Credits to

Powered by Blogger

Thursday, August 23, 2007

Serenada untuk Belahan Jiwa

Sayang…
Sungguh belum jua ada ilham yang menyambangiku mengenai siapa sejatinya dirimu, yang menjadi belahan jiwaku. Bertanya-tanya di tiap desahan nafas, apakah kau dan aku telah saling melontar kata, atau memang persinggungan aura itu belum pernah terjadi? Sekejap, seolah ku jumpaimu dalam serpihan do’a, sujud panjang, mimpi, lembaran lontar, atau bahkan pada secarik elegi cinta. Ternyata, isyarat itu hanyalah sebilah fatamorgana, meski roja’ kerap menyertai kala ku kepakkan sayap menuju bianglala.

Ksatriaku…
Aku dengan segenap keimananku sungguh meyakini bahwa engkau adalah lelaki pilihanNya. Engkau adalah makhlukNya yang terbaik yang akan berada di sampingku hingga pada saatnya senja menempa raga. Engkaulah bintang Venus yang bersinar cerah di jingga langitku. Duhai ksatria, terbangkan aku dengan kuda sembranimu menuju romantika cinta yang bukan sekedar semiotika. Kau dan aku disandingkan oleh iradahNya, karenanya ku mohon jangan sekali-kali kau ingkar dari mencintaiNya. Cintailah aku, setelah engkau persembahkan cinta tertinggimu pada Allah dan RasulNya.

Rindu...
Di belahan bumi manapun engkau berdiri kini, meski mungkin tak sebaik padang pertemuan Adam dan Hawa, aku percaya bahwa Sang Pemilik Jiwa telah menyiapkan tempat terbaik untuk kita bersua. Wahai rindu, untuknya tak perlu kau berkeras menyelami Atlantis yang tinggal legenda. Aku pun jua rasakan resah yang menjarah hatimu. Bahkan, kerinduan ini layaknya khamr yang kian menelan kesadaranku. Namun, sekali lagi aku mohon : bersabarlah. Kesabaran akan selalu berbuah indah, dan sungguh sesuatu yang indah akan datang pada saatnya kelak.

Cinta…
Kau adalah imamku. Engkau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu. Karenanya, kenakanlah baju zirahmu tuk bertarung demi kehormatanku karena engkau adalah pahlawan yang telah lama kuimpikan. Hari demi hari akan kita hiasi dengan ketundukan padaNya. Kelamnya malam akan kita terangi dengan tangis munajat kehadiratNya. Sunyinya istana kecil akan kita riuhkan dengan tawa jundi-jundi yang kelak dititahkan melanjutkan perjuangan menegakkan dienNya di muka bumi.

Kasih…
Kau dan aku miliki masa lalu. Masa lalu kerap menjadi bumerang bagi insan yang enggan memandang ke depan. Namun, dengan peleburan jiwa sebuah lembar baru kehidupan pun telah dimulai. Akadnya, kita hidup untuk hari ini dan hari esok, dan tiada guna hari kemarin melainkan ibrah dan mauidzah. Sekali lagi kuyakini bahwa itu adalah bekalan terbaik untuk merengkuh masa depan nan futuh.

Pangeranku…
Tetaplah sanjungkan harap di dua pertiga malammu. Biar ku dengar lamat isakmu di balik hijab penantianku. Duhai pangeran, bukan hanya Pandawa yang bisa berbangga dengan loyalitas seorang Drupadi, satu ikrarku dengan persaksian malaikatNya : aku jua akan berikhtiar tuk menjadi yang kau bangga.


Friday, August 17, 2007

Galau


Seorang bocah kecil sedang berasyik mahsyuk bermain di dermaga negeri Kamarian. Sesekali ia menuruni tangga dermaga untuk kemudian menyusuri pantai berpasir kelabu. Angin Timur yang berhembus di pulau tempatnya tinggal bulan ini jauh lebih ganas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Debur gelombang seolah sigap untuk meluluhlantakkan dinding-dinding penahan ombak yang berdiri di sepanjang garis pantai. Deras hujan seakan hendak menunjukkan bahwa ada yang lebih berkuasa atas bumi dibanding manusia. Namun, sungguh yang demikian itu tak lantas membikin sang bocah bergeming dari tempatnya. Entah apa yang akan diperbuatnya di tengah situasi tersebut. Orang tuanya pun tak tahu berada di mana. Perlahan, dia berupaya untuk mengambil sejumput pasir pantai yang telah basah dengan tangan kanannya. Meski basah, ternyata pepasir itu cukup keras untuk bisa diraup oleh jari jemari kecilnya. Pecahan batu karang yang terbawa ombak lalu terendap di antaranya, atau kerang-kerang kecil yang kerap bersembunyi dengan membuat lubang-lubang mikro di baliknya, bisa menjadi beberapa musabab mengapa pepasir itu kemudian menjadi demikian keras.

