. Perjalanan Waimital-Piru sudah cukup sering kulakukan karena untuk pengurusan segala administrasi berlokasi di sana. Untuk menuju Piru, kami harus melewati jalan menanjak yang cukup curam dengan tikungan yang sempit. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa melalui jalur ini, biasanya akan mudah sekali terkena mabuk darat. Tekanan di dalam telinga pun mendadak akan meningkat karena sedang berada di ketinggian beberapa ratus meter dari permukaan laut. Untungnya, kondisi aspal jalan yang harus dilalui masih cukup bagus sehingga perjalanan menuju Piru hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam saja. Setibanya di Piru, kami harus menjemput terlebih dahulu salah seorang anggota dewan yang berdomisili di ibukota kabupaten Seram Bagian Barat ini. Kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kecamatan Taniwel.


Dan, di sinilah awal petualangan itu dimulai. Selepas dari pusat kota Piru, kami mulai memasuki jalan yang aspalnya sudah demikian rusak sehingga mobil harus berjalan pelan-pelan. Medan menuju Taniwel memang sepertinya sangat cocok untuk digunakan offroad, karena selain jalan yang menanjak menaiki gunung, kondisi jalan tersebut sudah dalam keadaan rusak parah di sana-sini. Namun, kondisi yang demikian dapat diimbangi dengan pemandangan yang demikian mengagumkan di sisi kanan dan kiri jalan. Di sisi kanan jalan, bebukitan dengan padang rumput luas yang diselingi dengan pepohonan serta ilalang begitu menyegarkan pandangan. Mungkin jika padang rumput seperti ini ada di Jawa, banyak pengembang yang akan menjadikannya sebagai lapangan golf. Bukan hanya itu, di sisi kiri jalan panorama yang tak kalah meluluhkan membuat perjalanan ke Taniwel menjadi begitu menyenangkan. Birunya Laut Seram beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya tampak demikian jelas dilihat. Panorama ini dapat disaksikan terus hingga kami memasuki desa Pelita Jaya, salah satu desa yang mash berada di kecamatan Piru.


Selepas desa Pelita Jaya, jalan yang harus dilalui boleh dibilang lebih jelek dibandingkan sebelumnya. Banyak lubang di kanan dan kiri jalan yang membuat mobil harus ekstra hati-hati untuk melaju. Panorama di sisi kanan dan kiri jalan yang dapat disaksikan kini hanyalah rerimbunan hutan hujan tropis. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WIT, tapi kami belum juga sampai di kecamatan Taniwel. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang dapat ditemukan. Hingga akhirnya pada pukul 12.15 WIT, kami melewati dusun Wee, salah satu dusun yang terdapat di kecamatan Taniwel. Namun, bukan hanya sampai di situ saja tujuan kami karena kami harus mencapai desa Taniwel, desa yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan Taniwel. Pada pukul 12.30 WIT, kami sampai di desa Lisabata. Desa Lisabata adalah salah satu dari tiga desa yang berpenduduk Muslim di kecamatan Taniwel selain desa Kasiye dan Sukaraja. Di kecamatan Taniwel sendiri terdapat 34 desa hingga perbatasan dengan kabupaten Maluku Tengah.


Setibanya di Desa Lisabata, rombongan kami pun singgah sejenak di rumah Sekretaris Desa Lisabata untuk melaksanakan sholat Zuhur dan makan siang. Sembari menunggu rombongan yang lain selesai sholat, aku menggunakan kesempatan ini untuk berkeliling-keliling desa. Ternyata, hampir seluruh desa di kecamatan Taniwel ini berada di garis pantai Laut Seram. Cuaca di daerah ini cukup panas dan begitu membakar kulit. Setelah seluruh rombongan usai melaksanakan sholat Zuhur, kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa Taniwel pada pukul 13.30 WIT. Pada pukul 14 WIT kami pun akhirnya tiba di desa Taniwel. Setibanya di desa ini, kami langsung disambut dengan terik mentari yang begitu menyengat serasa menyayat urat. Di kantor kecamatan telah menanti puluhan raja yang memimpin negeri [desa] di Taniwel. Raja-raja tersebut tampak sangat bersemangat untuk menyalurkan aspirasi mereka kepada para anggota dewan. Cukup banyak permasalahan yang mereka utarakan dalam forum yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut. Adapun permasalahan yang paling banyak dikeluhkan adalah mengenai minimnya sarana transportasi jalan yang bagus khususnya ke arah timur kecamatan Taniwel dan keterbatasan tenaga kerja yang bertugas di dinas-dinas pemerintahan setempat. Selain itu, telah rusaknya berbagai infrastruktur yang ada di desa-desa kecamatan Taniwel juga menjadi keluhan yang cukup banyak dilontarkan oleh para raja.