Seperti tak mau digelari ‘bocah’ walau dari perawakannya ia baru berusia sekitar empat tahun, ia pun lalu mempertontonkan kemampuan motorik selayak anak usia di atasnya. Masih di bawah butiran-butiran air yang tanpa paksaan meluncur bebas dari kumulus nimbus, diambilnya potongan tempurung kelapa yang terserak bebas di bawah deretan apik pepohonan kelapa yang berjarak beberapa meter dari garis batas pasang air laut. Potongan itu lantas digunakan untuk mengeruk pepasir tersebut. Setelah berhasil mengambilnya, ia pun kemudian mulai menimbun pasir-pasir itu sedikit demi sedikit. Dari gundukan pasir yang dibuatnya, sepertinya ia sedang berusaha untuk membangun sebuah istana pasir. Pemandangan tersebut layaknya sebuah isyarat untuk mendekonstruksi sebuah prasangka yang hadir di awal. Sejatinya, ia bukanlah seorang bocah yang begitu brilian, melainkan hanya seorang bocah yang belum semahir itu untuk melihat semesta dengan kejernihan matanya. Rasanya khalayak ramai telah sepakat menyimpan satu rahasia bahwa mendirikan istana pasir di tengah kondisi yang demikian itu adalah kesiaan belaka.

Berkali ia bermimpi pasir-pasir itu bermetamorfosis menjadi sebuah istana megah bak dalam dongeng seribu satu malam, berkali itu pula ia menatap hujan menggerusnya hingga tirus. Ia lantas duduk terpekur sejenak sembari menyandarkan kedua punggung tangannya ke bawah dagu. Keletihan tergurat di rautnya yang sama sekali belum berkeriput. Rupanya gaung kegagalan yang terngiang di telinganya telah sampai ke susunan saraf pusat. Hipotalamusnya kemudian unjuk diri dengan merangsang sakus lakrimalis untuk menggulirkan buliran-buliran bening hangat dari matanya. Mitos yang diyakini awam kerap menjadi laku manusia seusianya terbukti saat itu. Dalam ketidakberdayaan, apa lagi yang bisa dilakukan olehnya? Sesaat, dahinya tampak berkernyit layaknya orang dewasa yang serius memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang telah membuatnya jadi resah gelisah.

Sedikit demi sedikit hujan mulai menunjukkan sikap yang bersahabat. Butiran yang sedari mula sebesar biji jagung kini telah berkurang menjadi sebesar biji kecambah. Matahari pun tampaknya sudah geram dengan tingkah polah kumulus nimbus yang demikian angkuh bak raja diraja dunia. Disingkirkannya satu persatu kumpulan awan yang menghalau pandangannya. Meski ombak belum mau mengamini kehendaknya, cercahan sinarnya kini mulai mencerahkan wajah pantai yang tadi begitu lusuh. Bocah itu lalu bangkit dari ketermenungannya. Disekanya lelehan air yang tadi sempat membanjiri kedua matanya. Sepertinya, asa untuk mewujudkan legendanya kembali merekah. Potongan tempurung kelapa yang tadi telah dihempasnya lalu direngkuh kembali. Namun, tak seperti saat awal ia mengambilnya, sepenggal keraguan tergores di matanya.

Suatu kejanggalan tiba-tiba saja terjadi. Ia lantas berlari dengan kencang meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakoninya. Namun, sekeras apapun ia berusaha, kecepatannya tentu saja tidak dapat mencapai kulminasi karena pasir yang masih basah telah mempersulit gerakan kaki kecilnya. Ia terus saja berlari dan berlari hingga mencapai sebuah rumah kecil di sudut jalan tak beraspal. Rumah tak berpagar itu tampak amat sederhana ; hanya beratapkan rumbia dan dinding yang terbuat dari jalinan gaba-gaba atau pelepah sagu. Walau mungil, rumah itu terlihat begitu nyaman untuk ditinggali. Pohon asoka yang berjejer elok di muka rumah kian menambah suasana asri. Pintu rumah yang terbuka lebar seakan mempersilahkannya untuk masuk. Sebuah ayunan kecil yang tersusun dari batang bambu di samping rumah juga tak ketinggalan merayu sang bocah agar mau bermain di atasnya. Hidung bangirnya lantas mengendus wangi rempah-rempah yang banyak terdapat di negerinya dari dapur yang terletak di belakang rumah. Lambungnya yang memang sedari tadi kosong mau tak mau menjadi bergejolak menuntut pemenuhan haknya. Seakan tak hirau dengan kenyataan itu, ia tetap tak beranjak dari tempatnya.

Hujan kini telah benar-benar reda. Ia lalu membentangkan kedua tangannya sambil menatap cakrawala yang sebagian masih tertutup awan. Memori jangka panjangnya lalu melayang pada sebuah dongeng yang dikisahkan Bundanya kala ia hendak terlelap. Ceritanya bertutur mengenai Abu Thalhah, seorang saudagar kafir terpandang di Madinah. Adalah ia yang hendak melamar Al-Ghuamayda binti Milhan, ibu dari seorang perawi hadits Anas bin Malik. Demi mengejawantahkan maksud tersebut, ia menawarkan tujuh kebun kurma pada perempuan itu dengan syarat dua kalimat syahadat untuk dibaku tukar. Perempuan mana yang teguh untuk tak bergeming mendapati seuntai penawaran selaksa oase di tengah teriknya pergumulan menjadi sesosok orang tua tunggal? Ya, perempuan yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim itulah yang kemudian dengan tegas menandas : “Wahai Abu Thalhah, cukuplah keIslamanmu sebagai maharku!” Gairah keteguhannya tersebut lantas berlanjut menjadi benang merah hidayah bagi Abu Thalhah. Tak hanya sampai di situ, dengan iradah Rabbul ‘Izzati, Abu Thalhah kemudian menjelma menjadi satu dari sepuluh orang yang dijamin menginjak jannahNya. Sungguh, ia juga ingin singgah di satu tempat yang bernama surga itu.

Berkelindan ia dalam angan ; mempedulikan hasrat berarti mengeyahkan istana pasir yang hendak disandingkannya dengan rumah mungil di hadapannya, sebaliknya, menapaki pantai untuk membangun kembali istana pasir sama saja dengan mengubur separuh nafasnya dalam kengerian akan badai. Kengerian akan badai tidak dimaknai sebagai ketakutan menghadapi maut karena Bundanya sering berujar bahwa maut memang satu konstanta yang akan dialami setiap manusia. Bait itu ia artikan sebagai sebuah kegamangan apabila kembali harus menghadang kebengisan angin Timur dalam senyap. Kepala bocah itu kini tertunduk dalam posisi berdiri dengan mata terpejam dan bibir terkatup rapat. Kedua tangannya kini kosong tak memegang sesuatu apa pun jua. Sepoi angin mengibaskan rambut dan ujung helai bajunya. Ia terdiam. Ia termangu.

Monday, August 13, 2007

Kisah Kayu Putih

Selain tersohor sebagai penghasil rempah-rempah nomor satu di Nusantara sehingga kerap dijuluki ‘The Spice Islands’, tanah Maluku juga dikenal cukup banyak menghasilkan minyak kayu putih. Setiap tahunnya, propinsi di timur Indonesia ini dapat menghasilkan sekitar sembilan puluh ton minyak kayu putih. Jenis tanaman kayu putih [Melaleuca cajuputi sub sp. Cajuputi] sendiri memiliki daur biologis yang panjang, cepat tumbuh baik pada tanah yang berdrainase baik maupun buruk dengan kadar garam tinggi maupun asam, tahan panas, dan dapat bertunas kembali setelah terjadi kebakaran. Tanaman ini juga memiliki daya adaptasi yang sangat luas sehingga dapat ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa, atau membentuk hutan kecil di tanah kering hingga basah. Dengan sifat-sifat yang dimilikinya, tak heran bila tanaman kayu putih ini dapat tumbuh secara alamiah di seluruh tanah di kepulauan Maluku yang cenderung memiliki iklim kering. Tumbuh secara alamiah di sini memiliki makna bahwa tanaman ini tidak pernah dibudidayakan secara khusus, diremajakan, ataupun menggunakan bibit unggul. Total lahan tanaman kayu putih yang ada di Maluku diperkirakan dapat mencapai 120.000 hektar dengan kisaran kerapatan 100-160 pohon per hektar. Karena tersebar hampir di seluruh daerah, tanaman ini pun kemudian memiliki nama yang berbeda-beda untuk setiap tempat yang ada di Maluku ; iren atau sakelan di Piru, irano di Amahai, ai kelane di Hila, irono di Haruku, ilano di Nusa Laut dan Saparua, dan elan di Buru.