Aku sendiri pada forum tersebut diperkenalkan oleh Pak Waka DPRD sebagai dokter gigi yang sedang melaksanakan PTT di Puskesmas Waimital Kecamatan Kairatu. Rupanya, kehadiranku dalam forum turut mengundang perhatian dari para raja di Taniwel. Mereka mengeluhkan tentang minimnya tenaga dokter PNS yang bertugas di kecamatan ini. Untuk itu mereka juga sempat meminta kesediaanku agar mau bertugas di kecamatan Taniwel. Tidak kukira sebelumnya sambutan mereka terhadapku akan demikian hangat. Hingga saat rombongan kami akan kembali pulang, mereka berbondong-bondong menghampiriku ke mobil untuk sekedar memberikan salam. Bahkan, ada beberapa orang dari mereka yang meminta alamatku untuk disambangi apabila sewaktu-waktu mereka punya kesempatan datang ke Jakarta.


Taniwel, akan tetap menjadi satu kecamatan yang mungkin cukup terpuruk di Maluku bila tidak ada tindak lanjut dari berbagai aspirasi yang telah disalurkan. Semoga saja setelah forum dengar pendapat tersebut akan terjadi banyak perbaikan di kecamatan ini sehingga tidak akan ada lagi orang yang bergidik ngeri ketika mendengar atau menyebut nama : Taniwel.


Thursday, July 19, 2007

Futur

Apakah Anda merasa segan untuk melakukan perbuatan baik atau beribadah?


Apakah Anda selalu merasa ragu apabila harus mengambil sebuah keputusan?


Atau apakah Anda merasa menjalani hari-hari seperti robot yang tiada memiliki ruh?


Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah “Ya”, maka tampaknya Anda harus berhati-hati karena mungkin penyakit yang bernama futur telah menjangkit. Apakah gerangan sebenarnya futur itu? Futur berasal dari bahasa Arab yang bermakna terputus, berhenti, malas dan lambat, setelah sebelumnya konsisten dan rajin. Futur sendiri, laiknya sabda Rasulullah SAW, merupakan sifat semula jadi manusia :
“Sesungguhnya bagi setiap amalan ada masa-masa rajin dan tiap-tiap masa rajin ada futur. Namun, barangsiapa yang futurnya menjurus kepada sunnahku,maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk. Barangsiapa pula yang futurnya menjurus kepada selain sunnahku, maka ia telah tersesat.” [HR.Al-Bazzar] Dalam pengejawantahannya, futur dapat memiliki rentang gejala dari yang ringan hingga berat. Gejala futur yang berat biasanya dapat dideteksi secara cepat misalnya saja dari penurunan kuantitas ibadah fardhu atau melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. Namun, biasanya yang kerap tidak disadari adalah gejala futur yang ringan seperti bersikap ragu-ragu atau melakukan perbuatan mubah secara berlebihan.