Adapun bagian dari tanaman kayu putih yang dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak kayu putih adalah daunnya. Daun kayu putih ini mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50%-65%, alfa-terpineol, valeraldehida, dan benzaldehida. Daun ini kemudian akan melalui proses destilasi atau penyulingan hingga nantinya akan menjadi minyak kayu putih yang berwarna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Pada lokasi yang daun kayu putihnya dipanen secara intensif, tinggi pohon sekitar 1-2 meter, sedangkan pada lokasi yang kurang terjamah pemanen, ketinggian pohon dapat mencapai 10-25 meter. Selain daun, bagian tanaman kayu putih yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Maluku adalah kulit batangnya. Kulit batang ini biasanya digunakan sebagai penutup celah antar kayu pada badan kapal-kapal tradisional yang ada di Maluku. Tidak ada yang dapat menggantikan kulit batang kayu putih ini dalam menutup celah pada kapal-kapal ini karena menurut masyarakat lokal, kulit batang kayu putihlah yang paling kuat bila dibandingkan dengan kulit-kulit batang tanaman lainnya.


Kembali berbicara mengenai minyak kayu putih, produksinya di Maluku pada umumnya dilakukan secara tradisional dengan teknologi yang sangat sederhana. Pengolahan daun kayu putih menjadi minyak oleh penduduk lokal menggunakan teknik penyulingan sederhana dan biasanya dilakukan langsung di lokasi pohon. Dua ketel atau tangki besar dibutuhkan untuk satu kali proses penyulingan. Satu ketel berfungsi untuk memanaskan daun kayu putih dan satu ketel lainnya berfungsi sebagai pendingin minyak yang telah dihasilkan untuk kemudian dialirkan ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Untuk menghasilkan satu liter minyak kayu putih biasanya dibutuhkan 100 kg atau sekitar lima karung daun kayu putih. Tak heran bila harga minyak kayu putih murni dari Maluku memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Proses destilasi minyak kayu putih secara tradisional membutuhkan waktu sekitar enam jam. Pada mulanya air dimasukkan ke dalam ketel pertama hingga batas yang telah ditentukan. Air tersebut kemudian dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar hingga mencapai suhu kurang lebih 90 derajat Celcius. Setelah air hampir mendidih, daun kayu putih yang telah dipanen lantas dimasukkan karung per karung ke dalam ketel. Daun kayu putih yang telah dimasukkan ke dalam ketel ini kemudian harus dipilih lagi untuk menghasilkan minyak kayu putih dengan kualitas yang baik. Daun yang dipilih haruslah daun yang sudah tua agar dapat menghasilkan minyak yang banyak. Setelah seluruh daun dimasukkan, ketel kemudian ditutup selama enam jam. Dalam kurun waktu tersebut, minyak atsiri yang terkandung dalam daun kayu putih akan tersuling melalui pipa yang langsung terhubung ke ketel kedua yang merupakan ketel pendingin. Dari pipa di ketel kedua ini, minyak atsiri yang telah mengalami proses pendinginan akan keluar dan langsung ditampung ke dalam jerigen berkapasitas lima liter. Sampai di sini maka selesailah proses penyulingan minyak kayu putih secara tradisional.

Apabila dikembangkan secara baik, sebetulnya industri minyak kayu putih di ranah seribu pulau ini sangat potensial untuk menambah pendapatan asli daerah dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan luasnya lahan tanaman kayu putih yang ada, seharusnya negara tidak perlu lagi mengimpor untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Tidak banyak diketahui memang jika ternyata Indonesia termasuk salah satu pengimpor terbesar minyak kayu putih. Berdasarkan data yang ada, kebutuhan domestik minyak kayu putih adalah 1500 ton per tahun, tetapi saat ini Indonesia hanya memproduksi kurang dari 500 ton setahun. Karena itu sisanya harus diimpor dari negara Cina dan Vietnam.

Tidak terawatnya tanaman kayu putih merupakan salah satu kendala dalam pengembangan jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Layaknya tanaman liar, tidak ada yang mencegah tanaman kayu putih terjangkit hama atau memberantasnya. Jarang sekali dilakukan pemangkasan gulma yang mengganggu tanaman induk. Selain itu, pengembangan minyak kayu putih tampaknya juga kurang didukung oleh kebijakan yang memadai dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Tidak ada koordinasi kebijakan antara Dinas Perindustrian yang membina industri rakyat dengan Dinas Kehutanan yang membina kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman kayu putih di daerah. Industri rakyat juga tidak mendapat insentif atau dukungan yang cukup untuk pengembangan dari sudut pemasaran, pembinaan, dan pengembangan teknologi sehingga masyarakat produsen minyak kayu putih tradisional mendapat keuntungan yang sangat kecil dibandingkan dengan pedagang perantara. Jika berbagai persoalan ini tidak segera diatasi, maka tampaknya industri minyak kayu putih masih akan menghadapi berbagai kendala serius di masa mendatang.


Maraji’
1. IPTEKnet. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=79. 2005.
2. Berita Bumi. Minyak Kayu Putih : Produksi dan Kebutuhan Dalam Negeri. http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=433. 2005.
3. Kompas. Kabupaten Buru. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/05/otonomi/835963.htm. 2004.
4. Produsen minyak kayu putih tradisional negeri Hatusua, kec. Kairatu, kab. Seram Bagian Barat, Maluku : Bapak Yunus Pattiasina