Etiologi atau penyebab futur sendiri ada beberapa hal di antaranya; berlebihan dalam beragama, berlebihan dalam perkara yang mubah, cinta dunia, dan lengah terhadap hal yang syubhat dan dosa. Seseorang yang membebani diri melebihi kemampuannya dalam segala hal kelak dapat mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan. Untuk itu, Rasulullah SAW telah bersabda : “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” [HR. Bukhari-Muslim] Penyebab lain dari futur adalah berlebihan dalam perkara yang mubah. Salah satu contoh berlebihan adalah dalam hal makan. Meskipun makan merupakan satu keharusan, tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan bobot tubuh bertambah hingga akhirnya sulit untuk beraktivitas termasuk beribadah. Selain itu, cinta kepada dunia juga dapat menyebabkan seseorang terjangkit penyakit futur. Sikap cinta dunia akan berpengaruh sangat besar dan mendalam hingga pada kulminasinya dapat membuat jiwa menjadi lemah. Ini menjadi pintu bagi syaithan untuk memasuki jiwa orang-orang yang beriman. Hal lain yang juga kerap tidak disadari sebagai penyebab dari futur adalah lengah terhadap perkara syubhat dan dosa. Manusia dalam tiap episode kehidupannya pasti akan dapat melakukan khilaf dan dosa, tapi sekali-kali jangan melakukan sikap toleransi terhadapnya. Jika hal ini terjadi maka implikasinya adalah penurunan semangat hingga akhirnya terjadi futur.

Meskipun futur merupakan perkara yang lumrah terjadi pada seorang manusia, tetapi tetap saja futur harus mendapat penatalaksanaan secara tepat. Hal yang utama untuk dilakukan adalah dengan cara menjauhi tiap delik perbuatan maksiat yang kecil apalagi yang besar. Berusaha menjaga ibadah rutin di waktu siang dan malam serta menjauhi sikap berlebihan dalam hal yang mubah dapat pula menjadi cara untuk mengatasi futur. Biar bagaimanapun, agar futur dapat ditangani secara benar, seseorang harus segera menyadari apabila dirinya telah terserang penyakit futur. Apabila ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjangkit futur, maka ia juga tidak akan segera bertindak untuk mengatasi futur tersebut. Semoga Allah SWT selalu menjaga tiap hidayah yang telah diberikanNya pada kita dan menjauhi kita dari penyakit futur. Amin Ya Rabb.

Wednesday, July 11, 2007

Cuti

“Cha, si Eve jadi pulang tanggal 12 nanti dan kayaknya semua yang PTT, vera, diaz, iges, thea, bakalan ambil cuti buat pulang dulu ke Jakarta. Ocha gak mau pulang dulu ke Jakarta? Gak kangen sama rumah?” [SMS dari Thea]

Matahari sudah tinggal sepenggal kala aku menerima SMS dari salah seorang rekan sejawat yang juga sedang menjalankan tugas profesi dokter gigi di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku tersebut. Sudah dua bulan dia menjalani tugas di Puskesmas Tomalehu yang masih satu kecamatan dengan Puskesmas Waimital, Puskesmas tempat aku bertugas sekarang ini. Memang sejak awal kedatangannya ke sini, dia sudah berencana untuk pulang ke Jakarta pada bulan Juli ini. Untuk itu, dia pun mengajakku untuk pulang bersama ke Jakarta.
Selain alasan ingin refreshing, ketidakbetahan dia di sini juga menjadi penyebab utama rencana kepulangannya ke Jakarta.

Sekarang ini, entah sudah jadi suatukewajiban atau kebiasaan bagi dokter atau dokter gigi yang sedang menjalankan PTT untuk mengambil cuti dan pulang ke rumah tinggal mereka [biasanya yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya] pada masa tugas. Hal ini sebetulnya telah diantisipasi oleh pihak Depkes dengan membuat surat pernyataan terikat kontrak yang ditandatangani di atas materai yang melarang dokter atau dokter gigi PTT untuk mengambil cuti selama masa tugas, yang bila dilanggar akan dikenai sanksi. Namun, rendahnya pengawasan dari dinas kesehatan setempat tampaknya membuat dokter atau dokter gigi kadang tidak menghiraukan larangan ini. Mereka yang ingin mengambil cuti untuk pulang ke rumah biasanya membuat seribu satu alasan pada pimpinan Puskesmas agar dapat diberikan izin. Bahkan, terkadang ada dokter atau dokter gigi yang mangkir dari tugasnya selama berbulan-bulan tanpa alasan yang jelas, tetapi tetap menerima gaji beserta insentifnya.

Terlepas dari semuanya itu, jika ditanya apakah seorang Rosa mau mengambil cuti untuk pulang ke Jakarta dulu selama masa tugas? Jawabannya adalah : Tidak. Bagiku, Jakarta akan tetap menjadi kota metropolitan yang polutif dengan segala hiruk pikuknya ketika aku pulang nanti. Namun, suasana di tempat ini mungkin tidak akan kudapati lagi setelah aku kembali ke Jakarta nanti. Aku kian jatuh cinta pada suasana desa dengan segala kesahajaannya; udara yang segar tak berpolusi, lukisan bianglala di cakrawala, derik jangkrik di sunyi malam, suara kodok di deras hujan, sawah-sawah yang menghijau saat musim tanam tiba, menikmati kelapa di tepi pantai berpasir putih yang sunyi, laut eksotis yang menampilkan gradasi warna nan indah, dan suasana pegunungan yang demikian hijau. Selain itu, aku ingin menggenapi kontemplasi untuk mentafakuri segala karyaNya di ranah ini. Air Putri, Air Terjun Ahuru, Gua Naga, Puncak Gunung Sirimau, Tanjung Setan, Pulau Kasa, Benteng Duurstede, Taman Nasional Manusela, kepulauan Banda…tunggu kedatanganku!!!


Pintu Kota

Siang itu, gelombang di Teluk Ambon terlihat begitu menderu. Hembusan angin laut serasa menusuk tulang. Meski demikian, kumpulan bocah tampak asyik berenang di pesisir seolah tak hirau ombak yang kian mengganas. Dinding-dinding penahan ombak terlihat menjadi pembatas antara jalan raya dengan pantai. Perjalanan kali ini adalah menuju satu tempat yang konon katanya merupakan tempat yang harus disambangi bagi setiap orang yang datang ke Pulau Ambon. Tempat ini bernama Pintu Kota. Pintu Kota adalah salah satu lokasi obyek wisata alam yang memiliki daya tarik luar biasa baik bagi setiap orang yang ingin menikmati keindahan bebukitan dan laut. Bertempat di Desa Air Louw, Kecamatan Nusaniwe atau berjarak sekitar dua puluh kilometer dari pusat kota Ambon, Pintu Kota dapat dicapai dengan menggunakan mobil pribadi ataupun angkutan umum jurusan Air Louw.

Tidak salah bila Pintu Kota menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi karena lokasi ini benar-benar menyajikan pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Suasana sejuk diiringi lambaian nyiur, batu-batu besar dengan tebing karang yang terjal, serta teluk yang memiliki pantai berpasir putih di lokasi ini rasanya sangat cocok sebagai tempat untuk berkontemplasi. Selain itu, pemandangan birunya Laut Banda yang merupakan laut terdalam di Indonesia juga memberikan eksotika tersendiri bagi Pintu Kota.


Nama Pintu Kota sendiri sebetulnya berasal dari satu batuan karang besar yang terletak di pesisir pantai dengan bagian tengahnya kosong berbentuk menyerupai pintu dan berhadapan dengan Laut Banda. Bila air Laut Banda sedang dalam kondisi pasang, maka bentuk pintu di karang ini hampir tidak terlihat lagi. Terdapat jalan setapak dan banyak anak tangga yang harus dilalui bila ingin mencapai puncak batuan karang Pintu Kota. Dari puncak Pintu Kota, panorama Laut Banda akan dapat terlihat dengan jelas. Bila melayangkan pandangan ke arah bawah, maka akan terlihat warna laut yang demikian biru, menandakan bahwa memang benar bila Laut Banda disebut sebagai salah satu laut terdalam di dunia. Selain itu, dari puncak Pintu Kota dapat pula terlihat pulau yang menjadi basis perlawanan Kapitan Pattimura pada zaman kolonial Belanda, yaitu Pulau Saparua.