Friday, August 03, 2007

Manusia Dhaif


Satu siang dengan paras surya yang merekah bak putri bunga. Adalah suatu jalan yang telah digariskan, ketika teriknya bergumul dengan kelebatan tatapan tajam menerkam. Itulah perkara yang sejak dahulu dinisbatkan sebagai anugerah, tetapi kelanjutannya dapat menjadi salah satu etiologi dari petaka besar dalam sejarah manusia. Bila kemudian ia bersanding dengan gemerlap keduniawian, maka tak ayal kenistaan telah menanti di ujung jalan. Adapun kilaunya bisa menyambangi tiap pucuk dedaunan muda bersama angin yang mengalir semilir. Karenanya, penampikan demi penampikan tak akan membuat gelora semakin meredup, tapi justru kian meletup. Semiotika lantas dikejawantahkan dalam bilangan-bilangan syair. Setiap ucap harus dimaknai dengan lamat dan cermat. Hening kerap menjadi saksi sejarah berjuta metamorfosis karenanya. Dunia yang makin tenggelam karena runtuhnya pegunungan es di belahan Antartika atau tanah tandus yang berganti menjadi taman bunga dalam tempo sekejap, bisa menjadi sepenggal bukti. Bukan hanya dalam satu babak saja manusia memilih, tapi hidup memang merupakan pilihan, bergerak cepat atau tinggal di tempat. Ketika keputusan untuk bergerak cepat telah dipilih, maka tak seharusnya melihat pada apa yang telah lampau melainkan ibrah dan mauidzah.
---
Memang, terik yang teramat sangat terkadang dapat menyayat urat. Pada saat itu, meski jujur sebilah tutur justru dapat membuat izzah meluntur hingga kemudian futur. Jika sudah demikian adanya, nurani kadang dikhianati dengan alibi terkurung dalam jeruji kejengahan bergelimang angkara. Lantas, apa jadinya seonggok daging bila terjebak di lautan yang asing? Atau adakah belalang dapat hidup tanpa ilalang? Hidup hanyalah persinggahan sementara karena kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kematian datang menghampiri. Karenanya, tiada masa dalam hidup yang dapat digunakan hanya untuk sekedar berpangku tangan. Ia harus diisi dengan kerja keras untuk meraih kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Semesta akan selalu membantu memperjuangkan seuntai legenda, sebodoh apapun itu. Untuk itu, apa-apa yang menjadi legenda senantiasa diasah dengan hamasah. Letih di raga hingga profunda pasti dirasa, tapi bayangan tempat peristirahatan yang demikian eksotis di jannahNya akan memupuskan segalanya.
---
Nyiur melambai riang seolah tak peduli dengan sengatan sinar matahari. Sampaikan sepucuk pesan perjumpaan di balik persembunyian. Mencari dan mencari di tengah keriuhan manusia-manusia yang haus untuk mereguk seteguk air di oase gurun kehampaan. Kemudian sebongkah roja’ dilontar ke ‘Arasy agar hidayahNya serta merta melingkupi jiwa dan berharap agar dapat singgah di tepian jannahNya nan luas. Namun, apakah ikhtiar itu telah salah memilih jalannya? Atau memang hidayah itu sendiri yang tiada ingin digapai? Lama kelamaan cahaya tampak semakin menjauh bahkan menghilang. Duhai gerangan apa yang nyatanya terjadi? Syahdan, arif bijak sejak dulu bertutur bahwa kesetiaan adalah buah dari satu pohon yang bernama cinta. Hubungan kausalitas kemudian berlaku. Jika ia adalah buah, maka ia akan tumbuh dengan sendirinya di pohon itu tanpa ada yang harus memaksa. Sebaliknya, bila pohon itu telah runtuh, apakah buah itu dapat tumbuh? Bisa, bila pohon itu ditanam kembali dan dipupuk agar tumbuh dengan subur. Namun, menanamnya ulang tentu tak semudah laiknya sedari mula. Diperlukan kegigihan dan ketangguhan yang luar biasa untuk mengejawantahkannya. Meski koyak dan air mata terserak di lubuk yang sesak, langkah gontai menuruni sayup Mintaraga.
---
Tak setiap derik jangkrik di sunyinya malam menjelma menjadi epik yang berwujud takikardia. Namun, tak demikian halnya dengan serenada biru yang melantun semu. Lantunannya begitu syahdu hingga tiada sadar tergiring ke lorong gelap. Memang, seberkas cahaya dapat menjadi pelipur lara yang gulita. Bila kemudian terus menerus berharap padanya, maka silau yang akan didapat. Pilihan terbaik adalah membiarkannya layu sebelum berkembang atau izinkan ia melayang bersama hembusan angin. Dengan demikian, angin akan membawanya ke pucuk kebenaran hakiki. Bahwa, siapa yang tak mengenal dirinya, maka tiada akan dapat mengenal Rabbnya. Tak perlu lagi diskursus di gulita malam. Kemegahan luna dapat saja segera bertukar dengan ganasnya jilatan aurora di polar dunia. Semuanya hanya tunduk pada satu aturan dan hanya tertuju pada satu tujuan.
---
Derasnya hujan merupakan salah satu pesona yang kerap membawa ketakjuban tersendiri. Konon setelahnya akan ada bidadari cantik yang turun berbarengan dengan terlukisnya bianglala di angkasa. Meski banyak orang yang kagum karena kesempurnaan yang dimilikinya mendekati kulminasi, tapi tiada pernah ia hiraukan. Mungkin, baginya itu hanya sebuah fitnah belaka. Lalu, mengapakah sebuah fitnah dicakap orang sebagai perkara yang lebih despotis disbanding menghilangkan sebuah nyawa? Ialah fitnah yang sejatinya bisa menorehkan noda kelam pada seorang manusia selama jiwa masih dikandung raga. Selagi bibir tak dapat bertutur jujur tentang hakikat yang sebenarnya, maka yakinlah kuasa Ilahi akan selalu menyertai pada kesejatian. Entah ia akan menghampiri dalam alam kesadaran atau kala bola-bola mata bergerak demikian cepatnya.
---
Rembulan dan kerlip bintang di langit malam selalu menghadirkan romantisme tersendiri pada setiap hati yang merindu. Apalagi ketika sedang memadu cinta dengan Sang Kekasih, berharap buliran-buliran hangat selalu mengalir dari mata sebagai tanda kesyukuran dan kelembutan jiwa. Dalam sekejap, lidah mengalunkan bait-bait puitisasi bak pujangga lama. Apa lacur? Kala bait-bait itu kemudian menjadi sempurna di tengah sebuah penantian akan malam seribu bulan, momen untuk berkontemplasi pun lantas dihiraukan. Segala hipokrit juga serta merta melesat ke titik hampa lantaran sebuah ‘azzam untuk persembahan yang sempurna. Namun, kesempurnaan memang layaknya sebelanga susu yang tak menghendaki setitik nila tercelup di dalamnya. Seluruh kredo akan menjadi tidak berarti lagi bila sudah demikian. Sejatinya, kesempurnaan hanyalah bagi Sang Pemilik Jiwa dan mencari kesempurnaan pada manusia hanyalah ibarat menegakkan benang basah.
---
Allah senantiasa mengajarkan pada makhlukNya, tiada pantas berjalan di bumiNya dengan kepongahan karena segala yang diduga tidak akan ada dalam sekejap dapat saja menjadi ada. Karenanya, pantaskah manusia mengatakan bahwa dirinya telah benar-benar beriman, sedangkan ia belum lagi mendapatkan ujian dalam hidup? Hidup di alam fana hanyalah satu episode di mana manusia harus mengumpulkan bekalan untuk menyongsong satu kehidupan yang abadi. Lantas, sepatutnya manusia bertanya darimanakah ia bisa mendapatkan segala perbekalan yang dibutuhkan sedangkan belum ada secuil pengorbanan pun yang ia lakukan untuk itu. Dari situlah manusia kemudian menyadari bahwa kehidupannya akan berjalan dari satu fase ujian menuju ujian yang lainnya, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Di tiap fase tersebut manusia kemudian akan belajar untuk berkorban demi setiap jengkal bekal.

Sejatinya, Allah tiada akan pernah menguji hambaNya di luar batas kemampuan dan sungguh ujianNya tersebut merupakan cara Allah untuk membersihkan segala kekurangan yang ada dalam diri manusia. Jika ada kekurangan di satu pintu, maka Allah akan berusaha menyadarkan manusia akan perkara tersebut dengan jalan menutupnya. Ya, ketika sebuah ujian sedang menyambangi seorang manusia, tandanya Ia sedang memberikan cinta yang lebih terhadapnya. Karena hakikat dari ujian adalah setara dengan tingkat keimanan, maka jika manusia tersebut mau bersabar, Allah akan tingkatkan derajat keimanannya. Sebaliknya, jika ia menjadi kufur maka akan Allah turunkan derajat keimanannya.

Seberat apapun ujian yang diberikanNya, Allah tidak akan pernah memalingkan rupaNya dari manusia. Justru, Ia begitu menantikan malam-malam di mana manusia kerap menangis, mengingat berbuih dosa dan maksiat yang dilakukan, merenungi segala nikmat yang telah Ia berikan. Karenanya, hanya Allah sahabat sejati manusia dalam tiap delik kesendiriannya dan hanya Allah sumber solusi atas segala permasalahan yang menimpa manusia. Jadi, masihkah manusia akan berujar, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku memiliki masalah yang besar.” ? jika ia dapat dengan lantang mengumandangkan, “Wahai masalah, sesungguhnya aku memiliki Tuhan Yang Maha Besar.”

Wednesday, August 01, 2007

Batu Capeo

Syahdan, pulau Ambon dapat berdiri dengan kokoh karena disangga oleh tiga buah pilar yang terdapat di bawahnya. Seiring berjalannya waktu, dua buah pilar yang menyangga pulau tersebut kini telah hancur karena gempa yang kerap terjadi di bawah laut. Dengan demikian, pulau Ambon kini hanya disangga oleh satu pilar dan apabila terjadi gempa hebat mungkin saja pulau ini akan dapat tenggelam dengan mudah layaknya benua Atlantis.


Kisah tersebut dipercaya oleh masyarakat Ambon karena di desa Amahusu kecamatan Nusaniwe, sekitar lima belas kilometer dari pusat kota Ambon, terdapat representasinya dalam bentuk sebuah batu. Batu ini kemudian diberi nama Batu Capeo yang memiliki arti ‘Topi’. Dinamai demikian karena batu ini memang memiliki bentuk yang menyerupai topi terbalik. Bentuk pulau Ambon direprentasikan pada bagian puncak dari batu, sedangkan satu pilar yang menyangganya dikejawantahkan sebagai bagian batu yang menghujam ke pantai.

Batu Capeo sendiri dikelilingi oleh pantai pasir karang dengan panorama teluk Ambon. Pantai ini belum mengalami banyak pembangunan sehingga masih sangat alami. Geliat ombak yang demikian tenang dan laut yang begitu jernih jauh dari pencemaran lingkungan semakin menambah daya tarik lokasi ini. Selain itu, panorama matahari terbenam juga dapat disaksikan dengan jelas dari sini. Di dekat lokasi ini juga terdapat satu gunung yang bernama Gunung Nona. Masyarakat Ambon meyakini satu legenda bahwa dahulu ada seorang putri yang turun dari gunung tersebut untuk kemudian melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang kini menjelma menjadi obyek-obyek wisata indah di sekitar lokasi Batu Capeo.