Lokasi yang didominasi oleh bebatuan karang ini, pada bagian sisinya juga dapat dipergunakan sebagai lokasi berenang. Pada musim hujan, hempasan ombak yang demikian menderu kian meneguhkan diri bahwa sejatinya manusia sungguh tiada berdaya di hadapan Tuhan. Bila letih dirasa setelah menaiki anak tangga yang cukup banyak, maka shelter-shelter yang terletak di dataran atas perbukitan dapat digunakan sebagai tempat beristirahat sambil menikmati keindahan Laut Banda. Tak henti lisan melafazkan tasbih, Subhanallah…


Friday, July 06, 2007

Pela Gandong

Ada satu kultur khas di ranah Maluku, khususnya di Maluku Tengah, yang tidak dapat dijumpai di belahan bumi Indonesia lainnya. Kultur tersebut dikenal dengan sebutan pela gandong. Pela gandong ini kerap menjadi kebanggaan masyarakat Maluku sejak dulu hingga sekarang. Pela diartikan sebagai suatu relasi perjanjian persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama yang berbeda, sedangkan gandong sendiri bermakna adik. Perjanjian ini kemudian diangkat dalam sumpah yang tidak boleh dilanggar. Pada saat upacara sumpah berlangsung, campuran soppi [tuak] dan darah yang diambil dari tubuh masing-masing pemimpin negeri akan diminum oleh kedua pihak yang bersangkutan setelah senjata dan alat-alat tajam lain dicelupkan ke dalamnya. Adapun empat hal pokok yang mendasari pela yaitu: negeri-negeri yang berpela berkewajiban untuk saling membantu pada kejadian genting [perang, bencana alam, dll] ; jika diminta, maka negeri yang satu wajib memberikan bantuan kepada negeri lain yang hendak melaksanakan proyek kepentingan umum, seperti pembangunan sekolah, masjid, atau gereja ; jika seseorang sedang mengunjungi negeri yang berpela itu, maka orang-orang di negeri itu wajib untuk memberi makanan kepadanya dan tamu yang sepela itu tidak perlu meminta izin untuk membawa pulang hasil bumi atau buah-buahan yang menjadi kesukaannya ; karena penduduk negeri-negeri yang berhubungan pela itu dianggap sedarah, maka dua orang yang sepela tersebut dilarang untuk menikah. Bagi orang-orang yang melanggar segala ketentuan tersebut, konon katanya akan mendapatkan hukuman dari nenek moyang yang mengikrarkan pela. Sebagai contoh, seseorang ataupun keturunannya dapat jatuh sakit atau bahkan meninggal bila melanggar ketentuan itu. Jika ada yang melanggar pantangan untuk menikah, maka mereka akan ditangkap untuk kemudian disuruh berjalan mengelilingi negeri-negerinya dengan hanya berpakaian daun-daun kelapa, sedangkan seluruh penghuni negeri akan mencaci makinya.

Ada beberapa alasan mengapa pela gandong ini cukup kental di Maluku Tengah. Dari segi antropologis, masyarakat asli Maluku Tengah berasal dari dua pulau besar, yaitu pulau Seram dan pulau Buru, yang lantas bermigrasi ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Para migran dari pulau Seram menyebar ke Kepulauan Lease / Uliaser [pulau Haruku, pulau Saparua, dan pulau Nusalaut] dan pulau Ambon . Migrasi ini kemudian memberi dampak terhadap terjadinya asimilasi kebudayaan baru [kebudayaan Seram] yang mendapat pengaruh dari kebudayaan sekitarnya yaitu kebudayaan Melanesia, Melayu, Ternate , dan Tidore. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah Maluku Tengah memiliki satu kebudayaan yang sama. Kemudian, jika ditelusuri dari segi historisnya, para migran yang kebanyakan berdiam di pegunungan ini lantas dipindahkan ke pesisir pantai oleh pemerintah kolonial Belanda dalam rangka pengawasan. Bukan hanya itu, Belanda juga mengganti nama komunitas-komunitas migran yang disebut Hena atau Aman, dengan istilah Negeri. Struktur pemerintahan di dalam Negeri diatur menyerupai struktur pemerintahan di Belanda. Dengan struktur pemerintahan tersebut, maka negeri-negeri menjadi ”negara-negara” kecil dengan pemerintah, rakyat dan teritori tertentu, dipimpin oleh raja yang diangkat dari marga-marga tertentu yang memerintah secara turun-temurun, dan kekuasaan di dalam negeri dibagi-bagi untuk seluruh marga dalam komunitas negeri.

Dalam perkembangannya secara sosio-historis, negeri-negeri ini kemudian mengelompok dalam komunitas agama tertentu, sehingga timbul dua kelompok masyarakat yang berbasis agama, yang kemudian dikenal dengan sebutan Anak Negeri Salam dan Anak Negeri Sarani. Anak Negeri Salam adalah penduduk yang beragama Islam dan Anak Negeri Sarani adalah penduduk yang beragama Kristen. Laki-laki yang beragama Islam biasa dipanggil dengan sebutan ‘abang’ dan perempuannya dipanggil ‘caca’, sedangkan laki-laki yang beragama Kristen dipanggil dengan sebutan ‘bu’ dan perempuannya dipanggil ‘usi’. Kultur seperti ini memperlihatkan adanya suatu kecenderungan yang akan mengentalkan solidaritas kelompok, tetapi pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan konflik. Oleh sebab itu, dikembangkanlah pela gandong sebagai suatu pola manajemen konflik tradisional guna mengatasi kerentanan konflik.
Dari paparan di atas, dapat dikatakan bahwa pela gandong sebetulnya bukan merupakan suatu kultur lokal penduduk Maluku sendiri, melainkan suatu produk hasil asimilasi kebudayaan di Maluku Tengah. Peran pemerintah kolonial Belanda juga cukup besar dalam pengembangan pela gandong ini sehingga banyak yang mengatakan bahwa kultur ini hanyalah bentuk rekayasa mereka pada saat ingin menguasai rempah-rempah di tanah Maluku. Hal ini cukup beralasan bila ditelusuri lebih jauh lagi dari segi historis. Menurut sejarah awalnya, Maluku merupakan sebuah jasirah dengan hasil alam yang berlimpah ruah dan berpenduduk mayoritas Muslim. Pada saat Belanda menginvasi Maluku, umat Muslim di tanah ini lantas menentang dengan keras. Perlawanan bersenjata kemudian dilancarkan oleh raja-raja dan sultan-sultan yang berada di Maluku, antara lain Raja Leihitu, Raja Leitimu, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Khairun, Sultan Baabullah, dan lain-lain. Karena adanya perlawanan yang sengit ini, maka Belanda mulai melancarkan politik “Devide et Impera” atau politik pecah belah. Belanda sendiri masuk ke Maluku dengan membawa tiga misi, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold adalah misi Belanda untuk mengambil seluruh kekayaan alam di Maluku, Glory untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat di Eropa, dan Gospel membawa misi Kristen dengan iming-iming materi. Misi yang terakhir ini berhasil menyebabkan masyarakat Maluku yang awalnya mayoritas Muslim menjadi terpengaruh dan kemudian terpecah dua : Muslim dan Kristen [Anak Negeri Salam dan Anak Negeri Sarani]. Karena adanya sentimen kelompok, maka perkelahian antara Negeri Muslim dan Negeri Kristen pun kerap terjadi. Agar dapat diterima oleh seluruh komunitas masyarakat Maluku, maka pemerintah Belanda pun mulai mengembangkan kultur pela gandong. Untuk memperluas jajahannya, Belanda kemudian mempengaruhi masyarakat Maluku yang pro kepadanya untuk memperluas daerah kekuasaannya dengan jalan membentuk pela gandong dengan daerah baru yang Muslim.

Namun, terlepas dari kesemuanya itu, di tengah beragamnya komunitas yang berada di Maluku dan potensi konflik di dalamnya saat ini, tampaknya pela gandong cukup dapat berperan sebagai peredam yang mampu meminimalisir gejolak sosial bernuansa primordial. Sentimen antar kelompok dapat tereliminasi dengan kearifan budaya dan kepentingan ekonomi yang substitusional sehingga tidak terjadi suatu konflik sosial.